
Jeko menghantam rahang Latief dengan keras.
Kena!!
Latief terhuyung-huyung ke belakang lalu kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya terjatuh ke tanah berlumut.
Ia merasakan pusing yang amat sangat.
Telinganya berdenging dan nyeri, bagai ditusuk-tusuk, dan pandangan matanya buram.
Jeko memanfaatkan keadaan itu dengan mengambil batu besar seluas perutnya dan melemparkannya ke Latief.
Beruntung, kesadaran Latief belum sepenuhnya menghilang.
Latief berkelit menghindarinya dan menubruk Jekl, lalu menahan sikut Jeko dan melakukan manuver berbalik ke belakang dan mencoba memuntir leher Pria besar itu.
Namun gagal, Jeko malah menangkap tubuh Latief dan melemparkannya ke pohon besar di sebelah Ayumi.
Kretakk!
Bunyi tulang retak yang sangat nyaring...
Ayumi terpekik kaget.
Latief dididik di pesantren dengan Pencak Silat sebagai kurikulum utama, dia tentu saja menguasai teknik beladiri khas Indonesia itu dengan baik.
Namun tetap saja, menjadi preman sudah mendarah daging dalam diri Jeko. Sejak ia berusia balita dan sering mendapatkan kekerasan, membunuh sudah menjadi bagian dalam hidupnya sehari-hari. Bagi Jeko, membunuh sudah bukan membela diri lagi, Tapi sudah menjadi bagian dalam hidupnya.
Latief jelas kalah dalam tenaga dan pengalaman.
Ia hanya bisa menggerakkan tubuhnya sedikit, namun tidak bisa bangkit.
Sepertinya hantaman Jeko sudah membuat satu-dua tulangnya patah.
Pandangannya mulai gelap.
"Kalau gue tembak jarak jauh, darah lo ngga bakalan muncrat ke gue, jadi gue ngga ketularan. Ya kan?! Heheheheh..." Jeko mengambil senjatanya yang terjatuh di tanah.
Lalu menarik kuncinya dan mengarahkannya ke Latief.
Latief tidak kuasa bergerak.
Ia pun pingsan.
"Oh God..." Ayumi membelalakkan matanya.
Astaga... Jeritnya dalam hati.
Dia ngga akan melakukan hal itu kan?!
CRASHH..!!
Ya Ampun... Dia melakukannya...
Sesal Ayumi.
Darah mengalir deras bagai air mancur, jatuh ke tanah berlumut hijau, bercampur dengan lembabnya humus.
Lalu...
BRAKK!!
Tubuh besar Jeko terjatuh kaku ke genangan darahnya sendiri.
Arman menatap mayat itu dengan dingin.
Pisau berlumuran darah ada di tangannya. Ujung mata pisaunya menetes-neteskan darah berwarna kemerahan.
"Ares... Kamu membunuh di depan wanita hamil." Sindir Ayumi.
Arman mengangkat alisnya, lalu mengangguk sekilas.
Yang membuat Ayumi terkaget tadi, Arman tiba-tiba sudah muncul di belakang Jeko saat Jeko mengarahkan pistol ke Latief. Tanpa suara, tanpa pertanda...
Lalu dengan pisaunya, ia menggorok leher Jeko dengan sekali sayatan.
Arman menghela napas.
"Itu masalahnya. Wanita hamilnya pingsan. Bisa lebih gawat keadaannya..." sahut Arman sambil menghampiri Milady dan membebaskan ikatan wanita itu.
Lalu membopong tubuh Milady yang sudah lemas.
Dan menoleh ke arah Ayumi sambil mengernyit.
"Kamu bisa jalan sendiri kan? Hapal arah vila kan?!" tanya Arman.
"Ha..." Ayumi bengong.
"Duluan ya, hati-hati kepleset, sepatu kamu ada di Moses." sahut Arman sambil berjalan membawa Milady ke arah markas.
Ayumi bengong melihat punggung Arman yang menjauh dan mengacuhkan dirinya.
Lalu wanita itu menarik napas kesal.
"Hoi Bakayarou!! Nanti kalau kamu nyuruhku bikinkan kopi, akan kumasukan racun!!" jerit Ayumi kesal.
Lalu ikatannya sendiri terlepas.
"Tsuini rirīsu sa remashita. Yabai!" (kenapa tidak dari tadi? Telat sekali. Ya Ampun!) gerutu wanita itu kesal.
Moses menghampiri Ayumi sambil cekikikan.
"Perlu digendong, dipapah, atau ditandu Mbak Ayu?!" tawar Moses.
"Hush!" sahut Heksa. "Kalo Boss denger bisa-bisa lo kena tinju. Dia sendiri bilang jangan berani-berani menyentuh kelincinya..." sahut Heksa.
Dia memfoto mayat Jeko, lalu menyiramkan bensin.
"Standby APARnya. Ngga usah godain cewek orang." sahut Heksa lagi.
"Lama sekali sih kalian datang?! Saya kan sudah meninggalkan jejak!" sahut Ayumi. "Arghhh!!" desisnya saat Moses mengguyurkan cairan antiseptik ke tangannya yang berdarah-darah. Lalu memberinya handuk bersih dan menekannya ke telapak tangan Ayumi.
"Sebenernya sudah dari tadi sih Mbak... Sejak Jeko dan Latief berkelahi. Tapi Pak Arman katanya mau lihat situ keiket..." Heksa menyeringai.
"Ternyata doi penggemar bdsm hahaha!" Moses tergelak.
"Elu tuh kalo ngomong suka ngga disaring..." sungut Heksa.
"Gue kesel kena omel mulu, dari sejak tiba-tiba Mbak Ayu menghilang, doi tuh panik minta ampun, sampe kita disuruh turun dari pohon segala, suruh cari sampe dapet lah, kalo perlu ke dalem kawah sekalian, jangan sampe ngga ketemu ato jatah gorengan setahun dipangkas..." Moses mengutak atik ponselnya.
Membuka aplikasi rekaman.
Lalu mengangkat ponselnya di depan Ayumi, volume maksimal.
Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!
Suara teriakan Arman, dengan nada panik dan bahasa yang amburadul.
"Semprul kan?!" dengus Moses.
Lalu dia diam.
Dan menyeringai...
Lalu terbahak sambil toss sama Heksa. "Gila tampangnya pucet banget waktu itu! Hahahaha!"
"Iya ya udah macam ngeliat setan! Eh, enggak deng! Ngeliat aja ngga sampe sepucat itu! Hahahaha"
Ayumi menghela napas.
"Dia ngga mau kehilangan saya karena dia akan dihukum sama Sebastian kalau sampai saya kabur..." dengus Ayumi.
Ayumi melirik mereka berdua dengan sinis.
Antara kesal tapi malu.
"Saya tidak terlalu percaya padanya... Itu buktinya, dia jalan duluan! Saya disuruhnya jalan sendiri dalam keadaan luka-luka!" dengusnya.
Byar!!!
Api menyelubungi mayat Jeko.
"Karena... dirimu bukan target penculikan, bukan istri boss, tidak hamil dan tidak dalam keadaan pingsan." sahut Moses memberikan alasan yang masuk akal.
"Kita kesini dalam kondisi penyelamatan Diamond. Sudah pasti yang lain nomor dua..." tambah cowok itu.
Ayumi hanya diam sambil menatap mayat yang terbakar itu.
Semua tertegun dalam pikiran masing-masing.
*****
Malam hari.
Ayumi menatap heli Garnet Oto yang berangkat membawa Milady kembali ke Jakarta.
Lalu ia menghela napas.
Polisi sudah datang. Mereka menyisir area kaki gunung...
Ayumi harus bersembunyi di dalam villa sampai semuanya pergi.
Misi telah berhasil.
Kejahatan telah terungkap.
Lalu setelah ini... apa?
Setelah ini, Ayumi hanya berharap Sebastian menepati janjinya.
Ia mungkin akan menetap di negara ini saja. Sampai keadaan kembali normal.
Hari Fadil kabur lagi...
Dan walaupun Markas di Kanagawa luluh lantak dan Yamaguci Ito tewas, belum tentu semua anak buahnya musnah.
Berarti keselamatan Ayumi belum terjamin seluruhnya.
Jadi...
Ayumi akan menunggu.
Karena... itu pesan terakhir ibunya lewat telepon, saat ibunya over dosis masih sempat menelpon Ayumi dan berbicara dengan suara tersedak.
Ai-Chan...
Hiduplah dengan bahagia.
Jadi, tindakannya melarikan diri kesana kemari selama ini, hanya karena ia ingin berbakti kepada ibunya.
Mewujudkan keinginan ibunya.
Hidup.
Kini, tinggal keinginan yang satunya.
Bagaimana caranya hidup dengan bahagia, di kondisinya yang sekarang ini?
Sepertinya akan butuh waktu lama...
Ayumi menatap jam dinding.
23.15
Lalu duduk di sofa di kamarnya.
Dan mengernyit.
Area sensitifnya masih terasa perih.
Pahanya juga.
Hari ini... Sibuk sekali.
Apa aku mandi saja? Pikir Ayumi.
Perban di pahanya dari plastik berperekat. Dokter Arjuna bilang anti air, jadi bisa dibawa mandi, kecuali berendam.
Ayumi melepaskan jaket kulit wanita, keluaran desainer Prancis yang Arman belikan di Mall, meloloskan gaun terusan model sederhana yang tampak manis namun sedikit terkoyak akibat aktivitasnya hari ini, melepaskan sepasang sepatu boot gunung model angkle, dan masuk ke shower.
Sambil menikmati guyuran air hangat, Ayumi berpikir lagi.
Mudah-mudahan Milady baik-baik saja.
Pikirnya.
Dan...
Semoga Ares Manfred Kualat!!
Umpatnya kesal.
"Sakurazaka-San..."
Ayumi terlonjak kaget dan menoleh.
Arman dengan seringai lembut khas-nya, sudah berdiri di depan pintu kamar mandinya.
"Mau apa komandan busuk?!" maki Ayumi.
Arman mengernyit.
Darimana Ayumi mempelajari umpatan kasar?! Sepertinya Arman harus menjauhkan Ayumi dari Moses atau Heksa.
"Kamu minta kamar terpisah dariku."
Itu pernyataan, bukan pertanyaan dari Arman.
"Iya. Aku nanti kunci pintunya biar kamu ngga masuk seenaknya." sahut Ayumi. "Dan ngga usah tanya kenapa." sambungnya.
Ayumi melanjutkan aktivitas mandinya.
Keadaan hening sesaat. Hanya ada suara shower.
Yang mana, membuat Ayumi salah tingkah.
Kenapa Arman tidak berbicara apa pun?
Ayumi menoleh ke Arman dan menatap pria itu.
Arman juga sedang menatapnya.
Dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Antara tertegun, tapi fokus.
Antara senang tapi dingin.
Antara capek dan letih, namun juga bersemangat.
Ayumi memalingkan wajah, karena mulai salah tingkah.
Biar saja 'komandan baka' memperhatikan sampai puas. Kalau ia mendekat, aku semprot pakai shower! Batin Ayumi.