
"Ng... Sebastian..." gumam Milady. "...kita mau kemana?"
Milady melihat Sebastian membelokkan mobil ke arah lain.Tadinya ia mengira Sebastian akan mengantarnya pulang.
"Ke hotelku." Jawab pria itu pendek.
Mata Milady membulat.
"A...aku..." Seketika wanita itu gugup.
Ia belum bersiap-siap! Dari pagi ia tidak mengira kalau akan bertemu dengan Sebastian, karena persiapannya hanya minum kopi dengan Leon, ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan karena Trevor sedang sibuk di lapangan, lalu pulang dan kembali main game. Jadi, untuk aktifitas semacam bermesraan, ia belum...
Astaga...
Ia belum ke salon! Sudah seminggu ia tidak ke spa! Dan... Ia sangat kuatir penampilannya tidak secantik yang diharapkan Sebastian.
"Bilang ke orang tua kamu, kamu menginap di kantor..." Suara pria itu dalam dan sedikit serak.
Tangan Sebastian yang bebas mengelus paha Milady.
Lidah Milady terasa kelu dan jantungnya berdetak cepat.
"Hm... Aku..." Milady merasa tidak percaya diri.
Bagaimana ini...?
Mobil dibelokkan ke hotel mewah, Garnet Luxury Continental, dan Sebastian langsung memasukkan mobil ke lift khusus kendaraan.
Sambil menunggu lift naik ke lantai teratas gedung, Sebastian memeriksa ponselnya. Lalu mengernyit.
"Hm... Sebastian. Ini bukan hotel kita waktu itu."
"Iya, bukan. Aku tidak pernah lagi ke unit 500..."
"Ohya? Kenapa?"
Sebastian tidak menjawab, hanya tersenyum masam.
Milady tidak tahu, sekian lama Sebastian bahkan tidak berani menginjakkan kaki di hotel kenangan mereka.
Bayangan akan sosok Milady terlalu kental di sana.
Bahkan saat dalam perjalanan dan sekedar melewati hotel itu, ia teringat kenangan akan Milady.
Rasanya terlalu menyakitkan, dan kenyataan kalau Sebastian tidak akan bisa memiliki Milady sepenuhnya, membuatnya merasa sangat tidak berdaya.
Dan ia tidak suka perasaan saat dirinya menjadi lemah.
Hari-harinya yang hampa, menunggu bel pintu berdenting... Duduk di ruang tamu bergaya klasik sambil memandangi lukisan Amedeo Modigliani, berharap Milady muncul dari balik pintu dengan senyum manisnya yang khas...
Namun gadis ayu bermata sayu itu tidak kunjung datang...
Sebastian menunggu berbulan-bulan di kamar itu... Sampai ia sendiri menyerah.
Lalu memutuskan untuk melanjutkan hidupnya.
Dan saat terakhir ia di penthouse unit 500 itu, ia mengingat kembali setiap sudutnya, bekas kemesraannya dengan Milady... Dan setelah menguncinya, Sebastian bertekad untuk tidak mengunjunginya lagi, kecuali Milady kembali untuknya.
Ruangan itu hanya untuk ia dan Milady.
Saat ini ia belum bisa kembali kesana...
Karena keberadaan Milady bukan untuknya.
Milady juga bukan miliknya.
Lift berhenti di lantai teratas hotel.
Rooftop pribadi, dengan atap kaca dimana Milady bisa melihat bintang, juga sofa dan ranjang raksasa.
"Kebanggaan Garnet Luxury... Kamar rooftop. Dengan lift mobil dan parkiran sendiri." sahut Sebastian membukakan pintu mobil untuk Milady.
Lalu ia menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Sapto, ambil mobil Milady di Beaufort, kunci mobil di asisten Leon. Lalu tukar dengan Rover Bram di Garnet Luxury, dan kembalikan Rover ke Bram...setelah itu kamu boleh pulang." desis Sebastian ke drivernya.
Pria itu memencet tombol lift ke lantai basement, lift itu turun dengan mobil Bram di dalamnya.
Segala kemewahan yang menakjudkan... Pikir Milady.
Apakah cocok untuk dirinya?
Apakah Milady pantas menerimanya...?
Milady memandang kota Jakarta yang berkerlap-kerlip dari lantai 40...
Ia merasa kecil...
"Hm...Sebastian... Kacanya..."
"Kristal, satu arah. Dari luar tidak bisa melihat kita." Jelas Sebastian.
"Yakin?"
"Memangnya kamu bisa lihat ada gedung di depan kita?" Sebastian menghampiri Milady sambil menyeringai.
"Hebat sekali yah... Kadang aku berpikir, siapa sih arsitek kamu. Kok bisa-bisanya konsepnya beda dari yang lain..."
"Konsep dan desain dariku..." Sebastian memeluk Milady dari belakang, ia mengecup lembut pelipis Milady. "Aku ingin menunjukkan ruangan yang kubangun saat aku mengenang kamu."
"Aku?"
"Hm... Ada 4 ruangan seperti ini di rooftop. Letaknya sesuai dengan 4 mata angin. Masing-masing memiliki lift mobil sendiri langsung dari pintu masuk hotel. Kamu ingat...dulu... Kamu sering termenung memandang keluar jendela. Mata kamu ke arah langit..."
"Hm..."
"Aku selalu ingat kamu tersenyum saat memandang langit... Jadi... Aku ingin memperluas jendelanya. Sekalian saja kubuat model atap kaca."
Lalu ia berbalik menghadap Sebastian, dan mengalungkan lengannya ke leher Sebastian.
"Aku suka langit, aku selalu menunggu bintang. Aku juga suka langit biru, namun aku lebih suka bintang saat malam..."
"Hm... Lady-star92..." gumam Sebastian.
"Hehe... Kamu ingat nicknameku yah..."
"Aku lumayan kaget mendengar kamu gamers."
"Hm...E-Garnet tidak memproduksi game sih ya..."
"Kesepakatan antara aku dan Alex. Kami sama-sama mendirikan anak usaha yang bergerak di bidang teknologi, agar tidak saling bersaing kami memilih fokus industri yang berbeda. Alex ke game dan software, aku e-commerce."
"Kalian rukun sekali yah..."
"Baskara menitipkan Alex padaku sebagai balas budi... Sudah sewajarnya aku tidak cari musuh dengannya." desis Sebastian.
"Jadi... Apa pendapat kamu tentangku? Aku yang sekarang..." tanya Milady ragu.
"Kamu..." Sebastian mengecup bibir Milady perlahan. "...kamu wanita yang luar biasa..."
Milady tertawa kecil, tersanjung mendengar pujian Sebastian.
Tanpa meminta izin dari Milady, Sebastian merenggut bibir wanita itu dalam-dalam. Tangannya menahan tengkuk Milady dengan posesif dan meremas rambut wanita itu.
Terdengar desahan napas Milady begitu lirih, menahan gemuruh di dadanya.
Dan saat bibir mereka terlepas...
"Sebastian..." desah Milady.
Wanita itu sadar sepenuhnya kalau ia menginginkan Sebastian.
Ia hampir menyerah dengan prinsipnya.
Sebastian meloloskan gaun Milady ke atas kepala wanita itu.
Lalu satu persatu kancing kemejanya sendiri, sambil menyesap setiap inchi kulit Milady dengan bibirnya dan membelai setiap jengkal lekuk tubuh wanita itu.
Milady tidak sabar, ia membantu Sebastian dengan ikat pinggang pria itu, hingga akhirnya mereka sama-sama terbebas dari kain yang melekat.
"Astaga sayang..." desis Sebastian sambil merengkuh dada Milady dengan lidahnya, menyesap puncaknya perlahan sampai Wanita itu terpekik. "Kamu sangat cantik..."
Sebastian menggendong Milady dan mendudukkan wanita itu di ambalan panjang.
"Kamu yang tercantik dalam hidupku... Aku tidak menemukan wanita yang lebih cantik lagi..." desis Sebastian sambil mempererat pelukannya.
Tubuh mereka saling bergesekan.
Menimbulkan sensasi percikan bagaikan bunga api sedang menjalari tubuh Milady.
"Sebastian... Tolong bilang cinta padaku." desah Milady.
"Aku cinta kamu."
"Tolong... "
"Apapun yang kamu minta...kecuali..."
"Tolong jadi suamiku malam ini... Kumohon..." lirih Milady. Ia merasa hampir gila dengan segala sentuhan Sebastian di kulitnya.
"Astaga..." desis Sebastian.
"Kumohon... Malam ini saja... Jadi suamiku..."
"Aku..." Sebastian mulai ragu.
"Sebastian... Malam ini saja?"
Sebastian hanya diam.
Ia memperlambat gerakannya.
Pria itu sadar, ada tanggung jawab yang sangat besar dan harapan Milady pada satu kalimat itu.
Yang saat Sebastian berani melangkahinya, ia pasti tidak akan menyerahkan Milady kepada siapapun.
Termasuk kepada Trevor.
Jadi...
Pria itu melepas Milady...
Terdengar isakan wanita itu.
"Kamu... Sekali lagi kamu menolakku... Padahal aku sudah membuang seluruh harga diriku dengan memohon..." tawa lirih penuh kekecewaan dari Milady menghiasi udara.
Mengiris hati Sebastian.
"Apa begitu besar kesalahanku di masa lalu? Sampai aku tidak bisa mencoba menjalinnya kembali?" desis Milady.
Wanita itu mendorong tubuh Sebastian menjauh.
"... Milady..."
"Sudah cukup... Ini yang terakhir..." desis Milady.
"Sudah cukup... Aku tidak akan berharap lagi sama kamu..."
"Milady... Tolong..."
"Sebastian." Milady menatap Pria itu. Tatapan matanya tegas, meminta Sebastian untuk tidak menyentuhnya lagi.
"Maafkan aku... kita akhiri sampai disini. Kali ini, kamu yang meminta..."