
Ruang Meeting Besar lantai 40.
Dilihat dari tampilannya kurang tepat kalau disebut ruang meeting, karena bukannya ada meja panjang dan kursi-kursi putar seperti layaknya ruang meeting biasanya, ruangan ini ditata dengan cozy seperti layaknya ruang tamu di rumah mewah.
Meja kopi dengan ukiran jati yang besar, dengan sofa empuk mengelilinginya.
Setiap sofa diberi topangan untuk tangan yang juga berfungsi sebagai pembatas. Beberapa laptop dengan rantai kecil terdapat diatas meja. Televisi 50 inch di depan berfungsi sebagai media presentasi, bar kecil di sudut, Grand piano di depan jendela kaca raksasa.
Di sofa, sudah duduk dua orang wanita berkerudung.
Semuanya cantik, semuanya bersahaja, namun semuanya tegang.
Mitha terlihat berada di bar menyiapkan minum untuk dua orang wanita itu, Trevor dan Meilinda duduk di kursi bar dengan santai. Mereka tampak asik mendengarkan Bram bermain piano di depan jendela.
Clair de Lune karya Claude Debussy.
Permainan piano tiba-tiba berubah menjadi irama lagu karya Truno Prawit... Mengheningkan Cipta.
Saat Sebastian memasuki ruangan.
"Sudah bisa nge-dagel ya kamu Bram..." dengus Sebastian mengkomentari permainan Bram.
Yang dituju hanya menyeringai sambil memghentikan permainannya dan bergabung dengan Trevor dan Meilinda di area Bar.
Mitha membawakan nampan berisi gelas es teh ke meja untuk dua wanita itu.
"Bapak mau minum apa? Mas Arman baru saja membelikan minuman jahe tadi. Ada di Bar kalau bapak mau." tanya Mitha ke Sebastian.
"Hm... Kamu masih ingat minuman yang saya suka yah... Boleh lah." kata Sebastian.
"Gue pikir dia sukanya kopi joss pake lava panas, biar sensasi nerakanya lebih terasa..." gumam Dimas.
"Kasih Dimas aibon aja, mulutnya perlu dilem. Pusing saya dengarnya..." ujar Sebastian sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
Dimas terkekeh sambil membantu Mitha di Bar.
"Jadi..." desis Sebastian sambil membaca sekilas data diri Atika dan Maya yang baru saja diberikan oleh Arman.
"Perkenalkan. Nama saya Sebastian Bataragunadi. Saya atasan Gunawan, sekaligus pemegang saham terbesar untuk Garnet Grup."
Tampak Atika dan Maya langsung menegakkan duduknya saat mendengar nama itu.
Mereka memang belum tahu untuk masalah apa mereka diundang ke Gedung Garnet. Apalagi bertemu langsung dengan tokoh paling disegani di dunia bisnis negara ini.
"Saya mengundang kalian berdua untuk berdiskusi hal pribadi, sebenarnya. Namun sudah merambah ke pekerjaan. Kasusnya bisa masuk ke ranah hukum, pasal pengancaman dan tindakan tidak menyenangkan, kalau mau saya perpanjang. Namun akan ada nama baik yang dipertaruhkan di sini..." Sebastian melirik Meilinda yang juga sedang menatapnya dengan kuatir.
"Kalian kenal orang ini?" Sebastian melempar display tablet ke layar televisi.
Foto Gunawan Ambrose.
"Ya." jawab Atika.
"Tentu saja. Dia suami saya." sahut Maya hampir berbarengan dengan Atika.
Atika dan Maya saling menatap dengan terkejut.
"Apa?" tanya Atika meminta konfirmasi ke Maya.
"Dia suami saya." ulang Maya, kali ini lebih jelas.
"Maksud kamu apa?!" tanya Atika lagi.
"Yah sudah jelas kan kata-kata saya? Saya yakin kamu tidak tuli. Untuk apa kamu jadi marah-marah ke saya?"
"Ya jelas saya marah. Dia itu suami saya! Kami punya 2 anak!"
"Saya dan Gunawan punya 4 anak..." kata Maya.
"Apa?"
"Kamu berniat apa? Mau fitnah apa? Ini ada permainan apa?!"
"Justru saya yang harusnya bertanya!" teriak Atika.
Mereka hampir kontak fisik kalau tidak dihalangi oleh Mitha yang dengan sigap langsung berada di tengah-tengah mereka. Meilinda juga langsung turun ke arena membantu Mitha.
Teriakan demi teriakan,
Saling menunjuk,
Saling memaki,
Mitha dan Meilinda menahan mereka berdua dalam diam.
Miris rasanya...
Atika mulai berteriak sambil menangis.
Wajah Maya sangat merah sambil menghardik.
Padahal ini semua bukan salah mereka. Di ruangan ini tidak ada satupun yang salah.
Mitha dan Meilinda saling bertatapan dengan sedih. Saling menguatkan.
Sebastian melempar display foto Mitha dan Gunawan, dalam resepsi pernikahan sederhana, dengan buku nikah di kedua tangan mereka.
Semua terdiam menatap layar.
"Atika... dan Maya... Kalian punya buku nikah?" tanya Sebastian.
Mereka masih terdiam.
Lalu semua menatap Mitha.
Mitha membalas tatapan mereka dengan nanar dan berkaca-kaca.
Layar televisi berubah menjadi tampilan halaman lembar kedua dan ketiga buku Nikah. Berisi data diri Gunawan Ambrose dan Mitha Saraswati, serta tanggal pernikahan mereka.
"Untuk ini, saya memanggil kalian berdua. Langsung saja saya jelaskan." Sebastian menegakkan duduknya.
"Sekitar 4 bulan yang lalu, Gunawan berpacaran dengan adik saya, Meilinda." Sebastian menunjuk sekilas Meilinda yang berdiri di antara Atika dan Maya.
Seketika ruangan langsung hening. Atika duduk terkulai lemas di sofa sambil menangis. Ia memikirkan kedua anaknya.
Maya duduk sambil menegak es tehnya sampai habis. Bukan hanya keempat anaknya yang ia pikirkan, tapi juga kedua orang tuanya. Mereka semua menggantungkan diri pada penghasilan Gunawan.
Maya hanya lulusan SMA, orang tuanya memiliki toko kebutuhan rumah tangga. Saat ini keduanya sudah terlalu tua untuk mengelola toko, sehingga Maya menyambi jualan melalui online shop. Usaha Online Shopnya sebenarnya berkembang pesat, lumayan untuk nambah-nambah biaya listrik dan internet, namun untuk kebutuhan lainnya seperti makan sehari-hari, kebutuhan sekunder, dan pendidikan anak-anak bisa jadi lumayan keteteran kalau hanya mengandalkan online shop.
Usia Maya tahun ini baru 27 tahun. Masih sangat muda untuk ukuran ibu 4 anak. Anaknya yang tertua baru berusia 7 tahun, baru saja menikmati saat-saat menjadi anak sekolah. Adiknya berturut-turut si kembar 5 tahun dan si bungsu 2 tahun semuanya sedang memasuki tahapan PAUD.
Sedangkan Atika, menghentikan kuliahnya di semester ke 6 karena Gunawan menikahinya secara Siri. Usianya juga masih muda, masih 25 tahun. Anaknya yang tertua berusia 4 tahun. Sangat cantik rupanya, rambutnya hitam halus dan tebal dengan bulu mata lentik mirip Atika, dan anak yang kedua berusia 2 tahun, laki-laki yang selalu aktif ingin tahu segalanya.
Atika mencurahkan waktunya untuk anak-anaknya. Ibunya sudah meninggal dan bapaknya sudah menikah lagi dan sudah hidup tenang dengan keluarga barunya setelah Atika dan Gunawan menikah. Atika memang sengaja tidak bekerja karena anak-anaknya masih usia toddler, benar-benar butuh sosok ibu. Sedangkan ia trauma dengan babysitter karena terakhir menyewa, sudah harganya mahal, anaknya sempat dikasari saat pup agak berantakan. Padahal anak usia toddler memang gerakannya sangat dinamis, wajar kalau pup, popok mereka bisa bergeser. Anaknya dicubit sampai biru karena si babysitter kesal. Untung ketahuan ama Atika. Jadi sejak itu ia bertekad mengasuh anak-anaknya sendirian.
Untung saja pemasukan dari Gunawan per bulannya cukup besar, jadi sekedar menyewa ART pulang-pergi masih bisa menabung.
Sebastian melanjutkan informasinya.
"Saat berpacaran dengan Meilinda, ia mengaku masih single. Sampai pada akhirnya adik saya memergokinya di Bandung saat Gunawan sedang liburan dengan istri sah-nya, Mitha."
"Dia bilang bekerja di Rusia." sahut Atika
"Dia bilang ke saya bekerja di Amerika." sahut Maya.
"Dua-duanya benar. Biaya perjalanan saat dia bolak-balik dari Rusia-Amerika-Indonesia lumayan besar."
"Saya sebenarnya tidak mencampur adukan bisnis dan kehidupan pribadi karyawan saya. Mau dia beristri 10, kalau dia masih kasih saya cuan, saya tidak akan mengusik. Saat Meilinda marah-marah karena Gunawan ternyata sudah punya istri 3 pun saya masih diam. Karena saya pikir itu memang salahnya, pacaran kok tidak menelusuri hidup pasangannya lebih jauh..." Sebastian setengah menyindir. Meilinda mencibir sambil menghela napas dan menyeringai ke arah Dimas.
Dimas hanya mengerling pada wanita itu.
Terlihat kalau Dimas sangat menyayangi Meilinda, se-nyeleneh apapun tingkah wanita itu.
Terkadang cinta bisa jadi membuat hidup terasa konyol, namun bermakna.
"Namun... Saya mulai bertindak saat ada laporan kalau Gunawan akan mengkudeta perusahaan saya. Kalau saya tidak meresponnya, ia akan menyebarkan video vulgar adik saya ke publik yang dia dapatkan saat mereka masih berpacaran. Di sini saya buka-bukaan saja kenyataan yang sebenarnya... Agar kita bisa berdiskusi dengan intens, daripada Gunawan saya penjarakan dan kalian terbengkalai tanpa persiapan akhirnya malah tahu belakangan."
Semua juga tahu, Sebastian memiliki jaringan yang cukup kuat di dalam pemerintahan. Sekedar memenjarakan seekor teri macam Gunawan, bukan hal sulit baginya. Namun karena masalah moralitas, ia bertindak dengan hati-hati.
Jangan sampai karena keegoisannya ia jadi menindas banyak orang, padahal masalahnya hanya di satu orang.
"Saya masih menghormati keluarga Gunawan, yang notabene adalah kerabat jauh kami. Karena itu, demi nama baik bersama, saya panggil kalian untuk berdiskusi dengan kepala dingin." Sebastian menghela napas.
Untuk sekali lagi dalam hidupnya, Milady, kekasihnya, istrinya, bidadari surganya, memenangkan pertarungan.
"Saya butuh data adik saya, kalian butuh penghasilan. Saya rasa itu cukup adil..." desis Sebastian.
Semua diam dengan pikirannya masing-masing.
Atika di sela-sela isakannya, akhirnya buka suara.
Wajah para malaikat kecilnya yang kini masih ia titipkan di baby day care lantai 10 menari-nari di pikirannya. Selama ini ia meminta dinikahi secara Sah, dan terjawab sudah karena kejadian ini, kenapa Gunawan selalu mengulur-ngulur dengan alasan pekerjaan.
"Dengan cara apa kami bisa membantu?" katanya.
Pandangan matanya masih rapuh, masih lemah, namun ia berani bangkit.
Mitha mengangguk dan berdiri.
"Mohon izinkan saya untuk bicara." ujarnya di depan.
Semua mata memandangnya.
"Terus terang, Mbak Atika, Mbak Maya, saya tidak benci kalian. Saya sudah lama tahu saat anak bungsu saya dilahirkan, sekitar 1,5 tahun lalu karena Gunawan semakin jarang di rumah. Ternyata kalau diperhatikan, anak-anak bungsu kita jaraknya sangat dekat. Bisa jadi ia terlalu sibuk bolak-balik saat itu karena kita melahirkan di saat yang bersamaan. Namun saya diam saja karena anak-anak butuh sosok kepala keluarga. Saya menikah dengan Gunawan sekitar 8 tahun lalu, pernikahan kami tidak direstui oleh keluarga Gunawan karena saya dari kalangan biasa, namun Gunawan tetap menikahi saya. Kami saling jatuh cinta saat itu... Lalu... Bapak ingat memberikan saya pinjaman dana untuk pamer ke...hehehe.." Mitha masih sempat-sempatnya terkekeh di suasana sesuram itu.
Tapi Sebastian sudah mengenal karakternya, Mitha memang kadang kelewat ceria padahal ialah yang sebenarnya paling tersiksa dengan keadaan itu.
"... Ke orang tua Gunawan, untuk mendapatkan restu mereka... Ehem!"
Sebastian mengangguk.
"Jumlah sebesar itu mana mungkin saya ngga ingat." desisnya.
Terdengar decakan Dimas dari kejauhan.
"Iya... Waktu itu bapak menolak saya kembalikan. Maaf yah pak kalau saya menyinggung bapak dengan tidak sengaja menuduh bapak ngga ikhlas."
"Ohok ohok...!!" terengar Dimas pura-pura batuk. "Es teh manisnya bikin sakit tenggorokan..." gumam Dimas.
Rasanya Sebastian ingin melemparnya dengan sepatu.
"Jadi dana itu, saya investasikan. Gunawan pinjam ke saya, untuk mendirikan perusahaan, modal dasar untuk... Johan's Company."
Semua diam.
"Pakai nama kamu?"tanya Sebastian.
"Pakai nama saya." jawab Mitha.
"Itu berarti kamu pemegang saham Johan's Company?"
"Secara teknis begitu."
"Kalo gitu ngapain kita disini?! Ah! Kamu buang-buang waktu saya aja!" Sebastian gebrak meja. Tapi wajahnya berubah ceria dan senyum tersungging di bibirnya.
"Saya baru ingat tadi pagi loh Pak... Kalau ngga begitu, mana mungkin saya kuat kesini..." desis Mitha.
"Ya sudah! Jalan keluarnya sudah ada! Hei Boyo, kesiniin nastarnya!" Sebastian tiba-tiba lapar.
"Siap Boss!! Nastar sachetan meluncur!" seru Dimas.
"Jadi selama ini... Dana kebutuhan kami sehari-hari..." Maya bergumam sambil berpikir.
"Keuangan Johan's Company sebagai perusahaan finance sebenarnya cukup baik. Devidennya lumayan, bisa ratusan juta per tiga bulan. Gaji Gunawan mana cukup untuk membiayai tiga keluarga besar? Sudah pasti ia menggunakan hasil deviden dari uang saya... eh, uang Pak Sebastian... Eh, itu uang pak Sebastian yang diakui oleh saya, ah saya bingung jelasinnya!" Mitha menggaruk kepalanya yang langsung gatal.
"Maaf Mbak, saya tidak terlalu mengerti yang seperti itu. Tapi yang saya tangkap, selama ini Gunawan membiayai hidup kami dari uangnya Mbak Mitha ini. Begitu?"
"Iya... secara prakteknya sih begitu." desis Mitha.
"Astaga... Gunawan..." Maya menghela napas. "Ini sudah keterlaluan... Saya sangat malu sebenarnya. Kalau sedih... Saya rasa kita semua sedih..."
Ia menoleh ke Atika.
Atika menatapnya nanar.
Lalu mengangguk lemah.
Dan kembali meneteskan air mata.
"Sst!" Dimas mendesis ke Sebastian.
Sebastian mengangkat alisnya, bertanya.
Dimas memberi kode padanya.
Sebastian mengerutkan alisnya tak mengerti.
Remahan nastar berjatuhan di janggutnya.
Dimas memberi kode dengan melirik ke para ibu-ibu.
Sebastian memicingkan mata masih tak mengerti.
"Ya ampun Boss, sibuk sama nastar sampe ngga ngeh. Gimana sama tawaran pekerjaannyaaaaa..." bisik Dimas gemas.
"Ohiya... Lupa saya." Sebastian terkekeh.
Ia menjentikkan jarinya ke janggutnya, dan ajaib, remahannya di janggut putihnya langsung hilang seketika.