
Mitha berulang kali membaca surat putusan pengadilan.
Sulit dipercaya!
Pikirnya sambil mengernyit.
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja, tanda sedang berpikir.
Sungguh...
Sulit dipercaya.
Bahkan Gunawan tidak menuntut apa pun?
Dan... Kenapa proses putusannya sangat cepat?
Setahu Mitha, diperlukan proses berbulan-bulan untuk kasus perceraian, belum harta gono-gini..
Ini... Bahkan belum sebulan!
Trevor melewati pintu masuk rumah Mitha sambil melonggarkan dasinya.
"Assalamualaikum..." Sapanya.
Raka langsung berlari ke arahnya sambil memanggil :
"Ayaaaaaahhh!!!" Jerit balita berumur 15 bulan itu.
Mitha menokeh dengan kaget. Ia bahkan baru kali ini melihat Raka berlari begitu cepat.
Dan sejak kapan dia menyebut Trevor dengan sebutan...
Apa tadi?!
"Wa'alaiku...m sal...am..." gumam Mitha, masih shock. Saking kagetnya, jadi terpaku di tempat.
Surat putusan pengadilannya bahkan terasa basi.
Lalu dari ujung ruangan, abang-abang Raka yang suka bikin rusuh juga berlarian menyambut Trevor.
"Ayah pulaaangggg!!!" Teriak mereka, masih dengan mainan di tangan masing-masing.
"Ha?" Desah Mitha.
Loh?
Loh?
"Looohhhhhh???" Seru Mitha.
Kini Trevor kesulitan berjalan karena ketiga anak Mitha semua bergelayutan di tubuhnya. Pria itu berusaha menyeret tubuhnya ke sofa terdekat.
"Ayah! Aku mau berenang! Kapan kita berenang lagi? Aku mau nginep dirumah eyang lagi!!" Seru Romeo, si sulung, sambil bergelayutan di pundak Trevor.
"Kata tante Meli besok mau dibeliin perosotan! Warna biru ya Ayah! Aku juga pingin ban bentuk mobil!" Seru Rizky.
"Ayaaah dadadadada!! Bubu bubu!!" Seru Raka sambil memukul bahu Trevor dengan antusias.
Trevor menaikan kaki ke meja.
"Pijetin dulu..." Desisnya.
"Okeee!!"
"Siap!!"
"Pink fong du du du du!!"
Dan Pria itu mendesah puas saat ketiga 'anaknya' sigap memijat kaki dan tangannya.
"...sejak... Kapan... Mas?" Tanya Mitha sambil terheran-heran.
Trevor hanya meliriknya penuh arti sambil mesem-mesem.
"Sejak kapan ya? Lupa." Desis Trevor sambil tersenyum.
"Hm..." Desis Mitha sambil berkacak pinggang, curiga tapi memilih mengalah saja.
Dengan ayah kandungnya saja mereka bertiga tidak seantusias ini. Pikir Mitha.
"Jadi gimana Mbak? Ada kabar apa?" Tanya Trevor lagi.
Mitha memang mengabari Trevor mengenai putusan pengadilan karena pria itu minta dikabari. Tadinya Mitha usul bertemu di luar saja, tapi Trevor minta bertamu ke rumah Mitha dengan alasan kangen anak-anak.
Jadi setelah mengurusi sedikit pekerjaan di kantor (Hari Sabtu, kantor property tetap buka dari jam 8 sampai jam 12 siang) Trevor mampir ke rumah Mitha.
"Hm... Kabarnya... Saya resmi jadi janda per hari ini..." Desis Mitha.
Terlihat senyum tipis dari wajah Trevor.
"Kok senyum-senyum aja..." Sungut Mitha.
"Memang berharap saya pasang tampang gimana?" Tanya Trevor
"Ih, orang nanya kok ditanya balik. Per hari ini saya single parent looooh..." Sungut Mitha lagi.
"Iya... Selamat yaaa..."
"Kok malah selamat..."
"Oh, sekaligus saya turut berduka."
"Mas Trevor ini gimana sih..."
"Saya juga serba salah ini..."
Mitha duduk si sofa depan Trevor sambil tertegun.
"Kok rasanya jadi kesepian ya..." Sahut Mitha.
"Kesepian?" Desis Trevor sambil mengernyit. Bagaimana mungkin Mitha bilang sepi padahal Three Musketeers lagi pada teriak-teriak berebut mijetin kaki Trevor.
"Iya... Ternyata begininya rasanya menyandang status Janda cerai hidup. Rasanya saya berada di posisi rentan. Seperti... Terbuang tapi berusaha bangkit... Gimana ya? Rasanya sedih aja." Kata Mitha.
"Itu maksudnya apa, Mas?"
"Tauk maksudnya apa..." Trevor memalingkan muka ke arah lain.
Mitha memicingkan mata.
"Memang situ udah bisa ngelupain Mbak Ayu?"
"Situ tahu sendiri rasanya berpisah sama pasangan yang sudah lama menjalin hubungan... Nasib kita sama loh. Bedanya kamu pisah lewat pengadilan, kalau saya lewat bogeman..." Trevor menunjuk mukanya yang dipenuhi luka. "Ngga akan bisa lupa secepat itu. Tapi kalau ngga dilupain kita sendiri yang tersiksa... Apalagi mereka sudah bersama yang lain."
Trevor menghentikan sesi memijat anak-anak yang kini diwarnai dorong-mendorong antara Romeo dan Rizky. Sedangkan Raka mulai menggigiti dasi Trevor sampai air liurnya menetes kemana-mana.
Ia bangkit dan menggendong Raka, lalu berjalan ke mobilnya membuka bagasi.
Dan mengeluarkan PS5.
Romeo dan Rizky menghentikan sesi berantemnya dan melongo takjud.
"Waaaa!!!" Seru mereka kegirangan saat menyadari harta karun yang dibawa Trevor.
"Dengan catatan, kalo mulai berantem lagi, ayah kembaliin ke tokonya." Trevor memberikan ultimatum.
"Iya iya iya kita janji kita janji!! Ayo pasang pe-es! Main main main!!" Seru Romeo dan Rizky antusias.
"Mas Trevor beli?"
"Enggak... Malak si Leon. Tadi sempat ke Beaufort sebentar, kursus tentang game sedikit buat anak-anak.." Sahut Trevor sambil mengikuti anak-anak.
Anak-anak antusias, dan mulai sibuk dengan aktivitasnya sendiri.
"Minggu depan kamu ke Rusia lagi kan? Bawa anak-anak?"
Mitha menggeleng. "Saya titipkan anak-anak ke Mbak Meli dan Dimas. Mereka malah yang nawarin. Paling saya bawa Raka aja karena masih ASI."
"Perlu saya temani?" Tanya Trevor
"Pekerjaan di sini gimana?"
"Ada Milady dan ayah..."
"Hm... Kita tinggalnya gimana?"
"Terserah kamu aja."
"Hm..." Terlihat pipi Mitha tampak semburat merah mulai muncul. "Yaaa kalau saya yang mau siih... Tapi kode etiknya gimanaaa..."
Trevor tersenyum sambil terkekeh.
Lalu ia menghela napas.
"Mitha." Panggilnya. Sudah tidak dengan sebutan 'Mbak' lagi. "Saya tahu ini tidak mudah, dan mungkin terlalu cepat. Tapi waktu terus berjalan... Dan kita harus melangkah ke depan, bukan malah mundur."
Trevor meraih tangan Mitha dan menggenggamnya.
Ia merasakan suatu getaran halus di sepanjang kulitnya. Trevor merasa sangat nyaman dan sejuk, tanpa rasa sakit dan tanpa debaran yang menyesakkan.
"M... Mas..." Wajah Mitha tanpak memerah. Ia tahu arah pembicaraan ini kemana.
Wajah Trevor tampak serius, namun juga sendu.
"Kalau kamu bersedia, dan anak-anak berkenan... Setelah masa iddah kamu selesai, saya berniat menggantikan Gunawan untuk jadi suami kamu."
Sungguh...
Setelah semua yang mereka lalui...
Hal-hal yang tampak mimpi, karena terlalu indah, namun nyata adanya, membuat Mitha merasa sangat bersyukur.
Kemudahan yang Tuhan berikan untuknya dalam hidup, keberkahan yang datang bertubi-tubi, apalagi alasannya untuk tidak merasakan bahagia?
Namun,
Ini adalah hadiah paling manis dari Tuhan yang ia rasakan...
Ia merasa sangat tidak berterima kasih kalau menolaknya.
Karena belakangan... Inilah yang ia impikan.
Suami yang sayang padanya dan pada anak-anaknya.
Kalau tampang ganteng dan dompet tebal sih, bonus lah yaaa... Ngga muluk-muluk nanti durhaka. (Hehe)
"Mesem-mesem terus... cium nih." desis Trevor.
"Ih Mas Trevor Maaah! Saya kan lagi menikmati moment!" seru Mitha Protes.
"Iya terus jawabannya gimana? Biar saya cepet hubungi EO dan minta restu ayah..."
"Buru-buru amat sih..."
"Iya... mau cepet-cepet lihat rambut kamu..."
"Hehehe..."
"...dengan lebih jelas." sambung Trevor
Mitha langsung diam.
"Memangnya... udah pernah lihat rambut saya?"
"Makanya sekarang saya merasa bertanggung jawab..."
"Waktu itu... ngintip ya?" Mitha tampak agak panik.
"Laper nih... kamu masak apa?" Trevor mengalihkan perhatian dan berjalan ke area ruangmakan.
"Mas Treeev ah! Kita belum nikah saya udah merasa ternoda iniiii!" Protes Mitha sambil mengikuti Trevor.
"Iya nanti saya tempelin logo Halal." seringai muncul dari bibir Trevor.