Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Joker



Trevor baru saja kembali dari lantai 5 dan akan menuju ruangannya, saat dari kejauhan ia melihat...


Pria itu memicingkan matanya.


Ayahnya, Dimas dan...


Syukurlah Ya Tuhan, itu Milady!


Dalam hati Trevor langsung mengucapkan syukur dan menghampiri mereka.


Lalu memeluk Milady.


Seakan mereka sudah berpisah sangat lama.


Loh?


Kenapa yang tercium malah parfum ayahnya?!


Ah, biar saja lah, pokoknya Trevor sekarang benar-benar merasa lega.


"Rady-Chan!" seru Eiichi yang sedang berada di kubikelnya.


Lalu pria itu setengah berlari menghampiri mereka.


Dan ikut memeluk Milady.


"Aku ngga tahan sama Boss-Mika. Please jangan pergi lagi!" gumam Eiichi.


"Bawel kamu..." desis Trevor menimpali Eiichi.


Kini Milady dihimpit dua orang pria yang seakan tidak ingin ia pergi kemana-mana.


"Duh...duh... Sesak nih..." keluh Milady sambil meronta.


Sementara Sebastian mendengus meelihat adegan itu. Ia benar-benar harus memberi batasan ke Milady mengenai interaksinya dengan lawan jenisnya...


*****


Ruangan Trevor.


Ketiga pria itu menatap Milady yang bekerja mensortir dokumen dengan sigap dan ponsel di bahunya.


Kelihatannya Milady sedang berdiskusi dengan Event Organizer rekanan.


Di sebelah Milady ada Eiichi yang membantu mengetik proposal anggaran dan ketiga sekretaris mondar-mandir di sekitar Milady untuk membantu wanita iu.


Sebastian, Trevor dan Dimas memperhatikan Milady dari ruangan Trevor, melalui pintu jati besar yang sengaja dibiarkan terbuka.


Mereka menikmatinya pemandangan itu.


Trevor menyeringai lebar, lega karena pekerjaannya akan cepat beres.


Dimas yang takjud karena melihat pekerja sesigap Milady, dan...


Sebastian yang malah membayangkan Milady bergerak bukan dengan dokumen di sekitarnya tapi dengan segala mainan anak, botol dot, bouncer dan... Beberapa bayi.


Hm...


"Bro Trevor... file gue..." gumam Dimas dengan mata masih tertuju ke Milady. Kini wanita itu sedang mengetik dengan kecepatan cahaya.


"Tuh, di meja..." jawab Trevor yang memperhatikan Milady sambil berpangku tangan di mejanya.


"Ambilin lah..." desis Dimas.


"Ogah, ambil sendiri..." balas Trevor.


"Gitu aja terus sampe malem..." kata Dimas.


"Boleh, siapa tahan lebih lama ditraktir Sushi."


"Sedetik lagi kalian begitu, bonus akhir tahun dipotong 70%..." terdengar geraman Sebastian.


"Ehem! Jadi gimana nih Gunawan Ambrose, Bro?!" Dimas langsung berpaling dari pintu, menghadap Trevor, dan bertekad bekerja dengan lebih serius.


*****


Apakah kasus Gunawan Ambrose penting bagi Sebastian.


Tidak juga...


Tapi kalau tidak dituntaskan akan ada Gunawan-Gunawan lainnya, karena merasa 'seniornya' tidak ketahuan, mereka juga akan mencoba peruntungan untuk mengelabui Sebastian dengan segala cara.


Seperti Tadashi...


Susan sedang di Rusia, memperhatikan tindak-tanduk Gunawan. Wanita itu kembali ia pekerjakan karena Garnet Med ditutup sementara.


Ia memang tidak berniat untuk menonaktifkan Susan terlalu lama... itu hanya shock therapy untuk adik Milady yang sombong itu. Sekaligus peringatan pertama untuk Susan.


Wanita itu begitu profesional selama ini. Akhirnya jatuh juga karena cinta.


Bukannya Sebastian tidak mengerti rasanya jatuh cinta.


Jadi, mungkin, sudah waktunya Susan tidak terlalu ikut andil ke pekerjaan yang berhubungan dengan keselamatan dirinya...


Sebastian sangat mengerti,


Bahwa pekerjaan utama seorang wanita adalah membahagiakan keluarganya...


Sedikit-sedikit ia akan melepaskan Susan. Jadi ia butuh partimer baru. Ia juga memprediksi Arman sudah bergerak lebih dulu untuk menyeleksi karyawan agencynya.


Di dalam mobil Milady.


Terjebak... Sebastian menganggapnya demikian karena belum pernah ia begitu dekat dan satu ruangan sempit dengan makhluk ini.


Dibilang manusia, terlalu menyebalkan...


Dibilang Astral, terlalu fana...


Dibilang Malaikat, terlalu sontoloyo.


Ayahnya sering menyebut Dimas sebagai Joker.


Semacam kartu remi...


Dalam permainan kartu Remi, disaat semua jalan telah buntu, hanya joker yang mampu membuat permainan belum dikatakan berakhir. Kedua, disaat kartu mati sebelum pemenang telah ditentukan. Semua pemain terkadang mengharapkan mendapati kartu Joker. Maupun istilah kartu As.


Kartu As dan Kartu Joker


Dua kartu yang terkadang menjadi sebuah jurus jitu dalam pertarungan atau permainan. Dalam realita sehari-hari, dua kartu bisa dijadikan strategi pamungkas, ketika strategi lain dalam keadaan tidak berjalan.


Seperti yang tidak kita sukai, justru dialah yang membantu. Yang kita tidak anggap teman, mungkin bisa jadi dialah teman sejati.


Sebastian kini memiliki banyak Kartu AS. Alex, Gerald, Arman... Dan tambahan yang paling special. Kartu Joker...


Dalam catur... Pion yang bisa bergerak sendiri. Terkadang dia jadi kuda, namun dia bisa juga jadi Ratu. Hanya Ratu yang bebas bergerak ke segala arah untuk melindungi Raja.


Trevor tidak termasuk?


Tidak...


Karena Trevor adalah Raja.


Raja yang tidak tahu kemampuan dirinya sendiri jauh lebih berbahaya bagi bisnis. Ia bisa diserang dari segala arah tanpa tahu alasannya.


Sebelum pewaris Sebastian siap, Trevor mau tidak mau harus menggantikan Sebastian memimpin.


Anak itu butuh Dimas.


Sebagai pemutus segalanya,sebagai CEO, sebagai Ratunya...


Karena saat ia lengah, selain ia akan diserang oleh pion lawan, seluruh kartu ASnya juga bisa berbalik arah melawannya.


Alex dan Gerald terlalu berbahaya untuk dianggap teman. Karena juga bisa jadi musuh...


Siapa yang bisa memasuki kedua orang itu, selain Dimas...


Belum ada...


Jadi, Sebastian akan berusaha bersabar.


Di dalam mobil yang melaju menuju Garnet Bank, Ia dan Dimas berbincang mengenai Milady. Suatu suasana yang menurut Sebastian aneh, bagaikan berbicara dengan saingan sekaligus adik sendiri.


Sampailah pada diskusi mengenai...


"Bapak yakin menunjuk saya sebagai pemimpin?" tanya Dimas.


"Kamu tidak suka?"


"Tidak."


"Kamu bisa memiliki kekuasaan tanpa batas..."


"Kalau saya salah langkah, selain nyawa saya, nyawa keluarga saya terancam. Bukannya saya ngga tahu bisnis macam apa yang bapak jalankan selama ini, yah..."


"Kamu pintar, jadi kamu pasti tahu bisnis macam apa yang saya jalani... Sedikit-sedikit kamu akan belajar."


Dimas menghela napas.


"Trevor bagaimana?" tanyanya.


"Kenapa dia?"


"Ini semua tentang dia, kan...?" tembak Dimas langsung.


"Ya. Ini semua tentang dia. Dia berteman dengan orang-orang yang bisa saja berbalik melawannya. Kecuali kamu dan Bram. Jadi... Untuk itulah kamu ada di sini."


"Jadi ini bukan sekedar saya akan menikahi Meilinda."


"Hal itu bonus..." Sebastian mengetuk-ketuk pegangan pintu. "Tadinya saya akan menunjuk Bram. Karena itulah dia ditempatkan di tempat krusial agar lebih mengenal Trevor. Tiba-tiba kamu muncul..." senyuman licik menghiasi bibir Sebastian.


Dimas menarik napas panjang.


"Sebenarnya... Apa yang terjadi..." desisnya.


"Kamu yakin mau mendengarkan? Disini?" tanya Sebastian.


"Jalanan macet..." sahut Dimas sambil menunjuk suasana di depannya.


Dan Sebastian menceritakan dari awal.


Soal penyakit Trevor. Soal Yamaguci, soal Tadashi, soal Ayumi, sampai ke soal Gunawan Ambrose.


Saat Sebastian menyudahi ceritanya, Dimas minta bertukar setir, dan dia langsung memposisikan dirinya setengah tertidur di kursi penumpang karena kepalanya langsung pusing.


Sebastian terkekeh mengejek Dimas.