
Seorang wanita menatap Milady dari atas ke bawah dengan sinis.
Yang membuat Milady kaget adalah wanita di depannya ini, yang tidak ia kenal ini, terang-terangan menunjukan sikap permusuhan terhadap Milady.
"Bisa... Saya bantu?" Kata wanita yang wajahnya tampak penuh emosional itu dengan dingin.
Milady menebarkan senyum manis andalannya.
"Saya sudah ada janji dengan Pak Leonard Zhang." Jawab Milady.
Wanita di depan Milady tidak bergeming, dan tidak terpancing dengan senyum Milady, dia bahkan memicingkan matanya dengan curiga.
"Urusan apa yah?" Tanyanya.
"Hm... Pribadi."
"Pribadi?!" Wanita itu memperkeras nada suaranya seakan sangat tidak berkenan.
Milady merasa kikuk.
"Tolong bilang ke Pak Leon kalau paket dari Oda Sensei sudah sampai."
"Oda Sensei...? Maksudnya...?"
"Ehm..." Milady salah tingkah diperhatikan sebegitu rupa. "Iya. Eiichiro Oda-sensei. Pengarang komik One Piece, isinya komik cetakan original dengan tandatangan asli 5 jilid terakhir dan figurin Luffy the Monkey." Sekalian saja Milady jabarkan isinya.
Kelihatannya wanita yang tak ramah ini adalah sekretaris Leon.
"Serius isi paketnya itu?" Sebuah suara mengagetkan Milady dari arah belakangnya.
Pria yang sangat tampan, wajah indo eropa dengan mata berwarna madu yang menawan. Namun sorotnya tidak ramah, sama seperti wanita yang terasa asing di depan Milady ini.
"Pak Alex...selamat pagi, pak." Sapa wanita tak ramah itu, sepertinya ditujukan ke pria galak yang tampan tadi.
"Coba saya lihat paketnya." Pria itu mendekat dan mengulurkan tangannya ke arah totebag yang dibawa Milady.
Milady mundur selangkah.
"Anda siapa?" Tanya Milady sambil waspada. Kasar sekali laki-laki ini... Sikapnya sama sekali tidak ramah. Apa begitu sikap semua orang di Beaufort? Tahu begitu tadi Milady titipkan saja paketnya lewat kurir, tidak perlu datang sendiri kemari.
Ia mampir kesini hanya untuk menghormati ajakan Leon yang mengajaknya minum kopi tadi malam.
"Saya atasannya." Desis Pria itu.
"Atasan Leon... Apakah memang sikap semua pejabat di Beaufort kurang ajar tanpa sopan santun seperti anda?"
Pria itu terdiam. Ia tampak tertegun menatap Milady.
Beberapa detik kemudian, setelah mereka berdua beradu pandangan dengan kuat-kuatan sinis, pria itu terkekeh.
"Wah, kamu galak juga yah ternyata. Maafkan perlakuan saya yah, saya cuma... Terlalu antusias mendengar isi paket yang luar biasa seperti itu." Jelas pria itu.
Milady mengernyit.
Apa orang-orang di sini semua maniak tokoh anime? Tapi kalau memang penggemar, pasti sangat mengetahui kalau isi totebag Milady nilainya setara dengan sebongkah kecil berlian.
"Pak, Prototype sudah bisa di tes." seorang pria lagi, sosoknya tinggi besar dengan wajah muram namun tampak lebih ramah dari yang dipanggil Pak Alex, datang menghampiri. "Tapi belum maksimal, sepertinya pengujian harus melibatkan beberapa gamers yang sudah mencoba game sejenis." Sambung pria besar itu.
Ia melirik Milady.
"Siapa pak?" Tanya pria besar.
"Katanya cari Leon." Sahut Pak Alex. "Benar, Farah?"
Wanita judes di depan Milady menaikkan bahunya tidak ramah.
"Tukang paket sepertinya pak..." Wanita yang dipanggil Farah melirik tas Milady. "Tukang paket dengan Michael Kors..." Sambungnya.
Ponsel Milady berdering.
Semua mata langsung tertuju ke layar ponsel Milady.
Nama Sebastian Bataragunadi terpampang besar-besar di sana.
Milady menaikkan sebelah alisnya.
"Maaf, saya harus angkat ini..." Desis Milady sambil mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Ehm.. ya Pak..." Sapanya.
"Kamu di Beaufort?" Tembak Sebastian langsung.
Dia selalu tahu dimana Milady berada berkat gelang safir yang kini melingkar di pergelangan tangan Milady.
"Iya. Saya... ada janji dengan Pak Leon." Seperti biasa, di depan orang, Milady berbicara dengan Sebastian menggunakan bahasa resmi.
"Tadi malam saya telpon kamu, kok ngga diangkat? Sibuk dari semalam atau bagaimana?" Tanya Sebastian dengan nada suara menggeram.
Terdengar pria itu sedang memendam kekesalan.
"Eh? Hm... Tadi malam memang saya agak sibuk... Pak..."
Iya, sibuk push rank dan mengumpulkan amunisi dengan Leon. Ada game keluaran baru yang cukup keren soalnya.
Gara-gara itu Milady sampai mengacuhkan ponselnya dan tidak tahu kalau Sebastian menelponnya.
Ia baru tahu pagi ini saat ada notifikasi panggilan tak terjawab.
"Kamu ke Beaufort itu karena masalah oleh-oleh yang dari Jepang yang kemarin kamu dan Leon bicarakan? Kenapa ngga minta tolong kurir untuk antar? Harus kamu yang antar sendiri?"
"Pak Leon mengundang saya untuk sedikit ngobrol."
"Untuk apa? Ini kan jam kantor, kamu mau pakai untuk urusan pribadi?" Sahut Sebastian.
Milady menghela napas. Ia mencoba bersabar.
Astaga... Sebastian kalau sudah cemburu tingkahnya otoriternya bisa mengalahkan seorang Sultan.
Umpat Milady dalam hati.
"Anuu... Pak Sebastian, di depan saya sekarang ada Pak Alex." Sahut Milady dengan harapan Sebastian akan memaklumi kalau Milady tidak bisa bicara sembarangan saat ini.
"Ada Alex di situ..."
"Iya Pak, Bapak kenal?"
"Dia owner Beaufort."
Milady langsung menatap Alex.
Kali ini dengan lebih seksama.
Milady memandang Alex lekat-lekat dari ujung kepala sampai kaki.
Owner Beaufort? Masih sangat muda...
Bagaimana bisa semuda ini sudah jadi CEO? Apakah yang seperti di novel-novel romantis itu?
CEO sadis dambaan hati
My CEO jahat menawan jiwaku
CEO Muda masuk jurang cinta
Dll, dsb...
"Pantas level songongnya ngalah-ngalahanin tingkah Presiden negara adidaya..." Gumam Milady.
Dimana, seharusnya tidak terucap,
tapi dia sedang dalam kondisi tertegun,
Jadi ia tidak sadar kalau kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Alex terbatuk karena tersedak, mendengar Milady. Pria itu antara mau protes tapi juga ingin tertawa.
Dan saat itu Leon datang.
"Hei, Lady-star92!" Sapa pria itu ceria.
"Siapa?!" Tanya Alex ke Leon. Ia tampak terkejut mendengar nickname Milady disebut oleh Alex.
"Ini loh Pak, yang gue ceritain kemarin, gamers cewek misterius yang hampir ngalahin peringkat lo!" Sahut Leon.
"Dia? Dia...Lady-star92...!?" Alex menatap Milady dari atas rambut ke kakinya yang berbalut Dior warna pastel. "Ngga mungkiiin... Ngimpi lo!" Seru Alex.
"Nah itu yang gue mau bilang..." Sahut si pria besar.
"Gue dan Bara berusaha cari penguji potensial, tapi ternyata udah pada punya manajer semua. Jual mahal padahal maennya biasa aja. Nah, yang ini..." Leon mengacung jempolnya ke depan wajah Milady. "Yang ini yang katanya legenda, sampe ngga bisa tidur gue semalaman. Gue ketemu di kantor Garnet kemarin malam waktu mau bicarain konsep kontrak pengadaan safir mentah sama Pak Yan."
"Lo bukannya udah kenal yah, perasaan kalo ngobrol pas maen, akrab bener. Sama si biang heboh Dimas Blo'on itu." Dengus Alex.
"Lady ngga pernah mau gue tarik keluar. Dimas juga udah dipaksa diem kayaknya."
Milady menyeringai mendengarnya, lalu mengangguk.
"Ah... Iya, kenalkan, Saya... Lady-star92. Milady Adara...ehm..." Milady berdehem malu memperkenalkan diri.
Walaupun perkenalannya agak terlambat.
Leon menyanjungnya terlalu tinggi.
"Milady, kamu masih ngomong sama aku, yah." Sebastian menuntut perhatian.
Ya Ampun, tingkahnya seperti bayi besar... Keluh Milady dalam hati.
"Baik, pak, saya loudspeaker yah." Sahut Milady.
"Eh?" Sebastian akan protes tapi tidak jadi karena sudah keburu di loudspeaker oleh Milady.
"Pak Yan, maaf pak saya agak lancang meminjam karyawan bapak hari ini. Saya sudah bilang Pak Trevor, sih. Karena setahu saya Milady adalah asisten Pak Trevor." Sahut Leon.
"Jadi, untuk apa butuh Milady di sana?" tanya Sebastian.
"Hm... Kami butuh untuk menguji prototype game keluaran terbaru Beaufort Techno. Karena setahu saya, Milady termasuk ke 5 besar top rank di Asia."
"Ohya?" Terdengar suara kaget Sebastian. "Kamu ngga salah orang kan, Leon?"
Milady berdecak.
Kenapa sih banyak orang meremehkannya... Keluhnya.
Leon terkekeh.
"Bisa kita buktikan sebentar lagi pak, saat kemampuannya diadu dengan... Pak Alex."
"Ck!" Alex berdecak. "Gue yang ngerancang, gitu loh..." Umpatnya sombong
"Pak Alex nicknamenya apa?" Tanya Milady
"Lucas."
Mata Milady membulat.
"Hah?!" Bibir wanita itu membentuk tawa kagum, melihat bergantian antara Leon dan Alex. "Lu... Lucas yang..." Wanita itu tergagap.
Leon mengangguk antusias menunggu kalimat lanjutan dari Milady.
"Lucas yang kalau main gerakannya kayak setan? Yang suka tau-tau udah ada di belakang kita? Yang dalam 2 menit bisa nge-kill 10 orang? Yang tingkat damagenya 95% maksimal?!" Jerit Milady heboh.
Leon mengangguk lagi. Kali ini dengan seringai lebih besar.
"Ya Ampun!! Kamu ini Dewanya gamer di dunia!! Belum ada yang bisa naik ke dungeon prior cuma bawa-bawa tokallev!!" Jerit Milady.
"Ya iya lah dia bisa, orang dia yang bikin..." Sahut si Pria besar yang dari tadi berkacak pinggang di belakang Alex.
"Jadi... Kamu Lady-star92, tingkat damage kamu lumayan besar, 83%... Bara saja yang bikin binarynya cuma bisa 78%..." Desis Alex sambil mengelus dagunya sendiri sambil mengamati Milady.
Sebastian langsung ambil posisi.
"Leon, Alex, kalian sadar kan, kalau sudah melangkahi manajemen Garnet untuk keuntungan perusahaan kalian? Itu berarti harus ada perjanjian yang berlaku..."
Alex mengernyit ke Leon.
Leon berdecak.
Ini sebabnya Leon tidak ingin Sebastian tahu... Sudah pasti akan dijadikan bisnis oleh serigala putih licik itu...
"Baik Pak..." Leon menggaruk tengkuknya.
Alex menatap Leon tajam sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Leon menghindari tatapan Alex dengan mengalihkan pandangan ke ponsel Milady.
"Jadi... Biaya operasionalnya tolong dialihkan ke Garnet Grup yah. Oke itu saja dari saya..." Dan Sebastian menutup teleponnya.
Milady mencibir.
Dasar Sebastian ngga mau rugi... Keluh wanita itu.
Kalau Milady, sebenarnya tidak berharap dibayar, karena buatnya mencoba game baru keluaran Beaufort Techno sebelum di release sudah membuatnya antusias.
"Gara-gara elo, jatohnya jadi lebih mahal daripada gamers yang pake manajer!" Seru Alex mengomeli Leon.
"Tapi kan ini Lady-star92, Pak!" dalih Leon.
"Sampai kemampuannya ngga setara sama promosi lo, gue potong gaji lo buat biaya operasionalnya!" Seru Alex sambil mendengus dan meninggalkan mereka.
"Eh Asw, tega bener lo!!" Seru Leon protes.
Lalu dia menyeringai dan mendekati Milady.
"Gimana? excited?" Tanya Leon. Sambil menggosok kedua tangannya tanda bersemangat.
"Very excited...." Terlihat kilatan binar menghiasi mata Milady.
*****
Milady duduk di sofa nyaman sambil menunggu Alex dan Bara mempersiapkan ruang virtual.
Wanita itu melayangkan pandangannya ke segala arah ruangan Beaufort Techno yang futuristik, bagaikan ada di dimensi yang berbeda.
Ia tidak mengira kalau akan dijadikan penguji game baru.
Belum mulai saja, rasanya dadanya berdebar kencang karena senang. Milady bahkan tidak bisa duduk dengan tenang saking tidak sabar ingin memfungsikan jemarinya di handle game.
Dari kejauhan Milady melihat Leon dan wanita judes tadi sedang berbincang.
Tampaknya wanita tadi... Siapa namanya? Pikir Milady mencoba mengingat.
Kalau tidak salah namanya Farah...
Tampaknya Farah sedang merajuk ke Leon. Tampak wajah wanita itu muram dan cemberut.
Tapi Leon menggodanya dengan mengelus pipi Farah.
Lalu mencium bibirnya..
Milady terkesiap.
Dan langsung menoleh ke arah lain.
Wah, dia melihat hal yang seharusnya tidak ia lihat...!
Pantas saja sikap Farah dingin terhadap Milady.
Rupanya memang ada hubungan yang sangat erat diantaranya dengan Leon.
Milady tersenyum sendiri sambil berusaha kembali mengintip.
Leon sudah tidak ada, kini Farah berjalan ke arahnya dengan wajah yang lebih berseri.
"Maaf yah Mbak Milady, sikap saya kurang sopan tadi." Sahut Farah.
"Tidak masalah Mbak Farah... Hm... Sepertinya Pak Leon jarang menerima tamu wanita yah?" Pancing Milady.
Farah memutar bola matanya, tanda kalau Milady benar. Lalu tersenyum, dengan lebih tulus dan bersahabat sekarang.
"Mbaknya mau minum apa?" Tanya Farah.
"Panggil Lady saja yah Mbak... Minumannya terserah saja."
"Panggil aku Farah saja, kalau begitu. Karena tadi Kokoh menjanjikan kamu minum kopi, saya punya kopi luwak dari Sidikalang. Bagaimana?"
Milady merasa air liurnya langsung menitik. Kopi Luwak dari Sidikalang adalah yang terbaik di Indonesia. Dan termahal... Satu kilonya bisa dibanderol hampir sejuta Rupiah. Dan sangat terkenal di kalangan pecinta kopi di dunia.
Milady langsung mengangguk setuju.