Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Pernah Saling Mencintai



Dari Trevor kecil, sifatnya terkenal kalem dan sedikit sensitif. Ia jenis pria lembut yang memperlakukan wanita seperti seorang Ratu. Ditambah masa lalunya yang cukup traumatis membuatnya tidak bisa terlalu lama berdekatan dengan wanita atau ia akan terserang panik, terkadang sampai sesak napas dan pingsan tiba-tiba.


Kemungkinan besar, hal yang membuatnya bisa dekat dengan wanita semacam Ayumi atau Milady adalah karena tubuhnya tidak merespon adanya 'ancaman'.


Trevor phobia dengan wanita cantik yang sifatnya otoriter. Seperti Ratna, Ibunya.


Jadi perlakuan kasar ibunya mendiami alam bawah sadarnya.


Ia hanya bisa dekat dengan tantenya, Meilinda, sebelum kenal 'orang lain'.


Ayumi adalah 'orang lain' pertama yang bisa berdekatan dengannya karena sikap wanita itu lembut dan selalu tersenyum.


Pertama kali Trevor bertemu Milady pun, kejadiannya bisa dibilang sangat parah. Berulang kali Trevor sesak napas sampai harus dirawat di rumah sakit atau perawatan di rumah dengan dokter pribadi.


Dosis obat antidepresannya juga harus ditambah.


Karena Milady sangat cantik dan jenis wanita yang mandiri.


Namun lambat-laun karena sikap Milady padanya juga lembut dan jelas-jelas tidak menunjukan ketertarikan akan hal percintaan, Trevor mulai bisa berinteraksi dengannya.


Sampai di titik mereka bisa menjadi sahabat dan bersentuhan tanpa rasa canggung.


Karena penyakit sarafnya itu...


Saat ini, tiba-tiba dada Trevor terasa sesak. Panic Attacknya kambuh..


Ia hanya bisa berujar...


"Kamu... Siapa?" Ke Ayumi.


Ayumi menarik napas panjang lalu kembali duduk setelah melampiaskan amarahnya ke gebrakan meja makan.


Tampak beberapa pelayan villa menatapnya canggung.


Lalu mereka memilih beberes tanpa bertemu mata dengan Ayumi.


"Maaf... Aku..." Ayumi meletakkan ponselnya ke atas meja dengan sedikit kasar, lalu mengusap pipinya. "Aku hanya wanita yang habis dicambuk, diiris, dibanting ke lantai, diikat di pohon, lalu dihujam dengan... Entahlah. Dan syukurlah pagi ini masih bertahan hidup." Ayumi berkata dengan intonasi datar.


Trevor menegak sebutir obat antidepresannya dengan air.


Ayumi berdecak melihatnya.


"Aku seperti orang lain ya...?" tanya Ayumi.


"Kamu bukan orang yang kukenal."


"Bisa jadi."


"Apa yang terjadi?"


"Kupikir kamu juga sudah tahu."


"Aku tahu dari sudut pandang ayahku."


"KAMU MEMUTUSKKAN KONTAK DENGANKU!!" Seru Ayumi tidak sabar. "Di saat aku butuh bantuan kamu, kamu menghilang! Nomorku kamu blokir, dan kamu bahkan tidak berusaha menemuiku! Laki-laki macam apa kamu?!"


Trevor melotot menatap Ayumi.


Ayumi duduk lagi, sambil terengah-engah menahan emosi.


"Tapi semua itu benar, kan? Selama ini kamu..."


"Iya Benar. Puas?! Semua yang dikatakan Sebastian benar adanya. Apa pun itu..." Dengus Ayumi. "Bahkan di saat terakhir aku masih berharap padamu karena hubungan kita. Namun kamu seakan menghilang di telan bumi. Oke lah aku memang bohongi kamu... Tapi apakah tidak bisa dibicarakan baik-baik..."


Sesaat hanya ada keheningan di antara mereka.


Hanya ada suara detik jam, dentingan piring yang sedang dibereskan pelayan villa, suara serangga pagi dan burung-burung di kejauhan.


"Apakah... Kamu pernah mencintaiku?" tanya Trevor. Langsung ke pertanyaan inti.


Ia merasa tidak ingin membuang-buang waktu dengan berbasa-basi.


Ayumi menghela napas sambil menatap ke arah taman.


"Ya...kita pernah saling mencintai..." wanita itu menatap Trevor dengan nanar. "Dulu sekali... Saat kedua orang tua kita masih rukun."


"Lalu sekarang?" tanya Trevor.


Dari gerak-geriknya tampaknya pria itu sudah siap dengan segala jawabannya.


Tapi Ayumi tidak menjawab, hanya memandangnya dingin.


Pandangan matanya sudah cukup bagi Trevor untuk sebuah jawaban pasti.


Pria itu menunduk sambil mengernyit.


Rasanya...


Sakitnya menghujam dada.


"Bagaimana dengan kamu? Kamu masih mencintaiku sekarang?" tanya Ayumi.


Trevor menarik napas panjang.


"10 tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan perasaan sekuat itu dengan mudah." sahut Trevor. "Walaupun kamu saat ini... Entahlah siapa kamu..."


Ayumi tersenyum tipis.


"Tidak terhitung berapa kali aku berpikiran untuk membunuhmu saja... Sebastian sulit di dekati. Sedangkan kamu selalu mendekat. Kupikir agar impas aku kehilangan orang tuaku, dia kehilangan anaknya. Sayang sekali, Yamaguci masih butuh kamu untuk mendapatkan formula obatnya. Yang kini kita tahu kalau formula itu sudah dihancurkan. Karena... Kamu sudah tidak butuh obat." Ayumi memandang Trevor dengan sinis sambil menyangga dagunya.


"... Kabarnya kamu menemukan wanita lain yang bisa berinteraksi secara intens, selain aku... Selamat yah Mikaeru... Ah, sekarang pantasnya kupanggil... Pak Tooru."


Trevor menghela napas.


Nada suara Ayumi... Terdengar sumbang di telinganya.


Bahkan saat Trevor merasa marah, Ayumi selalu menanggapinya dengan sabar.


Kenapa sekarang...


"Ayumi..." desis Trevor sambil mencondongkan tubuhnya. Lalu ia menghela napas.


"Apa? Mau minta maaf? Sudah terlambat..." desis Ayumi sambil menegak air mineralnya. Lalu detik berikutnya ia memalingkan mukanya sambil menghapus air mata yang menetes di pipinya. "Kamu tidak tahu apa saja yang kualami selama ini. Kamu seorang... Pangeran yang terpenjara di sangkar emas ayah kamu. Tidak ada gunanya aku berteriak minta tolong padamu. Kamu mungkin bersimpati padaku, namun kamu terlalu takut untuk melawan ayah kamu. Lalu berikutnya tinggal aku yang berusaha merangkak sendiri..."


Ayumi kembali menghapus air matanya. Suaranya yang bening, mulai serak.


"Pada akhirnya aku sama dengan kamu... Menggantungkan hidup pada Sebastian..."


Trevor menarik napas. Ia sedang mengendalikan emosinya.


Pria itu ingin berdalih, namun merasa tidak akan ada gunanya.


Bisa jadi, semua yang dikatakan Ayumi benar adanya...


Tanpa ia sadari, Ayahnya, Sebastian Bataragunadi, memegang kendali atas masing-masing boneka, di tariknya setiap tokoh dari atas lewat tali, dimainkannya setiap boneka kayu dengan skenarionya...


Namun yang Trevor lupa.


Bahwa... ada beberapa manusia yang tidak bisa dikendalikan ayahnya.


Contohnya seperti...


Milady masuk ke ruangan Direksi di Garnet Property, kantornya, dengan langkah ringan.


Dokter menghimbau untuk stay di rumah sakit, takutnya kejadian penculikannya kemarin berpengaruh ke janinnya. Namun setelah diperiksa, kondisinya stabil.


Dan pagi ini saat bangun, ia merasa segar.


Terlebih, sudah berapa lama pekerjaannya terbengkalai? Grand Opening Coast View sebentar lagi.


Beberapa orang menatap sosoknya dengan terperangah.


Wajar... Sejak konferensi pers mengenai pernikahannya, ia belum muncul lagi di kantor.


"E... eh....Mbak Lad... Eh, Bu Milady...! Selamat Pagi bu!" Security menundukkan badannya menghormat.


"Eh Mas! Apa kabar? Si Kakak udah mulai masuk sekolah kan ya? Gimana dia suka sama tasnya?"


Si Security menyeringai...


Masih 'Mbak Lady' yang dulu sumringah. Bahkan ingat mengenai anaknya...


"Wah, dia sih, belum masuk sekolah saja di gendong tasnya sampai dibawa tidur Mbak! Makasih banyak mbak...!" Si Security pun tidak jadi tergopoh-gopoh padanya, dan memperlakukan Milady dengan biasa.


"Situ mukanya kusam, kebanyakan lembur ya? Banyakin ibadah mas biar kena air wudhu sering-sering..."


"Yah... Mbak juga tahu keadaan belakangan seperti apa... Polisi mondar-mandir, belum acara disana-sini. Kami sih senang lemburannya besar... Yah, mungkin setelah ini bisa lebih santai."


"Ya Mas..."


"Ngomong-ngomong... Itu... Benar kemarin diculik mbak?"


Milady mengangguk.


"Waduh... Untung selamat. Lalu kondisi stabil kan ya?" si Security menunjuk perut Milady.


"Saya merasa baik-baik saja sih..."


"Kuat juga staminanya... Kayaknya cowok nih anaknya!"


"Ih, Mas...pamali! Umurnya baru juga berapa minggu..."


"Rady-Chan?!"


Mereka berdua menengok karena mendengar suara memanggil Milady.


Eiichi menghampiri dengan panik. "Kenapa kamu di sini?!"


Milady mengangkat alisnya.


Kenapa Eiichi terlihat begitu ketakutan? Pikirnya


"Eh... anu... Cutiku sudah habis..." desis Milady.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Eiichi.


"Naik taksi..."


"Astaga... "Keluh Eiichi. "Kamu bahkan tidak di kawal..."


"Em... Yang mengawalku di rumah sakit Mas Umar, sedang sholat dhuha, kupikit daripada merepotkannya ya aku jalan duluan ke sini..." desis Milady.


"Kamu tahu ngga sih terakhir kali kamu pergi tanpa penjagaan hasilnya malah fatal?! Kami semua terancam digorok sama Boss-Sama kalau sampai kamu kenapa-napa. Dan sekarang kamu... " Eiichi menghela napas sambil berkacak pinggang.


"Tolong lah pahami kalau hidup kami semua tergantung sama keselamatan kamu. Setidaknya jangan menyusahkan Pak Arman. Gara-gara kamu tidak mau kukawal saat ketemu Pak Latief, dia sekarang terancam di pecat..."


Milady menutup mulutnya sambil terpekik kaget.


"Oh.. Kamu serius Ei-chan?!" tampaknya Milady menjadi agak panik.


Eiichi mengangguk pelan. "Sekarang Pak Arman sedang dipanggil Pak Sebastian. Kemungkinan membicarakan kelangsungan pekerjaannya... Aku merasa tidak enak, karena seharusnya aku yang menanggungnya, kan aku yang ditugaskan saat itu... Tapi karena Pak Arman atasan kami, dia harus mempertanggungjawabkan semuanya..."


Milady memijat dahinya.


Ia merasa sangat bersalah.


*****