Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Musim Dingin di Jepang



Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas rumahnya, tapi luasnya kebahagiaan yang menempati.


Sebastian menatap ke arah keriuhan di depannya.


Teman-temannya.


Keluarganya.


Tidak secara hubungan darah, tapi hubungan kekerabatan yang kental sehingga rasanya seperti keluarga.


Tawa riang dan senda gurau, semua bersatu padu menghiasi ruangan.


Para pasangan dengan senyum bahagia di salah satu sudut, mengobrol mengenai hal-hal baik seakan semuanya selancar aliran sungai.


Apakah semuanya semu belaka?


Seperti...


Apakah sikap mereka yang seperti itu, tulus terhadap Sebastian karena uangnya? Karena kerajaannya? Karena Sebastian sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka?


"Mas Yan, jidatnya jangan berkerut terus nanti ubannya nambah!" Seru Dimas dari ujung ruangan.


Hm...


Tampaknya mereka benar-benar tulus.


Kalau dilihat dari tingkahnya.


Sebastian menghampiri Istrinya yang sedang duduk dan mengobrol dengan dua orang cassanova terbaik di negeri ini.


Siapa lagi kalau bukan Si Boyo dan Si Kampret.


Dan tampaknya rayuan demi rayuan sudah mendera wanita itu sampai telinganya memerah karena tersipu.


Sebastian tidak pandai merayu.


Apalagi bersikap romantis.


Sering ia merasa bersyukur karena klien bisnisnya tidak usah didekati dengan cara romantis, seperti bingkisan hari raya atau janji-janji mendayu.


Rata-rata pebisnis besar tahan terhadap rayuan. Mereka tidak suka berbasa-basi.


Herannya...


Dimas dan Arman juga tidak suka berbasa-basi.


Namun mereka, entah bagaimana, menyenangkan.


Sebastian jadi ingin tahu, apa saja yang mereka obrolkan.


Walaupun secara umur, usia Sebastian jauh diatas mereka, namun belajar tidak terlekang oleh waktu.


Kapan saja ada kesempatan, dari kalangan mana saja dan dari keadaan seperti apa pun, Sebastian akan belajar.


Dan kini, Ia berniat untuk belajar cara 'menyenangkan wanita' dari kedua pria yang menjadi orang kepercayaannya, juga akan belajar untuk mengajari anaknya kelak.


Zaman memang sudah berubah, karena itu saatnya upgrade.


Ada sebuah ungkapan Ali bin Abi Thalib yang cukup fenomenal mengenai pendidikan anak yakni “Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”


Jadi, karena Sebastian akan memiliki anak di usianya yang sudah lanjut, ia harus banyak belajar dari yang kira-kira usianya tidak terlalu jauh dari usia anaknya.


Pria yang umurnya sudah lebih dari setengah abad itu meraih pinggang istrinya, mengklaim kepemilikannya, dan mencium bahu Milady.


"Jangan terlalu lama berinteraksi dengan para Don Juan. Kamu bisa kena radiasi." Sahut Sebastian.


Milady terkikik.


"Ini juga rasanya udah lemas, Mas, dengkulku." Kikik Milady.


"Kalian ini, kendalikan dong nafsu 'membunuh'nya. Kan kasihan anak saya." Gerutu Sebastian. "Kalau ibunya galau, yang di dalam juga ikut merasakan."


Arman terkekeh perlahan.


Dimas malah terbahak.


"Mana ada yang tahan melihat..." Dimas tidak melanjutkan kalimatnya, hanya mengangkat gelas cocktailnya ke arah Milady. "Makanya ditemenin dong..."


"Bukannya Arman yang menemani?" Tanya Sebastian sambil menunjuk Arman dengan dagunya.


"Kamu aja yang tiba-tiba bergabung. Jangan menyelak antrian dong, Boyo."


Dimas menatap Arman dan Milady bergantian, bibir pria itu mengerut.


"Kenapa Pak Arman boleh dekat-dekat Milady, sedangkan saya selalu di..." Dimas mencibir sambil menggoyangkan gelasnya. "Begitulah." Kembali ia tidak melanjutkan kalimatnya.


Mungkin karena sudah terlanjur sebal.


"Pertama, karena semakin Arman bersikap romantis, semakin tidak peduli dirinya. Semakin Arman bersikap masa bodo, semakin peduli dirinya. Kedua, kamu udah pernah cium Milady. Awas kamu macam-macam!" geram Sebastian.


Dimas menanggapi dengan seringai lebar.


Arman menaikkan alisnya.


"Wah, kejutan. Saya kok ngga tahu yah masalah itu. Tahu begitu kan saya jaga Sang Ratu baik-baik, Pak..." sahut Arman.


Mereka terdiam menatap Geng Baper dengan keramaian khasnya di depan sana.


"Kenapa? Ngga sabar menyuruh-nyuruh saya ya?" Arman balik bertanya.


"Iya." Aku Dimas.


Lalu dia terkekeh. "Bukannya nanti malah sebaliknya yah, mana berani saya menyuruh-nyuruh Mas Arman seperti Pak Boss. Malah saya berpikiran sebaiknya saya tidak menggunakan jasa Mas Arman untuk jadi sekretaris saya. Tahulah... konflik kepentingan semacam itu."


"Hm. Saya mungkin setelah ini akan mendedikasikan hidup saya di Agency." sahut Arman.


"Bapak punya banyak sekali urusan yang belum selesai. Setelah ini saya juga kerja sambilan mengurus..." Arman menghela napas dulu sebelum meneruskan kalimatnya.


"Mengurus Yakuza yang diberikan saham Mall. Kelihatannya waktu itu ngasihnya ngga rela jadi sekarang ingin merebut lagi sekitar setengah dari sahamnya."


Sebastian menyeringai.


Milady melotot ke Sebastian.


"Maaas..." desis Milady. "Sudahlah kan seharusnya diikhlaskan, sukanya cari masalah sih. Yamaguchi Gumi kan pebisnis juga, mereka tahu caranya mensejahterakan karyawan. Tidak seperti klan yang lain, mereka sudah lebih bisa bekerjasama dengan pemerintah."


"Siapa bilang? Yakuza tetaplah Yakuza. Tetap bar-bar dan kejam. Ini yang minta Pemerintahnya sendiri loh ke aku."


"Ngga bisa yah suruh orang lain saja? Masih ada ALex dan Gerald."


"Memang akan kuberikan ke mereka berdua, kok... tapi kan aku harus maju pertama dulu agar jalannya bisa lebih mudah."


"Adduhhh." erang Milady tidak setuju.


Arman merangkul bahu Milady.


"Tenang... Ada saya. Daaan Pak Dimas. Benar?"


"Hah? Saya?" Dimas membelalakkan matanya. "Kok rasanya pingin kabur." gumam Dimas.


"Pak Dimas ini sukanya merendah ah." seringai Arman melebar.


*****


3 bulan setelah acara ulang tahun Arman dan Milady di atas,


Prefektur Shizuoka, Jepang


Desember 20xx


Ayumi Sakurazaka menepuk-nepuk bantal duduk yang berasal dari sofa barunya, menyingkirkan debu-debu halus yang menempel dan meletakkannya dengan apik di samping sandaran.


Lalu ia berjalan ke kabinet, yang juga baru saja ia pasang, dan mengaduk-aduk isi kardus besar yang diletakkan di sana.


Benda-benda kenangannya.


Barang-barangnya dari apartemen lama, dokumen identitas, foto Tadashi dan Tomoko Sakurazaka yang merupakan Ayah dan Ibunya, lalu... ponsel kaca


.


Smartphone dari Garnet Agency.


yang sudah lama tidak ia aktifkan, sejak ia dijemput Kedutaan.


Ayumi menghela napas menatap ponsel itu. Lalu mengelus chasingnya dengan lembut.


Ares...


Ingin sekali aku menghubungi kamu.


Tapi mereka bilang sebaiknya kamu yang mencariku.


apakah kamu akan menemukan aku?


Ayumi menatap ke arah cermin.


Wajah barunya.


sudah banyak berbeda dengan Ayumi yang dulu.


Giginya sudah tidak gingsul lagi, mata besarnya dibuat dengan sudut agak naik dan alisnya dibuat lebih berlekuk.


bibirnya juga dibuat lebih tebal.


dan rahangnya lebih tirus.


Ayumi ingin wajah khas Eropa namun tetap memperlihatkan ras Asia-nya.


Karena sepertinya Arman menyukai jenis wanita yang seperti itu.


Yang wajahnya terkesan seksi dan agresif.


Ia tidak tahu apakah Arman akan mengenalinya atau tidak.


Namun Ia yakin Arman pasti tahu di daerah mana ia berada. Jadi Ayumi berencana setelah ini akan menyisir kota ini, siapa tahu ia bertemu Arman di jalan.


Ayumi membelai gelang berlian bermotif Azalea di tangannya.


GPS dan sensor sudah dicabut dari dalamnya, kini hanya gelang biasa.


Bagi Ayumi bukan sekedar gelang biasa, sebenarnya.


Makna yang terkandung sangat berarti bagi Ayumi.