
Milady tiba di rumah Sebastian saat keadaan ricuh.
Astaga...
Kenapa banyak orang begini?!
Ada Bram dan Selena segala!
Dan, siapa itu ibu-ibu berwajah manis yang mengomeli Sebastian? Tampaknya ia mengenal Sebastian dengan cukup baik.
Milady mengucapkan salam Permisi, namun semua sibuk adu argumen.
Ya Ampun, bising sekali...! Keluh Milady.
Milady akhirnya mengetuk pintu 2x dengan kencang.
Semua orang yang ada di ruangan reflek menatapnya.
"Wah..." Mata Milady langsung tertuju pada Dimas.
Keadaan pria itu babak beluk dan lebam-lebam di wajah.
Astaga, Sebastian-kah yang melakukannya?
Milady menghela napas, hampir saja menyesali yang terjadi, namun Dimas malah menyeringai padanya.
Oh wow...!
Kenapa pria itu malah terasa lebih manly dengan luka-luka lebam di sekujur pelipis dan rahang?!
Ya Ampun Dimas... Ketampananmu itu... Ringis Milady sambil membalas seringaian Dimas.
Tapi tetap saja, hal ini tidak bisa diterima!
Tindak kekerasan semacam ini, kalau ia jadi Dimas, sudah ia masuki ke ranah hukum walaupun orang yang ia tuntut adalah orang paling berkuasa di negara ini.
Prinsip Milady, selama masih manusia, masih bisa dituntut .
Lalu ia menatap Sebastian yang berdiri di ujung disebelah Pak Hans dan Meilinda.
"... Sudah aku duga suatu saat kamu akan nyaris membunuh." Gumam Milady. Ia tiba-tiba merasa kesal karena Sebastian yang sedang menatapnya dengan dagu terangkat seakan menantangnya dengan berbicara : kamu mau apa?!
Sebastian sadar tidak sih, kalau semua tragedi ini dimulai karena keegoisan si rubah putih ini?!
Dengan perasaan kesal seperti sekarang, ia sudah tidak lagi mengutamakan sopan santun.
"Sudahlah, ada baiknya keluarga Dimas mengajukan tuntutan, dengan demikian kamu bisa dipenjara lagi dan menyerahkan saham kamu ke Trevor, agar kami bisa bekerja dengan lebih tenang..."
Kalimat yang luar biasa lancang dari Milady.
Semua yang disitu entah bagaimana langsung merasa yang dimaksud dengan 'kamu' dalam kalimat Milady barusan adalah Sebastian.
Terbukti dari Sebastian yang langsung mengeram sambil memalingkan wajahnya.
"Siapa sih yang memanggilnya?" Umpatnya.
"Saya..." Desis Trevor. "Habis Ayah agak keluar batas kali ini."
Sebastian menatap Trevor sambil memicingkan mata. Di matanya tersirat sedikit dendam.
"Lady... Apa kabar sayang?" Pak Hans merentangkan tangannya menyambut Milady, lalu mencium kedua pipi wanita itu. "Kamu sehat? Jangan terlalu banyak bekerja, sebentar lagi kamu akan menikah, pekerjaan tidak akan ada habisnya. Kamu harus fit di hari H..."
"Pak Hans sendiri bagaimana? Jangan kebanyakan jajan Pak, bagi-bagi doong!" sahut Milady menggodanya.
Mereka berdua tertawa berbarengan.
"Jadi, bisa kami bantu, Lady?" Tanya Pak Hans.
Milady langsung menatap Sebastian. Pria itu balas menatapnya seakan menantangnya, namun dengan cara yang lebih lembut.
"Kamu dan aku harus bicara. Empat mata." Sahut Milady tegas dengan tatapan mata lurus ke arah Sebastian.
Pria itu menghela napas.
Inilah saat penyidangan dirinya.
Masalah Malik dan lainnya...
Namun Pria itu sudah bertekad, tidak akan melepaskan peluang yang diberikan Tuhan padanya.
Milady, seakan sudah mengenal seluk beluk rumah itu, berjalan masuk ke dalam lorong, dan Sebastian mengikutinya bagaikan domba mengikuti majikannya.
Hal itu membuat semua orang yang ada disana saling berpandangan.
Dalam sejarah hidupnya, bahkan terhadap Pak Hans yang merupakan ayah kandungnya, Sebastian tidak pernah jadi 'follower'. Ia tidak pernah berjalan di belakang orang, atau menuruti orang lain tanpa protes terlebih dahulu.
******
Milady masuk ke ruang kerja Sebastian, tempat yang sama saat pria itu memukuli Dimas dan tempat yang sama saat mereka bermesraan untuk yang pertama kalinya setelah sepuluh tahun berlalu.
Wanita itu duduk di pinggir meja jati hitam yang biasa digunakan Sebastian untuk bekerja.
Mereka saling menatap untuk beberapa lama. Menahan hasrat yang semakin menggedor untuk keluar.
Namun, Milady mempunyai rencana lain.
Pria ini...
Ia membenci semua yang ada di dalam diri Sebastian, sekaligus menyukai semuanya.
Jadi sebagai balasan atas segala perlakukan Sebastian padanya, atas segala sakit hatinya, Milady tersenyum padanya dan berujar,
"Minta maaf padaku." Sahutnya lugas.
Sebastian mengernyit.
"Aku sudah melakukannya kemarin. Saat video call. Ingat?!"
"Minta maaf saja, lagi." Kata Milady dengan ekspresi penuh keangkuhan.
Astaga... Pikir pria itu. Ada apa lagi ini! Ia selalu dibuat pusing karena tingkah wanita ini.
Namun Sebastian merasa Milady benar-benar sakit hati akibat ia menyembunyikan kenyataan kalau keluarga wanita ini bangkrut karenanya.
Baiklah, untuk yang satu itu, ia memang merasa keterlaluan.
"Aku minta maaf kalau sudah menyakiti hati kamu." Sahut Sebastian sambil menatap Milady dengan kesal, namun ada sedikit pancaran kesedihan dan frustasi yang mendalam di matanya.
"Iya, kamu memang baji**ngan." Desis Milady.
"Sudah berapa lama kamu menyembunyikan kenyataan itu, hah?! Pasti sejak kita ketemu di restoran itu, iya?! Karena itu kamu membelikanku hampers yang mahal-mahal?! Karangan bunga dari emas?! Karena merasa kejahatan yang kamu lakukan tidak bisa termaafkan lagi, kan?! Ibuku sakit jiwa dan keperawanku terenggut gara-gara kamu! Tahu begitu, harga yang kamu bayar tidak cukup 15 miliar! Aku merasa seperti wanita murahan...!" Omel Milady panjang lebar.
Sebastian menghela napas.
Ini sih, tidak cukup hanya dengan permohonan maaf darinya.
Milady menatapnya seperti menunggu kalimat selanjutnya.
Agak lama karena sikap Sebastian yang angkuh, bersikeras tidak mau mengalah.
Namun akhirnya pertahanan pria itu runtuh saat Milady berkata...
"Aku ngga kuat lagi, kamu terlalu kontradiktif. Tidak ada yang jujur dari kamu... Aku akan resign saja, lalu pergi yang jauh." Kata Milady.
Sial...
"Jadi kamu bisa tenang, tidak aku ganggu lagi." Tambah Milady
"Kamu serius?" Tanya Sebastian lemah.
"Aku capek menghadapi kamu. Aku akan batalkan pernikahan dengan Trevor. Jadi tidak akan ada yang bisa memilikiku, termasuk kamu... Sekalian saja aku menyesali semuanya."
Sebastian memandangnya dengan menerawang. Seketika ia seperti tidak bertenaga.
"Sebastian..." Panggil Milady.
Pria itu menoleh padanya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Milady.
Pria itu kembali menghela napas dan menunduk.
"Kita bukan anak kecil lagi, setidaknya aku ingin dengar dari mulut kamu sendiri. Hari ini hari penentuan, kesempatan terakhir untuk kita. Kita akhiri atau kita hadapi bersama." Tambah Milady.
"Kamu udah pernah pergi dari aku, sekali. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak pergi lagi?" Pria itu merasa putus asa.
Ini salahnya...
Sepenuhnya salahnya.
Ia bersikap plin-plan dan labil.
Ia tidak ingin menyesal lagi.
Bukan...
Ia tidak sanggup kehilangan Milady lagi.
"Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, yang aku bisa, agar kamu merubah pikiran untuk tidak pergi dariku..." Sahut Sebastian.
Milady menyunggingkan senyum tipis.
"Sebenarnya ada dua hal. Tapi aku tidak yakin kamu bisa mengabulkannya."
"Sebutkan saja!" Sebastian semakin tidak sabar.
Pandangan pria itu kalut dan tidak fokus. Rasa frustasi membayanginya.
"Berapa deviden yang kamu terima dari konsolidasi triwulanan kemarin?"
"Kenapa?"
"Sebutkan saja..."
"Xxxmilyar."
"Transfer seluruhnya ke rekeningku."
Sebastian membeku.
"Semuanya?"
"Kosongkan rekening kamu, transfer semuanya ke rekeningku."
Sebastian menarik napas, menahan emosinya. Ratusan milyar... Ke rekening Milady.
Sial...
"Oke." Desisnya.
Kalaupun wanita ini meminta semua tabungan dan depositonya akan dia berikan saat ini juga.
"Transfer on process, regulasi Bank harus tunggu 2 jam untuk..."
"Banknya kan milik kamu, bisa dalam 5 menit, kan?!"
Astaga, wanita ini...
Sebastian mengutak atik ponselnya.
Milady terkekeh.
"Cek rekening kamu..." Desis Sebastian akhirnya.
Milady tersenyum licik saat melihat sejumlah angka menghiasi rekeningnya.
Ia sebenarnya tidak menyangka Sebastian mau melakukannya. Menyenangkan juga melihat Sebastian terlihat kesusahan seperti ini...
"Selanjutnya..." Milady mencondongkan tubuhnya, ia duduk diatas meja sambil menyilangkan kakinya.
"Berlutut dan cium kakiku."
Sebastian tegang.
Amarah langsung menderanya.
"Apa?" Ia emosi.
"Berlutut... Dan cium kakiku." Milady mengulangi perintah dengan lebih perlahan dan penuh nada penekanan.
Sebastian merasa sedang benar-benar berada dalam penghinaan yang paling dasar saat ini.
Harga dirinya dikoyak wanita ini.
Sebastian berkacak pinggang, menengadahkan kepalanya menatap plafond dan sekali lagi menarik napas.
Ia ingin memukul sesuatu sampai hancur.
"Aku pergi." Milady beranjak.
"Tunggu." Sahut Sebastian cepat.
Milady diam ditempatnya.
Sambil mengutuk dirinya, Sebastian perlahan berlutut bagaikan ksatria akan menerima penobatan dari Raja.
Milady menatapnya dengan takjud.
Seorang Sebastian...
Mau berlutut di depannya.
Tatapan pria itu lurus menusuk kalbu Milady. Menunjukan keseriusan perasaannya.
Ia akan memberikan semuanya untuk Milady.
Harta, tahta, bahkan harga dirinya.
Asalkan Milady berada di sampingnya.
Wanita itu mengacungkan sebelah kakinya yang menggunakan high heels hitam, tampak anggun dan berkelas. Dan saat Milady mengangkat kakinya, Sebastian terkesiap.
Wanita ini...
Tidak mengenakan apapun di balik roknya.
Milady menatap Sebastian dengan lembut, seakan menginstruksikannya untuk melanjutkan perbuatannya.
Sebastian melepaskan sepatu Milady dengan mata tetap tertuju ke anggota tubuh sensitif dibalik rok wanita itu.
Ia mengingat bentuknya, keindahannya dan teksturnya.
Ia kecanduan.
Dan saat ini candu itu belum hilang.
Lidahnya masih bisa merasakan.
Kaki Milady yang kini tanpa sepatu, bergerak menyusuri rahang Sebastian, lalu jemarinya memaksa masuk ke mulut Sebastian, meminta hisapan lembut dari pria itu.
Sebastian menurutinya.
Ia memang ingin melakukannya.
Dan kini saat Milady menginginkannya, ia akan memberikan obsesinya.
Perlahan pria itu memberikan hisapan, jilatan dan ciuman disekujur kaki Milady.
Membuat wanita itu mendesah dan dadanya mengencang.
Bibir Sebastian bergerak maju. Mata kaki, lalu perlahan ke betisnya, lalu sampai ke pahanya.
Sebastian menyasar kewanitaannya.
Milady tidak akan membiarkan itu terjadi.
Setidaknya untuk saat ini.
Jadi wanita itu menarik paksa kakinya dan menendang dada pria itu.
Saat melihat Sebastian tersungkur tak berdaya, Milady terkekeh, ia turun dari meja.
"Sebesar itu kamu menginginkan aku?" ujar Milady.
Sebastian tidak menjawab.
Milady menghampiri tas golf di pojok ruangan dan mengambil salah satu stiknya.
Ia akan membalas perbuatan Sebastian ke Dimas, namun tontonan itu hanya akan dikonsumsinya sendirian.
"Hm..." Milady sedang mempertimbangkan bola golf mana yang akan ia mainkan. "aku sudah pernah bilang, jangan ganggu teman-temanku." Milady memilih bola golf yang paling mengkilap.
"Aku sangat ingin melihat kamu tidak berdaya... Ditanganku." Sahut Milady.
Apapun itu, terserah Milady. Batin Sebastian.
Kalaupun ia mau membuat Sebastian pingsan atau mati sekalian, pria itu akan dengan senang hati melakukannya. Ia baru saja membuang harga dirinya, apalagi yang diharapkan darinya?! Asalkan wanita ini tidak pergi darinya.
Sebastian akan melakukan apapun yang Milady suka.
Milady meletakkan bola golf di depan Sebastian.
Lalu wanita itu mengambil ancang-ancang untuk memukul bola itu dengan tongkat golfnya, tepat menuju ke wajah Sebastian.
Duagg!!!
Satu bola mengenai pelipis laki-laki itu. Lukanya robek dan mengucurkan tetesan darah.
Tempat yang sama dengan luka di pelipis Dimas.
Sebastian tidak bergeming. Hanya menatap Milady dengan memuja.
Milady membungkuk, mendekatinya.
"Ayahku merestui kita. Jadi... Kita bertemu, Besok, waktu yang sama, tempat yang sama, dengan saat kita pertama kali berjumpa 10 tahun lalu... Kamu tahu maksudku." Bisik wanita itu.
Lalu Milady memakai sepatunya, mengambil stik golf tadi sebagai kenang-kenangan dan menyampirkannya di pundak dengan penuh kemenangan. Ia keluar dari ruangan dengan Sebastian mengikutinya.
"Jadi, daritadi itu kamu cuma mengerjaiku?!" Umpat Sebastian.
"Ya iya dong, dasar kolot..." balas Milady sambil menyeringai.
"Terserah kamu deh, kamu Ratunya..." desis Sebastian.
"Siapkan cincin untukku, kali ini ngga ada yah GPS-GPS- an... awas kamu berulah lagi!" ancam Milady.
Dasar wanita licik! Umpat Sebastian dalam hati. Tapi entah bagaimana, rasa kesalnya menghilang.
Ia menatap punggung wanita yang dicintainya ini dengan kelembutan dan senyum dibalik jambangnya.
Mereka berdua muncul dari koridor diiringi tatapan terperangah dari orang-orang yang ada disana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Trevor saat Milady melewatinya. Ia menatap wajah Sebastian yang berdarah dan stik golf di pundak Milady.
"Pernikahan tetap diadakan, tapi... Calon suaminya bukan kamu." Bisik Milady ke Trevor sambil melirik Sebastian dengan pandangan jahil.
Milady mengerling ke arahnya sambil menuju keluar ke arah mobilnya.
Sebastian hanya bisa menarik napas kembali untuk mengusir emosi yang berkecamuk di kepalanya.
"Ayah..." Desis Trevor. Ia menatap Sebastian dengan kuatir.
"Ngga usah banyak omong, Ayah pusing..." Desis Sebastian menyerah.
Trevor hampir terbahak mendengarnya. Astaga... apapun yang dilakukan Milady di dalam ruangan sampai ayahnya kini tersenyum seperti ini, benar-benar ampuh!
"Dasar Ayah Bucin...." Ejek Trevor sambil berbisik.
"Sssh!!" desis Sebastian. "Sudah berapa lama kamu tahu hal ini, hah?!"
"Udah lama aku tahu... Ayah kentara sekali sih cemburunya..." goda Trevor.
Sebastian menyeka darah yang menetes di pelipisnya dengan buku jarinya. Lalu matanya bertatapan dengan Dimas.
Laki-laki itu sedang melayangkan pandangan mengejek ke arahnya.
"Mengejutkan yah bagaimana cinta bisa mengendalikan semua pergerakan kita..." Sahut Dimas. Meilinda sedang mengusap luka di wajah laki-laki itu.
Sebastian melewatinya sambil mendengus. "Terserah..." Geramnya sambil berlalu ke dalam.
Ia sudah memperlihatkan kelemahannya di depan semua orang, besok ia akan menghukum Milady atas perbuatan wanita itu seberat mungkin.