
Arman menghela napas sambil menyandarkan kedua siku tangannya di pagar beranda.
Pertengahan Desember, sudah memasuki musim dingin, namun masih belum tampak salju. Suhu saat siang sekitar 10 derajat.
Didepannya terbentang siluet Gunung Fuji.
Udara Shizuoka begitu segar, oksigen yang masuk ke tubuhnya membuat perasaannya galaunya membaik.
Di bawah apartemennya, yang ia sewa perbulan ini, terdapat banyak perumahan dengan orang-orang lalu lalang.
Arman menghela napas.
Tapi tidak ada satupun yang menegurnya...
Kalau Ayumi melihatnya, wanita itu pasti akan menghampirinya dan menegurnya.
Ini hari kelima belas ia di Shizuoka.
Setiap hari ia berjalan tanpa tujuan ke tempat-tempat wisata, ke pusat-pusat perbelanjaan, bahkan sempat ke onsen di kaki Gunung Fuji.
Berharap dilihat...
Namun akhirnya ia berpikir. Apakah strateginya salah?
Dan beginilah sekarang dia, bingung mau memulai dari mana lagi.
Apa ia menetap di sini saja?
Orang-orang dari kedutaan akan senang hati membantunya.
Ia juga memiliki tabungan. Uang pensiun dari Garnet jumlahnya lebih dari cukup dengan targetnya menabung.
Siapa yang menyangka Sebastian begitu royal padanya?!
Apakah ada keterlibatan Milady di uang pensiunnya?
Karena waktu Sebastian menyodorkan surat perjanjian saat Arman dianggap membuat ulah waktu itu, Arman menuliskan sejumlah uang yang menurutnya tidak mungkin Sebastian akan meloloskannya.
Nyatanya uang pensiunnya sesuai dengan dana yang Arman tuliskan.
Yah, setelah dipotong sisa hutangnya keperusahaan, dan pajak ini itu, sih.
Uang segitu, pantasnya ia beli saja rumah di sini. Tidak usah apartemen.
Kecil tak apa, yang penting di atas tanah, karena itu investasi yang bagus kalau di Jepang.
Apa ia mulai saja berburu rumah?
Hm...
Arman sedang mempertimbangkkan untung ruginya.
Bagaimana kalau Ayumi ternyata tidak di sini?
Lalu kalau ia sudah terlanjur membeli rumah, tapi Ayumi tidak di Shizuoka, bukankah malah sia-sia?
Tetapi Pak Sebastian sering bilang, tidak ada yang rugi saat memiliki aset tetap.
Baiklah, lakukan saja!
Ia membulatkan tekadnya.
Arman masuk ke dalam, Ia bermaksud mencari ponselnya.
Ia akan mencari agen perumahan setelah melihat-lihat situs penjualan rumah lewat ponsel.
Lalu ia mencari passportnya.
Dan terjatuhlah benda itu.
Ponsel satunya lagi.
Ponsel milik Agency.
Dengan...
Alarm merah berkedip!
Serasa tubuh Arman teraliri listrik! Jemarinya bergetar.
Alarm itu hanya untuk... Wanita itu!
Kekasih hatinya!
Secepat kilat pria itu menyambar ponselnya, mencari lokasinya.
Hah?
masih berada di satu lokasi denganku?!
Tunggu.
Ini di depan restoran ramen.
Ada rumah kecil ber-cat putih dengan banyak bunga di depannya saat musim gugur kemarin.
Pagi ini bunga di berandanya menguncup.
Batinnya.
Arman pernah melihat seorang wanita keluar dari sana, dengan hoodie hitam yang menutupi wajah dan rambutnya, wanita itu juga memakai masker dan sarung tangan untuk menghalau udara dingin musim gugur.
Namun tidak pernah melihat sosoknya dengan jelas.
Beberapa kali melihatnya di musim gugur, namun memasuki musim dingin, Arman belum melihatnya lagi.
Karena, tidak seperti rumah lain yang penghuninya terkadang keluar bercengkrama, atau sekedar menyapu jalanan dari guguran bunga, atau keluar untuk berbelanja,
Rumah yang ini tampaknya pemiliknya membuang sampah saat tengah malam dan membayar orang untuk membersihkan halamannya. Juga beberapa kali Arman melihat jasa pengiriman barang mengantarkan paket, masuk ke dalam pintunya.
Arman menuju beranda.
Siang ini rumah itu tampak dari berandanya.
Terlihat dari samping dengan cat putih dan pagar kecil khas eropa.
Pertama kali melewatinya, Arman pernah berpikir kalau rumah dengan model seperti itu cocok untuk dijadikan coffe shop, sebenarnya.
Namun biasanya Arman hanya melewatinya saja, untuk menuju ke toko sake di ujung blok.
Arman setengah berlari menuju ke bawah.
Dengan perasaan tak menentu, ia berjalan dengan ragu ke depan rumah itu.
Lalu melihat ke depan layar ponselnya.
Sinyalnya berasal dari sini.
Jadi,
Arman mengetik sepatah kalimat.
Aku di depan rumah.
*****
Ayumi menatap plafon rumahnya sambil berbaring di sofa.
Lalu melirik kardus di atas konter, dengan isi barang-barang dari apartemen lamanya.
Ia memutuskan untuk menyewa rumah kali ini. Karena beberapa kali menyewa apartemen, membuatnya malah teringat akan Trevor.
Kenapa setelah meminum wine, perasaannya jadi tak menentu begini?
Mengingatkannya akan Arman yang kini entah dimana.
Atau,
Bersama siapa.
Apakah Arman mengingat janjinya kalau ia akan mencari Ayumi?
Jangan-jangan dia malah sedang bersama Janet sialan itu!
Ayumi juga bisa melihat kilatan mata Arman yang berbeda saat Sandra Ellen memasuki lift waktu itu.
Dan gelang ini...
Gelang yang indah ini juga dibuat oleh wanita pirang itu, atas permohonan Ares, tampaknya. Batin Ayumi.
Walaupun sepertinya GPS di dalamnya rancangan dari Beaufort Tech.
Mungkin mereka bekerja sama untuk membuatnya.
Pikir Ayumi.
Air matanya malah mengalir lebih deras daripada yang tadi.
Ah! Kuso... (Sialan...)
Umpat Ayumi.
Sekali lagi ia jatuh cinta dengan pria Indonesia dan mengalami depresi. Mungkin untuk sementara ia tidak ingin berurusan dengan sesuatu dari Indonesia...
Ting!
Suara apa itu?
Batin Ayumi.
Seperti suara yang familiar.
Bunyi 'ting' tadi? Seperti...
Bunyi notifikasi pesan masuk?
Ayumi mendengus.
Astaga halusinasiku semakin parah.
Pikirnya.
Ting!
Bukan! Itu bukan halusinasi!
Ayumi langsung terduduk dan menoleh ke ponsel agency di atas nakas di samping gelas winenya.
Lampunya berwarna hijau.
Tanda pesan masuk.
Ayumi ragu meraihnya.
Lalu menekan tombolnya.
Pesan 1
"Aku di depan rumah."
Pesan 2
"Bisa kita bertemu?"
"Ares?" Gumam Ayumi.
Di...depan rumah?
Benarkah?
Bagaimana pria itu tahu ia menyewa rumah?
Apakah ada sinyal dari ponselnya? Seakurat itu?!
Tapi mungkin saja...
Setahu Ayumi, Garnet Security Agency adalah pemasok bodyguard terbaik kedua di Indonesia setelah Beaufort.Co.
Ayumi segera bangkit.
Lalu memeriksa dandanannya.
Menghapus air matanya,
Menebalkan lipstiknya.
Ini musim dingin, selama musim dingin ia tidak keluar rumah karena ia memang tidak tahan udara dingin.
Terlebih ia teringat saat terjebak di mobil bersama Trevor sampai terkena hipotermia.
Jaketnya...
Ah! Jaket kulit kenangannya yang dibelikan Arman di Mall saat ia dibawa menemui Sebastian.
Ayumi mengaduk-aduk kardus berisi barang-barangnya.
Ketemu!
Sorak Ayumi saat mengangkat jaket itu.
Benar-benar berkualitas tinggi! Melampaui berbagai medan, dan tampilannya tetap sebaik saat baru dibeli!
Lalu mengenakannya.
Dan membuka pintunya, melewati halamannya,
Dan membuka pagarnya...
*****
Arman tertegun saat melihat wanita yang menurutnya sangat cantik membuka pagar rumah putih.
Rambutnya yang coklat panjang terurai melewati punggung, mata besar dengan sisi mencuat ke atas dan bibir seksi yang tebal.
Namun pandangan mata itu.
Sayu dan teduh.
Dengan banyak harapan terpancar.
Juga...yang dikenakannya.
Jaket itu.
Jaket kulit dari butik desainer Paris yang Arman pilih dengan terburu-buru saat akan membawa Ayumi menemui Sebastian.
Saat itu, Ia merasa jaket itu cocok dengan karakter Ayumi yang tangguh dibalik penampilannya yang feminin.
Ia tidak sampai berpikir dua kali saat melihatnya di display.
Juga... Tangannya.
Terdapat gelang berlian yang sangat dikenal Arman.
Wajah wanita itu memang sangat berbeda.
Tapi Arman tidak bisa melupakan tatapan mata itu. Mata dengan manik hitam yang menatapnya dengan rasa rindu.
Arman tersenyum terpukau.
"Akhirnya... Ketemu juga." Desisnya.
"Ah..." Desis wanita itu.
Arman maju dan langsung memeluknya.
Tubuh ini... Tekstur yang dirindukannya. Ringkih dan kurus.
Namun sangat lembut dan gemulai.
"Ares..." Gumam Ayumi.
Arman bisa merasakan wanita itu balas memeluknya.
Dan isakannya di atas bahunya.
"Kamu benar-benar datang." Isak Ayumi.
"Hm." Hanya itu jawaban Arman.
*****