
Sebastian berjalan menyusuri lorong diikuti oleh orang-orang kepercayaannya.
Dimas-Meilinda tentu saja.
Dan Bram.
Sementara Trevor berjalan di belakang mereka dengan jarak sekitar 5 meter. Anaknya itu berjalan bersama Mitha, sedang berdiskusi mengenai sesuatu yang Sebastian tidak bisa dengar.
Berulang kali leher Sebastian menoleh ke belakang.
Reaksi Trevor saat berbincang dengan Mitha... Lepas.
Akrab dengan sewajarnya.
Hampir sama dengan Milady, tapi kini Trevor menatap lurus ke mata Mitha.
Ya Tuhan...
Inikah akhir penantiannya?
Semoga...
Setelah kondisi penuh drama dengan Milady, dan kini pemandangan di belakangnya ini membuat hatinya sangat berharap, dengan penuh kecemasan.
Sebastian menopang jalannya dengan tongkat golfnya.
Tidak, ia tidak memukuli Gunawan dengan tongkat itu. Para istri sudah melakukannya lebih dulu, menumpahkan kekesalan mereka. Dengan barang-barang di dalam ruang meeting.
Keadaannya lebih mirip kapal pecah di dalam sana. Dengan beling dimana-mana dan barang-barang pecah berantakan.
Terkadang, para wanita bisa menyiksa lebih sadis daripada pria.
Kini Gunawan ditinggalkan di ruangan itu dalam keadaan tanpa pakaian dan babak belur terkena amukan dua orang istrinya. Sementara Mitha sibuk dengan Trevor.
Pintu ruang meeting tidak terkunci, coba saja kalau Gunawan sudah terdesak, keluar dari ruang meeting dalam keadaan tanpa pakaian sehelaipun.
Sebastian sangat menanti tayangan CCTVnya.
Kalau Gunawan macam-macam, akan ia sebarkan adegan telanjang itu ke publik.
Dari awal, ia sengaja tidak mengaktifkan CCTV yang ada di dalam ruang meeting. Namun masih ada CCTV di depan pintu, yang aktif.
Dan juga di koridor...
Dan di dalam lift...
Dan di area tangga darurat.
Sampai saat ini satu-satunya tindakan mesum yang ia lihat lewat CCTV hanya Arman dengan para selirnya di dalam lift. Saking seringnya jadi terasa membosankan.
"Ayah..." tegur Trevor dari kejauhan.
"Iya... Ayah berhutang penjelasan sama kamu." Sahut Sebastian cepat.
Mereka masuk ke dalam lift.
"Trevor, Bram, kalian dampingi Mitha melihat-lihat kantor barunya di Rusia..." kata Sebastian di dalam lift.
"Ah... Lokasinya masih sama dengan yang dulu kan Pak? Saya bisa sendiri saja kok Pak..." sahut Mitha.
"Kali ini Komisaris Utamanya harus mendampingi, karena di sana sedang demo besar-besaran memprotes penutupan tambang." kata Sebastian.
Trevor tersenyum sambil mengangkat alisnya ke arah Mitha.
"Ngomong-ngomong... Sebenarnya dulu Mbak Mitha ini kerja dimana waktu sama ayah?" Trevor menatap Mitha. Ia ingin Mitha yang menjawab sendiri.
"Ehm..." Mitha melirik Sebastian.
"Yah kamu jujur saja. Lagipula... Siapa tahu Trevor calon suami kamu setelah Gunawan..." tembak Sebastian.
Mitha langsung memekik tertahan. Mukanya langsung merah.
"Bapak ini, Ah! Kalau becanda suka ngga lihat tempat!" pekik wanita itu. Tapi ada sedikit senyum malu di bibirnya.
Trevor hanya berpaling dari semuanya dengan pura-pura melihat ke arah luar jendela lift.
"Sejak jumpa kita pertama, ku langsung jatuh cinta... Walau ku tahu kau ada pemiliknya..." Terdengar suara Dimas menyanyi, dengan wajah yang dibuat datar.
"Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani... Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini..." sambung Bram.
Lalu mereka berdua terkekeh penuh arti.
"Belom iddah tuuh...khehehehe AOW!!"
Dimas dicubit Mitha dibagian perut.
"Sakit Mbak..! Pak Sebastian ngga dicubit tuh dia kan yang mulai pertama, Hih!" protes Dimas.
"Bisa hilang jari saya, sampai saya berani..."
"Lagipula Gunawan belum tentu mau menalak saya..." gumam Mitha.
Semua diam.
Bagaimanapun, ia istri sah.
Kalau ada yang harus Gunawan pertahankan, adalah Mitha.
Walaupun pada akhirnya, seburuk-buruknya Gunawan, Maya masih akan tetap mendampinginya sebagai istri, hanya karena ia yang paling banyak memiliki anak dari Gunawan. Yang lain bisa dengan kata talak, maka usai sudah perjalanan sebagai suami-istri. Namun kalau Mitha, prosesnya masih akan panjang...
"Saya sudah persiapkan 3 orang pengacara terbaik di negara ini untuk mendampingi kamu." desis Sebastian.
"Aduh, Bapak ini... Tidak usah sampai segitunya Pak... Saya hanya akan merepotkan."
"Juga sudah disiapkan bukti-bukti yang memberatkan Gunawan. Belum tuntutan hukum dari saya..." sambung Sebastian.
Mitha sudah tidak bisa menolak.
"Kalau Gunawan sampai tidak mau menalak kamu, saya akan mulai bikin panjang kasus aksi kudetanya. Tapi kembali lagi... Semuanya terserah kamu. Tergantung kamu, Mitha. Kamu yang akan menentukannya."
Mitha menghela napas, lalu mengangguk pelan.
"Meli..." panggil Sebastian. "...kamu dari tadi diam. Ada yang masih mengganjal?"
Meilinda, dari tadi bersembunyi di belakang Dimas sambil memegang erat harddisk di dadanya.
Wanita itu tersentak saat Sebastian memanggil namanya. Padahal suara Sebastian tidak kencang, lebih terkesan bergumam.
"Y... Ya kak?"
"Ada apa?"
Meilinda menghela napas.
Ia saat ini berusia 44 tahun. Usia yang seharusnya lebih tegar dari Mitha, Atika dan Maya. Namun entah bagaimana saat ini ialah yang paling butuh perlindungan.
Sedikit banyak Meilinda merasa hanya sebagai pengganggu.
Ia dibesarkan dengan kasih sayang kakaknya... Tidak ingat saat-saat harus berjuang.
Seorang putri yang kini rapuh.
Harus selalu dilindungi seseorang... Sampai kapan?
"Kak..." desisnya.
Lalu ia maju dan memeluk Sebastian.
"Terima kasih..."
Sebastian tertegun.
Lalu menghela napas.
Meilinda adalah separuh jiwanya.
Lebih dulu daripada ia bertemu Milady.
Usia kaka beradik itu berjeda jauh.
Membuat Meilinda selalu dimanja Sebastian sejak wanita itu lahir.
"Iya." gumam Sebastian sambil mengelus punggung Meilinda dan mengecup dahinya.
"Aku selalu saja membuat kakak repot." sahutnya.
"Hm... Berikutnya kamu bikin repot saja di Boyo, tuh dia sudah siap lahir batin..." kata Sebastian.
"Memangnya ada laki-laki yang siap nikah?"Dimas bertanya balik. "Kakaknya aja pas nikah pertama, ngga siap sampe cerai, untung anaknya ganteng. Pas siap umurnya malah udah 54 tahun..."
"Heh! Ngga usah gibah didepan orangnya langsung!!" sembur Sebastian.
"Hehe... Liftnya sempit Pak..." sahut Dimas.
*****
"Pak..." sapa Arman sambil menunduk sekilas saat Sebastian memasuki ruang Direksi.
Sebastian berhenti sambil menatap Ipang yang sedang menyeringai padanya sok akrab. Pipi bocah itu merah, bekas dicubit Milady. Masih lebih mending daripada di jewer, berkat Arman melindunginya.
"Kamu... Ikut saya masuk ruangan." desis Sebastian.
"Saya Pak?" desis Ipang sambil menatap Arman, meminta perlindungan. "Di dalam diapain Pak?" bisik Ipang ke Arman.
"Pas keluar nanti, kamu bisa jadi lebih ganteng..." kata Arman.
"Jadi di dalam dikasih les kepribadian gitu ya Pak ?"
"Ngga usah kasak-kusuk disana, cepat masuk, sini!" seru Sebastian dari kejauhan.
"Bukan les kepribadian... Dicuci otak." Kata Arman.
"Anj**rit..." desis Ipang.
*****
Pandangan semua orang pada saat memasuki ruangan Sebastian... Tentu saja langsung tertuju ke mobil emasnya.
"Buset..." desis Dimas. "Ini pasti untuk peringatan hari pertama jadi Midas ya Pak..." nadanya sindiran.
"Terserah kamu lah..." balas Sebastian sambil menghampiri istrinya yang kini duduk dengan santai di kursi kerjanya.
Ipang reflek mengulurkan tangannya untuk mengelus benda berkilauan tersebut.
"Jangan pegang-pegang, belum saya lap bekas yang tadi..." sambung Sebastian.
Ipang langsung menarik tangannya
"Hah? Habis dipake buat apa?!" sahutnya heboh.
Dimas mengeplak lengannya.
"Lu kayak ngga tau aje kerjaan penganten baru..."
"Siapa yang penganten baru?!"
"Ohiya lo belum tau yak."
"Apa'an sih nih?! Gue ketinggalan berita apa?" lalu dia mengutak atik ponselnya dan menarik lengan Dimas.
"BroMas, potoin Bro..."
"Heh...malah foto-foto lagi!" Dimas merebut ponsel Ipang dan langsung selfie dengan latar belakang mobil emas.
"Gilak gue jadi ganteng banget. Lo liat kulit gue jadi shimmering gitu kena pantulan cahaya body mobilnya..." Dimas dan Ipang mengagumi hasil potonya.
Ipang mengangguk setuju, Lalu Ipang gaya putri duyung di bagasi mobilnya. Dimas mengatur gaya.
"Anjr**it lu kayak ma**ho..." gumam Dimas sambil menyeringai.
"Yang penting sultan minded..."
"Name tag lo lepas, ada tulisan traineenya!" sahut Dimas.
"Oh iya..." dan Ia juga melepas jasnya, satu kancing kemejanya, menggulung lengannya dan bergaya ala eksekutif muda dengan jas disampirkan ke belakang, dengan latar belakang mobil.
"Widih... Lo jual ke agency model laku nih."
"Wah, Keren! Coba BroMas, lo gaya lilin di depan mobil..."
"Ngga ada gaya yang lebih random Pang?!"
"Udah belum sibuk-sibuknya! Saya ngga jadi pengakuan nih ya! Mau meeting treasury sebentar lagi!" Seru Sebastian dari ujung ruangan.
"Meeting bro... Meeting..." desis Dimas.
"Gue kan cuma anak magang... Ngapain ikutan meeting..." keluh Ipang sambil mengikuti Dimas ke ujung ruangan.
*****
Sebastian duduk di kursi kerjanya, dengan Milady di belakangnya, berdiri setengah duduk di konter.
"Kami, Saya dan Milady... Sudah menikah sekitar seminggu yang lalu. Disaksikan oleh Pak Farid dan Ayah saya, dengan kedua orang tua Milady hadir disana."
Bletakk!!
Ponsel Ipang terjatuh.
"Ha?" desahnya meminta pengulangan kata.
Sebastian menarik napas panjang dan menghembuskannya.
"Saya merahasiakannya untuk alasan keamanan Milady. Dan karena Akta Notaris mengenai Pembagian Harta Bersama belum dibuat. Pernikahan kami bisa membuat ricuh komite dan investor karena dalam Akta Anggaran Dasar Perusahaan, hak akan keputusan akan terbagi dua antara saya dan ahli waris. Saya berani berbicara sekarang, karena akta tersebut saat ini sudah jadi. Sehingga Milady tidak memiliki suara apapun dalam bisnis kecuali tiba-tiba... Tugas saya selesai di dunia..."
Semua hening, menyimak.
"Saat itu, ahli waris, sesuai dengan kesepakatan saya, ayah saya dan anak saya, adalah Milady, Dimas, dan... Anak saya lainnya yang mudah-mudahan atas izin Tuhan dapat segera dilahirkan."
"Hah?!" kali ini ganti Dimas yang kaget.
"Maksudnya? Kenapa jadi Saya? Meli dan Trevor kok ngga disebut?!" Dimas mulai panik.
"Gue mau pensiun dini..." desis Trevor.
"Kenapa lo bisa tiba-tiba pensiun dini, brooo?! Gue kan cuma menantu!" seru Dimas.
"Gue ngga merasa mampu memimpin perusahaan ayah." kata Trevor.
"Kenapa lo kalah sebelom perang!!" Dimas beneran panik.
"Nah, lo kenapa langsung panik?!" tantang Trevor.
"Gue cuma anak tukang nasi uduk njir... Disuruh hadepin mafia, dan orang-orang politik yang liciknya kayak kampret, belom kalo ada klien yang dari semacam padang 12 dan lainnya, gue juga berani bertaruh itu ada klien dari anteknya Ratu Junjung Buih segala!"
"Kenapa lo jadi goib sih maenannya... Kebanyakan bergaul sama Mas Danu sih.." ujar Trevor. Tapi dia melirik Sebastian yang sedang menyeringai memperhatikan kepanikan Dimas.
Bisa jadi semua yang dikatakan Dimas barusan benar adanya.
Lalu Trevor mencibir sambil bilang. "Oke, Fixed, gue pensiun dini. Saham waris putus yah Ayaaaahhh... Habis itu aku hidup tenang di pedalaman, bercocok tanam jadi petani!"
Lalu dia menoleh ke Mitha, dan tersenyum lembut
Mitha hanya menyeringai dan menunduk menatap lantai.
Pipinya merah.
"Hoi zina mata hoi!!" seru Dimas kesal.
"Apa sih lo..." gumam Trevor.
"Bentar Bro! Urusan gue belom selesai! Sejak kapan Saya ngerestuin Kak Lady nikah sama Saruman cobak?! Saya juga ogah iparan sama sekutunya Dol Guldur!" Seru Ipang.
"Sst, sekutunya Dol Guldur tuh Sauron..." bisik Dimas.
"Kenapa jadi pada ngomongin Lord Of The Ring sih..." desis Trevor.
"Pak Sebastian..." terdengar suara Bram yang rendah.
Semua hening.
Semesta menyimak...
"Mohon maaf saya potong sebentar keributan ini. Tapi saya lihat di sini, ada ketimpangan yang merugikan pihak lain dalam keputusan Bapak. Mohon maaf kalu saya agak lancang..." Suara Bram, yang rendah dan dalam membahana di ruangan.
Bram memang jarang berbicara, namun sekali dia mengeluarkan suaranya, tiba-tiba segalanya menjadi lebih realistis.
"Pak Sebastian sangat mengetahui kalau memimpin sebuah kerajaan bisnis tidaklah mudah. Apalagi kami tidak tahu pasti, apa saja yang sudah bapak lakukan di belakang layar. Yang mana, saya perkirakan tidak semuanya mengikuti aturan dan sesuai dengan hak asasi..." kata Bram.
"Mengenai masalah pengalihan hak itu... Apakah adik saya pernah ditanya mengenai kesanggupannya dan kebersediaannya memimpin menggantikan Bapak? Kalau tidak pernah, itu berarti, Pak Sebastian sudah melanggar hak Dimas sebagai warga negara." Kata Bram. "Dalam hal ini, kalau Dimas mau menuntut Pak Sebastian dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan, bisa saja diproses karena jatuhnya membuat orang lain tidak hidup dengan nyaman."
Semua diam..