Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Waktu Ayah-Anak



Pangeran Adara, a.k.a Ipang


Ketampanan khas Nusantara, berkulit kecoklatan, berhidung mancung sempurna, berbibir tipis, dan selalu berpenampilan sempurna.


Kini...


Duduk di sofa ruang tunggu di Lobby Garnet Grup sambil menopang dagunya dan memandang ke arah orang-orang yang berlalu lalang dengan pandangan kosong menerawang.


Ia bolos kuliah hari ini...


Padahal untuk bisa mencapai target kelulusan dari semester ini, IPKnya kurang beberapa poin.


Seharusnya ia juga mengikuti aistensi hari ini.


Sudahlah...


Masih ada waktu sampai minggu depan untuk mengejar ketinggalannya.


Tapi, tunggu!


Minggu depan ia harus memimpin demo di gedung DPR menyampaikan aspirasi rakyat!


Ck... ia berdecak kesal.


Kalau sampai kreditnya turun, bisa-bisa ia dipecat jadi Ketua BEM!


Tapi dua-duanya sama pentingnya...


Ipang melirik jam tangannya.


Pukul 9.30...


Kalau pertemuan pagi ini lancar, ia bisa saja sih langsung ngebut ke kampus dan mengikuti asistensi di jam 11.


Kalau lancar...


Gimana Yah...?!


Dia saja sudah dari pagi dicuekin. Datang ke sini jam 8, disuruh tunggu, sampai sekarang dianggurin dilobi.


Kemana sih Om Uban...?!


Plis deh, ini penting buat masa depanku, loh...


Gerutu Ipang dalam hati.


"Anuuuu...mas?" seorang wanita berparas manis berpakaian resepsionis menyapanya.


"Iya Mbak?" tanya Ipang.


"Mau tambah minumnya?"


Ipang melirik meja di depannya. Dari jam 8 ia sudah menghabiskan 2 gelas teh, 2 cake, sebungkus kacang... Lama-lama jadi kenyang.


Memang begini ya standar pelayanan tamu di Gedung Garnet Grup. Luwar biyasa ekselen yo... Pikir Ipang.


"Ngga usah mbak, udah kenyang." sahut Ipang.


"Kalau..." si mbak-mbak resepsionis menatap Ipang dengan penuh perhatian, dari atas ke bawah, malah terlalu perhatian kesannya... Sampai ekstra gigit bibir segala. "...butuh apapun, langsung panggil saya aja ya, nama saya Reny..." dan dia mengerling ke arah Ipang.


Ipang agak tertegun.


Apa dijadiin selingan aja yah... Pikir cowok itu.


Isshhh setan! Gerutunya lagi sambil menyingkirkan pikiran buruknya.


"Ya mbak..." desisnya sambil buru-buru berpaling ke pemandangan lain daripada dia terpikat.


Tidak lama, banyak orang-orang berlarian dari pintu keluar di depan dan berjaga di samping lift yang terletak di koridor ujung.


Ipang pasang perhatian untuk melihat kehebohan yang terjadi.


Ia bisa melihat nomor lantai di bagian atas lift perlahan turun ke Lobby.


Dan saat pintu lift terbuka, para orang-orang berpakaian hitam-hitam langsung menundukkan kepala.


Dan Sebastian keluar dari lift.


Ipang mencibir.


Ceile... Mau keluar dari lift aja heboh begitu... Sindirnya dalam hati. Lalu berpikir sepertinya menarik kalau dijadikan vlog kunjungan ke kantor Garnet Grup. Pasti belum ada yang bikin karena izinnya memang sangat susah.


Tapi kan...


Ini Ipang, gitu loh...


Adik dari... Sang Pujaan Hati Silver Fox.


Huehuehuehue.


Sebastian berjalan menyusuri lobby sambil mengutak-atik ponselnya, orang-orang di sekitarnya minggir untuk memberikannya jalan.


Lalu,


Ia berbelok ke sofa ruang tunggu dan duduk di depan Ipang.


Masih mengutak-atik ponselnya.


Ipang menatap Sebastian sambil menyeruput tehnya yang tinggal setengah.


Beberapa penjaga, berdiri di belakang Sebastian.


Mata mereka mengawasi Ipang sekaligus memperhatikan sekitar Sebastian.


"Mau ngapain kamu?" dengus Sebastian ke Ipang, sambil masih mengutak-atik ponselnya.


"Mau menghiba. Disuruh sujud juga mau sih... Yang penting pacar saya selamat." desis Ipang.


"Ya udah. Sujud." Sebastian masih cuek dengan ponselnya.


Sialan... Dengus Ipang dalam hati.


Sebastian menatapnya bagai ia bakteri.


"Bayi..." dengus Sebastian sambil menahan tawa.


"Katanya tadi suruh sujud, gimana, sih..." gerutu Ipang.


"Ngga bisa bedain becanda sama beneran ya."


"Kalo Om yang ngomong, kayaknya semua terasa serius." Ipang kembali duduk.


"Om? Saya bukan suaminya tante kamu."


"Ya Udah...Eyang. Lebih pantes gitu sih."


"Mau mati?"


"Enggak Gusti Raja, maaf..." Ipang langsung menundukkan kepala.


Lalu Ponsel Sebastian berdering.


Beberapa menit yang menegangkan dengan bahasa Rusia,


Lalu hening.


Dan Ipang menghabiskan tehnya.


"Dengan satu syarat." sambung Sebastian ke Ipang.


"Duh Tuan Besar, ngapain pake syarat-syaratan sih..." gerutu Ipang.


Sebastian mencondongkan tubuhnya ke arah Ipang sambil mengernyit.


"Syaratnya, kamu harus setia ke Susan. Kamu selingkuh, kamu sekarat. Ngerti? Dia mengorbankan banyak hal untuk kamu, dan saya rugi banyak gara-gara kamu dan cinta monyet kamu itu. Awas kalo macam-macam..." Ancam Sebastian.


Ipang melongo.


"eh?" gumamnya bingung.


Sebastian menatap seseorang di belakang Ipang.


"Saya jalan dulu. Lakukan tugas kamu seperti biasa..." desisnya ke orang di belakang Ipang.


Ipang menoleh ke belakang.


"Hei..." desis Susan sambil tersenyum, dia beranjak duduk di sebelah Ipang.


Ipang masih dengan cangkir tehnya yang sudah habis, tertegun menatap wanita itu.


Muncul dari mana tau-tau udah ada di sini?! Pikir Ipang masih kaget.


"Sudah ya. Sekali lagi kamu merengek begini, saya kirim Susan bertugas ke Kutub Selatan sekalian." gerutu Sebastian sambil berdiri dan berjalan ke pintu keluar, lalu masuk ke dalam Phantom VII yang menunggu di depan lobi.


*****


Gedung Beaufort Techno


Sebastian menyusuri koridor menuju ruangan Alex Beaufort, dengan Baratadhika, CEO Beaufort Techno di belakangnya.


"...walaupun kami menurunkan personel lengkap di sekitarnya, kalau dia tidak ingin bekerjasama dengan kami, pengamanan akan kurang efektif pak." sahut Bara menjelaskan mengenai prosedural yang akan diambil untuk rencana Sebastian selanjutnya.


"Saya mengerti, Pak." sahut Sebastian.


Lalu mereka tiba di ruangan Alex.


Yazaki Eiichi yang membuka pintunya, menatap Sebastian dengan khawatir.


"Boss-Sama." sapanya sambil menunduk.


"Dimana dia?" tanya Sebastian.


Eiichi melirik ke belakangnya.


Di ujung ruangan, Alex Beaufort menyambutnya dengan wajah prihatin. Dan disamping Alex ada seorang pria membelakangi Sebastian, duduk bersandar di atas meja kerja Alex, menghadap ke jendela raksasa.


Alex mengangguk ke Bara dan Eiichi untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan Sebastian dan orang itu sendiri.


Sebastian menghampiri Trevor, dan berdiri sejajar dengan anaknya. mereka memandang ke arah luar, ke aktivitas perkotaan penuh polusi yang seakan tanpa istirahat, tidak pernah tertidur.


"Bagaimana?" tanya Sebastian.


Pertanyaan yang mengundang pertanyaan lain, maknanya bias. Namun saat ini lebih dimaksudkan untuk...


Bagaimana kabar kamu?


Bagaimana pendapatmu setelah mengetahui kebenaran dengan mata dan kepala kamu sendiri?


Bagaimana perasaan kamu, apakah kamu menyesali semuanya?


Dan macam-macam...


Ia memandang wajah Trevor yang terlihat putus asa. Bahkan terasa lebih ke depresi...


"Ceritakan semua yang Ayah tahu... Aku akan coba dengarkan." sahut Trevor.


Sebastian berpikir, pasti Trevor sudah melihat lokasi GPS dari tas Milady yang dikirimkan ke Ayumi.


Ini memang bagian dari rencana Sebastian saat Milady bilang ia akan mengirimkan alamat Ayumi sekarang.


"Kamu sudah siap?"


Trevor menunduk untuk menguasai gejolak emosinya.


"Ceritakan dengan perlahan... dari awal. Kali ini... jangan menyembunyikan apapun, kalau memang masih menganggap aku adalah anak ayah..." kata Trevor lemah.


Sebastian menepuk punggung Trevor dan duduk di dekatnya.


Sekarang...


Saatnya waktu Ayah-anak yang lebih berkualitas.