Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
keadaan mulai membaik



Farid Al Farouq.


Ayah Selena.


Calon mertua Bram.


Sekaligus teman satu geng Sebastian jaman SMA bersama Malik dan Jago.


Mereka berempat kerap kali berbuat berbagai kenakalan dan akhirnya menjadikan rumah Bu Lastri sebagai basecamp untuk menyusun kenakalan yang lain.


Bu Lastri, ibu Bram dan Dimas. Sekaligus guru Matematika Ekonomi mereka.


Ada alasannya kenapa rumah Bu Lastri dijadikan Basecamp.


Agar Sebastian muda, bisa menatap Bu Lastri lama-lama.


Sambil senyum-senyum sendiri dan menciptakan lagu cinta dengan gitarnya.


Lagakmu Yaaan...Yan...


Pikir Farid.


Ah, ada satu lagi yang suka datang ke basecamp mereka.


Ratna, teman sekelas Farid.


Kabarnya ia dijodohkan dengan Sebastian.


Namun mereka berempat tahu, kalau Ratna adalah pacar Malik.


Hanya di basecamp itu Malik bisa bebas berpacaran dengan Ratna.


Karena keluar dari basecamp, walaupun masih di lingkungan sekolah, Ratna harus selalu bersama Sebastian.


Sebastian bahkan tidak menyukai Ratna.


Setelah lulus sekolah semenjak Sebastian tiba-tiba menghilang karena pemerintah membekukan semua aset Hans Bataragunadi, mereka terpisah.


Sebastian baru muncul lagi saat usia mereka menginjak 20 tahunan, saat itu ada undangan pernikahan di masing-masing kotak surat mereka.


Farid ingat, Jago langsung meninggalkan kuliahnya dan menghampiri Malik dan Farid yang sedang sibuk dengan kegiatan organisasi kampus, sambil membawa undangan berwarna keemasan. Muka Jago sangat panik.


Dan saat membuka undangan, muka Malik jauh lebih pucat lagi.


Malik bilang kalau, ia tahu saat ini akan datang. Namun yang ini terlalu tiba-tiba...


Bagaimana bisa Sebastian tiba-tiba muncul dan kemunculannya bersama dengan undangan pernikahan?!


Namun itu masa lalu...


Saat ini, Farid sudah tiba di depan rumah Utama Keluarga Bataragunadi di Darmawangsa.


Di sana ada Trevor yang menyambutnya dengan raut wajah kuatir.


"Om!" sapanya sambil menjabat tangan Farid.


"Ada apa sih ini?! Kontrak tidak bisa dibatalkan begitu saja, loh... Ini namanya sepihak, ada pidananya!" sahut Farid panik.


Kepanikan Farid bukan tanpa alasan. Karena sumber kekayaan satu-satunya hanya dari Usaha furniturenya yang khusus memasok perabotan untuk Hotel dan Perkantoran Garnet Grup.


Dengan kata lain, berkat Sebastian lah Farid jadi konglomerat.


"Iya Om... Tadi ada kejadian. Kata Ayah dia lebih baik denda..." sungut Trevor.


"Lalu, sudah coba dimediasi?!" tanya Farid.


"Menurut Om, kalau Ayah sudah begitu, siapa yang bisa memediasi?!" Trevor bertanya balik.


Sebastian keluar sambil bersungut-sungut. Farid langsung menghujaninya dengan berbagai pertanyaan.


Meilinda juga sampai harus keluar kamar menggunakan kursi roda yang didorong oleh Hans.


Keadaan makin diperkeruh dengan kehadiran Bu Lastri yang datang sambil menghardik Sebastian.


*****


Milady menyetir dengan gusar ke arah rumah Sebastian.


Ia menggenggam setirnya dengan erat menggunakan tangan kiri, tangan kanannya disangga oleh tepian jendela sambil memijat dahinya.


Mobilnya bukan Matic, tapi masih menggunakan metode manual untuk memindahkan gigi. Hal itu memudahkannya agar bisa mengkontrol kecepatannya.


Ia menyukai kecepatan tinggi saat sedang gusar seperti sekarang, kalau tidak ada penahan, laju mobilnya akan tidak terkendali. Meluncur begitu saja sedalam kakinya menekan gas


Kopling manual membantunya menghentikan hasrat untuk mengebut.


Trevor mengirimkannya pesan singkat.


Ayah tidak terkendali, Dimas jadi sasaran.


Begitu isi pesannya.


Membuat Milady langsung meluncur ke arah Darmawangsa.


Kebetulan sepanjang perjalanan macet lalu lintas padat...


Kenapa Dimas?


Apa hubungannya dengan Dimas?


Kenapa tiba-tiba ada Dimas?


Milady membalas pesan singkat ke Trevor.


Lalu lintas kembali tersendat di arah masuk pintu tol.


Milady membuka pesan singkatnya.


"Kelihatannya Ayah sudah meradang dari kemarin, jadi saat tante Meli pulang dengan kondisi sakit dan dia pingsan di depan kami, kemarahannya langsung tidak terbendung." balas Trevor.


Kenapa Mbak Meli bisa pingsan? Apa yang terjadi?!


Balas Milady.


"Tante Meli pingsan karena kecapekan. sepertinya ia stress karena putus dari Dimas."


Balas Trevor.


Milady menghela napas.


Dari awal juga Sebastian sudah cemburu dengan Dimas karena sangat akrab dengan Milady.


Ditambah ia dianggap merebut Meilinda dari Sebastian.


Lalu... tampaknya Ayahnya belum memberikan jawaban atas lamaran Sebastian kemarin.


Stress yang menumpuk akhirnya meledak.


Membuat Milady teringat tadi pagi, saat ia mengobrol dengan ayahnya.


"Apakah selama ini kamu bahagia, Milady?" Ayahnya mengulang pertanyaannya.


Dan untuk kedua kalinya, Milady diam.


Namun wajah wanita itu menyiratkan jawabannya.


Tidak...


Bagaimana mungkin ia bisa bahagia?!


Malik menghela napas berat.


Seberat bebannya selama ini...


Ternyata benar... Ia lah sumber masalahnya selama ini. Pikir Malik.


Ia ayah yang buruk, kepala keluarga yang tidak becus, teman yang jahat, bahkan kekasih yang payah...


Bagaimana caranya menebus semua kesalahannya.


Lalu ia melihat anak kedua.


Milady yang istimewa...


Kecantikannya, kecerdasannya, kebaikan hatinya... Semuanya begitu elegan.


Kalau Malik ingin memulai hidup tenang, maka seharusnya dimulai dari Milady.


Karena selama ini, Malik mengakui, kepala keluarga yang sebenarnya adalah Milady.


Apa yang telah anak ini lakukan untuk keluarga? Benarkah semua uang milyaran yang ia dapatkan adalah dari hasil kompetisi main game? Malik telah melacaknya dengan bantuan Ipang, 10 tahun yang lalu, tidak ada kompetisi game di dunia ini, dengan hadiah sebesar itu.


Tapi Malik memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh.


Karena Milady telah meyakinkan kalau uang itu bukan pinjaman, berjudi ataupun narkotika.


Namun Milady tidak bilang kalau uang itu didapatkan dengan cara legal.


Keluarganya butuh uang itu...


Membuat Malik mengurungkan niatnya untuk bertanya.


"Lady... Kemarin Sebastian kesini, ketemu Ayah." Kata Malik


Milady membulatkan matanya.


"Oh ya? Ada apa Ayah?" tanya Milady.


Kenapa raut wajah Milady menjadi berubah seperti ini?


Susah dijelaskan.


Antara kuatir, tapi ada harapan di sana.


Apa saja yang telah dilalui mereka berdua.


Ah, bukan itu pertanyaannya...


Apa saja yang telah mereka berdua lakukan?


"Dia... Meminta ayah menyerahkan kamu kepadanya, dia melamar kamu."


Malik mengutarakannya dengan wajah masam.


Namun Milady...


Milady menatapnya seperti melihat gunung emas.


Wajahnya langsung memerah.


"Ah..." hanya itu yang bisa terucap di bibir Milady.


Dan berikutnya senyuman malu-malu.


Senyuman yang belum pernah Malik lihat...


Cantik sekali...


Lebih cantik dari yang biasa terlihat dari wajah Milady.


Malik menggelengkan kepalanya.


"Jadi... Itu yah kebahagiaan kamu..." gumam pria itu.


Kapan ia melihat raut wajah yang sama...? Sama persis seperti yang ditampakkan Milady saat ini.


Ohya... Waktu ia memberikan setangkai mawar saat Ratna ulang tahun yang ke 20.


Saat terakhir ia melihat senyuman bahagia dari gadis yang dicintainya...


Setelah itu, beberapa bulan kemudian, Ratna menikah dengan Sebastian dalam pemberitahuan yang sangat tiba-tiba.


Dan senyuman tidak pernah lagi terukir di wajah Ratna...


Walaupun setelah itu mereka berdua tetap menjalin hubungan perselingkuhan. Namun senyuman yang ada, terasa tidak sama.


"Ayah serahkan semuanya ke kamu. Ayah akan merestui kalian... Tapi kamu harus berjanji untuk bahagia."


Setitik air mata jatuh di pipi Milady.


Lalu ia memeluk ayahnya.


"Terima kasih Ayah... Lain kali, kalau aku tidak bahagia aku akan langsung bilang." sahut Milady.


Malik mengangguk perlahan sambil memeluk Milady. "Maafkan Ayah selama ini, tidak memahami kamu..."


Dan beberapa detik kemudian, pesan singkat dari Trevor masuk ke ponsel Milady.