
Yazaki Eiichi masuk ke dalam ruang kesehatan Agency sambil membawa beberapa botol air minum.
Ia sedang dalam keadaan kesal.
Sesuai dugaan, istrinya marah besar saat tahu kalau ia bekerja sampai malam dengan tugas yang berhubungan dengan Ayumi.
Tapi apa boleh buat.
Pekerjaan adalah pekerjaan.
Lagipula, mereka berdua tinggal di Indonesia karena pekerjaan Eiichi. Noriko bisa menjalani kehidupan normal, tidak harus bekerja di kabukicho menjadi teman kencan pria lain, juga adalah karena pekerjaan Eiichi.
Sudahlah, biasanya hanya marah sebentar.
Kira-kira mau dibawain apa ya, yang bisa membuat Noriko kembali tersenyum...?
Di ruangan itu hanya ada Ayumi.
Ah, sial...
Dengus Eiichi dalam hati.
Ia tidak ingin bertemu Ayumi.
Tapi wanita itu sedang sendiri di ruang kesehatan.
Tidak ada BossKun dan Boss Mika?! Pikir Eiichi lagi, sambil memeriksa sekitarnya.
Perasaan seharusnya ada Mitha juga di sini.
Ayumi menoleh saat menyadari ada yang memasuki ruangan.
Lalu ia tersenyum ke arah Eiichi.
"Hei, Yazaki..." Sapa Ayumi.
"Hm..." Gumam Eiichi sambil menyodorkan botol minum ke arah Ayumi.
"Terima kasih kamu sudah ikut tim untuk menyelamatkan kami." Sahut wanita manis itu.
Eiichi menghela napas.
Lalu pria itu menarik kursi dan duduk di depan Ayumi.
"Ada sesuatu yang mengganjal sejak lama. Boleh bertanya...?" Eiichi berbicara dengan bahasa Indonesia.
Ayumi mengangguk sambil merasa heran.
"Aku masih tidak mengerti mengenai tindakan kamu dulu. Kenapa... berpura-pura hamil segala. Kamu membuat bingung semuanya..."
"Oh." Ayumi menarik napas.
Lagi-lagi masa lalu...
Yah, tapi semua harus terungkap.
Lagipula, kini mereka harus saling mendukung. Mereka kini satu tim.
"Aku sedang bosan. Dan kamu sangat tampan. Tipeku banget." sahut Ayumi.
"Jangan main-main..." Geram Eiichi.
Ayumi mengangkat bahunya. Lalu terkekeh.
"Kamu... Serius...?" Desis Eiichi mulai ragu.
Ayumi tersenyum sinis.
"Hanya bercanda Yazaki..."
Eiichi mendecak sebal.
"Hm... Ide tentang aku hamil sudah ada dalam rencana kami sejak lama. Karena Sebastian sangat sulit di dekati. Aku ingin diterima di keluarga Bataragunadi. Begitu intinya... Kalau sampai bisa masuk, formula bisa kudapatkan dan setelah itu, aku bisa membunuh Sebastian dengan mudah. Namun... Kalian datang."
"Maksud kamu... Aku dan Yuki menggagalkan rencana kamu?"
"Begitulah." Ayumi mengangkat bahunya. "Salah satu alasan dari sekian banyak alasan lain yang membuat Yamaguci jadi curiga padaku..."
"Coba jelaskan... Dengan lebih detail."
Ayumi menghela napas panjang.
"Jujur saja, Aku tidak sepolos yang orang lain pikirkan. Sudah sejak lama aku tidak mencintai Mikaeru lagi. Aku tidak tahu kalau Susan adalah anggota kalian. Aku berkenalan dengannya di O*me TV. Saat ia mengajakku ke host club dan aku melihat kamu... Aku mulai... Lupa diri. Sesaat kupikir... Masa bodo dengan Mika. Nikmati saja yang ini."
Ayumi memandang Eiichi dengan sendu.
"Aku ingin bersenang-senang. Mabuk, clubbing dan bercinta secara random. Aku bosan dengan hidupku. Aku butuh pengalih perhatian. Dan aku tertarik sama kamu... Juga mulut manis kamu."
Kata Ayumi.
"Kamu memberiku obat bius." Dengus Eiichi.
"Iya. Aku menyadari kalau kamu, Yuki dan Susan adalah satu agency saat aku melihat ponsel Yuki. Ada tulisan 'Boss Sebastian'. Aku merasa terjebak... Dan saat itu aku tahu kalau rencanaku gagal total karena kecerobohanku. Jadi karena kesal, aku membuat kalian mabuk dengan obat baru pemberian Yamaguci-Dono. Dan ternyata efeknya hebat juga..."
"Kamu memberi kami berdua obat... Aku mengetahui hal itu sekitar sebulan kemudian saat memeriksakan urin. Pantas saja sebulan itu aku rasanya melayang... Kupikir aku alergi serbuk bunga."
"Itu pengaruh obat bius ciptaan Yamaguci. Ia ingin menciptakan efek di mana korbannya tidak sadar kalau sedang dianiaya, sehingga jasadnya terlihat senang... "
"Yamaguci Ito orang gila."
"Iya. Aku akui itu."
"Lalu setelah itu bagaimana...?"
Ayumi mendengus.
"Setelah itu... semuanya mimpi buruk." Sahut Ayumi. "Seluruh rencanaku tidak ada yang berhasil... Mika memang masih menerimaku, dia percaya dengan ceritaku kalau aku diperdaya oleh kalian. Dan bahwa ini adalah anaknya, dan aku diperkosa Yuki saat hamil anak Mika... Bla bla bla itu... Namun entah bagaimana... Terasa tidak pas. Yamaguci mulai tidak percaya padaku. Padahal aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dia... Jadi saat semuanya kacau, aku ketahuan, formula gagal di dapat, Garnet Med dibekukan, aku tidak jadi menyusup sebagai karyawan Garnet Med, aku pun memutuskan untuk bergabung dengan klan Yamaguci Ito."
"Dan Rady-Chan mengirimkan tas itu."
"Dengan polosnya, aku memakainya... Tanpa memeriksanya." Ayumi berdecak sambil terkekeh. "Aku tidak pernah beli barang ber-merk, aku sekali lagi lupa diri. Aku tidak pernah jalan-jalan di Ginza untuk membeli barang mewah, karena kami selalu berhati-hati terhadap intaian Sebastian. Walaupun Trevor memiliki banyak uang, tapi dia termasuk pria yang payah kalau untuk urusan menyenangkan wanita. Jadi sehari-hari aku hidup sederhana saja... kalau tas seperti itu kan tidak bisa pesan online, takut di tipu... Aku sepertinya tidak cocok jadi pemeran antagonis ya..."
Eiichi menyandarkan tubuhnya agar lebih santai ke kursinya.
"Ya... Karena kamu bukan pemeran antagonis. Kamu pemeran utama kedua setelah Rady-Chan."
Keadaan hening sesaat...
"Bagaimana perasaan kamu ke Boss-Kun?"
"Ares, maksud kamu?"
Eiichi mengangguk.
"Dia pria yang menarik."
Lalu hening lagi.
"Hanya itu?" Tanya Eiichi.
Ayumi memalingkan wajah ke arah lain. Wajahnya memerah.
"Ya ampun, Mbak Ayu..." Kekeh Eiichi.
"Aku tidak jatuh cinta padanya ya..." Sangkal Ayumi cepat.
"Belum." Ralat Eiiichi.
"Tidak akan." Sangkal Ayumi lagi.
"Lihat saja nanti."
"Ck..."
"Apa sih yang membuatmu menganggapnya pria menarik? Dia bertingkah sangat kasar ke kamu. Menarik-narik kamu, bahkan tega meninggalkan kamu sendirian..." Eiichi mengernyit.
Ayumi mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu tidak akan mau dengar."
"Aku mau dengar." Kata Eiichi.
"Yakin?"
Eiichi mengangguk.
"Ngga akan sakit hati ya?!" Tanya Ayumi lagi.
Eiichi menahan napasnya. "Ya Ampun... Ini masalah 'itu'..." Nada suara Eiichi juga sedikit mengeluh, ingin rasanya menarik ucapannya, tapi di lain pihak, ia penasaran.
Ayumi menyeringai, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Eiichi dan berbicara dengan suara rendah.
"Ares... Sangat hebat di ranjang..." kata Ayumi.
"Arrrgh..." Eiichi lamgsung menggeram. "Sakit banget rasanya..." Eiichi menunduk sambil memegang jantungnya, berlagak kesakitan.
"Dia juga... Pria paling jantan yang pernah kukenal. Dia bisa apa pun dan terlihat lebih gagah dari pria mana pun..."
"Udah cukup... Aku nyerah... Udah... Cukup please..." Keluh Eiichi.
"Dan ukurannya... Yabai..." (hebat).
"Astaga..." Eiichi menundukan kepalanya ke atas meja.
"Setelah mengenalnya, laki-laki lain jadi terasa samar."
Eiichi melambaikan tisu. Tanda menyerah.