Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Taring 4



Gentlemen's Quote,


Di suatu hubungan hilangkan rasa kegengsianmu, keegoisanmu, keras kepalamu karena itu semua dapat mengalahkan semuanya, termasuk kehancuran hubunganmu.


Sebastian menggandeng tangan istrinya sambil melewati orang-orang di sana. Semuanya belum tahu kalau Milady sedang hamil.


Kalau sudah begini, harus diadakan pengumuman secepatnya. Demi ketenangan batin Milady dan menjaga kondisi jabang bayinya.


"Aku masih ngambek, loh..." desis Milady sambil mengikuti Sebastian.


Saat ini di rumah Bu Sulastri ramai. Meilinda menunjukan beberapa baju untuk mereka kenakan di akad besok, dan ia juga membawa anak-anak Mitha untuk datang.


"Iya... Pakai saja gaun yang kamu suka. Kamu mau pakai taplak meja juga terserah kamu saja." kata Sebastian.


"Ih kok sarkas sih!"


"Aku lagi maklum loh..."


Milady tetap cemberut.


Saat mereka tiba di halaman samping, Sebastian duduk di pinggir pagar, menarik Milady supaya mendekat.


Istriku...


Hari ini terasa lebih cantik dari biasanya...


Ataukah aku yang terbawa suasana?


Pikir Sebastian.


Pria itu mengangkat kedua tangan Milady dan mencium lembut punggung tangan wanita itu.


Milady menghela napas.


Tatapan lembut wanita itu menghiasi bingkai wajahnya.


"Aku minta maaf..." desis Sebastian.


Milady tersenyum tipis dan duduk di pangkuan Sebastian.


Ia mencium dahi suaminya.


"Aku juga..." gumam Milady. Ia mencium pelipis Sebastian.


Lalu perlahan turun ke pipi pria itu.


Desiran sepoi angin di siang hari yang cerah. Dengan sayup-sayup gelak tawa teman-teman mereka di dalam ruangan.


Sebastian merasa dirinya telah lengkap.


Tidak lagi hampa...


Tidak lagi kehilangan arah...


Dan,


Tidak lagi kesepian...


Orang-orang yang dicintainya ada di sekelilingnya.


"Sudah waktunya aku istirahat." kata Sebastian.


Milady mengangguk.


"Aku ingin mengklaim perhatian kamu sebanyak 80%..." sahutnya.


Sebastian tersenyum.


"Kamu akan mendapatkannya."


Mereka berciuman di halaman samping, jauh dari pandangan orang lain.


Sebastian mengelus perut istrinya.


"Sore ini kita ke dokter ya..." katanya.


"Kamu bukannya sibuk?"


"Kita sempatkan..."


"Hm..." Milady mempererat pelukannya. "Eh, aku mau tanya."


"Apa?"


"Selama ini... Siapa yang memilih hampers untukku?"


Sebastian langsung menghela napas berat.


"Ck..." decak Milady.


"Aku kan ngga biasa yang begitu-begitu..."


"Sedihnya aku, hampers dari kekasih tercinta ternyata dipilihin orang lain..."


"Kupikir Arman lebih berpengalaman..."


"Pantas selama ini aku ngga terlalu terkesan... Ternyata memang bukan diri kamu." sungut Milady.


"Kamu tidak suka?"


"Aku akui semua hampersnya manis dan sangat romantis. Tapi rasanya asing... Seperti bukan diri kamu. Aku malah lebih suka hadiah sederhana tanpa pernik-pernik yang kamu kasih dari Jerman, yang parfum itu. Dibungkus seadanya..."


"Tapi, itulah kamu... Bukannya Arman dengan segala rayuan gombalnya..."


Sebastian terkekeh.


"Begitu ya..." desisnya. "Eh, kamu ngapain aja dari tadi sama Arman."


"Sekretaris kamu itu... Benar-benar mengesalkan" dengus Milady.


"Kamu digodain sama dia?!"


"Bukan ituuu... Dari pertama aku bertemu, aku udah ngga suka. Buatku, dia penuh kepalsuan..."


"Ohya?!" Sebastian mengernyit tak mengerti.


"Namun... Hari ini aku mengenalnya. Ternyata aku salah. Ternyata... Kenapa aku tidak menyukainya, karena dia terlalu mirip denganku."


Milady menatap Sebastian dengan nanar.


"Aku jadi berpikir... Arman seperti diriku tapi dalam bentuk laki-laki. Apakah begitu anggapanku terhadap diriku sendiri selama ini? Palsu...? Munafik?"


Milady merasa seperti manusia menyedihkan.


Terdengar kekehan Sebastian.


"Iya... Arman mirip kamu. Itu sebabnya aku 'jatuh cinta' dengannya. Aku melamarnya bahkan saat ia masih di kepolisian. Dia tidak langsung mengiyakan. Namun... Yah, takdir mendukungku. Ia dalam keadaan depresi dan ingat padaku... Seharusnya saat itu aku merasa terhina karena diingat hanya karena dibutuhkan. Tapi... Itulah orang tua. Dan seharusnya, keadaan itulah yang bagus... Arman mengingatku di saat paling jatuh dalam hidupnya. Alam bawah sadarnya berbicara... Saat itulah koneksi paling erat sedang tersambung. Hubungan kami jadi seperti orang tua dengan anaknya..."


Milady hanya diam mendengarkan.


Sebastian sudah melalui banyak hal yang tidak pernah terpikir oleh Milady.


Boleh jadi, justru Sebastian lah yang paling merasa di bawah selama ini. Yang menguatkannya untuk bertahan hidup adalah orang-orang yang dia sayangi. Walaupun rasa sayang orang-orang itu tidak lebih besar dari rasa sayang Sebastian kepada mereka...


Pria ini...


Adalah pria terhormat.


Seorang gentleman sejati...


Gentlemannya Milady...


"Aku sayang kamu..." kata Milady sambil mengecup bibir Sebastian.


Sebastian menarik napas panjang. "Aku lebih sayang kamu, kayaknya..."


Milady terkekeh.


"Iya, bisa jadi..."


"Hehe..."


"Duile... Mesra-mesraan di depan jendela kamar orang. Jadi bikin gue horny..." Dimas dengan gaya estetiknya, rambut berantakan dan boxer. Menyangga dagunya di tepi jendela sambil menatap mereka berdua sayu.


"Sejak kapan disitu, boyo?"


"Sejak kalian ngegibahin Pak Arman..."


"Dirimu baru bangun, Bro? Kuyu amat..." sahut Milady.


"Bachelor Partynya bikin badan pegel-pegel..." desis Dimas. "Jadi...Butuh kamar saya untuk eksekusi sebentar, atau bagaimana pak? Kelihatannya obrolan sudah semakin intim..." Godanya.


"Saya lagi puasa, karena Milady hamil."


Wajah Dimas langsung berubah ceria.


"Wah... Cepat juga yah. Tua-tua keladi ih... Selamat ya, pasti makin romantis nanti. Soalnya pasti bapaknya bakalan rada kalem..."


"Ngga usah memanfaatkan keadaan..." Sebastian menggeram.


"Loh ya ngga bisaaaa... Bakalan seru ini, harus dimanfaatkan dooong. Hehe."


"Pak Dimas mau sampai kapan tidur kayak mati begitu hah?! Sekali-kali menunjukan kepedulian terhadap para tamu kenapa sih?! Bangun siang rejeki dipatok soang!!" terdengar teriakan Selena dari arah ruang makan sambil menggedor pintu kamar Dimas.


"Ngapain sih Malampir singgah di rumah gue segala...ck ah..." Dan pria itu berlalu sambil bersungut-sungut.


*****


Ayumi tersentak saat pintu unit dibuka.


Padahal baru saja ia sedang menikmati kesendiriannya... saluran tayangan televisi di apartemen banyak yang lumayan menarik, apalagi bisa dihubungkan dengan internet.


Katanya 'orang itu' bekerja sampai malam... kenapa masih siang sudah datang lagi?! Pikir Ayumi, setengah mengeluh.


Perlukah Ayumi menyambutnya di depan pintu, seperti Ayumi menyambut Trevor saat mereka masih bersama?


Tidak perlu, dia bukan Mikaeru... Pikir Ayumi.


Jadi dia tetap duduk di sofanya sambil menghadap tv, pura-pura tidak peduli.


"Hei... Pakaian kamu saya taruh di sini... dari Milady." sahut Arman.


Ayumi langsung menengok mendengar nama itu.


"Rady-San..." gumamnya.


Sedikit banyak Ayumi juga membenci wanita itu, karena dialah Ayumi harus mengalami kecurigaan dari Yamaguci. Di saat terakhir ia merasa sudah tidak bisa mengembalikan kepercayaan Yamaguci lagi, Ayumi akan pergi dari sana, namun dengan 'souvenir' di tangannya. Ia merasa harus membawa sesuatu sebagai jaminan hidupnya. Sesuatu berharga yang kira-kira hidupnya akan layak diperjuangkan.


Souvenir yang ia bawa untuk Sebastian... masih ia simpan, di irisan kecil di bagian tubuhnya.


Jadi akan selalu ia bawa kemana pun... tidak akan tertinggal.