
Meilinda sedang panik dan galau.
Pernikahannya sebentar lagi dengan lelaki impiannya.
Namun, kesalahan masa lalu menghantuinya kembali.
Mantan pacarnya yang pernah mengkhianatinya...
Gunawan...
Mengirimkan foto vulgarnya, disertai ancaman :
"Cabut pembekuan izin saya, atau foto kamu saya sebarkan ke media sosial."
Tangan wanita itu dingin dan gemetaran.
Bagaimana ini?! Keluhnya.
Calon suaminya, Dimas, sebenarnya sudah tahu mengenai foto-foto vulgarnya. Sebelum jadi pacarnya, Dimas adalah anak buahnya di kantor yang membantunya mencari Gunawan yang tiba-tiba menghilang.
Mereka memang berhasil menemukan Gunawan, bersama dengan istri dan anak-anaknya!
Gunawan ternyata sudah memiliki istri...
Setelah itu Dimas melacak yang lainnya, akhirnya diketahui kalau istri Gunawan bukan hanya satu. Ada dua lagi yang dinikahinya secara siri.
Dan Gunawan memilih untuk meninggalkan Meilinda.
Saat itu Dimas membantu Meilinda melacak semua foto yang sudah terlanjur dishare ke Gunawan. Namun ternyata tidak semua bisa terlacak.
Meilinda waktu itu sangat terpukul... Namun Dimas mengisi relung hatinya.
Dan kini...
Setelah berbulan-bulan...
Gunawan muncul lagi!
Sebastian memang membekukan izin kerja Gunawan sebagai balasan telah membohongi Meilinda.
Gunawan bekerja di tambang berlian milik Garnet Mining di Yakutia, Rusia. Tadinya dia adalah orang kepercayaan Sebastian. Segala macam izin dan dealing di Rusia, Gunawan yang mengusahakan.
Saat izin kerja dibekukan, seharusnya Gunawan kembali ke Indonesia...
Namun...
*****
"Gimana? Pas?" tanya Arman.
Ipang memutar dirinya di cermin, memeriksa tampilan belakangnya. Lalu mengangguk puas. Setelah itu merapikan jas bagian depannya lalu menyeringai.
Gila, level kegantengan meningkat jadi 101%! Batinnya bangga.
Arman memberinya seragam khusus sekretaris Garnet Grup, suit dengan bahan eksklusif berwarna hitam motif bergaris.
"Kok bisa ya pas begini, bro?!" Ipang terkekeh takjud. "Ini ukuran dirimu kan?"
"Bro..." Arman mengernyit. "Saya tidak berniat akrab sama kamu yah, walaupun kamu ipar... ehm, adik Mbak Milady." Hampir saja Arman keceplosan bicara.
Sebastian berpesan supaya pernikahannya dirahasiakan dulu, terutama dari orang-orang terdekat.
"Oke, Boss!" balas Ipang.
"Saya bukan Boss kamu."
"Oke Bang!" balas Ipang.
"Kalau di lingkungan kantor panggil saya pakai sebutan Pak. Bukannya saya ngga suka, tapi agar kamu terbiasa sopan."
"Gitu? Oke Cuy!"
"Mau cari ribut ya?"
"Enggaaak. Kaku amat sih Pak?"
"Lagi ngga mood."
"Heeemmm... Mau permen kaki ngga?"
"Kamu tuh ngga usah aneh-aneh dong! Repot nih saya..." keluh Arman, tapi ia mengambil permen kaki dari tangan Ipang.
Ipang melihat-lihat meja kerjanya, yang letaknya tepat di sebelah Arman.
"Selama ini kerja sendiri Pak? Anak buahnya ada berapa Pak Arman?" tanya Ipang.
"Itu." Arman menunjuk jajaran karyawan berseragam di arah pintu masuk. "...dan semua sekretaris Direksi di Grup ada di bawah yuridiksi divisi saya. Tapi pekerjaan utama saya khusus menangani kebutuhan Pak Sebastian."
"Kalau Pak James, memang ngga punya sekretaris sendiri sampai panggil-panggil Pak Arman?"
"Dia punya 5 orang sekretaris dan 30 staff treasury."
"Laah... Itu malah lebih banyak dari jumlah temen-temen kuliah saya dalam satu kelas!"
"Ya makanya tadi saya agak protes."
"Tenang Pak Arman, saya itu pekerja keras kok, diusahakan tidak membebani asal rekomendasinya bagus ajaaa hahahaha!" Ipang menepuk bahu Arman sampai pria itu agak limbung maju ke depan.
Arman berdecak karena kesal.
Dia menarik napas mencoba bersabar.
"Pak Arman kenapa jadi tegang? Kerja sama eyang uban memang berat yaaa?" Ipang memijat bahu Arman.
Arman menepis tangan Ipang.
Ia merasa Ipang terlalu lancang.
"Saya sebenarnya easy going asal ngga diganggu aja..." gumam Arman. "Kamu tuh beda banget yah sama kakak kamu yang bersahaja itu, beneran adeknya ato adek orang lain sih?" gerutu Arman sambil membuka bungkus permen kakinya dan mengulumnya.
"Yang ngomel bukan Pak Arman doang sih... Boleh makan lolipop pas kerja ya pak?" tanya Ipang.
"Saya boleh, kamu ngga boleh..." dengus Arman.
"Duh... Kok ngambek. Jadi imut dah... apalagi ngemut permen kaki begitu. Hahaha!" goda Ipang sambil menyalakan komputernya.
Arman memicingkan mata.
Ia memikirkan bagaimana cara membungkam mulut Ipang.
Lalu bibirnya menyunggingkan senyum licik.
"Makasih pujiannya. Kamu juga ganteng kok..." sahut Arman.
Ipang langsung menoleh dan menatap Arman dengan tegang.
Arman mengerling padanya sambil tersenyum.
Ipang menarik napas dan memundurkan kursinya.
Biar saja lah ini bocah salah paham. Yang penting sudah ngga berisik lagi! Pikir Arman
*****
"A...anuu...jadi tugas saya di sini apa saja... Pak?" Ipang agak menjauh saat berbicara dengan Arman.
"Kamu bantu saya menerima semua surat anak usaha yang ditujukan ke Pak Sebastian. Seharusnya ini semua tidak transparansi, tapi karena latar belakang kamu, jadi saya rasa kamu orang yang cocok untuk tugas ini. Biar kamu tahu dunia kerja itu tidak se-leyeh kuliah..." sahut Arman sambil mempelajari satu-satu surat yang masuk.
Agennya di Rusia mengirimkan kemungkinan terburuk dari demonstrasi besar-besaran untuk Garnet Mining karena sudah lama tidak beroperasi sedangkan pekerja diikat kontrak, tidak bisa mencari pekerjaan di tempat lain, namun tidak digaji karena tambang ditutup.
"Ada tiga software yang kami gunakan untuk menerima email, setiap jam kita menerima ratusan email. Kamu buka cloud storage..." Arman mendekati Ipang. lalu berdiri sedikit menunduk untuk memberi Ipang guidance.
Ipang tegang di kursinya.
"Hm... lalu kamu buka yang ada tanda surat." Arman agak mencondongkan tubuhnya supaya lebih jelas menatap layar komputer Ipang.
Ceile ni lakik wangi bener... gerutu Ipang sambil mengernyit sambil juga agak mencondongkan tubuhnya ke depan karena berusaha menjauhi Arman.
Tiba-tiba tangan Arman sudah di atas bahunya dan menariknya supaya bersandar di kursi. "Jangan ikutan maju dong, sayang... saya kan kehalang jadinya."
Bulu kuduk Ipang langsung meremang.
Dia panggil apa barusan...??! Jerit Ipang dalam hati.
Mata Ipang tepat sejajar dengan leher Arman. Ipang bahkan bisa melihat urat nadi Arman yang kehijauan diatas kulitnya yang seputih kapur.
Arran dengan tumpukan diktat.
"Pagi Pak Arran." Arman menegakkan tubuhnya dan tersenyum lembut menyapa Arran. "Selamat atas promosi Bapak, sebelumnya." Arman mengulurkan tangannya ke arah Arran.
"Eh, ehehehe... terima kasih Pak." Arran menjabat tangan Arman "Saya juga berterima kasih atas bantuan pengamanan saat soft opening kemarin. Berikutnya mohon dibantu untuk Grand Openingnya ya Pak." sahut Arran. Arman keluar dari pos untuk membantu membawakan gunungan bantex di tangan Arran.
"Loh? Ipang?"
Ipang memicingkan mata menatap sosok yang memanggilnya. "Eeeeehhh Bro Arran!" serunya girang. Ia berjabat tangan ala tinju ke Arran.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Arran.
"Lagi..." Ipang melirik Arman dengan waspada. "Magang bantuin Pak Sekretaris..." desisnya lemah. Rasanya ia ingin kabur saja.
"Magang? Anak magang langsung ditempatkan di sini? Bukannya harusnya di jajaran staff yah?"
"Iya Pak Arran, nepotisme sedikit. Kalau dia salah kirim surat paling saya makan hidup-hidup." sahut Arman sambil tersenyum simpul. Ipang menelan ludahnya.
Arran terkekeh.
"Kamu serap ilmu Pak Arman banyak-banyak, ngga cukup sebulan dua bulan kamu di sini... bisa 20 tahunan baru keserap semua." sahut Arran.
"Ah, Pak Arran bisa saja..." sahut Arman.
Basa-basi busuk. Pikir pria itu
"Untuk grand opening nanti, kami mungkin tetap pakai Cafe Bunga yah Pak, Boss sangat terkesan kemarin. Saya sudah kirim tanda terima kasih, terutama untuk chefnya..."
"Iya gue juga bantuin di dapur kemaren, kali..." gumam Ipang.
"Oh ya? Kamu juga ada di sana toh?"
"Cafe bunga punya kakak saya, Kak Yori... Nih Pacarnya." Ipang menunjuk Arran, dibalas dengan tepisan Arran yang kini mukanya merah karena malu.
"Oooh..." Arman baru saja menyadari satu hal. Kepingan demi kepingan puzzle bersatu di benaknya. "Kamu... pacar Susan...iya?"
"Iya." Kata Ipang.
Lalu hening...
Jadi... gara-gara bocah begini, Susan di off duty? gumam Arman dalam hati. Wajahnya langsung berubah angker.
Ipang dan Arran langsung menyadari perubahan suasana yang terjadi. Mereka menatapnya Arman dengan waspada, bagaikan melihat Puma di depan mata mereka, mengendap-endap mengincar mangsa. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang terjadi.
Hening lagi...
Kali ini lebih tegang udaranya.
"Anuu... Pak Arman, saya lanjut jalan lagi, saya titip dokumen building untuk Pak Sebastian yah Pak." sahut Arran sambil menyeringai kikuk. Ipang terpekik tertahan. "Bro! Kok gue ditinggalin?!" Bisiknya panik.
"Ya kan memang kamu magangnya di sini!" bisik Arran.
"Itu Pak Arman tampangnya jadi serem! Kalo gue beneran dimakan gimana?!"
"Kamu baca doa saja yang banyak!" sahut Arran sambil melepaskan pegangan Ipang. "Byee... inget, Bismillah dulu..." dan Arran melambaikan tangan keluar ke arah lift.
Ipang duduk dengan hati-hati sambil melirik Arman...
Yang masih menatapnya dengan tajam.
Lebih serem dari Eyang Uban... keluh Ipang dalam hati.
Tiba-tiba dua orang wanita cantik jelita datang. "Pak Armaaaan..." sapa mereka dengan nada suara mendayu.
Mereka mencondongkan tubuhnya ke konter sekretaris di depan Arman.
Herannya, raut wajah Arman langsung berubah menjadi lebih lembut.
"Hai... makin cantik saja kalian ya. Baru hari Senin loh ini..." sapa Arman.
"Iiih... pagi-pagi udah merayu. Kita jadi deg-degan..." kata salah satunya. "Nanti, mau makan siang bareng ngga? Di... hotel seberang...?" Mereka menaikkan alisnya sekilas dan menggigit bibir mereka sambil menatap Arman dengan penuh perhatian.
"Saya nanti siang ada janji..." sahut Arman.
"Yaaah... kita kan mau bahas... pro-po-sal... ehem."
Arman terkekeh.
Lalu mereka menatap Ipang dan mendesah.
"Wah... wah... siapa ini...?" suara mereka serak tapi seksi.
"Anak magang." jelas Arman.
"Anak magang?" seru mereka mengulangi perkataan Arman. "Tumbeeennn... Garnet Grup kan biasanya tertutup untuk anak magang!"
"Dia punya kemampuan khusus." sahut Arman kembali berkutat dengan dokumennya.
"Ya jelas punya..." gumam wanita-wanita itu sambil menatap Ipang seakan dia adalah santapan yang sangat lezat. "Lantai 50 kenapa makin gerah begini yaaa..." gumam salah satunya.
Ipang berdiri dan meletakan case tisu di atas konter.
"Kepanasan? Mau sekalian dilap mbak?" tantang Ipang.
Terdengar dengusan mengejek Arman.
"Waduuuhhh garang nih Jeeeng!" keduanya heboh menanggapi Ipang.
"Ikut aja nanti pas makan siang... Sekalian sesi per-ke-na-lan..." desah mereka.
"Perkenalan atau pernakalan. Cuma beda sedikit... Saya banyak kerjaan nih. Masa baru masuk udah di garap..." guman Ipang.
Arman mengangkat wajahnya dan memicingkan mata menatap Ipang. "Kamu ikut aja mewakili saya." desis Arman sambil menyeringai.
"Loh... kan Pak Arman yang diajak." Ipang menolak halus.
"Siapa tahu berkat mereka kamu jadi bisa mengimbangi Susan."
"Memangnya Pak Arman tahu kemampuan saya yang sekarang?"
"Hm... kamu selama ini selain kuliah keuangan juga kuliah yang lain yaa... Pantas nilai kamu jeblok."
"Ah, Pak Arman ini kayak ngga pernah muda saja. Selain kuliah saya juga ikut organisasi kok..."
"Organisasi atau orgasmesasi?!"
Lalu mereka berdua saling menatap dengan dingin.
Latar belakang seakan petir menyambar.
Para wanita...
Undur diri, karena menyadari persaingan semakin panas.
"Hm? Sudah pada pergi tuh." desis Arman.
Ipang menoleh ke arah kedua wanita yang menjauh dengan terburu-buru.
"Ampuh juga akting beginian..." sahutnya.
"Ya udah, lanjut sortir surat..." kata Arman
"Yang begitu datang tiap hari pak?"
"Bisa tiap menit kalau saya stay di sini."
"Banyak juga ternyata fansnya yah... sebenarnya suka sama cewek atau cowok sih..." sebenarnya Ipang bergumam untuk dirinya sendiri, namun ternyata terdengar ke telinga Arman.
"Saya belum pernah sama cowok, tapi kalau kamu, rasanya bisa-bisa aja sih..."
Duakk!!
Lutut Ipang membentur atap meja saking dia paniknya.
Terdengar kekehan Arman.
"Saya... ke toilet dulu..." Ipang langsung berdiri dan melipir ke pintu keluar.
"Hoi... toilet di ujung satunya." desis Arman.
Ipang balik arah dan ke ujung satunya.