
Milady mengusap pipinya yang tertetes air mata.
Lalu kembali mengendalikan centong masaknya.
Bunyi gesekan logam penggorengan menghiasi malam sunyi di sekitar wanita itu. Setelah masakannya sudah matang, ia mematikan api kompornya dan merenung sambil memperhatikan kepulan asap yang keluar di sela-sela masakannya.
Lalu ia menarik napas panjang.
Dan menghembuskannya.
Kenapa ia bisa sampai shock seperti ini?
Apa karena ia sudah mengenal Trevor cukup lama, dan selama ini mereka akur-akur saja?
Sehingga... Saat Trevor yang biasanya kalem, lalu marah padanya seperti hari ini, ia merasa sangat terpukul...?
Apakah... Ia sudah salah? Ia telah menyalahgunakan kepercayaan Trevor, bahkan menyalahi perjanjian mereka di awal...
"Kalau dia sudah sibuk sama kamu, kamu bujuk dia supaya merestui hubunganku dengan Ayumi."
Milady masih ingat kesepakatannya dengan Trevor waktu itu di restoran.
Tapi... itu sebelum ia mengenal Ayumi.
Ia sendiri, walaupun sudah tahu, tetap saja kaget sewaktu Sebastian mengabari lokasi terakhir tasnya sebelum dinonaktifkan. Waktu itu ia masih berharap kalau Sebastian salah mengerti, salah paham, namun... Bukti berbicara.
Milady mendengar pintu depan dibuka.
Ia mengernyit.
Yang memegang kartu akses masuk ke unitnya, hanya ia dan Trevor.
Kecuali ada penyusup...
Trevor muncul dari balik pintu.
Pria itu menatap Milady sekilas, lalu menghela napas.
Milady agak tertegun melihat pria itu. Trevor pulang ke apartemennya... Itu berarti setidaknya ia tidak marah ke Milady.
Jadi Milady menghampiri Trevor di kamar pria itu.
"Hei..." sapa Milady.
"Hm..." gumam Trevor sambil melepas kemejanya dan meletakkannya di keranjang laundry.
"Kupikir... Kamu marah padaku." kata Milady.
"Iya. Memang..." sahut Trevor. "...tadinya." tambahnya.
Milady tersenyum tipis.
"Sudah...bertemu ayah kamu?" tanya Milady.
Trevor mengangguk.
"Aku sepertinya butuh sendiri dulu." kata pria itu.
"Oke... Aku bikin nasi goreng kalau kamu lapar." sahut Milady sambil beranjak keluar dari kamar Trevor.
Trevor menahan pergelangan tangannya, membuat Milady urung untuk beranjak.
Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diungkapnya. Ada kepedihan, rasa sakit, sekaligus kelembutan.
"Terimakasih..." ujar pria itu.
Milady...
Entah bagaimana air matanya langsung jatuh.
Lalu ia memeluk Trevor.
"Maaf..." isaknya. "Maafkan aku sudah tidak jujur... Bahkan masih lebih baik ayah kamu yang tidak berusaha menyembunyikan apapun dan mengungkap realita di depan, daripada aku yang berlagak teman padahal..."
Terdengan tarikan napas berat Trevor.
Pria itu balas memeluk Milady.
"Aku tahu kamu sudah berusaha menjaga perasaanku..." bisik Trevor. "Kamu tidak berbohong apa pun padaku. Kamu hanya... tidak bilang kalau tidak ditanya..." ada sedikit nada menyindir.
Milady tertawa di sela-sela isakannya.
Trevor terkekeh.
"...aku mau nasi gorengnya. Tapi mungkin aku makan agak malam." sahut Trevor akhirnya.
Milady melepaskan pelukannya dan mencium pipi Trevor.
*****
"Hei..." sapa Milady ke Sebastian.
Ini pertama kalinya mereka video call. Padahal sudah cukup lama seharusnya mereka melakukannya. Namun karena banyak kejadian jadi baru sekarang mereka sempat.
"Ini baru hari Jumat loh..." desis Milady.
"Iya ngga papa. Soalnya aku ngga kasih sajen hari ini." kata Sebastian.
Milady mengamati penampilan pria itu.
Kacamata baca...
Rambut berantakan, terlihat agak basah. Mungkin habis mandi...
Janggut diikat, dan seperti biasa kimono kain diatas piyama.
Mungkin ia juga pakai sandal hotel bututnya di bawah meja...pikir Milady.
"Kenapa ngga kasih? Marah karena aku bagi-bagi ke teman-temanku?"
Bibir Sebastian membentuk cibiran.
"Karyawan sudah dapat bonus minggu lalu. Tahu ngga kamu berapa harga satu potnya?"
"Tahu ngga aku malu banget dapat hadiah mentereng kayak gitu. Aku sampai dikata-katai simpanan konglomerat."
"Kamu memang simpanan konglomerat."
Milady berdecak. "Ya benar sih..." gumamnya.
"Ngomong-ngomong, BNN datang ke kantor tadi siang, habis Jumatan..." kata Sebastian.
"Ohya? Kamu kasih semua bukti?"
"Tidak semua..."
"Aku masih ngga ngerti kenapa kamu ngga beberkan semua."
"Karena... Mereka bodyguard gratis."
"Ha?"
Sebastian menyeringai.
"Polisi dan BNN akan mencari tahu, mereka akan mengamati seluruh kegiatan yang berhubungan dengan Garned Med. Juga akan memata-mata aku. Dengan berada di bawah pengawasan polisi, aku tidak perlu lagi menurunkan anggota pengamananku. Kalau ada yang terjadi padaku, polisi dan BNN akan tahu..."
"Astaga... Kamu liciknya sampai ke ubun-ubun..." keluh Milady.
"Aku prediksi, Yamaguci akan mengirim orang untuk menyusup ke BNN dan Garnet Med."
"Tapi... Kalau tingkah kamu mencurigakan begitu, pengadilan akan mengeluarkan perintah untuk menghentikan seluruh produksi Garnet Med."
"Memang apa obat yang diproduksi oleh Garnet Med?"
Milady terdiam.
Lalu berpikir.
Beberapa saat kemudian, wanita itu mengusap dahinya setelah menyadari kalau kelicikan Sebastian melampaui rubah.
"Tidak ada. Selain obat Antidepresan untuk Trevor." sambung Sebastian. "Dan obat baru sudah selesai... Hanya belum diberikan. Aku masih membiarkan Trevor bertahan dengan obat lama, dengan harapan tidak perlu menggunakan obat milikku..." kata Sebastian.
"Jadi... Kalau mereka mau menutup operasional Garnet Med..."
"Tidak ada ruginya bagiku..." potong Sebastian. "Garnet Med dibentuk dengan tujuan mereplikasi obat Yamaguci. Kami sudah berhasil. Tujuan kedua, membuat obat yang lebih ramah... Sudah berhasil juga. Garnet Med belum ditutup hanya karena Trevor belum sembuh."
"Kamu jangan-jangan juga berpikiran untuk menjual patennya ke kementrian kesehatan."
"Iya." Sebastian menyeringai.
"Dasar Rubah ngga tau diri..." umpat Milady.
"Itu namanya bisnis, Sayang..." gumam Sebastian sambil menopang dagunya.
lalu keadaan hening sesaat karena Sebastian sibuk dengan pergerakan sahamnya dan Milady dengan gamenya.
"Kamu masih mencoba prototype milik Alex?" tanya Sebastian.
"Iya. Ini game yang lain, tentang mutant."
"Oh... Ngga habis-habis idenya..."
"Mereka masih muda. Daya kreativitas mereka masih maksimal..." sahut Milady.
Sebastian terkekeh. "Memangnya berapa umur kamu, sayang?"
"Hehe...aku memang suka dikatain, umur sama sifat ngga sinkron." kata Milady.
Sebastian mengamati Milady.
Daster tanpa lengan.
Dibaliknya ada celana pendek
Duduk dengan kaki terangkat di kursi
Pakai sandal bentuk boneka kelinci
Rambut dicepol ke atas
Headphone putih
Ditangannya ada mouse gaming.
"Gimana suasana apartemen?" tanya Sebastian.
"Aku lumayan suka. Apartemen semewah ini tapi dengan harga apartemen bersubsidi."
Terdengah kekehan Sebastian.
Milady kenal kekehan itu...
Lalu mem-pause gamenya, dan menatap Sebastian sambil memicingkan mata.
"Mas Yan..." sindir Milady.
"Apa, Nyonya Besar?"
"Jangan bilang kalau apartemen ini..." Milady tidak meneruskan kalimatnya karena melihat seringai Sebastian.
"Apa ada gedung di negara ini yang bukan milik tiga kerajaan?!"
"Hm... Pertanyaan yang sulit..."
"Sebastian!"
"Aku investor di Jarvas... Pengembang apartemen kamu. Juga investor di Beaufort dan ada 10 perusahan lainnya... Ya jadi..." Sebastian tidak meneruskan kalimatnya.
Ia hanya menyeringai lagi.
"Itu sebabnya aku bisa dapat apartemen ini dengan harga murah... Jadi kalau aku cari musuh ke kamu dan keluarga kamu, aku bisa jadi langsung miskin yah... Bisa-bisa memohon pindah negara karena dibully di sini." kata Milady.
"Aku ngga se-iblis itu..."
"Apa yang terjadi dengan mantan suami Meilinda Bataragunadi?" tanya Milady.
"Ada pertanyaan lainnya ngga?"
Milady berdecak mendengarnya.
"Ohiya... aku suka loh kalau kamu panggil aku 'Mas Yan' seperti tadi." Kata Sebastian.
"Nanti ya kalau kita sudah menikah." jawab Milady.
Sebastian hanya menghela napas menanggapinya.