Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
wanita malang



Lady memasuki cafe kembali, sepatu hak tingginya menggema di lantai semen ekspos mengkilat. Bartender yang berjaga di dalam konter memperhatikan seluruh gerak-gerik dan penampilannya, merayu Milady dengan senyuman dan tatapan sayu mendamba mereka.


Milady, seperti biasa, membalas setiap senyuman yang ditujukan padanya, dan setiap tundukan kepala yang menyiratkan kekaguman padanya.


Wanita seperti Milady memikat banyak orang, dengan caranya sendiri. Para pria yang tadinya mengikutinya dengan tatapan tidak senonoh menjadi berubah menghormatinya, para wanita yang tadinya membenci kecantikannya malah berubah haluan menjadikannya role model.


Dengan hanya satu senyuman dari Milady dan tatapan penuh rasa persahabatan.


Wanita bergaya kelas atas yang berkerumun di jajaran sofa bagian dalam awalnya membicarakan Milady dengan sinis. Kini, setelah Milady kembali ke cafe, mereka melambaikan tangannya.


Milady menghampirinya.


Salah satunya berdiri menyambutnya dan mengajaknya mengobrol.


Menanyai asal negaranya dan darimana dia mendapatkan outfitnya.


Milady menggunakan kalung berlian pemberian Sebastian 10 tahun lalu dengan logo kupu-kupu dan daun semanggi, serta cincin gelang safir yang tempo hari dipaksa Sebastian untuk dikenakannya menggantikan cincin dari Trevor.


Sampailah pada pertanyaan dalam bahasa inggris berlogat jepang, kamu sudah menikah?


Milady menjawab 'sudah'.


Karena menurutnya, ia sudah menikah saat remaja... Saat keperawanannya terenggut.


Lalu ditanya, apakah suami kamu pengusaha.


Milady menjawab, Ya. Dia owner Garnet Grup.


Para wanita disana langsung heboh. Mereka menunjuk Mall yang dibangun mentereng di tengah kota, menyebutkan beberapa gedung perkantoran, dan hotel mewah.


Milady mengangguk.


di wajahnya tersungging senyum jahil, sekaligus doa agar seluruh kebohongannya saat ini menjadi kenyataan.


Lalu Milady menatap pasangan di seberang, di samping jendela besar.


Trevor yang sedang bersandar dengan wajah terlipat, wajahnya muram.


Serta wanita berambut panjang di depannya yang dari gerakannya sedang sesenggukan.


Pandangannya dan Trevor bertemu. Pria itu menatapnya nanar, ada kesedihan dan kemarahan yang tertahan.


Lalu, ada kode tersembunyi untuk segera menyelamatkannya dari neraka dunia.


Milady, entah bagaimana, memahaminya.


Dan berjalan ke arah Trevor dengan anggun dan perlahan.


"Trev..." Sapa Milady dengan senyum lembutnya.


Trevor membalas senyumnya dengan tarikan napas.


"Lady... Kenalkan." Ia menunjuk wanita di depannya dengan telapak tangan. "Ayumi Sakurazaka."


Wanita itu menoleh ke belakang, ke arah Milady


setelah itu Ia tampak terpana.


Lalu memperhatikan Milady dengan mata sembabnya yang masih terbelalak, dari mulai rambut sampai sepatu Milady.


"Aku sudah bilang kalau kamu calon istriku..." Sahut Trevor.


"Hoo..." Milady mengulurkan tangannya ke Ayumi. "Mohon kerjasamanya yah Ayumi..."


Ayumi menggigit bibirnya dan air matanya jatuh ke pipi.


"Aku...aku tidak bermaksud mengkhianati Mikaeru! Percayalah...aku mencintainya tanpa maksud tersembunyi!"


Ada apa lagi ini... Pikir Milady.


Yang dipanggil Mikaeru oleh Ayumi, kemungkinan adalah Trevor. Nama tengah Trevor, yaitu Michael. Bagi orang Jepang, melafalkan kata 'Trevor' dianggap cukup sulit.


Lalu intuisinya bekerja.


Ayumi sedang butuh dukungan.


Dan Trevor tidak bisa diharapkan untuk mengerti.


Baiklah... Milady menghela napas.


Lalu duduk di sebelah Ayumi.


"Tolong mengerti..." Lirih Ayumi.


"Ayumi, jelaskan secara perlahan..." Milady meraih tangan Ayumi. "Jelaskan sekemampuan kamu... Senyaman diri kamu..."


Ayumi terisak.


"Itu kesalahan... Dan Ayumi terpaksa berbohong agar Mika tidak pergi."


Wanita ini sangat manis...


"Bagaimana awalnya?" Tanya Milady.


"Rady harus bisa mengerti, kita sama-sama perempuan."


"Iya..iya.." Milady mengangguk menenangkan Ayumi.


"Waktu itu aku kesepian. Aku ke kabukicho dengan beberapa teman..."


Ah... Sepertinya Milady tahu kemana arah pembicaraan ini.


Trevor memalingkan wajahnya ke arah taman.


"...dua orang itu terus menerus mendekat, tapi Aku tidak ingat yang mana..."


Milady menatap Trevor dengan sinis. Pria itu... tidak seharusnya dia bersikap sedingin itu.


"...kini mereka rutin menemui Aku, mengantarkan berbagai hadiah. Berusaha meyakinkan kalau anak ini adalah anaknya..."


Trevor bahkan enggan menatap mata kekasihnya. Orang yang bertahun-tahun mendukungnya.


"... Semua terjadi begitu saja, akhirnya Mika.."


Brakk!!


Ia menatap Ayumi dengan penuh kebencian.


"Berhenti membawa-bawa namaku..." Geramnya. "Alasan kamu tidak bisa kuterima, jelas? Apa yang waktu itu kubilang? Hati-hati bergaul... Kamu tidak pernah dengarkan. Dan kamu sudah berbohong... Sekarang bisa-bisanya kamu berharap aku percaya?" Trevor menggelengkan kepalanya.


Lalu menyambar ponselnya dan beranjak pergi dari sana.


"Mika..." Panggil Ayumi lemah.


"Mika Please!!" Jerit Ayumi memanggil Trevor.


*****


"Ayumi..." Panggil Milady sambil menarik tangan wanita Jepang berwajah manis itu. "Tenangkan diri kamu... Usahakan istirahat. Aku akan membujuk Trevor. Oke?"


Ayumi masih terisak, namun ia masih sanggup mengangguk.


"Rady... tolong sampaikan ini ke Mika..." Ayumi merogoh kantong roknya dan menyerahkan gelang kulit. "Itu gelang pasangan... tadi aku tidak sempat..."


Milady mengamati gelang itu dan menghela napas berat. "Akan kucari waktu yang tepat untuk memberikannya, oke?"


Lalu Ayumi itu masuk ke dalam bangunan apartemennya.


Milady berdiri sambil berpikir.


Ia tidak seharusnya terlibat dalam urusan cinta orang lain...


Dan ia baru tahu, kalau sikap Trevor sangat tidak adil dalam memperlakukan Ayumi.


Jadi,


Milady mengaduk tasnya untuk mencari ponselnya.


Dan menelpon Sebastian.


"Bagaimana Ibu psikolog?" Sapa Sebastian dari seberang.


"Hm... Aku mulai curiga kamu pasang alat penyadap di sekitarku dan Trevor."


"Mungkin." Balas Sebastian.


Milady berdecak.


"Kamu... Dimana?"


"Di kantor Cabang Jepang. Mau kesini? Aku disuguhi macam-macam makanan..."


"Apa? Nyotaimori?!" sindir Milady.


Terdengar kekehan Sebastian.


"Bukan typeku makan sushi yang dihidangkan dengan ekstrim..."


"Sebastian..."


"Apa?"


"Coba panggil aku 'sayang'..."


Hening...


"Sebastian?"


"Kenapa? Kebawa suasana Ayumi?" sindir Sebastian.


Milady menghela napas.


ia kecewa...


Sebastian tidak ingin memanggilnya 'Sayang'.


Pria itu menciptakan jarak yang lebar diantara mereka...


"Kamu tahu... Aku bisa saja seperti Ayumi. Kesepian dan mencari pengalih perhatian... Mungkin Trevor bisa menjadi pengalihanku? Toh dia juga butuh..."


"Aku tidak butuh dijelaskan mengenai sepak terjang kamu." Potong Sebastian cepat. "Terserah kamu saja bagaimana caranya, singkirkan Ayumi dari keluargaku. Itu saja tugas kamu."


Hening lagi.


Milady menghela napas.


Lalu air mata menitik di pipinya.


Ia menengadahkan kepala ke atas, menatap langit biru cerah berawan.


"Kalian... Para pria dewasa... Pernahkah kalian mengerti perasaan wanita sekali saja?" Kata Milady. "Kalian selalu menempatkan kami dalam situasi terjebak, antara waktu dan tempat yang salah, dan kalian selalu beranggapan kalau itu semua karena kami selalu berpikir sempit... Padahal kalianlah sumber segala keributan..."


Hening


"Milady..." Desis Sebastian.


"Kirimkan Ayumi dokter kandungan terbaik."


"Apa..."


"Sekarang." Geram Milady.


"Buat apa aku..."


"Bayi itu tidak berdosa, Sebastian. Jangan sampai Ayumi stress lalu malah membahayakan kandungannya."


"Itu bukan..."


"Hai Rubah Tua licik!! Sekali saja kamu dengarkan aku kenapa, sih, hah?! Kamu sudah membunuh ayah Ayumi, Ibu Ayumi dan masih belum puas juga, kamu sekarang incar anak di kandungan Ayumi?! Berapa banyak lagi yang harus mati karena obsesi kamu?!?" Teriak Milady.


Tidak ada suara dari seberang.


Hanya ada Milady yang terangah-engah karena ledakan emosinya.


"Dokter dalam perjalanan." Desis Sebastian akhirnya.


"Terima kasih." sahut Milady. "Aku benar-benar menyesal sudah bertemu kamu. Tahu begitu, dulu, aku gadaikan saja iphone 4S ku... Lalu mencari pekerjaan dengan sumber penghasilan yang lebih masuk akal..."


Dan Milady menutup teleponnya.