Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Three Kings



Banyak orang menghormat saat melihat Sebastian.


Sebagian menatapnya dengan kagum, sebagian lagi menatapnya dengan sinis dan terlihat memendam dendam.


Namun persamaan mereka, semua takut ke Sebastian.


Ia bagaikan Serigala Raksasa yang memasuki sarang kelinci.


Serigala dengan... burung merak sedang memegang tali kekang di lehernya.


Trevor mengamati ayahnya dan Milady, bergantian.


dalam hati ia geli melihat pemandangan itu.


Namun Trevor sangat menikmati setiap adegan per adegan.


Baiklah...


Ia akan biarkan Milady bersenang-senang malam ini, bersama ayahnya.


Kini Trevor akan mengurusi hal lain.


Nah, mana Yazaki Eiichi...


*****


"Menu 1 dan Menu 2 kurang 5 set. Ayo segera dibuat." seru Yori


"Krimnya lagi dibeli dulu Bu, kami bawa hanya sedikit karena kami pikir tamunya tidak sebanyak ini..." kata Bu Dewi


"Iya saya juga enggak nyangka padahal baru Soft Opening. Jadi saat Grand Opening kita harus sedia 5x lipatnya. Oke, pakai mobil yang ada kalau mau beli krim, jangan beli di swalayan, aku hubungi suplier supaya standby." Kata Yori


"Yori, kalau begitu harganya akan lebih mahal, dia ngga bisa harga eceran." Kata Dennis


"Berapapun akan kubayar asalkan hari ini kita selamat..." Kata Yori


"Paket 3 dan 4 sudah ready semua yah, Pak Sebastian sudah datang..." Samantha muncul dari balik pintu.


"Pak Sebastian ngga alergi apapun kan?" Tanya Dennis sambil mengaduk adonan


"Menurut laporan dia kemarin darah tinggi..." Kata Samantha


"Oke, jadi jangan hidangkan kue yang mengandung kopi dan untuk makanannya jangan pakai garam yang biasa. Kita ada menu buah delima dan yogurt kan? Untuk penurun hipertensi."


"Ada. Minumannya apa yah... kopi dan teh kan tidak bisa..."


"Kita ada coklat hitam, Air Lemon dan Sari Apel."


"Nanti tanya dulu dia mau yang mana, siapkan saja semuanya."


Kesibukan di dalam dapur Cafe Bunga cabang Coastview sangat terasa menyesakkan. Cafe ini termasuk baru dibangun, dan semua perabotan di sini dipasang dalam waktu sebulan, pemasangannya terburu-buru mengejar jadwal. Untungnya kontraktor mereka lumayan handal. Bahkan perlengkapan dapur masih mengkilap.


Namun mereka dituntut untuk bekerja dengan maksimal.


Pihak Garnet Property yang membayar mereka untuk Jasa Catering tidak mempermasalahkan harga berapapun yang Yori ajukan...


Jadi... kesibukan mereka saat ini sangat sepadan, menurut Yori.


"Bantuan datang..." desis Bu Dewi sambil menyeringai.


Ipang muncul dari balik pintu sambil pasang pose hormat.


"Siap Komandan, bersedia kerja rodi !" seru Ipang.


Tapi semua diam menatapnya.


"Apa?!" tantang Ipang.


"Tampang kamu kenapa ancur begitu? Ketabrak truk?!" Seru Yori.


Ipang hanya meringis.


"Habis berantem sama pacar..."


"Astaga... Pacar kamu garang juga." desis Dennis sambil menyeringai. Head Chef sekaligus Pâtissier di Cafe Bunga.


Ipang mengernyit sambil mengingat saat-saat Susan memberinya bogem mentah karena aksi kurang ajarnya kemarin malam.


Tapi setelah itu mereka kembali bersatu di sudut yang lain.


Sudahlah, babak belur sedikit ngga sebanding dengan kenikmatan yang didapatkan. Pikir Ipang.


"Aku bawa orang yang kupikir bisa bantuin juga..." desis Ipang sambil menarik seseorang dari balik pintu.


Susan...


Tersenyum dengan malas ke semua orang.


"Et dah dia bawa bule..." desis Yori.


"Kenalin, ini...pacarku." desis Ipang.


Semua langsung menatap bergantian antara Ipang, Wajah Ipang, dan Susan.


Lalu menyeringai.


"Sini, saya butuh bantuan di bagian grill" sahut Dennis sambil melambaikan tangan ke Ipang. Ipang menghampirinya sambil mengenakan apron dan tutup kepala. Susan mengikutinya.


"Nama kamu siapa?" tanya Dennis.


"Susan." Susan mengenalkan dirinya sambil tersenyum dan mengamati Dennis.


Mereka saling bertatapan.


sedetik...


dua detik...


tiga detik...


"Yang bener aja, Pak..." Ipang menutup mata Susan. Dan melayangkan pandangan protes ke Dennis. "Cewek gue yang kemaren udah lo ambil, kalo yang sekarang gue ngga mau ngalah, ye..." sungut Ipang.


"Saya pernah kerja sebentar di restoran sushi di Sapporo, bagian Poissonier (Fish Chef)."


"Wow..." desis Dennis dan semua orang di dapur.


Susan mengangkat bahunya. "Saya hanya menguliti dan menghilangkan duri kok... juga butcher tuna dan..."


"Butcher tuna? seorang wanita seperti kamu?!"


"Iya... memang lumayan kerja fisik, tapi karena saya juga memiliki latar belakang martial arts jadi pisau bukan hal yang asing bagi saya."


"Dia bisa bela diri..." sepertinya Dennis bicara ke dirinya sendiri, karena wajah pria itu tertegun.


"EHEMM!!" terdengar deheman Ipang yang cukup kencang.


Dennis menyeringai sambil mengelus tengkuknya.


*****


Semua berusaha menarik perhatian Milady.


Wanita itu berdiri di seberang taman, mengobrol dengan beberapa pria, sambil menampilkan senyum sumringah dan mata berbinar.


Senyum palsu andalannya.


Memikat lawan jenis dengan obrolan cerdas sambil sesekali mengeluarkan jurus marketingnya, walaupun itu bukan tugasnya.


Sedangkan...


Sebastian berada di seberang yang lain, juga sedang mengobrol, juga sedang bicara basa-basi...


Namun orang mendekati Sebastian dengan tujuan bisnis dan cuan.


Sebastian menatap Milady dari kejauhan.


Milady mengenakan gaun yang ia belikan.


Tampak sangat cantik dan elegan.


Dan Sebastian menyesal...


Ia membelikan gaun itu, malah menambah pesona Milady dan menjadikan wanita itu pusat perhatian...


Seharusnya ia membelikan gaun yang biasa-biasa saja.


"Pak Yan..." sapa Alex Beaufort.


"Alex..." Sebastian mengangkat sari apelnya. Alex membalasnya dengan sampanye di tangannya.


"Hidup sehat pak?" desis Alex sambil melirik sari apel di tangan Sebastian.


"Saya sudah lama tidak menyentuh alkohol."


Alex mengangguk mengerti.


"Pak Sebastian, sudah dengar mengenai tuduhan Hari Fadil mengenai formula Garnet MedLab yang kemarin launching?" tanya salah satu kolega.


"Sudah. Mungkin tak lama lagi akan heboh." desis Sebastian. Ia sudah berdiskusi dengan pihak keluarga Bagaswirya mengenai kemungkinan terburuk.


"Kalau bukti-buktinya sudah kuat kenapa tidak segera diadakan konferensi pers pak?" tanya yang lain.


"Saya mau lihat seperti apa aksi Hari Fadil..."


"Wah... Mau mempermalukannya di depan umum yah. Kalau sampai Pak Sebastian yang menang, Hari Fadil akan kehilangan kedudukannya di parlemen."


"Yah... Rakyat di negara ini kan cepat sekali memaafkan... Sekarang menghujat, besok sudah tertawa bersama." ada nada menyindir dalam suara Sebastian.


"Sekarang kehilangan dukungan parlemen, besok kandidat kuat menteri..." tambah Alex sambil terkekeh.


Sebastian menyeringai menimpalinya.


"Sekarang yang penting, tikusnya keluar dulu... Kasih keju... Dia lengah, Besok kasih keju yang sama tapi isinya racun. Dia ngga bakalan ada lagi." sahut Sebastian.


"Satu mati, masih ada 10ribu ekor lagi di belakangnya Pak..." desis Alex.


"Apa yang akan kamu lakukan kalau jadi saya?" tanya Sebastian.


"Bakar seluruh sarangnya..." sahut Alex dengan pandangan kelam.


Sebastian tersenyum sinis.


Orang-orang di sekitar mereka langsung merinding.


"Membakar seluruh sarang akan kena ke rumah sekitarnya.." desis Gerald Bagaswirya sambil menghampiri mereka.


Tiga Raja Dunia Multibisnis kini berkumpul dalam satu adegan.


"Lalu?" tanya Alex.


"Mereka punya 10ribu ekor Tikus. Serang dengan 20ribu ekor kucing..." Desis Gerald.


"Kucing? Bukan Ular?"


"Ular lebih efektif, tapi bisa berbalik menyerang majikan. Mengirim mereka juga harus menyiapkan peledak untuk ular. Jadi misi selesai, ledakan... makan biaya. Kalau kucing... Lebih bersih, lebih murah dan loyal terhadap majikan. Paling tidak 70 persen tikus terbasmi."


"Hm..." desis Sebastian. "Jadi... Anggap saja saya bisa tidur nyenyak malam ini yah."


"Saya dan Gerald usahakan begitu, Pak..." sahut Alex.


"All set.." kata Gerald.


"Salam buat Bu Gandhes... Saya akan menemui yang lain." Sebastian menarik diri.


Dia pusing melihat Milady di depannya.


Dia harus pergi dari sana...


*****