
Entah sejak kapan Arman hidup sendirian.
Sudah... sangat lama.
Sejak ia 13 tahun... Menjadi anak asuh Baskara Beaufort, tinggal di rumah mereka bersama anak-anak lainnya.
Barang miliknya adalah milik anak lain juga. Makanannya juga adalah makanan bersama. Bahkan orang tuanya... adalah orang tua bersama.
Arman tidak suka.
Jadi, ia berusaha menonjol, berusaha lebih keras, agar diakui yang lain. Agar dapat memiliki barang pribadi sendiri, tanpa ada yang berani ikut mengklaimnya.
Lalu... Anak itu lahir.
Alexander Lucas Beaufort... Sang pewaris.
Secara fisik dan kemampuan sebenarnya lemah.
Namun... Dia mulai mengklaim semua milik Arman.
Tidak ada gunanya lebih menonjol, tidak ada gunanya lebih kuat, atau lebih pintar. Semuanya kalah dengan... Hubungan darah.
Arman hanya orang lain.
Alex adalah anak kandung.
Jadi, setelah lulus SMP, Arman memutuskan untuk hidup sendiri. Mencari tempat tinggal sendiri.
Di jam pulang sekolah ia mengajar karate atau silat anak-anak sekitar, lalu mulai meraih semuanya dengan beasiswa.
Ia menjadi penggila kompetisi untuk memenangkan berbagai piala, lalu piala itu ia jual untuk hidup sehari-hari. Ia juga sering menjuarai sesuatu dengan nama palsu, menjadi joki bagi anak konglomerat untuk memenangkan berbagai kejuaraan.
Jadi... Sudah sejak lama Arman hidup sendirian.
Dan ia menikmatinya.
Ia mengatur sendiri hidupnya.
Ia tidak diperintah siapa-siapa...
Sampai...
"Okaeri-nasai..." (Selamat pulang kembali) Sahut Ayumi saat Arman membuka pintu apartemennya.
Wanita itu masih mengenakan apronnya. Memeluk Arman dengan erat, dan mencium bibir pria itu.
Rasanya... Aneh.
Saat ada yang menyambutmu pulang dengan wajah sumringah seperti ini.
Seakan bersyukur Arman pulang dengan selamat.
Pria itu sempat tertegun beberapa saat, terpaku tetap di tempatnya sambil menatap Ayumi dengan raut wajah yang sulit dilukiskan. Antara senang tapi juga waspada.
"Aku harus jawab apa kalau kamu kasih salam seperti itu?"
"Tinggal jawab, aku pulang sayang, nih cake Harvest."
"Harus ada 'cake Harvest' nya, gitu?"
"Bisa diturunin levelnya jadi Nasi Goreng kok..."
"Hm. Aku pilih yang turun level aja..." Sahut Arman.
"Ck..." Decak Ayumi sambil melepas pelukannya. "Mandi sana."
"Bareng ya..."
"Aku udah."
"Mandi lagi..."
Arman melepas apron yang digunakan Ayumi dan mengangkat rok wanita itu.
Ia butuh bersama Ayumi malam ini.
Selama mungkin waktu yang bisa mereka lalui...
Sebelum mereka berpisah.
Namun...
Arman belum sampai hati memberitahukan Ayumi.
Ia sendiri masih ingin menikmati moment kebersamaan mereka.
*****
Ayumi menghela napas lega sambil beringsut memeluk pinggang Arman dan membenamkan mukanya di bahu pria itu.
"Rasanya beda ya... Kalau bermesraan dengan orang yang kita sayang..." Gumam wanita itu.
"Mm..." Arman mengakui, tapi tidak sanggup menjawabnya. Di benaknya masih dipenuhi beban pikiran yang ternyata semakin ia memeluk wanita ini, bebannya malah semakin berat.
Tapi...
Ia ingin setiap detiknya merekam senyuman Ayumi.
Bukan senyuman dipaksakan seperti saat Arman mengenal Ayumi dulu.
Tapi yang Arman rekam adalah Senyuman Ayumi saat ini, yang begitu tulus dan sepenuh hati.
"Ayumi..." katanya.
"Bilang istriku."
"Hehe... Belum sayang, sebentar lagi..."
"Bilang aja."
"Iya... Medusa tukang batu."
"Mau disentil ngga ***** nya?"
"Enggak. Nanti dia bangun lagi, terus marah-marah gimana?"
"Nanti dielus pake lidah."
Arman diam.
Tegang.
"Kamu nih... Bahaya juga ya. Sini lah!" Dan ia kembali menarik Ayumi ke pelukannya.
Pelukan yang bukan hanya sekedar pelukan, pastinya.
*****
Ayumi terengah-engah sambil memejamkan matanya.
"Udah... capek..." Keluhnya.
"Gitu aja capek..." Sungut Arman sambil beranjak bangkit untuk mengambil air minum.
"Bikinin teh anget, Ares..."
"Kamu nyuruh?!"
"Ares, teh anget... Pake madu ya."
"Ck... makin lama logat kamu makin mirip Pak Sebastian..."
"Memang aku belajar mengendalikan kamu dari dia."
"Hishhh..." Desis Arman sambil berjalan ke konter dapur.
Ayumi melirik Arman sambil terkekeh pelan.
Ia mengingat kata-kata Sebastian saat terakhir mereka berbincang di Kebun Binatang.
(Flashback ke kejadian lampau)
"Ares pria yang sangat berprinsip... Dia berbeda. Dia memiliki aturannya sendiri..." Kata Ayumi.
"Masa?! Hm... Mau tahu bagaimana mengendalikannya?" Tanya Sebastian.
"Memangnya bisa?!"
Sebastian mendengus licik.
"Arman itu seperti serigala... Dia tidak bersahabat dan memiliki teritorinya sendiri. Kalau kamu takut, dia akan menekan kamu, mengancam kamu, bahkan mencelakakan kamu. Dia adalah Alpha dari kawanannya."
"Alpha...?"
"Serigala Alpha adalah pemimpin. Bertanggung jawab ke kawanannya. Kalahkan dia, tunjukan kemampuan kamu. Dalam hal ini, sebenarnya kamu sudah menang, terbukti dari... Kelakuan Arman yang salah tingkah kalau di dekat kamu."
"Jadi... Dia sebenarnya takut pada saya?"
"Mungkin perasaannya lebih ke... Tidak ingin mengecewakan kamu."
(Kembali ke masa kini)
Ayumi memeluk Arman dari belakang, sambil menggesek-gesekkan dadanya di punggung Arman.
Terdengar kekehan senang pria itu.
Dentingan logam sendok saat mengaduk teh mengenai gelas keramik, mewarnai suasana hening sore itu.
Gerimis di luar sana, membuat siapapun ingin bermalas-malasan di balik selimut.
"Tehnya Nyonya istriii..." Kata Arman menggoda Ayumi.
"Arigato Tuan Suami..." Kekeh Ayumi.
Arman sekali lagi menyeringai sambil menatap Ayumi dengan sendu.
Lalu pria itu menghela napas, dan meletakkan teh Ayumi di meja makan.
Ia berdiri bersandar di konter sambil menarik Ayumi mendekat.
Kedua tangannya berada di pipi Ayumi, menengadahkan kepala wanita itu supaya menatapnya.
"Kamu bersedia jadi istriku?" Tanya Arman.
Saat menatap Arman kala itu... Seketika ada suatu perasaan berbeda yang menyelimuti mereka.
Ayumi entah bagaimana merasa ini adalah saat terakhir ia bisa merasakan pelukan Arman.
Wanita itu mengernyit.
Ada apa ini? Pikirnya.
"Aku bersedia." Kata Ayumi penuh keyakinan. Ia merasa perlu mengucapkan kata-kata itu.
"Walaupun... Kita akan mengarungi rintangan yang tidak mudah?" Kata Arman lagi.
Ayumi mengernyit.
Apa maksudnya?
"Apakah kali ini aku akan sekali lagi merasa sendirian?" Gumam Ayumi. Mata wanita itu menyiratkan suatu kekhawatiran...
Intuisinya bekerja.
"Iya." Arman merasakan terasa berat mengucapkan sepatah kata itu meluncur dari mulutnya. Rasanya dadanya semakin bergemuruh.
Apalagi melihat senyuman Ayumi yang meredup dan binarnya yang menghilang.
"Apa yang..." Kata Ayumi meminta penjelasan.
Arman mengelus pipi Ayumi perlahan.
Lalu tersenyum samar, mencoba menenangkan wanita yang ia sayangi ini.
"Kita berpakaian dulu. Aku mau... Membicarakan hal penting. Misi terakhir kita." Kata Arman.
*****
Milady menggoyang-goyangkan kakinya sambil membaca tabel estimasi penjualan Garnet Property dan sedikit mencorat-coret skemanya.
Terdengar suara kursi bergeser ke arahnya.
"Bu Big Boss kok belum pulang jam segini?" Suara Arran.
Milady terkekeh.
"Lagi nunggu PakSu jemput Mas..." Desis Milady.
"Kamu ngga seharusnya bekerja sampai larut loh..."
"Aku masih karyawan di sini. Penggantiku belum ada."
"Tapi rasanya seperti ada yang salah."
"Hem... Iya sih, semua bersikap agak..." Milady mengangkat bahunya.
"Berlebihan." Sambung Arran.
"Begitulah." Kata Milady.
"Anak-anak proyek kangen sama kamu, katanya."
"Sebentar lagi aku akan kesana... Aku juga bawa banyak oleh-oleh buat mereka."
"Kamu memanjakan sekali ya..."
"Hm... salah ya?" Milady menatap Arran dengan mata besarnya.
"Tidak salah, tapi juga tidak benar. Kamu tahu konsekwensi kalau memanjakan karyawan. Kebanyakan jadi tidak tahu posisi mereka..." Kata Arran.
"Wah Mas... Kamu kenapa jadi strict begitu?"
"Hm.. Ada beberapa orang yang berbuat kesalahan, saat ditegur dia mengancam akan mengadu ke kamu... Dia bilang, saya kenal istri owner, jangan macam-macam..." Arran menyeringai.
"Aduh... Sampai begitu ya..." Milady mengernyit merasa bersalah.
Lagi-lagi politik dunia kerja.
"Yah, dan biasanya saya hanya bilang... Maaf, kita sama-sama mengenal Milady, jadi saya ngga mempan diancam." Desis Arran sambil menyeringai.
Milady menghela napas.
"Aku udah banyak bikin repot ya Mas? Maaf ya..." Kata Milady merasa tidak enak.
Arran tidak menjawab, hanya menyangga dagunya dengan tangannya di meja, menatap Milady.
"Aku masih suka sama kamu." Desis pria itu.
Milady langsung menatapnya dengan dingin.
"Jangan berpikiran buruk dulu." Sahut Arran. "Perasaanku saat ini ke kamu lebih ke... Perasaan mengagumi. Bukannya aku ngga serius sama Yori, tapi ya... Aku sudah suka kamu sejak lama. Pasti ada hal-hal yang tidak bisa terlupakan begitu saja."
"Hm..." Jawab Milady.
Bukan sebuah jawaban sebenarnya.
Hanya karena Milady tidak tahu harus menjawab apa.
"Maaf ya mas..." Sahut Milady.
Arran hanya mengangguk perlahan.
"Ibuuu..." Trevor muncul dari arah koridor.
Milady dan Arran berpaling menatap pria itu datang.
"Aku datang jemput niiih..." terlihat seringainya.
Ia meraih tangan Milady dan menempelkannya di dahi.
"Ehhh...! Bener-bener yah kamu bikin kaget." sahut Milady sambil menarik tangannya.
"Laah secara resmi kan aku nih anak ibu loooh." Goda Trevor.
"Bapak kamu mana?"
"Ada di mobil tuh. Di lobi."
"Aku jangan dipanggil ibu dooong kesannya tua banget ini."
"Ya terus mau dipanggil apa? Masa Lady lagi, kan ngga sopan. Ya bu ya?"
"Ih aneh ah kedengerannya! Anakku lebih tua dari aku..." Milady mengibaskan tangan. Lalu beranjak dari duduknya
"Yuk Mas Arran duluaaan..." Sapa Milady.
"Ibu mau dipapah ato digendong?" Sahut Trevor masih menggodanya.
"Ngga jelas banget sih kamu!" Milady mencubit pinggang Trevor yang langsung menjauh menghindar sambil cekikikan.
Arran menghela napas sambil bersandar berusaha santai di kursi kerjanya. Ia menatap kedua orang yang menghilang ke arah lift...
Kepindahannya ke divisi Trevor kali ini, mungkin sudah suatu jawaban.
Kalau ia akan berkali-kali diingatkan, tidak akan bisa meraih Milady.
Wanita itu sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang.
Jadi,
Sudah sepantasnya Arran juga berusaha ikhlas menerima berkahnya sendiri.
Hidup...
Akan terasa jauh lebih baik kalau merelakan yang seharusnya direlakan.
*****