
Dapur dengan keramik yang telah berlumut. Tembok dengan cat terkelupas...
kompor minyak yang sumbunya harus dijalin dulu sebelum digunakan.
"Ares, tolong ambil air di gentong depan." sahut ibunya.
Ares yang sedang menonton dunia dalam berita di televisi nasional menoleh ke arah ibu.
Punggung ibunya... terlihat sibuk di depan kompor sambil menggoreng. Entah apa yang dia goreng, yang pasti dia selalu menyajikan masakan terlezat untuknya.
Ares bersungut-sungut sambil bergumam protes.
"Hey, ngga boleh bersikap begitu loh kalau disuruh ibu..." Ayahnya menurunkan koran yang dari tadi dibacanya. Kacamatanya alih-alih digunakan di depan mata, malah bertengger di dahinya.
"Lagi nonton, Ayaaaah..." keluh Ares.
"Ambil air di gentong, lebih disukai Tuhan Yesus dibanding menonton kinerja pemerintah yang tidak jelas di televisi." kata Ayahnya. "Ingat..." desis Ayahnya pagi.
"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Kolose 3:20." Lanjut Ares. "Iya Ayah aku tahu..." sahutnya sambil menyeringai dan beranjak ke arah luar rumah.
Kerumunan orang?
Di arah rumahnya...
Ares merasakan suatu gejolak di dadanya. Perasaannya langsung tidak enak...
Ember berisi air yang ia ambil dari gentong yang berada di jarak 10 meter di depan rumahnya, dekat sumur desa, tiba-tiba terasa sangat berat...
Jeep militer... ada tiga di depan rumah ayah ibunya.
Dan ia mendengar seruan-seruan...
"Kom*unis! Pengkhianat! Antek P*KI!"
Nadanya penuh kebencian.
Caci-Maki...
Lalu ibunya... Digiring keluar dari rumah, ditarik menggunakan tambang di lehernya.
"Ares!! Lari!!" seru ibunya.
"Ibu?" desis Ares belum dapat menguasai dirinya.
Ember airnya jatuh ke tanah
Kilatan cahaya dari pantulan baja... Golok besar diacungkan ke udara.
"Ares! Kalian harus saling menjaga... Kalian sama-sama menderita..." lirih Ayahnya saat digiring keluar. Pelipis ayahnya berdarah-darah.
Lalu...
Wanita dengan perawakan ramping, menggunakan baju hitam-hitam tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Jangan lihat...."desisnya. Mungkin ia berbicara ke Ares.
Aksennya aneh.
Bukan dari negara ini.
Ia membawa dua pigura kecil di kedua tangannya.
Entah bagaimana Ares mengenal orang-orang yang ada di dalam pigura kecil itu...
Tadashi Sakurazaka dan istrinya.
"Orang tua kita sama-sama dibunuh..." sahut wanita itu.
"Tidak, berbeda..." desis Ares menyangkal. "Orang tuaku dibunuh... Orang tua kamu meninggal karena kesalahan mereka sendiri."
"Orang tua kamu? Bukan... Darah mereka bahkan tidak mengalir di nadimu. Untuk apa bermuram dan berdalih balas dendam atas nama mereka?"
"Hubungan kami lebih erat dari yang kamu pikir..." geram Ares.
"Mereka hanya orang tua angkat kamu, orang tuaku kandung. Kamu pikir bagaimana perasaanku saat ini?" tanya wanita itu.
Golok diturunkan...
*****
Arman membuka matanya.
Lalu langsung bangun terduduk...
Air mata tergenang di sisi sudut matanya.
Napasnya memburu...
Mimpi?
Mimpi masa kecilnya...
Sudah lama dia tidak memimpikan Ayah ibunya...
Lalu berikutnya, rasa perih yang luar biasa di bagian pinggangnya.
"As**u...!!" jeritnya langsung.
Bekas jahitan akibat terjangan peluru. Tidak seharusnya ia langsung bangun terduduk seperti tadi.
"Kenapa Pak Arman? Mimpi basah?!" seru Heksa dari ujung ruangan.
"Anj*rit... Anj*rit... Sakit banget gila..." keluh Arman sambil mencoba berbaring kembali.
"Ya lagian bangunnya heboh! Nasi kotaknya udah dateng nih..." sahut Heksa.
"Makan dini hari judulnya... Asik juga ya kayak ngeronda..." sahut Tresna.
"Pak Arman mau disuapin lagi ngga?" tawar Heksa.
Ditimpali kekehan menggoda dari yang lain.
Arman tidak menjawab, sibuk mengatur posisi agar lebih nyaman.
Tapi tidak berguna, yang ada malah semakin nyeri.
Ia mencoba berdiri...
Wah, lebih baik daripada berbaring, ternyata. Memang kondisi tubuhnya mungkin agak berbeda dengan manusia lain.
"Ngga usah maksain berdiri kali, Pak... Saya kan cuma bercanda." Heksa memandang Arman dengan tegang saat pria itu menghampirinya.
"Mati lu, Sa... Gue ngga ikutan." Tresna menarik kursinya menjauh.
Arman berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada tepian meja.
Pusing...
Kenapa ada Si Asse di mimpinya...?
Benar-benar mimpi buruk...
Tapi...
Hanya dari mimpi semacam itu dia bisa melihat orang tuanya lagi.
Sampai sekarang Arman tidak tahu dimana kuburan mereka.
Yang ia ingat hanya sosok Ayah Ibunya. Orang tua angkatnya dari Indonesia.
Ia tidak ingat sosok Papa Mamanya yang mewariskan wajah rupawannya karena masih terlalu kecil.
Namun... sekarang ia berada dalam dunia nyata. Tidak ada waktu untuk masa lalu.
"Gimana situasi? Aman terkendali?" tanya Arman. Suaranya serak.
"Terkendali Pak... Belum ada pergerakan lagi. Moses dan Eiichi sedang patroli, juga shift malam dari Bang Sa'ad, Umar disana."
Arman menoleh ke arah Umar yang sedang tahajud di pojok ruangan.
"Kita selesai jam 9 pagi ya. Saya mau keliling dulu." desis Arman sambil berjalan perlahan ke loker untuk mengenakan suitnya.
"Serius keliling pas lagi nyeri-nyeri begitu? Dikira encok loh nanti sama tamu!" sahut Heksa.
Arman langsung menjejalkan perkedel ke mulut Heksa.
Beberapa orang dari Beaufort Security Agency masuk untuk pergantian shift. Juga para ajudan dari owner Beaufort Co tampak mengawal Alexander Lucas Beaufort.
Pria itu menghampiri Arman.
Semua orang di sana menatapnya tegang.
"Itu anak Pak Baskara..."
"Itu Alex Beaufort?!"
"Masih muda banget..."
"Dia atasan Bara dan Leon..."
"Kok bisa ya dia menundukkan Bara dan Leon? Sehebat itu dia?"
"Di tangannya Beaufort Corp jadi raksasa."
Begitu kasak kusuk orang-orang di ruangan.
"Pak Ares." Sapa Alex begitu sudah ada di sebelah Arman.
"Hei, Lucas... Gimana bisnis haram kamu?"
"Lumayan maju, berkat Pak Sebastian. Saya kan anak manja ngga bisa berdiri sendiri kalo tanpa Ayah saya." sahut Alex sinis.
"Sakit?" Ia melirik pinggang Arman yang masih bernoda darah. Tampaknya luka jahitannya sedikit terbuka karena gerakan Arman yang aktif.
"Oh engaaakkkk kooook... Cuma seperti luka bakar disumpelin cabe. Terus tiba-tiba dengkul kita berasa lumpuh..."
"Saya kan cuma nanya sakit ato enggak, ngga usah dijelasin dengan detil dong. Ngga penting juga buat saya..."
"Itu tuh..." Arman menunjuk dispenser di sudut ruangan. "Galon belum diganti."
Alex menatap Arman sambil mencibir.
"Padahal saya ke sini karena kuatir. Ternyata kekuatiran saya terbukti. Pak Ares ngga mati-mati... Sedih deh saya."
"Loh udah jadi malaikat ini loh saya, ngga lihat nih sayap saya? Ya jelas, situ kan bukan orang beriman...."
Lalu semua hening...
Obrolan macam apa sih ini...
Arman menghela napas.
"Sebenarnya kamu mau ngapain kesini?" dengusnya.
"Mau ngejek doang..." sahut Alex.
"Oh."
"Bisa kita bicara? In Private..." sahut Alex.
"Tadi Atmana, sekarang kamu? Kalau ini masalah Ayumi Sakurazaka, saya tinggal ya... bosan dengernya."
"Saya butuh chip yang dia sembunyikan."
"Untuk apa? Agar bisa selangkah lebih maju di depan dari Pak Sebastian?" Cibir Arman.
Alex menggeleng. Lalu mendekat dan berbisik dengan bahasa Prancis ke dekat telinga Arman agar anggota yang lain tidak mendengar.
"Il y a des rumeurs selon lesquelles mon père est sur la liste, j'ai besoin de connaître la vérité. Si les données parviennent d'abord au gouvernement avec le nom de mon père, vous pouvez certainement imaginer le chaos qui va arriver à mon entreprise et à la société de votre patron."
(Saya dengar rumor mengenai nama ayah saya ada di daftar, saya perlu tahu kebenarannya. Kalau pemerintah lebih dulu mendapatkan data itu, kamu bisa bayangkan kekacauan yang akan terjadi pada perusahaan saya dan perusahaan boss kamu, kan?)
Seketika wajah Arman langsung memucat.
"Sial..." gumamnya tegang.
Ia terpaku di sana, tanpa bisa bergerak. Pikirannya langsung dipenuhi hal-hal buruk.
"Dapatkan data itu, saya tahu dia ada di tempat kamu. Saya beri waktu satu minggu, kalau kamu ngga dapat, saya kirim orang buat cari. Walaupun kami harus membunuh. Jelas?" Bisik Alex.
*****
Ayumi terpaku menatap ke televisi yang menampilkan Drama Korea.
Seharusnya, di hari normal, kegiatan ini adalah favoritnya.
Tapi kenapa hari ini ia merasa seakan terasa hampa.
Ayumi sudah melihat tayangan berita barusan... Pernikahan adik Sebastian Bataragunadi dengan seseorang bernama Dimas.
Cukup tampan kalau dilihat dari tv dan sepertinya masyarakat lumayan bersemangat akan perayaan itu. Semua media sosial membicarakan mengenai Dimas ini.
Tapi terus terang, Ayumi tidak tertarik.
Ia lebih tertarik mengenai konferensi pers yang datang setelah acara itu.
Pengumuman kalau Sebastian dan Milady telah menikah.
"Rady-San..." gumam Ayumi.
Kenapa wanita itu begitu beruntung?
Pikir Ayumi.
Bukankah pertamanya Milady adalah calon istri Trevor? Yamaguci memang bilang kalau Sebastian tampaknya memiliki hubungan special dengan Milady, namun saat itu Ayumi pikir Yamaguci salah paham.
Tampaknya, tidak.
Ayumi jadi merasa heran, dan ia mulai mempertanyakan sikap Milady.
Sikap baik Milady pada Ayumi...
Apakah juga berpura-pura? Seperti sikap Ayumi terhadap Trevor?
Apakah sebenarnya Milady memang ingin menjebak Ayumi dengan mengirimkan tas berisi GPS agar Ayumi dicurigai?
Yang mana yang benar?
Semua tampak samar...
Tapi satu hal yang pasti benar.
Pemilik apartemen tempatnya berada sekarang, adalah laki-laki breng*sek.