
"Mas Arman... Mas Arman... Kamu ngga apa-apa?!" Milady mensejajari langkah Arman yang masih terlihat tegap berjalan walaupun setengah tubuhnya basah oleh darah.
Wajah Milady memerah karena kuatir. Arman tertembak tepat di depan matanya, peluru menghujam mengenai pinggang samping kiri pria itu.
"Bukannya ngga papa, sakit banget loh ini. Jangan jauh-jauh dari saya yah Mbak, sudah pasti mereka mengincar Mbak Milady." suara Arman terdengar mengeram. Pria itu sedang menahan sakit.
"Saya harus bagaimana?"
Arman melepas earpiecenya agar perbincangan mereka tidak didengar anggotanya.
Ia menarik Milady ke ruang mesin.
Lalu mendesak wanita itu ke dinding.
Wajah Arman tampak kuatir.
"Ini jadi semakin serius..." bisik Arman, suaranya rendah dan tampak kuatir.
"Ada beberapa orang yang kami tangkap, kebanyakan preman bayaran. Ada satu-dua orang dari Jepang, anggota Yakuza. Kalau Mbak Milady tiba-tiba menghilang, mereka akan mengirim lebih banyak pasukan karena mengira kami kewalahan sampai-sampai harus menyembunyikan target. Jalan lain, Mbak Milady harus tetap terlihat disetiap acara mendampingi Bapak, jadi kesannya tidak ada apapun yang terjadi." Sahut Arman.
"Jadi... Mas Arman mau yang mana?" Milady tampak gemetaran.
Arman mengelus pipinya, menghapus air mata Milady yang sedang ketakutan.
"Jangan kuatir, anak buah saya semua berpengalaman belasan tahun menangani yang seperti ini."
"Bukan masalah penyerangan, tapi Mas Arman gimana?"
"Ini sih masih biasa Mbak, saya ngga lebih kesal dibanding kamu masukin baju-baju toples ke koper buat Ayumi." decak Arman.
Milady terdiam.
Lalu tiba-tiba wanita itu terkakak.
"Hahahaha!! Gimana Mas kesan-kesannya?? Itu khusus buat dirimu biar ngga main sana-sini loh! Kan lebih enak satu pasangan buat selamanya!"
"Ya tapi ngga usah ngejodohin saya sama Medusa dong! Dipikir saya ngga bisa cari pasangan hidup?!"
"Kayaknya sih ngga bisa, buktinya dirimu melalang buana terus! Hahaha!!"
Arman tersenyum melihat Milady. Setidaknya tawa Milady menandakan kalau wanita itu akan baik-baik saja. Jangan sampai kejadian ini mempengaruhi kehamilannya.
Lalu ponsel Arman berdering.
"Saya di ruang mesin." jawab Arman.
Kemejanya semakin basah oleh darah yang mengalir tak berhenti.
"Bro..." sapa Baratadhika saat membuka ruang mesin. "Arjuna sudah sampai, cepat jahit luka lo. Pengamanan Bu Lady kita ambil alih. Lo fokus aja ke misi nangkepin kutu, sama Bapak lo tuh ngga bisa diem, menclok sana-sini." Bara menyerahkan mantel panjang ke Arman untuk menutupi noda darah.
"Ya ampun, Pak Bara... Ternyata kalau didekati Bapak ini besar sekali yah, sampai deg-degan saya..." Milady mendongak ke atas menatap wajah Bara. Ruang mesin terbilang sempit sehingga mereka hampir berhimpitan disana.
"Hahaha!! Ibu juga ternyata glowing sekali yah, sampai berasa ketemu ibu peri... Iya bu saya besar, jadi bisa menghalangi Bu Lady dari peluru nyasar. Ini sebenarnya Rencana B, Sih..." sahut Bara.
Mereka pernah bertemu waktu ujicoba game baru, namun hanya menyapa dari jauh.
"Kami menghubungi pihak Beaufort, takutnya ini jadi meluas. Dari Beaufort ada 300 personel yang diturunkan. Dari Garnet ada 250..." Arman mengenakan mantel dari Bara. "Saya lanjut Pak Bara, terima kasih."
"Jangan maksain ya, bro..." desis Bara.
*****
"Sayang..." Sebastian mengulurkan tangannya ke arah Milady. Wanita itu meraihnya sambil menghela napas.
Inilah saatnya...
Konferensi pers mengenai pernikahan mereka.
"Mas... Itu, Mas Arman..." desis Milady.
"Iya, aku sudah dengar laporannya. Kita harus bersikap seperti tidak terjadi apa pun. Jangan kuatir, ini bukan pertama kali." bisik Sebastian sambil tetap memasang raut wajah tenang.
Milady menarik napas panjang...
Astaga...
Hidup suaminya ternyata... Menyesakkan.
Tidak semudah menjalani hidup seperti orang biasa.
Setiap langkah ada resikonya, dan itu tidak kecil.
Pantas saja Sebastian harus mengalihkan perhatiannya dengan berbagai mainan mahal dan kenyamanan eksklusif. Karena setara dengan beban yang harus ditanggungnya.
Saat ini saja, begitu tahu Milady adalah target penembakan, rasanya wanita itu langsung ingin belanja barang branded atau setidaknya main game seharian, tidak bertemu manusia selain suaminya.
Milady hanya memasang senyuman khas dirinya yang biasa digunakan untuk memanipulasi orang lain saat Sebastian mengadakan konferensi pers. Berdiri di sebelah suaminya dengan wajah lembut bak Dewi Hera mendampingi Dewa Zeus.
Pekikan kaget orang-orang nyatanya tidak berasa apa pun di dirinya. Tadinya Ia pikir akan merasa senang.
Namun, ternyata yang ada hanya beban yang semakin berat di pundaknya.
Milady mengelus perutnya, tempat janinnya tertidur.
"Temani mama dan papa menghadapi semuanya ya sayang... Kami akan menjaga kamu sekuat tenaga." batin Milady ke janinnya.
*****
Yazaki Eiichi dan Moses Goette menghampiri Sebastian saat konferensi pers selesai. Mereka mengambil alih pengawalan Sebastian, sementara Milady diantar kembali ke penthouse oleh Bara.
"Bagaimana Arman?" tanya Sebastian sambil memeriksa ponselnya dan berjalan di depan.
"Masih bisa berdiri tegap, Boss-Sama." jawab Eiichi.
"Macam Cyborg. Atau jangan-jangan dia sok-sokan kuat, tau-tau pingsan bentar lagi." sambung Moses.
"Bagaimana bisa tertembak? tidak pakai rompi anti peluru?" tanya Sebastian.
"Istimewanya Pak Arman, Pak... kena pas yang ngga dilindungi rompi." sahut Moses sambil terkekeh.
"Suka banget sih sama masalah..."
"Sudahlah Boss-Sama, mohon kali ini bersikap lembut sama Boss-Kun. Dia melindungi Rady-Chan..." kata Eiichi.
Sebastian diam.
Eiichi benar.
Paling tidak, kali ini Sebastian akan bersikap sedikit bersahabat sebagai wujud rasa terima kasihnya.
Sebastian masuk ke bagian terdalam Garnet Hotel, ruangan hangar seluas 2000m2 tempat para pasukan pengamanan bersiap dan beristirahat.
Ia melihat beberapa wajah baru, Sebastian pernah melihat dari profil yang diajukan Arman untuk pembebasan lahan milik Garnet Property.
"Sa'ad Saefullah." Sapa Sebastian langsung ke Bang Sa'ad. Perlakuan itu cukup membuat preman pasar itu terkaget.
Ia tidak mengira konglomerat sekelas Sebastian mengetahui wajahnya.
"E..eh.. Ya Boss!! Ane Sa'ad!" Seru Bang Sa'ad antusias.
"Terima kasih sudah datang membantu Arman di sini ya Pak. Juga terhadap kasus Dimas waktu itu, kerja bapak dan tim sangat bagus..."
Terlihat wajah Bang Sa'ad merona.
"Waduh! Jadi malu... Ane juga makasih nih pak udah dipercaya selama ini!"
"Saya juga dengar keponakan bapak bekerja di Garnet Property, menurut laporan, kerjanya baik dia anak yang tekun..."
"Hehehe... Iya dia memang rajin. Bapak kalo perlu apa pun hubungi ane Ya Pak!" sahut Bang Sa'ad senang.
"Baik pak, saya ke Arman dulu..." dan Sebastian menunduk ke Bang Sa'ad, membuat preman itu langsung sungkan.
Begini yah sikap para konglomerat sebenarnya. Pikirnya.
Hubungannya dengan keluarga Bataragunadi sebenarnya bermula dari Dimas dan bagian penagihan kredit Garnet Bank. Mereka bahkan sempat bersitegang. Siapa sangka, sikap Dimas yang supel dan bersahabat ke berbagai golongan ternyata dapat membawa berkah melimpah untuk Sa'ad dan anak buahnya.
Sementara, Sebastian merasa perlu menjalin hubungan dengan kalangan bawah seperti Bang Sa'ad. Karena dari kelompok semacam itulah, berbagai informasi didapatkan. Seringkali sangat berguna untuk bisnisnya...
Dengan jabat tangan sedikit, senyuman dan tips receh, mereka akan berlutut dengan mudah.
Jadi sikap ramah Sebastian bukannya sukarela.
*****
"Pak Arman!" seru Susan sambil langsung menopang tubuh Arman saat pria itu memasuki hangar.
Dokter Arjuna dan tim perawatnya menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
"Dari sekian banyak orang kenapa juga kamu yang ketembak sih Mas?! Badan kamu itu jodoh amat sama peluru!" keluh Dokter Arjuna.
"Saya juga curiga jangan-jangan Pak Dokter pernah masukin magnet ke badan saya waktu operasi..." dengus Arman sambil duduk disofa panjang.
"Atau kamu yang sengaja ketembak buat fetish."
"Kenapa sih orang-orang selalu nyangka saya ini penyuka kekerasan..."
"Mungkin karena masa lalu Mas Arman brutal."
"Emang saya bisa milih?! Udah cepetan jahit, saya mau interogasi yang di sel..."
Dokter Arjuna mempersiapkan peralatannya dengan gesit.
"Mau dibius atau enggak?"
"Mau."
"Ngga usah dibius, manja amat kamu. Buang-buang obat. Memang pengaruh ke Arman?!" sahut Sebastian yang tau-tau sudah di sana.
"Ya Ampun, kenapa datang di saat yang ngga tepat sih..." keluh Arman.
"Saya ini datang buat mengalihkan perhatian kamu dari sakitnya dijahit loh.."
"Dengan kata lain, Bapak mau ngomel gitu yak?! Ya ampun berfaedah sekali." sindir Arman.
"Kardi, kopi sama tahu-tempe dekat kamu itu, kemarikan..." Sebastian melambaikan tangan ke Pak Kardi.
Pak Kardi menyampirkan senjatanya ke punggung dan datang tergopoh-gopoh dengan membawa baki berisi dua kopi dan gorengan.
"Mau saya suapin apa enggak nih?" tanya Sebastian ke Arman.
"Buset..." Arman hampir tergelak.
"Mas Arman jangan ketawa, darahnya muncrat nih..." keluh Dokter Arjun. "Jangan ketawa, jangan batuk." sambungnya.
"Bukan salah saya, Anj**y!" sahut Arman.
Sebastian menjejali Arman dengan kopi yang ditempelkan ke bibir.
Mau tidak mau Arman menyeruputnya.
Sebastian membagi tahu goreng berselimut tepung menjadi potongan kecil dan menyuapi Arman.
"Cabe rawitnya dong, Pak Sayang..." desis Arman.
"Kurang ajar juga kamu..." dengus Sebastian sambil menyuapi cabe rawit.
Saat potongan pertama tertelan,
"Mulai operasinya, dan mulai laporannya." sahut Sebastian.
Dokter Arjuna mulai mencongkel luka Arman untuk mengeluarkan peluru.
"Woi!! Pelan-pelan Alayyy!!" teriak Arman.
"Ini sudah pelan Maaasss..." dengus Dokter Arjuna.
"Kamu masa kalah sama ibu melahirkan... Mereka itu dijahit ngga dibius loh." sahut Sebastian.
"Bodo Amat !!!" jerit Arman.
Tring...
Peluru berhasil dikeluarkan.
"Tuh, hebat kan saya, keluarinnya cepet. Tapi kalo ketahuan saya operasi ngawur begini bisa dikeluarkan dari IDI saya..." omel Dokter Arjuna.
Arman terengah-engah menahan sakit.
"Kopi nih..." Sebastian menggacungkan kopi. Arman menyeruputnya lagi.
"Pak RT, pesankan espresso dobel, yang pahit buat sontoloyo satu ini... Yang ini kurang pahit." kata Sebastian
"Lah iya kan itu sachetan, Pak... Sebentar saya bikinin..." kata Pak Kardi.
"Pengadaan lampu kompleknya gimana?"
"Akhirnya saya nyumbang, Pak... Kasihan warga kelamaan."
"Eh, itu saya bikinkan anggaran untuk Bank Sampah tuh, minta ke Arman aja nanti."
"Belom sempat saya bikin, sibuk sama Asserehe..." sahut Arman sambil menghabiskan gorengannya.
"Bank Sampah lebih penting loh..." sahut Sebastian.
"Iya... Habis ini saya minta Ipang bantuan bikinin."
"Udah ditaruh dulu kopinya, saya mau jahit lukanya..." desis Dokter Arjuna.
Berikutnya hanya ada sumpah serapah Arman menghiasi ruangan.
*****