Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Let The Game Begin (2)



"Maksud kamu...?!" Arman mendekati Ayumi, meminta informasi lebih detail. Di benak Arman sudah dipenuhi berbagai pikiran buruk, apalagi melihat seringai Ayumi yang menurutnya licik...


Arman memperhatikan Ayumi hampir sepenuh kariernya. Ia tahu wanita seperti apa Ayumi.


Kegiatan wanita ini sehari-hari yang Trevor bahkan tidak tahu, sampai kebiasaan-kebiasaannya, Arman tahu semuanya. karena laporan selalu muncul di mejanya untuk ia pilih-pilih mana yang layak diperlihatkan ke Sebastian dan yang tidak. Tim lapangan selalu berganti-ganti, mereka bekerja dibagi dalam shift. Namun hanya ada satu komandan, yaitu Arman.


Otomatis seluruh laporan dari berbagai tim, Arman yang menganalisa.


Satu hal yang diketahuinya, Ayumi bukan wanita polos.


Arman mencengkeram leher Ayumi dengan kasar. Ingin sekali ia mencekik wanita ini.


Kalau bukan karena informasi darinya sangat berharga...


Arman menarik napas panjang sambil menipiskan bibirnya, berusaha mengurung niatnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." geramnya sambil menepis cengkeramannya.


Ayumi agak limbung karena tepisan Arman.


"Aku baik-baik saja." desis Ayumi.


Arman mendengus sinis. "Bukan buat kamu, aku mau scan seluruh badan kamu untuk cari itu chip. Walaupun harus menarik alat kontrasepsi kamu..."


Ayumi menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat.


"Bukan di situ..."


"Mau bicara atau tidak?"


"Mau mengizinkanku bertemu Sebastian atau tidak?!"


"Itu sama saja aku bunuh diri."


"Ya sudah." Ayumi memalingkan mukanya.


Arman menggerutu sambil menyambar ponselnya


"Bro, siapin mobil gue di lobi, gue mau bawa paksa medusa." kata Arman sambil bicara dengan seseorang dari seberang.


Ayumi langsung berlari ke arah toilet karena menyadari Arman tidak main-main. Toilet adalah satu-satunya tempat tertutup yang berpintu di sana.


Namun Arman dengan cepat meraih pinggang wanita itu dan membopongnya.


"Lepaskan cowok Brengsek!!" Ayumi berteriak-teriak sambil meronta.


"Makanya nurut!" seru Arman sambil menghubungi Bara. "Bro, off in sensor ledakan di gelang, saya mau bawa ni cewek ke ruang rontgent... Keras kepala!" umpat Arman sambil berjalan ke arah luar, sementara Ayumi memukul-mukul punggung Arman sambil berusaha membebaskan diri.


*****


"Aku tidak ingin berbuat jahat, aku terpaksa..." gumam Ayumi saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Tangan dan kaki Ayumi terpaksa diikat karena ia terus menerus memberontak.


Arman hanya menghela napas sambil menyetir.


Sepertinya Ayumi agak lelah hari ini. Terang saja, Arman mengerjainya seharian.


Bukannya Arman tidak mengerti keadaan Ayumi. Diburu yakuza saat ia sendirian seperti saat ini, dengan keadaan tidak punya siapa-siapa lagi.


"Please Ares... Pertemukan aku dengan Sebastian. Sebelum semuanya terlambat..." desisnya.


Mobil mereka baru saja keluar dari area apartemen. Belum terlalu jauh untuk membicarakan semuanya, sebenarnya.


"Astaga..." keluh Arman.


"Kenapa kamu sangat bersikeras..."


"Jaminan darinya sangat berarti bagiku." sahut Ayumi.


"Kamu sudah di area safe house di dalam perlindunganku, jenis seperti apa lagi yang akan kamu harapkan?!"


"Kamu akan tahu nanti..." gumam Ayumi.


Lampu merah.


Jemari Arman mengetuk-ngetuk pinggiran kemudi dengan gusar.


Ya Ampun...


Aku benci kalau hati nuraniku sudah diketuk. Batin Arman.


Dan dia meraih ponselnya.


"Pak..." sapanya.


"Mau apa?" terdengar suara Sebastian yang malas.


"Maaf Pak... Sepertinya... Saya mau bawa Asse menemui Bapak..."


Ayumi menghela napas lega.


*****


"Kamu diam di sini..." Geram Arman ke Ayumi saat ia memarkir mobilnya di salah satu mall di bilangan Jakarta Pusat.


Mobil dikunci dari luar.


Dan wanita itu bersandar ke jok sambil menghela napas, berusaha meredakan kekesalannya.


Tidak berapa lama, Arman kembali dengan beberapa kantong kertas dari butik ternama Paris.


"Pakai!" sahut Arman sambil mengambil pisau lipatnya dan membuka ikatan Ayumi.


"Kamu benar-benar cowok paling kasar yang pernah kukenal!" sungut Ayumi sambil mengelus pergelangan tangannya yang merah akibat ikatan.


"Oh, jadi Yakuza yang cambuk kamu, belum jadi yang paling kasar ya..." sindir Arman.


"Mereka tidak memperkosaku..."


"Belum." ralat Arman. "...dan tergantung siapa yang kuhadapi. Kalau menghadapi siluman ular macam kamu, jangan harap aku bisa bersikap seperti gentleman." sahut Arman.


"Aku begini juga ada alasannya..." gumam Ayumi.


Brak!!!


Arman memukul dashboard dengan keras, napasnya memburu.


Ayumi langsung diam.


"Membawa kamu ke hadapan Pak Sebastian adalah senjata makan tuan untuk aku. Aku mempertaruhkan karierku selama ini untuk berbaik hati mengantarkan bom waktu ke depan bossku sendiri... Jadi, tolong jangan berbuat yang aneh-aneh. Atau aku akan dipecat, dan kamu akan dideportasi. Ngerti Mbak Ayu?!" desis Arman sambil berusaha mengatur napasnya.


Ayumi hanya mengangguk sambil gemetaran. Lalu membuka kantong pakaiannya dan mengenakannya di dalam mobil.


Cara Arman meluapkan perasaannya, terutama saat dia sedang gusar seperti sekarang, sangat berbeda dengan sikap pria-pria yang selama ini dikenal Ayumi.


Arman tidak lembut dan tidak persuasif. Malah cenderung menekan dan obsesif.


Namun...


Entah bagaimana, memikat dengan caranya sendiri.


Tanpa tipu daya, apa adanya.


"Ares..." panggil Ayumi pelan.


"Hm?" sepertinya pria itu juga sudah capek.


"Aku jamin, yang akan kuberitahu kepada Sebastian tidak akan mengancam karier kamu. Aku memiliki kepentingan sendiri..."


"Terserah kamu..." gumam Arman sambil menghidupkan mesin mobil. "Sampai aku dipecat, aku cari kamu sampai ke ujung dunia..." ancam Arman.


*****


Ipang sedang membereskan hasil print saat Pak Kardi, Moses dan Eiichi memasuki ruangan Direksi.


"Hey Pange!!" sapa Moses. "Ternyata lo beneran kerja disini?! Gileee..."


"Jangan sebut Pange, suka diplesetin." sahut Ipang cepat. "Baper Band ngapain kesini siang-siang?! Proposal Bank Sampah belum ditandatangan, loh!" sahut Ipang ke Pak Kardi.


"Kita ada perintah khusus, Pang! Mendadak. Makanya cuma bertiga yang standby. Yang lain lagi pada kerja di kantor benerannya masing-masing." sahut Pak Kardi.


"Pangeran Lutung..." terdengar suara Sebastian dari interkom.


"Ya Eyang? Eh...Pak...ehem!" balas Ipang.


"Kalau pasukan sudah datang, suruh pada standby di ruang meeting besar."


"Siap Pak. Mbak Reny sedang beberes di ruang Meeting Besar!" sahut Ipang.


"Saya sudah sediakan seblak segala di kulkas..." bisik Ipang ke Pak Kardi.


"Waduuu... Mantap lah!"


"Sebentar ya, saya bawain becengnya..." Ipang berjalan setengah berlari masuk ke dalam ruangan Sebastian.


Moses bersandar ke konter sekretaris.


"Yang datang cuma satu cewek, kenapa banyak yang jaga begini?" tanya Moses.


"Kamu ngga tahu... Ayumi itu seberbahaya apa..." desis Eiichi. "Tampak luar memang seakan polos dan lembut. Tapi dia itu... Manipulatif." desis Eiichi.


"Memang orangnya begitu, atau ada trauma psikis?" tanya Moses.


"Kemungkinan iya, trauma dan dendam." Eiichi duduk di kursi tunggu dengan pandangan mata kosong. Ia mengingat masa lalu.


"Kalau sampai istri saya tahu, saya ke sini bertemu Ayumi, bisa-bisa perang dunia lagi..." keluh Eiichi sambil mengacak-acak rambutnya.


"Yah... Kan waktu itu lagi tugas, bro..." Moses menyeringai masam. "Eh, btw...si Yuki akhirnya gimana? Dia kan suka banget sama Ayumi sampai pingin tukeran peran waktu itu kan yak?!"


"Saya akui Ayumi memang manis, sih..." desis Eiichi.


"Yuki mau dipindah ke Jerman buat jadi pengawal pribadi kanselir. Biar ngga kebayang terus sama Ayumi." sahut Pak Kardi.


Lalu semua hening.


Diam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.


Sampai Ipang datang sambil membawa beberapa tas senjata.