
Yakutia,
Timur Laut Rusia.
"Gue balik duluan." desis Bram sambil melepas setelan proyeknya.
Trevor, yang tadinya menelungkupkan kepalanya di meja karena kecapekan, perjalanan Dubai-Moskwa, belum jalan darat ke Yakutia, begitu sampai ia harus bernegosiasi dengan pekerja sampai-sampai harus bayar ganti rugi ini-itu dengan alasan moralitas, dan kini Bram mau pulang duluan?!
"Maksud lo?!" tanya Trevor sambil melotot.
"Gue harus mempersiapkan pernikahan si Tole. Masa nyokap gue sendirian..."
"Ah iya... Gue lupa besok Dimas nikah..." Trevor kembali menelungkupkan dirinya.
"Astaga kerugian usaha di sini tuh bikin nyesek... Bisa-bisa disindir bokap gue..." dia kembali mengeluh.
"Siapa gantinya Gunawan nanti? Bukan Mitha kan? Birokrasi di sini kalau sudah jadi Presdir di perusahaan Amerika ngga bisa menjabat jadi Presdir di Rusia." sahut Bram.
"Gue pjs (pengganti jabatan sementara)... Nanti kandidatnya Andre Wijaya dari Garnet Bank. Dulu dia manajer di Garnet Hotel sebelum di Bank, pernah kuliah jurusan Bahasa Rusia di UN."
"Andre Wijaya bukannya keponakannya Pak Stephen?"
"Iya Andrew yang itu..."
"Andrew...hm..."
"Kenapa?"
"Mantannya Selena..." sambung Bram.
Trevor membulatkan matanya. "Ohya? Kapan dia pernah pacaran sama Selena?!"
"Jaman mereka kuliah... Ya sudah gue setuju, yang jauh kerjanya sekalian di kutub utara kalo perlu, biar ga ketemu-ketemu lagi sama calon bini gue..." sahut Bram dengan wajah langsung suram.
"Weisss... Saingan cinta..." Trevor berdehem. "...Dia untukku, Bukan untukmu, Dia milikku, Bukan milikmu... Pergilah kamu, Jangan kau ganggu, Biarkan aku Mendekatinya..." dan mulai bernyanyi.
Bram melongo.
"Waduuuh... Udah bisa ngebales jokes lu yeee... Belajar dari mana lo, hah?!" seru Bram sambil mengangkat kontrak kerja bersiap melempar Trevor.
"Kamu Tak akan mungkin Mendapatkannya Karena dia Berikan aku Pertanda cinta, Janganlah kamu banyak bermimpi, oh, Dia Untuk aku..." dan Trevor kabur sambil cekikikan, dengan lembaran kontrak kerja berseliweran disekitarnya dilempar Bram.
(Lirik Lagu, judul "Dia Milikku" Th. 2007, dipopulerkan oleh "Yovie & Nuno)
*****
"Duh, Mas Trevor... Kok buru-buru?!" Mitha berpegangan pada lengannya karena terhuyung saat Trevor menabraknya karena menghindari Bram.
"Eit... Maaf yah Mbak, Si Bram lagi meradang..."
"Loh kenapa?"
Trevor hanya menyeringai. "Mbak Mitha sendiri, bagaimana?" Ia mengalihkan pembicaraan.
"Kayaknya saya harus di sini sampai besok Mas, ngga bisa selesai dalam sehari, ini. Buruh lepas memang sudah ditangani, tapi ternyata auditnya banyak yang melenceng... Duh, sebenarnya saya pusing, hehehehe..."
Dalam keadaan pusing, Mitha masih sempat cengengesan.
"Oke... Diselesaikan sebisanya saja. Saya undur jadwal pulangnya. Tapi besok mau ngga mau kita harus ke Jakarta karena Dimas kan mau nikah, Mbak..."
"Loh iya ya!! Mas Bram gimana?"
"Bram pulang sebentar lagi."
"Terus kita berdua besok?"
"Iya..."
"Hm..."
Lalu keadaan hening.
*****
Milady celingak-celinguk ke segala ruangan.
Sepi...
Dia hanya sendiri?
Kemana Sebastian?
Pikirnya sambil menyapu pandangannya ke seluruh ruangan penthouse.
Milady memang berjanji untuk meminta waktu 5 menit... Namun akhirnya jadi seharian karena tampaknya kekesalannya tidak mudah mereda.
Milady baru ingat '5 menit'-nya saat ia terbangun pagi ini.
Kenapa, Aku?
Milady berpikir sambil duduk di sofa ruang tamu, di tempat yang sama saat ia dulu pertama kali mengenal Sebastian.
Duduk di sana sambil memandangi lukisan Amedeo Modigliani yang menggambarkan tubuh wanita.
Harganya triliunan...
Milady baru tahu akhir-akhir ini, kalau lukisan itu sedemikian mahalnya.
Oke, kembali lagi.
Aku ini kenapa?
Kenapa saat melihat Sebastian, aku jadi mudah kesal...
Apa aku sakit?
Milady menghela napas.
Tidak. Aku tidak sakit.
Malah merasa sangat segar.
Tapi... Aku lapar.
Ingin makan daging... Pikir Milady
Ting...tong...
Terdengar bunyi bel.
Milady mengernyit.
Sudah pasti bukan Sebastian yang datang, tidak mungkin pria itu memencet bel di kediamannya sendiri.
Milady membuka pintunya.
"Eh, Mas Arman..." sapa Milady.
"Mbak Milady." Arman sedikit menundukkan kepalanya saat menyapa Milady. "Bapak di rumah Bu Sulastri, dia mungkin sudah mengirim pesan ke ponsel Mbak Milady, coba di cek. Saya di sini karena akan mengantar Mbak ke rumah Bu Sulastri."
Bu Sulastri adalah ibunya Dimas.
"Oh... Masuk dulu saja ya Mas, saya belum siap-siap soalnya."
Arman masuk dan duduk di sofa dekat jendela.
"Saya sekalian mau bicara sesuatu, Mbak..."
"Mengenai apa?"
"Lebih ke arah pribadi sih." terlihat dahi Arman mengernyit sambil pria itu mengutak-atik ponselnya.
"Sambil saya ganti baju dan dandan, boleh?" seru Milady dari dalam kamar.
"Iya." Arman berjalan ke arah kamar Milady dan berdiri bersandar di pintu dengan mata tetap tertuju ke layar ponselnya.
"Mas Arman?"
"Ngomongnya harus di situ atau bagaimana? Saya mau ganti baju." Kata Milady.
Arman memandangnya tanpa ekspresi. "Posisi saya tidak bisa terlalu jauh membicarakan ini, karena dinding di hotel cukup tipis..." sahut Arman.
Milady menghela napas.
Lalu wanita itu memutar tangannya, memberi kode untuk Arman supaya membalikkan tubuhnya.
"Jadi..." Arman membalikkan tubuhnya. "Jawab saja, Ya atau Tidak."
Pria itu membaca sesuatu dari ponselnya.
"Apa Mbak Milady sensitif terhadap bau-bauan tertentu?"
"Tidak juga." Milady menjawab sambil berganti pakaian.
"Tiba-tiba ingin makan daging?"
"Wah iya!"
"Merasa sering kesal terhadap sesuatu yang absurb?"
"Lumayan... Iya."
"Apa sekarang sedang haid?"
Hening...
"Hm... Bulan ini sepertinya belum dapat haid." terdengar Milady bergumam.
"Perut sakit?"
"Tidak..."
"Merasa lemas?"
"Tidak juga."
"Adrenalin berlebih? Ingin selalu bergerak."
"Iya... Iya seperti itu."
Lalu Arman mengulurkan sebuah kotak dari karton.
"Coba tes di kamar mandi, Mbak."
"Apa ini?" Milady membuka kotak itu. "Test Pack?!"
Arman mengangguk.
Milady tertegun.
"Terus terang nih Mbak... Saya hanya diinstruksikan menunggu Mbak di lobi, Saya ke atas sini tanpa sepengetahuan bapak. Tapi beliau kroeng-kroeng terus gara-gara Mbaknya ngambek masalah gaun. Jadi ya saya inisiatif beli itu barusan... Biar tenang saja hati saya..." sahut Arman.
Milady memicingkan matanya menatap Arman.
"Mas Arman ini pengertian sekali yah..." tapi wanita itu bahkan tidak yakin Arman ikhlas melakukan ini.
"...jangan-jangan..." Milady tidak melanjutkan kalimatnya.
Arman menatapnya sambil mencibir.
"Walaupun saya ini berpengalaman soal wanita, bukan berarti saya ini sering menyodorkan testpack ke pacar-pacar saya ya Mbak... Ini murni feeling saja. Karena kalau Mbaknya bikin masalah, yang repot juga saya lagi-saya lagi..." Seakan Arman bisa mengetahui isi hati Milady.
"Oh, jadi selama ini merasa direpotkan dengan adanya saya nih?!" Milady mulai sewot.
"Tuh kan... Kena lagi saya... Kata-katanya dibolak-balik..." keluh Arman.
"Mas, karena kita cuma berdua, ngga usah pura-pura innocent yah. Soalnya saya juga udah sering pura-pura kalem demi bertahan hidup, jadi saya tahu kalau ada makhluk sejenis." sahut Milady sambil ke arah kamar mandi.
Arman menarik napasnya.
Sabaaar...
Desisnya dalam hati.
Lalu dia duduk di depan meja rias Milady.
Dan memperhatikan bermacam-macam make up di sana.
Semenit...
Ia mulai berpikir, sepertinya Milady sering sekali memakai salah satu merk merk skin care lokal sampai ada botol yang sudah hampir habis, sementara di sebelahnya ada botol sejenis yang masih baru.
Semenit tiga puluh detik...
Arman mulai melihat-lihat koleksi Lipstik Milady.
Dua menit...
Arman mulai explore ke bagian parfum.
"Mas Armaaann!!!" jerit Milady sambil keluar dari kamar mandi dan menubruk punggung Arman.
"Astaga! Gimana nih!! Gimana!!!" Dia mengguncang-guncang tubuh Arman dengan keras.
"Aduh duh...! Apa sih Mbak, sakit!! Ngga usah pake nyakar!!" seru Arman sambil mengibaskan Milady.
Dan wanita itu mengangkat testpacknya.
Tepat di depan mata Arman.
Dua garis...
Positif hamil.
"Astaga... Rahwana-nya udah muncul..." Arman mengeluh.
"Rahwana tuh siapa?!"
"Itu... Calon baby..."
"Kenapa namanya harus Rahwana?!"
"Lah kan cocok..." desis Arman. "... Sama sosok Bapaknya. Lagipula, ngga usah dijuntrungin ke muka saya, itu kan bekas pipis!" seru Arman sambil mengernyit jijik.
"Kalau anaknya perempuan?"
"Kok feeling saya laki-laki yah... tinggal ganti jadi Rahwani hehehehe..."
"Ngga lucu, Mas... Terus saya harus gimana?!"
"Mana saya tahu... Pasti saya bakalan lebih repot dari kemarin-kemarin... Selamat tinggal leyeh-leyeh..." Arman melambaikan tangan dengan muka dibuat sedih.
"Mas Arman ini ternyata benerannya nyebelin yah!"
"Lah tadi bilang sendiri kalau saya boleh bebas berekspresi kalau sedang berdua saja..." sungut pria itu sambil meletakkan botol parfum kembali ke tempatnya.
Milady langsung memfoto testpacknya dengan mata berbinar.
"Mbak..." panggil Arman.
"Apa?"
"Tahu kan kalau Ayumi sekarang di tempat saya."
Milady mengangkat kepalanya.
"Iya tahu. Kenapa?"
Arman tampak berpikir sambil menatap meja rias Milady.
"Dia datang ke sini tanpa pakaian dan barang pribadi lain. Sedangkan bonus saya belum dibayar bapak. Jadi... Apa ada baju atau make up yang jarang dipakai, yang bisa disumbangkan ke saya untuk dipakai Ayumi?"
Milady langsung menyeringai.