
Cinta...
Mudah dirasakan
terkadang sulit diucapkan
Sebagian menunjukan dengan tindakan
Sebagian menunjukan dengan harapan
Sering cinta datang dan pergi
Sering cinta berubah jadi benci
Sering cinta membuat buta
Sering cinta memberi bahagia
Yang mana saja...
Yang jelas, cinta selalu ada
Bagi mereka dengan hati mendamba
(Septira W. 2021)
*****
"Hai..." Dirga menyapa Arman yang datang pagi hari dengan bersantai di meja kerja pria peranakan Korea itu. "Ipang hari ini ijin buat ngurusin kuliahnya katanya..." Kata Dirga.
"Iya. Dia izin begitu kemarin..." Arman menatap Dirga dengan waspada sambil meletakkan tas mesengernya, mengambil name tag dan dasinya, lalu menyalakan komputernya.
"Terus?" Tanya Arman.
Dirga hanya menjawab dengan meletakkan amplop putih di depan Arman.
"Gue ngga boleh balik ke kantor sebelum lo jawab itu." Kata Dirga.
"Jadi dari kemarin lo nangkring di sini, buat kasih gue ini?"
"Dan gue disuruh nunggu jawaban dari lo."
"Memang itu tugas BNN?"
"Bukan. Itu tugas gue. Langsung dari Pak Atmana."
"Ck... Gue sibuk." Dengus Arman sambil mengembalikan surat ke depan Dirga, tanpa melihat isinya. "Lu kan tahu kerjaan gue akhir-akhir ini apa... Banyak banget dokumen yang harus gue sortir karena numpuk..." Sahut Arman.
"Kalo lo ngga kasih jawaban, gue ngga bisa balik ke kantor."
"Ya udah... Lo temenin gue aja seharian, gantiin Ipang." Arman menyeringai.
Dirga mendengus.
"Gue serius, cuy..." Sahut Dirga. "Gue digaji bukan buat jadi kurir beginian. Apapun jawabannya deh... Yang penting dijawab." Keluh Dirga.
"Gue tahu isi suratnya walopun gue ngga buka isinya. Apapun jawaban gue, hidup gue bakalan berubah drastis..."
"Buka." Sahut Dirga memberi penekanan.
"Ngga." Jawab Arman.
"Buka."
"Ngga."
"Buka ngga?!"
"Ngga."
"Ngga buka?"
"Ngga."
"Buka. Atau kamu ngga dapat bonus..." Sebastian melewati mereka menuju ruangannya. "Pagi-pagi udah ribut. Dirga, habis dia buka itu amplop, kamu masuk sini."
"Siap Pak." Sahut Dirga.
Arman meraih amplop putih biang rusuh itu dengan bersungut-sungut dan merobek tutupnya dengan malas.
Dan dia membacanya.
Lalu tertegun.
Dirga menyeringai. "Nah gitu kan enak... Dah ah, gue ketemu bapak lo dulu." Katanya sambil meninggalkan Arman yang masih membaca surat itu dengan serius.
*****
Siang harinya...
"Pak Arman..." Yani menyapa melalui interkom dengan nada suara tegang.
"Hm?" Arman menanggapi dengan sebelah tangannya mengetik di keyboard, sebelahnya lagi menyangga dahinya sambil setengah memijat kepalanya.
"Dari... Kedutaan Jepang ingin bertemu Pak Sebastian."
Arman menghentikan ketikannya.
Ah...
Mereka sudah datang...
Mau mengambil kelinci putihnya, yang kini seharusnya sudah tertidur nyaman, meringkuk di kasurnya di rumah Arman.
Harus sekali lagi terganggu dengan masalah ini.
"Tolong kamu booking ruang meeting utama." Kata Arman ke Yani.
Lalu ia berjalan ke arah ruangan Sebastian.
*****
Mari kita berpindah lokasi ke...
Kampus...
Pangeran Adara.
Anak bungsu Malik Adara. Tampan, baik hati, tidak sombong, dan sering merasa teraniaya padahal itu salahnya sendiri.
Cita-citanya adalah membahagiakan dua orangtua dan dua kakaknya yang cantik-cantik tapi galak, dengan berbuat kebaikan yang membanggakan keluarga.
Tadinya...
Akhir-akhir ini cita-citanya sedikit berubah.
Karena menurutnya... Kedua kakaknya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri-sendiri, ibunya juga sudah lebih tenang, dan ayahnya...
Ck...
"Nyebelin." Gumam Ipang sambil mengerucutkan bibirnya.
Kenapa?
Baiklah...
Tidak ada urusan hidup manusia yang selancar air mengalir di perosotan wahana renang.
Itu juga yang dialami Ipang saat ini.
Saat ia mengenalkan Susan ke Ayah Ibunya.
Bukan, ia tidak mempermasalahkan ibunya yang langsung tidak menyukai Susan saat detik pertama melihat wanita latin bermata hijau itu. Ia sudah memprediksi hal itu pasti akan terjadi.
Bagaimanapun, yang namanya wanita pasti memiliki rasa persaingan dalam diri masing-masing.
Apalagi latar belakang Susan yang... Tidak sesuai kaidah orang tuanya.
Dalam kegalauannya Ipang berpikir...
Ayah Ibu mungkin langsung menyetujui Kak Yori berpacaran dengan Kak Arran karena pria itu menjanjikan dalam karier, Apalagi Kak Lady dengan cinta matinya yaitu Eyang Uban yang mana adalah pebisnis yang kalau ada istilah Kepala Naga, yang ini bisa disebut Kepala T-Rex.
Tapi...
Ipang mengacak-acak rambutnya.
Ia benar-benar tidak menyukai pandangan mata Malik Adara terhadap Susan!
"Cuy, mabar kuy..." Handri menepok kepala Ipang.
Cowok itu sedang meringkuk di lantai koridor ruang administrasi sambil menelungkupkan kepalanya di atara pahanya
"Maaaleeesss..." Gumam Ipang.
"Males gimana? Nilai lo bikin gue mau jedotin pala lo ke tembok! Gileee..." Sahut Tenny.
"Kok lo bisa sih masuk Garnet Grup... Ke bagian Treasury pula! Itu kan susah banget, karyawan biasa aja seleksinya udah lebih parah dari ASN..." Sahut Faisal. Tampaknya dia benar-benar iri Ipang bisa magang di perusahaan terbonafit di negara ini.
"Emang lo ga tau kenapa gue bisa masuk sana?" Ipang mengangkat wajahnya.
Semua hanya menatapnya dengan alis terangkat, menunggunya berbicara.
"Kalo gitu mending ngga usah pada tau deh..." Ipang kembali terlungkup.
"Aaih si ble gug... Musuhin aja lah..." Dengus Faisal gemas.
"IPK lo 3.5 nih... Masih aja ga puas? Dasar serakah..."
"Bukaaaaan..." Gumam ipang. "Gue sih beneran bersyukur IPK gue naik drastis begituuuu tapi... eerrghhh..." Ipang merasa sekujur tubuhnya lemas dan perutnya mual.
Apalagi mengingat...
Senyuman ayahnya ke Susan.
"Ya ampun inget umur dooonggg..." Keluh Ipang.
"Siapa sih yang lo maksud?! Lo tuh kenapa?!"
"Eh... dospem skripsi lo siapa?" Tanya Tenny.
Lalu semua membandingkan kertasnya masing-masing. Ipang memberikan laporan IPKnya dengan masih terlungkup.
"Njir... Pang, lo dapet Andre Rutherfort loh..."
"Iya."
"Kok Iya... Udah pasti lo bakalan mati, gob lok!"
"Dia kan pelit banget kasih nilai,apalagi kalo sama cow... ok... tuh orangnya, baru diomongin."
Semua diam saat sosok tinggi besar dan berparas khas campuran China-Irlandia menyusuri koridor dengan jas mahalnya.
Andre Rutherfort, selain menjadi dosen tetap di Kampus Ipang, juga sebagai penanam modal di Universitas dan sekaligus Presdir di Beaufort Bank.
Tak disangka, Pak Andre langsung berhenti di depan Ipang yang sedang terlungkup.
"Prince... What the he*ck are you doing?" (Pange, lo lagi ngapain?) Tanya Pak Andre.
"Getting myself into peacefull, Sir... Trying to get a fresh atmosfeer" (Menenggelamkan diriku ini ke dalam kedamaian Pak... Mencoba mencari udara segar).
"Hah?!" Desis Pak Andre. "Are you trying to told me that you even not get well sleep last night?!" (Lo itu sebenernya lagi nyoba ngomong kalo ngga bisa tidur ya semaleman?!)
"Ah...iya itu..." Gumam Ipang.
"Apa? Don't dare you tell me that this is all about Susan."
"Kok Bapak Taaauuuu?!" Ipang langsung mengangkat wajahnya.
"Buh... Amateur." Pak Andre menunjukan seringainya. Giginya yang diveneer putih menunjukan kilau menyebalkan. Ia berlutut dan mencondongkan tubuhnya ke depan Ipang.
"Apa?"
"Kemapanan." Andre menyeringai lebih lebar.
"Aarrggghhh!!" Seru Ipang sambil kembali terlungkup.
"Makanya... Awas kalau skripsi kamu asal-asalan... Bukan cuma Milady yang akan bertindak, tapi nama baik saya ikut dipertaruhkan. Cepetan ambil tema dan jurnal yah... Yang penting lulus cepet biar saya ngga digangguin kamu terus." Sahut Pak Andre sambil berdiri dan berlalu.
"Bisa ngga seeeh gue kaga usah skripsi langsung aja A pluuusss?!" Seru Ipang dari kejauhan.
Andre mengacungkan jari tengah ke arahnya.
"Dasar pelit... Lagi galau ditambahin galau..." Omel Ipang.
"Anj rit Pange!! Sejak kapan lo kenal Pak Andre?!"
"Gila obrolannya udah kayak kenal lama..."
Ipang menghela napas.
"Sejak magang di Garnet Grup, banyak banget yang terjadi..." Keluhnya.
"Harusnya lo seneng cuy... Bersyukur dikit doong...."
"Bukan masalah ituuu..." Ipang beranjak sambil membersihkan celananya dari debu. "Ngopi ah..."
"Ikut."
"Kuy...."
*****
"Jadi lo kenapa?" Tanya Handri sambil menopang dagunya ke arah Ipang.
Semua memperhatikannya.
Ipang merengut sambil mengaduk kopinya dengan bungkus plastiknya yang ia lipat-lipat menyerupai sendok.
"Gue... Kemarin minta restu nyokap-bokap gue buat nikah."
Hening
Sedetik...
Dua detik...
Tiga detik...
"Pulang aja yok... Gue alergi omong kosong."
"Yuk... Mending maen Valorant ama anak alay aja."
"Gue mau beli unipin dulu..."
Semua berlagak beranjak mau bubar.
"Terserah lo daaaaahh" seru Ipang sewot.
Ia kembali mengaduk kopinya.
"Kalo mimpi tuh pas tidur dong cuy, jangan pas melek." Sahut Faisal sambil mengeplak kepala Ipang dengan kertas transkip.
"Terus..." Ipang tidak peduli ejekan teman-temannya dan melanjutkan ceritanya. "Bokap gue ngeliatin cewek gue terus. Tadinya sih gue berusaha cuek ya... Pas kita laper terus gue masakin nasi goreng emang cewek gue sempet ngomong kalo dia ngerasa aneh sama pandangan mata bokap. Ya gue pikir... Mungkin karena cewek gue cantik dan pakaiannya lumayan propokatip, Taaappiii..."
Semua diam mendengarkan Ipang. Belum ada yang memotong ucapannya. Hanya wajah penuh kekuatiran, berjaga-jaga siapa tahu Ipang sedang dilanda skizofrenia.
Dan mereka sepertinya sedang sangat yakin kalau Ipang memang sedang dilanda halusinasi tingkat tinggi karena kecapekan magang di Garnet.
"Gue semakin percaya sama ucapan Susan, cewek gue, saat dia pamitan dan gue mau nganter dia pulang. Bokap gue...Cium pipi cewek gue kanan-kiri."
"Widihhhhh..."
"Eneg gue."
"Njir... Sinetron azab apa lagi ini..."
"Daaan... Gue kaga bisa tidur habis itu. Sampe sekarang." Ipang menyudahi ceritanya.
"Ini...cewek lo yang mana lagi sih?"
"Stok dari esema yang mana?"
"Yang dari Pangudi Luhur bukan?"
"Woi, PL tuh sekolah cowok njir..."
"Kita kan ngga ngeliat Pange udah lama, mana tau dia berubah belokan..."
"Kenapa pada jadi gibah sih... Gue lagi pusing ini loooh..." Dengus Ipang sambil mengutak atik ponselnya. Lalu memperlihatkan foto di layarnya.
Seketika teman-temannya langsung heboh.
Ipang kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Sampailah pada pertanyaan :
"Plis deh Pange..."
"Kalo bercita-cita jangan ketinggian, nanti jatohnya kenceng."
"Lo nyatut gambar dari pinterest ya... Bagi linknya dong..."
"Temen pada kaga ada akhlak lo semua..." Gerutu Ipang.
Sebuah mobil sedan sport memasuki area parkiran kampus.
"Woi... Woi...Tesla itu..." Sahut Tenny heboh.
"Siapa yang bawa. Keren juga... Masih langka di sini tuh."
Tapi Ipang malah menghela napas melihat mobil itu.
Oke, salahnya...
Dia mematikan ponselnya Sabtu-Minggu.
Dia sedang butuh sendirian.
Dia mengurung diri di kamar, tidak ingin bertemu siapapun.
Menyibukkan diri dengan live streaming game online, ilmu yang baru saja dia pelajari dari Leon, untuk membuatnya lupa dari pemandangan yang membuatnya mual.
Keluar hanya untuk ke kamar mandi dan menyambar makanan di meja makan.
Menghindari orang lain terutama Ayahnya. Juga menghindari Susan karena pasti ujung-ujungnya berantem.
Dan mobil itu...
Adalah mobil operasional Garnet Agency.
Agen Tetap seperti Arman dan Susan biasanya mendapatkan kunci dan bebas memakai kapanpun mereka suka.
Tidak mungkin Pak Arman, beliau sedang sibuk di kantor karena pekerjaannya menumpuk.
Jadi sudah pasti...
Susan keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam, pakaian sensual dan gaya seksinya.
Langsung menghampiri Ipang tanpa ragu.
Dan duduk di pangkuan Ipang.
Lalu mencium bibir cowok itu dengan...
Bisa dibilang ganas.
Lalu menampar Ipang.
"Kemana aja kamu cowok be*go?! Aku hampir aja nggerebek rumah bapak kamu!!" Seru Susan kesal.
"Ngopi jeng..." Desis Ipang. Tapi tampangnya masih merengut.
"Kalo mau ketemu Ayahku ngaku aja, ngga usah alasan pingin nggerebek rumahku..."
Susan memekik tertahan.
"Maksud kamu apa sayaaaang!" Susan mencubit kedua pipi ipang sambil mengguncang-guncangkannya.
"Han Haha hamu wawakku webih hanheng..." Desis Ipang. (Kan kata kamu bapakku lebih ganteng.)
"Woi! si estás celoso, deberías ver la condición, Ipaaaang!" (Kalo cemburu tuh liat sikon dong Ipaaaang!) Seru Susan.
"Chocolatos Mamamia lezatos..." Gumam Ipang.
"Es italiano, soy de españa..." (Itu bahasa Italia, aku dari Spanyol) Gerutu Susan.
"Hm... Orang italia mana ngerti lezatos lezatos..."
"Udahlah... pokoknya, ayo kita pulang!" Susan berdiri dan menggeret Ipang.
"Oh, kamu belum puas ketemu ayahku?"
"Pulang ke apartemenku, dong..." Susan mengerling menggoda.
Ipang menyeringai.
"Susan." Cowok itu berhenti melangkah.
Susan menoleh sambil mengangkat alisnya.
"Aku... Udah janji ke diriku sendiri untuk tidak... Menyentuh kamu sampai kita menikah."
Susan terdiam...
Lalu melongo.
Wanita itu juga membelalakkan matanya.
"Apa?" Tanyanya.
Ipang mengangguk perlahan.
"Hem... Paling tidak, aku ingin menjaga kehormatan kamu..."
Mata cowok itu berubah sayu dan menatap Susan dengan nanar.
"Astaga... Ipang..."
"Yah... Jadi... kalau mau pulang kita bisa cari tempat makan untuk ngobrol atau..."
"Kita tetap ke apartemenku." Susan menarik tangan Ipang.
"Susan." Ipang agak enggan mengikuti Susan.
"Banyak yang kita bisa lakukan di sana. Kamu bisa main mobile legend, aku nonton drakor, ato kita bisa masak bareng, atau main monopoli...apa pun pokoknya aku mau sama-sama kamu seharian."
"Hehe... Oke..."
Dan mereka pun berlalu dari sana.
Meninggalkan tiga serangkai warkop yang termangu menonton adegan absurb.
"Sialan si Ipang... Bayar tu cewek berapa dia buat akting adegan begituan..."
"Pacarku Terindikasi Ditaksir Bapakku."
"Azab Teman Kampret Pacaran Duluan..."