Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Kedatangan



Millady berada di ruang VIP lounge kedatangan, yang diperuntukkan bagi pesawat jet pribadi keluarga Bataragunadi.


Ia memilin-milin ujung cardigannya dengan cemas sambil celingukan berkali-kali ke arah pesawat yang baru datang dan memarkir badannya di landasan.


"Duduk saja, Sayang. Nanti juga mereka kesini." Sebastian duduk dengan santai di salah satu sofa, dengan cerutu di sudut bibirnya dan kopi di meja sebelahnya.


"Ummm..." Gumam Milady tidak ingin duduk. Tapi dia capek juga karena kandungannya semakin besar.


Akhirnya dia menyerah dan duduk di sebelah Sebastian.


"Eh, liat deh. Kamu viral di insta*gram nih." Kata Sebastian sambil menunjukan layar ponselnya.


Istri Boss Garnet Lebih Muda 27 Tahun.


Milady mencibir melihat tag nya.


"Basi. Fotonya foto lama pula. Sekalian saja kuposting yang lagi melendung gede begini." Sahutnya bersungut.


Sebastian menyeringai sambil mengecup punggung tangannya.


"Nanti komentar netizen bikin kamu galau. Mending satu saja wacananya." Kata Sebastian.


"Lagipula aku ngga mau cari ketenaran, kok. Insta*gramku saja lama kucuekin. Isinya cuma foto promosi rumah."


"Hm. Banyak yang mengaku kenal kamu nih. Anak jenius berbakat." Sahut Sebastian.


"Ck. Cuekin saja." Milady bersandar sambil mengelus perutnya.


Rahwana menendangnya sekali. Tampaknya janin itu berusaha menenangkan ibunya.


"Ih, si soleh lagi ngerayu aku. Hihi." Milady cekikikan.


"Tuh, dia aja tahu kamu lagi baper." Kata Sebastian.


Dan munculah dua orang yang dinantinya.


Milady beranjak dan menghampiri mereka setengah berlari, sebelum Sebastian sempat memperingatkannya agar tidak terlalu banyak bergerak.


Lalu memeluk Arman dan Dimas berbarengan.


Sebastian menghela napas melihatnya, sambil tersenyum tipis.


Syukurlah kalau semua baik-baik saja. Sekarang tinggal merayu Hakim Ketua supaya bisa lebih ikhlas melepas Ayumi dan ngga banyak 'cing-cong'.


Wanita yang tadinya berada di sebelah Arman menghampiri Sebastian.


Pria berambut putih itu mengernyit.


Siapa wanita cantik ini? Gerakannya, anggun dan luwes namun menandakan kepercayaan diri yang tinggi.


Ia tersenyum ke Sebastian sambil menunduk sekilas dan mengangkat tangannya.


"Sebastian-Sama. Terimakasih sudah mengantarkan kami kemari."


Suara Ayumi.


"Hm. Wajah kamu yang ini lebih cocok dengan kepribadian kamu." Kata Sebastian. "Terkesan tegar dan kuat."


Ia menjabat tangan Ayumi.


Cincin telah melingkar di jari manis wanita itu.


"Tetap ciptaan Tuhan lebih sempurna, Sebastian-Sama. Seiring waktu, perangai saya mungkin berubah." Kata Ayumi.


"Ayumi?" Milady menghampiri mereka.


"Rady-San." Ayumi menundukan kepala memberi hormat.


"Astaga. Kamu cantik sekali!" Milady langsung memeluknya.


Ah!


Hangat...


Pelukan seorang ibu. Tulus dan lembut, dengan wangi yang manis.


"Kamu sehat?" bisik Milady. "Pasti capek ya, sekarang ada aku yang menemani kamu."


Air mata Ayumi menitik melewati pipinya.


Entah kenapa.


Ia rindu dengan pelukan seperti ini.


Yang menenangkan dan memberi kekuatan.


"Wah wah. Kenapa ya hidup saya ngga jauh-jauh dari kalian! Bosan saya." Sahut Sebastian.


"Si Boss bercandanya sarkasme." Kata Dimas.


"Eh, tapi enak loh selama di Jepang saya ngga diganggu sama sekali. Ngga ada telepon pas subuh, ngga ada 'cepat urus ini-cepat urus itu'." Kata Arman setengah menyindir.


"Pak Arman ngga ada, saya yang diteriakin. Dimas, ngepel shiratal mustaqim! Dimas, meeting sama Raqib-Atid!" Desis Dimas.


"Ngawur..." Gumam Sebastian. "Latah kamu makin parah belakangan. Kalau stress sama Meli bilang aja." Sebastian membalik badannya dan jalan duluan.


"Kan saya barusan bilang stressnya sama Genderuwo Taman Lawang." Bisik Dimas ke Arman.


"Maaf yah, saya seneng sih ngerepotin Pak Dimas. Soalnya situ orangnya ngga bisa nolak." Arman merangkul bahu Dimas.


"Pak Arman ini bercandanya suka beneran..." Gerutu Dimas sambil terkekeh masam.


*****


"Ah..." Dengan berbinar Ayumi menatap ke sekeliling ruangan.


Mereka sudah sampai di apartemen Arman.


"Aku cuma baru bisa kasih ini buat kamu. Untung saja belum kujual. Padahal tadinya aku mau beli rumah di Jepang." Sahut Arman.


"Ini cukup." Kata Ayumi sambil tersenyum.


Ia merindukan suasana ini.


Tempatnya bertengkar dengan Arman.


Tempatnya nonton drama Korea sambil menangis.


Bahkan di tv masih ada tanda goresan pisau tertancap, saat kejadian pertama kali ia 'berinteraksi' dengan Arman.


"Terlalu banyak kenangan di sini. Lebih banyak daripada rumah orang tuaku dan apartemen lamaku yang dibelikan Mikaeru. Dua-duanya sudah kuserah-terimakan ke agen perumahan." Kata Ayumi.


"Hm. Kenapa malah apartemenku yang berkesan?"


Arman meletakkan koper Ayumi di depan meja makan dan menghampiri Ayumi yang sedang mengelus tanda terbelah akibat pisau, di atas layar tv datarnya.


"Entahlah. Mungkin, karena aku selalu terbayang tampang sombong kamu ini di setiap sudut rumah." Sahut Ayumi.


Arman memeluknya dari belakang.


Lalu mencium lehernya.


Wangi yang ia rindukan.


Mereka tidak bisa berlama-lama di Jepang setelah berhasil bertemu. Mereka beres-beres secepat kilat dan naik taksi melintasi prefektur ke Kedutaan Jepang.


Dan benar saja, belum sampai satu jam, sudah ada yang mengobrak-abrik rumah Ayumi.


Entah dari intel atau sisa-sisa anak buah Yamaguci.


Ponsel milik agency juga harus mereka musnahkan.


"Apartemenku paling aman, sebenarnya. Karena preman di negara ini bisa dibayar dan bernegosiasi, Hari Fadil tidak memiliki pengikut, semua hanya orang bayaran. Jadi kamu tinggal di sini sudah tepat." Kata Arman.


"Bukannya aku tidak tahu kenapa pemerintah menahanku di sana, sih. Tapi sepertinya aku akan dalam waktu lama tidak pulang..." Ayumi membalik tubuhnya sambil meletakkan kedua tangannya di bahu arman.


Dan menengadah menatap mata pria itu.


"Aku punya satu pertanyaan lagi. Mengenai koleksi selir kamu." Sahut Ayumi. Tapi binar matanya terkesan jahil.


"Aku udah bilang ngga punya selir lagi, Medusa." Sungut Arman.


"Iya aku percaya. Tapi aku penasaran sama 'yang satu ini'."


"Kalau itu masalah Janet, aku ngga jawab ya."


"Hm. Aku mau dengar. Apa?"


Arman sambil membuka kembali folder koleksi ceweknya yang seharusnya sudah ia gembok double di dalam otaknya.


Mencari-cari siapa kira-kira yang dimaksud Ayumi.


"Wanita di lift, Jerman, pirang, desainer gelang ini. Erren Erren itu. Dia siapa kamu?"


Astaga.


Sandra Ellen


Errhg...


Keluh Arman dalam hati.


"Aku malas bahas dia." Keluh Arman.


"Aku MAU bahas dia." Kata Ayumi keukeuh.


"Ngga penting amat, sih, cantik. Nanti kamu ngambek malah mengacaukan suasana romantis nih."


"Oooo, Itu perasaan kamu ke dia." Ayumi langsung mengerti.


"Tapi kan dulu aku belum punya perasaan apa-apa ke kamu."


"Hm. Kalau sekarang bagaimana?"


"Dia udah bersama yang lain."


"Patah hati dong?"


"Ngga juga. Saat aku dengar kabar dia sudah bersama 'yang lain', aku lagi kalut cari-cari kamu. Jadi secara teknis, itu bukan patah hati. Tapi lebih ke... Aku sudah tidak peduli siapa-siapa lagi, selain kamu."


"Kamu itu benar-benar seorang perayu yah. Profesional pula."


"Jangan ngambek dong." Arman mengecup pipi Ayumi.


"Satu pertanyaan lagi." Kata Ayumi.


"Haduuh..." Keluh Arman.


Jadi ngga mood.


Pikir pria itu.


"Jujur, kamu lebih suka mana? Mukaku yang sekarang, atau yang dulu." Tanya Ayumi dengan mata penuh harap.


"Yang dulu."


Ayumi langsung mengecup bibirnya.


Wanita itu tampaknya senang akan jawaban Arman.


Ciuman pertama sejak mereka saling bertemu.


Ya Ampun, rasanya luar biasa manis. Sampai terserap otak!


Pikir Arman sambil memejamkan matanya, menyesapi rasa Ayumi.


Tanpa sadar ia ikut mempererat pelukannya di pinggang Ayumi.


"Aku cinta kamu." Lenguh Ayumi saat melepaskan ciumannya. "Sayangku..."


Dan mencium Arman lagi.


Astaga.


Jantungku kenapa berdebar!


Aku merindukan ini.


Hanya yang ini.


Jujur saja, setelah ia 'ditinggalkan' Ayumi, ia seakan mati rasa terhadap semua wanita.


Dipikirannya hanya ada Ayumi.


Sedang apa wanita itu?


Apakah cukup makan, cukup minum?


Apakah dalam keadaan baik-baik saja?


Bagaimana kesehatannya?


Dan macam-macam pertanyaan yang tidak bisa dijawab siapa pun.


Dan saat Arman mengingat aktivitasnya bersama wanita lain, ia malah merasa jijik. Bahkan ia sering langsung mandi.


Ia merasa kotor...


Bagaimana mungkin aku melakukan 'hal itu' terlampau sering?


Apa aku sudah gila?!


Pikirnya.


Dan saat ia akhirnya menghabiskan waktu untuk mengalihkan perhatiannya, dengan berjalan-jalan sendirian mengelilingi kota, saat kembali pulang ia malah...


"Aku ingin menunjukkan sesuatu sama kamu." Desisnya.


Ayumi menjauh.


"Hm?" Alis wanita itu terangkat, tapi tidak se-ekspresif dulu. Mungkin akibat operasi plastiknya.


"Sini..." Desisnya sambil menggandeng Ayumi, menuju ke arah lemari.


"Eh, ada lemari satu lagi?" Tanya Ayumi.


Ada satu lagi lemari built up di sebelah lemari pakaian Arman. Dibuat serasi dengan yang lama.


"Iya. Ini lemari kamu." Sahut Arman sambil menyeringai.


"Lemariku?" Tanya Ayumi.


"He'em."


Dan Arman menggeser pintunya.


Isinya penuh dengan pakaian wanita.


Dengan berbagai warna.


Sebagian besar masih dalam plastik.


Juga banyak sekali sepatu dan sandal dalam berbagai model.


Juga koleksi tas, ada beberapa pemberian dari Milady yang terpajang di sana, sisanya baru.


Lalu di bagian pinggir, ada kaca dengan neon, dan makeup.


Lengkap...


Ayumi sampai terpaku tertegun.


"Ares?" Tanyanya pelan.


"Hm... Aku mencoba menghabiskan waktu. Akhirnya pulang kesini malah bawa tentengan. Semua dalam ukuran kamu." Arman menatap isi lemari itu dengan muram, karena ia mengingat kesendiriannya.


"Oh." hanya itu kata yang terucap dari mulut Ayumi.


Wanita itu kaget.


Namun juga sangat senang.


"Ini hasil menabung berbulan-bulan. Ah, yang ini, aku beli dari gaji pertamaku di BNN." Arman mengambil sepasang sepatu yang haknya setinggi 10cm. Berwarna merah dengan taburan permata. Merk desainer lokal yang terkenal.


"Kupikir kalau kamu pakai, pasti seksi banget. Hehe." Ia menyeringai.


Ayumi menggigit bibirnya.


Lalu mengambil sepatu itu dari tangan Arman.