Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Perang Dingin



Ayumi...


Suara yang terdengar jauh...


Suara seorang pria...


Ayumi mengeluh.


Otousan? (Ayah) batin Ayumi.


Otousan... Aku ingin mewujudkan keinginan Okaasan (Ibu)...


Menjadi bahagia.


Bisakah...?


Kenapa kalian terlalu cepat pergi?


Dengan cara yang begitu...menyakitkan?


Iya, aku tahu. Sebastian tidak salah... Trevor tidak salah... Bahkan Yamaguci juga tidak salah...


Otousan dan Okaasan yang memilih sendiri jalan ini.


Kini hanya tinggal aku...


Mampukah aku?


Ayumi...


Suara pria itu memanggilnya lagi.


Aku merindukan kalian berdua. Batin Ayumi.


Ayumi bangun...


Dingin.


Dingin sekali! Keluh Ayumi.


Ayumi...


"Ayumi Bangun!!" seru Trevor.


"Hmh?"


Ayumi membuka matanya perlahan.


Siluet pria di depannya.


Pandangannya buram


Sekelilingnya gelap, hanya ada cahaya dari... Ponsel?


Bukan...


Itu bukan Otousan...


Itu...


"Mika?" gumam Ayumi.


"Ya Tuhanku..." Trevor menghela napas lega. "Akhirnya sadar..."


"Nani...?" (Apa?) Ayumi mempertajam penglihatannya. Otaknya merespon kalau ia harus tersadar secepatnya, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak bisa digerakkan.


Dan saat matanya bisa jernih, ia kebingungan melihat sekelilingnya.


"Kami-sama..." (Tuhanku) "Nani ga okotta?!" (apa yang terjadi?!)


Ia langsung panik.


"Aarghh!!!" Geramnya kemudian. Sekujur tubuhnya perih tak terkira. Nyeri yang amat sangat.


Jam berapa ini?! Pikirnya.


Dimana tablet pain killernya...


"Kenapa?" tanya Trevor.


"Sa...sakit...sekali... Ugh..." Ayumi beringsut memeluk tubuhnya sendiri. "Sakit... Sakit!!"


"Mana obat kamu..." Trevor mencoba meraihnya, namun saat pria itu menyentuhnya.


"Aaaagggrh!!" seru Ayumi. "Sakiiiittt!! Jangan sentuh!!"


"Astaga..." Trevor kebingungan.


"Minum ini dulu... Mungkin tidak secepat pain killer kamu, tapi bisa mengatasi rasa panik."


Trevor mengeluarkan tabung tablet antidepresannya.


Ayumi menegaknya dua butir langsung tanpa air.


Lalu kembali mengaduh kesakitan.


Hal itu berlangsung selama beberapa menit.


Trevor tidak berani menyentuhnya.


Melihat Ayumi kesakitan seperti itu... rasanya ia bisa merasakannya sendiri.


Miris sekali...


Sekitar setengah jam kemudian, Ayumi mulai bisa agak tenang.


Ia mengamati sekelilingnya.


"Bunyi ledakan..." Ia teringat kejadian tadi pagi. "Aku ingat itu. Sebelum longsor itu terjadi dan kita terseret ke sini..." Desis Ayumi.


"Kamu ngga salah dengar? Soalnya ada petir juga."


"Tidak... Aku yakin sekali. Telingaku ini sudah terlatih bisa membedakan antara bunyi petir, bom dan senapan... Itu jelas-jelas bunyi ledakan, dari atas kita."


"Ck... Sejak kapan sih kamu mempelajari hal itu." Trevor memperbaiki posisi duduknya.


Ayumi tidak menjawab. Dia mulai gemetaran.


"Aku ngantuk." kata wanita itu.


"Jangan tidur, kamu bisa mati."


"Dingin." gigi Ayumi mulai bergemeretak.


"Kita diterjang banjir, semua basah, mobil mogok tertancap di pohon dengan semua kaca jendela pecah... Dan yang paling parah... Tidak ada sinyal." kata Trevor sambil memeriksa ponselnya.


"Dingin..." gumam Ayumi sambil gemetaran.


"Tunggu... sepertinya aku simpan selimut di belakang. Mudah-mudahan tidak ikut basah... kayaknya masih dibungkus plastik." Trevor memutar posisi duduknya ke jok belakang mobil, Ia bergerak dengan hati-hati karena posisi mereka kini terjebak lumpur, takutnya gerak tubuhnya membuat mobil limbung dan kembali terseret sungai.


Ayumi merasakan kantuk yang luar biasa. Seluruh tubuhnya kini terasa mati rasa. Campur aduk rasanya...


Tadi dia merasakan nyeri, sekarang malah tidak bisa merasakan apa pun.


Bahkan untuk bersuara saja seakan tenggorokannya tercekat dan napasnya mulai sesak.


"Syukurlah masih rapi di plastiknya. Tapi cuma ada satu..." sahut Trevor.


Lalu dia menyadari kalau keadaan Ayumi tidaklah baik.


"Ya Ampun... Kamu hipotermia. Ayumi, usahakan tetap sadar."


Tapi Ayumi bahkan tidak sanggup berbicara, hanya bisa gemetaran dengan mata setengah terbuka.


"Pakaian kamu basah, percuma kalau pakai selimut kering tapi pakaiannya basah..." sahut Trevor.


"Ita i..." (sakit) gumam Ayumi.


Pria itu berusaha mendekati Ayumi. "Tahan sebentar sakitnya..." sahut Trevor. "Kamu sudah sampai sejauh ini, kamu bisa bertahan sebentar lagi..." katanya lagi.


Hei, Mbak Ayu...


Kenapa ada suara Ares di telinganya? Pikir Ayumi.


Dasar Medusa...


Astaga, si Bakayarou itu memenuhi benakku... Pikir Ayumi lagi.


Trevor mencoba membuka pakaian Ayumi yang basah seluruhnya.


Cukup makan waktu dan effort agak lama karena sekujur tubuh ayumi menggigil dan kaku.


Sampai pada akhirnya Trevor juga membuka seluruh pakaiannya dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut.


Ayumi beringsut ke pelukan Trevor.


"Hangat..." desis Ayumi.


"Badan kamu... Dingin sekali." kata Trevor.


Ayumi memeluk Trevor dan memposisikan wajahnya di leher pria itu.


Lalu mendesah lega karena suhu tubuh Trevor ternyata lumayan hangat.


"Jangan tidur... Suhu tubuh kamu belum stabil." sahut pria itu.


"Bawel kamu, Ares..." gumam Ayumi.


Sialan... Batin pria itu.


*****


"Mbak Ayu bukannya pakai gelangnya ya Pak?"


"Saya minta dimatikan sinyalnya karena berpotensi meledak kalau berjarak lebih dari 50 meter dari apartemen..."


"Kalau mati memangnya beneran ngga bisa dilacak ya?"


"Ini gelang, bukan ip hone yang kalo mati bisa tetap dilacak..."


"Perasaan punya Bu Milady bisa..."


"Ini versi yang lebih murahnya." sahut Arman akhirnya.


"Oo..." sahut semua.


"Ceile Pak keluarin duit dikit buat versi canggihnya demi cabin napa..." sindir Moses.


"Masalahnya bukan Ayumi, tapi Pak Trevor juga bersamanya... Kalau BigBoss sampai meradang, bukan hanya saya yang dipensiunkan..."


"Iya, mending cuma dipensiunkan... Kalau sampai ngga dapet pesangon, dan kalau kerjaan lain kita diutak-atik..." desis Moses.


Semua merenung.


"Oke! Ngga ada waktu untuk meratapi nasib." Arman bertepuk untuk menyadarkan semuanya. "Luncurkan drone untuk pengawasan, area sekitar sungai dan... Itu berarti harus ada tim yang kesana lagi, karena radius drone hanya 30 meter. Siiiippp kenapa sih Garnet Agency, keuangannya begini banget..." gantian sekarang Arman yang menyindir perusahaannya.


"Kan udah berkali-kali minta pengajuan alat kayak Shield gitu, ngga di acc karena kita kan kurang populer. Orang taunya pemasok sekuriti dan bodigad... Mana mereka tau kita tim elit. Beuhhh... Bokap gue aje ketawa dengernye..." omel Moses.


Arman menelpon seseorang saat bersiap-siap pergi ke lokasi.


"Udah di mana? Di depan? Cepet masuk deh, Bigboss on this way... Bisa mati dua kali saya, kalo dirimu ngga ada..."


Lalu Ia mematikan teleponnya.


Dan menatap semuanya dengan tegang.


"Kali ini ngga ada ya bercanda-bercandaan. Menyangkut Putra Mahkota soalnya. Kita ngga tahu kondisi beliau. Tapi kalau menilik lewat kondisi sekitar, banjirnya sebenarnya kondisi normal bagi masyarakat sekitar... Masalahnya, saya curiga soal longsornya. Faktor alam beneran atau rekayasa..."


"Jadi sekali lagi... Kita akan berhadapan dengan sisa-sisa anggota yang kemarin?"


"Bisa jadi lebih parah karena mereka merasa sudah lebih terintimidasi dengan penyerangan kemarin..."


Semua menghela napas.


"Pak Sebastian datang!" seru Heksa sambil ambil posisi.


Semua tegang.


DORR!!


Sebuah peluru melesat ke arah Arman.


Menggores ujung telinganya dan melubangi tembok di belakangnya.


Sial... Umpat Arman.


Bergerak sedikit saja peluru itu akan melubangi tengah dahinya.


Orang yang memiliki kemampuan setingkat dirinya.


Sniper handal, kalau ingin dia bisa saja membunuh semua yang ada di ruangan dengan hanya 6 peluru di dalam pistolnya.


Siapa lagi kalau bukan mentornya...


Yang sengaja meleset untuk memperingatkannya...


Arman tertarik ke depan saat sebuah tangan mencengkeram lehernya dengan kuat.


"Besok siapa lagi, Arman?" tanya Sebastian.


Raut wajahnya memang tampak tenang.


Tapi kilatan matanya bagaikan pembunuh. Penuh amarah dan nafsu.


"Sekalian saja kamu habisi semua keluarga saya... Belum habis kesabaran saya untuk kamu, kamu sudah membuat ulah lagi..."


Arman tahu, meminta maaf sama saja cari mati.


Dia hanya bisa diam.


"Pak... Kami..."


"Kamu diam." Sebastian menghadang Moses yang mencoba mendinginkan suasana. "Protokol sudah jelas. Penjagaan penuh terhadap semua anggota keluarga saya. Bagaimana bisa Trevor pergi sendirian? Saya malah jadi curiga jangan-jangan kamu ada di balik semua ini?!"


Tuduhan yang tidak masuk akal...


"Jangan-jangan kamu bersekongkol dengan Asse... Kalian sudah menjadi sepasang..." kata Sebastian.


Arman hanya diam.


Mereka berdua tahu itu tidak benar.


Sebastian hanya mencari seorang yang bisa disalahkan saking paniknya.


"Sayang, lepaskan Mas Arman." Milady masuk ruangan sambil menyahut dengan tegas dan dalam.


Dia adalah orang yang tadi dihubungi Arman, sebelum Sebastian masuk ruangan.


Sebastian menoleh dan mengernyit.


"Pekerjaanku tidak boleh diinterupsi siapa pun, termasuk kamu." sahut Sebastian dingin.


Milady menyatukan alisnya.


Ia baru kali ini melihat Sebastian sekasar ini.


Memakinya di depan semua orang, bagaikan ia tidak berharga.


Dada Milady terasa sesak.


"Sayang..." desis Milady.


"Kubilang..."


"Kamu lepaskan Mas Arman, atau aku pergi." sambung Milady.


Sebastian diam.


Arman membelalakkan matanya.


"Apa?" desis keduanya.


Semua di ruangan menghentikan aktifitasnya. Suasana semakin tegang.


Semua memperhatikan Sebastian dan Milady.


Milady menatap Sebastian dengan marah.


Ia menipiskan bibirnya menahan geram.


"Pergi?" bisik Sebastian tidak mengerti.


"Kamu tahu apa artinya." sahut Milady. "Tidak ada waktu untuk baku hantam. Mas Arman harus bergegas ke lokasi mencari Trevor. Yang lain memburu Hari Fadil. Dan kamu... Temui Atmana dan Kapolri untuk membantu kami."


"Milady..." Sebastian mencoba protes.


"Aku sudah pernah bilang, jangan ganggu teman-temanku kan?"


Sebastian berdecak.


Kalimat itu lagi... gerutunya dalam hati.


"Masalahnya, semua manusia di bumi ini, baik atau jahat, adalah teman kamu..." geram Sebastian sambil menepis Arman sampai pria itu tersungkur ke lantai, lalu memandang Milady dengan dingin, dan pergi dari ruangan itu.


Arman berdiri sambil merapikan kerahnya.


"Mbak..." desis Arman. "Maaf... Saya..."


"Tidak apa-apa Mas." potong Milady sambil tersenyum getir padanya. "Lakukan pencarian maksimal... Coba periksa kordinat sekitar tepian sungai. Hubungi perusahaan asuransi dan dealernya, mobil sekelas milik Trevor pasti ada gpsnya..." desis Milady sambil berlalu dari sana, menyusul Sebastian.


*****


"Apa maksud kamu?!" sahut Sebastian saat mereka berdua sudah di dalam ruangan Sebastian. "Walaupun kamu istriku bukan berarti kamu bisa ikut campur semua pekerjaanku! Dan lagi... Menjatuhkanku di depan semua anak buahku?!" Seru Sebastian.


Milady duduk di kursi kerja Sebastian sambil menyilangkan kakinya.


"Aku menyalahkan kamu. Mana tanggung jawab kamu?" tanya Milady.


"Apa sih maksud kamu? Ngga usah bikin teka-teki lagi, aku sudah bosan mainin emosi!"


"Ooo... Itu toh pemikiran kamu terhadapku selama ini?" sahut Milady.


Wanita itu berusaha tenang padahal hatinya bergejolak. Ia juga sebenarnya seperti Sebastian, sangat kuatir terhadap keadaan Trevor.


"Kalau begitu, dengarkan uneg-unegku, sekarang..." Milady berdiri dan menghadang Sebastian.


Sebastian menatapnya, masih dengan pandangan penuh emosi.


"Semua manusia di bumi ini bisa jadi temanku. Tapi semua manusia di bumi ini bisa jadi adalah musuh kamu. Setelah Ayumi, aku, Trevor, lalu nanti siapa lagi yang harus menanggung sakit gara-gara kamu bertingkah cari musuh terus, hah? Meilinda? Ayahku? Ibuku? Adik-kakakku? Atau kamu mau mengorbankan Mas Arman dengan loyalitasnya? Hah?! Kamu sadar ngga semua ini adalah karena kamu?! Semua salah kamu! Gara-gara bisnis kotor kamu! Mas Arman membunuh banyak orang untuk kamu, dan kamu masih menganggapnya hanya seorang anak buah? Kalau dihitung-hitung dengan musuh sebanyak kamu, semua gaji kamu serahkan ke Mas Arman juga tidak ada bandingannya dengan nyawa manusia yang sudah mereka cabut untuk kamu! Sekarang siapa yang bawa sial hah?! Trevor hilang gara-gara siapa? Musuhku? Musuh Mas Arman? Bukan!! Gara-gara musuh kamu! Kamu lagi-kamu lagi, intinya!!" jerit Milady.


Wanita itu terengah-engah setelahnya.


"Astaga... Berat sekali tugas anak kita kelak, memutihkan dosa-dosa papanya..." Sindir Milady sambil meninggalkan Sebastian termangu di ruangannya.