
Ares Manfred.
Biasa dipanggil Arman.
Kepala Tim Pengamanan Garnet Security Agency.
Bahasa awamnya : perusahaan bodyguard.
Usianya tahun ini menginjak 40 tahun, dengan wajah seakan 20 tahun lebih muda. Dulu ia menggunakan koneksi saat masuk akademi polisi di usianya yang sudah menginjak 27 tahun (seharusnya lulusan D-IV/S-I usia maksimal 24 tahun) saat ini statusnya single, tanpa keluarga, hidup sendirian, memiliki pekerjaan berbahaya, dan baru saja dibego-begoin Bossnya.
Ck....
Begitu suaranya pagi ini.
Tapi ia mengingat masa saat bertemu Mitha tadi pagi.
Ada yah ternyata wanita seperti itu.
Pikirnya.
Berkerudung dengan bajunya tertutup sampai mata kaki. Wajahnya ceria dengan mata berbinar, supel dan keibuan.
Arman berusaha mengingat masa lalu saat ia ditugaskan melakukan penyergapan, dimana Mitha adalah saksi kuncinya. Namun ingatan tentang Mitha, Nihil. Ia hanya ingat nama si saksi kunci adalah Mitha Saraswati, Pegawai Tidak Tetap KPK.
Saat Arman mengecek identitasnya sekali lagi, kali ini dengan lebih seksama karena ia hanya mengecek sekilas selama ini, Mitha ternyata hanya lebih muda setahun dari Susan.
Tapi mereka sangat bertolak belakang.
Susan cenderung kebarat-baratan dan menyukai gaya hidup glamor, sedangkan Mitha agamis dan sederhana.
Arman tidak sekeyakinan kalau mengenai agama, tapi ia merasa suatu keteduhan yang menenangkan hati saat melihat Mitha.
Masalah agama...
Arman bahkan tidak yakin agama yang dianutnya sesuai dengan keyakinannya atau tidak.
Apa ia berpaling saja ke agnostik? Atau lebih baik atheis saja sekalian.
Nanti kalau dia mati, akan dimakamkan dengan cara apa?
Dan... Siapa yang akan memakamkannya? Ia sudah tidak memiliki keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya.
Arman menghela napas.
Yang itu nanti saja.
Sekarang cari cara supaya ular yang akan ia pelihara tidak mematuknya balik.
Apa ia harus meminta biaya tambahan ke Sebastian untuk biaya hidup si ular? Atau dibebankan ke gajinya karena itu adalah hukuman.
Walaupun ia tidak ikhlas...
Bingung...
Dentingan sendok stainless ke gelas keramiknya yang berisi kopi sachetan berbunyi beraturan.
Ting... ting... ting... ting...
"Pak Arman..."
Ia agak tersentak.
Kopi di gelas hampir tumpah karena ia agak kaget.
Suara Yani di interkom.
"Apa?" sapanya malas.
Terdengar tarikan napas Yani.
"Anu... Ada Bu Milady."
"Oh... Kalau beliau ngga usah lapor, dia boleh kemana saja di setiap sudut gedung tanpa harus dikawal. Special request dari Boss..." sahut Arman.
Terdengar Yani berbicara dengan seseorang di seberang tapi wanita itu belum mematikan interkomnya.
Sebenarnya Arman sedang menunggu kedatangan Atika dan Maya. Dua istri Gunawan yang lain... Ia baru saja diberitahu saat ia mengabarkan ke Sebastian kalau Mitha sudah datang tapi ke Baby Day Care dulu untuk menitipkan anaknya.
Ngasih tahu kok mendadak... keluh Arman.
"Baik Pak, Bu Milady sedang menuju ke atas. Dan anu... pak Arman?"
"Apa lagi?"
"Saya mau minta maaf..." suara Yani terdengar lemah.
Arman menyesap kopinya.
"Apa ada yang bisa saya lakukan agar saya tidak diberi surat peringatan, Pak?"
Hm...
Ah, tidak! Saat ini Arman sedang tidak butuh bermain-main...
"Tolong pelajari SOP Operator dengan lebih teliti. Kalau kamu lolos di tes peninjauan ulang yang saya berikan, saya ngga jadi SP kamu."
Biarlah sekarang semuanya berjalan dengan lebih profesional... Pikir Arman.
Terdengar napas Yani tercekat.
Mungkin bukan itu jawaban yang Yani harapkan untuk meluncur dari mulut Arman.
Tapi sekarang, karena terlalu banyak bermain-main, bahkan musuh sebesar Ayumi Sakurazaka saja bisa lolos dari pengamatannya. Sosok wanita 33 tahun itu 165cm dengan berat 48kg. Sudah begitu wajahnya cukup manis untuk diacuhkan, pasti tidak mungkin tidak terlihat. Bagaimana mungkin seakan-akan muncul begitu saja di sini...
Arman benar-benar tidak habis pikir...
Lalu ia menghela napas lagi.
Siang ini mungkin ia akan makan daging untuk meredakan kekesalannya.
"Pak..." Ipang memanggilnya dari ujung pintu.
Arman meliriknya malas.
Ipang dengan tumpukan bantex, sampai-sampai kepalanya tidak terlihat.
"Kalau berkenan dan tidak mengganggu, dimohon dengan sangat supaya membantu pekerja magang yang sedang dilanda kemalangan ini..." ujar Ipang.
"Ya jelas saya merasa keberatan." Balas Arman.
Sebenarnya ia hanya bermaksud menggoda Ipang.
Tapi helaan napas si Pangeran Adara mengindikasikan kalau cowok itu merasa kesulitan.
"Gitu aja berasa paling malang sedunia... Gimana saya suruh kerja kayak Susan..." Omel Arman sambil menghampirinya dan membawakan beberapa bantex di tumpukan paling atas.
Arman membaca label di Bantexnya.
"Pange..." desis Arman.
"Jangan panggil itu, suka diplesetin." desis Ipang cepat.
"Tuan Muda..." balas Arman.
Ipang mencibir.
"Yaaa Sekretaris Han? Eh, itu mah di novel yang lain yah... Yaaa Pak Sekpri."
Gantian Arman yang mencibir.
"Saya tidak ada hubungan mesra dengan Susan." sahut Arman.
Ia bicara begitu karena melihat tanda 'cinta' kemerahan di pipi Ipang.
Bekas tamparan.
Ipang berdecak.
Tanda kalau cowok itu tidak sepenuhnya percaya.
"Terserahlah..." gumam Ipang. "Saya mah apah atuh... Masih kicik-kicik..." ia sedikit mengomel.
Arman terkekeh mengejeknya.
"Lalu... Lain kali kalau dititipi bantex untuk dibawa ke lantai 50, jangan mau. Kamu bukan Office Boy. Jabatan kamu itu sekretaris, walaupun magang." Arman menumpuk semua bantex di mejanya. "Kamu bisa sebut nama saya kalau kamu dititipi Bantex." sambung Arman.
"Tumben baek... Merasa bersalah ya..." gumam Ipang.
"Jadi maunya saya jahat nih?"
"Jangan dong, nanti rekomendasi saya judulnya merah."
"Ah, kamu mah langsung di acc kali..." gumam Arman sambil melanjutkan membalas email.
"Kok bisa begitu?" tanya Ipang.
Arman diam saja, tidak menjawab. Hanya melirik Ipang dengan senyum Monalisa.
"Pagi, Mas Arman."
Milady memasuki ruang Direksi dengan langkah anggunnya.
Ipang memekik tertahan.
Arman melirik.
Milady menghentikan langkahnya.
Dan tertegun...
Ipang tegang sambil berusaha merendahkan badannya, sembunyi di konter.
Arman berdecak.
Milady ternganga.
Ipang bersiap kabur.
Arman menghela napas.
Milady langsung menghalangi pintu masuk.
"Kamu ngapain disini?!" seru Milady.
"Eeehhh... Anuuuuu..." Ipang tergagap.
Sumpah, ini guuaawattt akar kuadrat! Pekik Ipang dalam hati.
"Apa kabar Kak Lady, Ya Ampuun lama ngga ketemuuu." seru Ipang sambil mengalihkan perhatian.
"Ngga usah berusaha mengalihkan perhatian!" Milady menghampiri Ipang.
Cowok itu langsung sembunyi di belakang Arman sambil menunjuk Milady.
"Kamu pasti lagi bikin yang aneh-aneh lagi ya!" tuduhnya
"Kak! Dengar dulu penjelasanku!"
"Ya kamu memang harus jelasin ke kakak! Kamu kan harusnya di kampus!" Milady mulai emosi.
"Iyaaaa ini cuma partime."
"Kakak kan udah bilang ngga setuju kalo kamu partime, nanti kuliah kamu terbengkalai! Kamu mau jadi yutuber aja kakak udah wanti-wanti! Sekarang malah magang di... Seragam kamu kok... Astaga kamu malah jadi sekretaris! Kerjaannya segunung Ipaaaang!!" seru Milady.
Ipang sembunyi di bawah konter.
Milady mencoba meraihnya untuk menjewer telinga Ipang, tapi terhalang Arman.
"Mas Arman, siniin adik saya, atau saya nekat manjat ke konter..." ancam Milady.
Arman hanya bengong melihat adegan itu.
"Aduh..." desisnya bingung. "Saya ngga ikutan masalah keluarga..." Arman menjauh sambil menarik Ipang supaya maju ke depan Milady.
Walaupun mungkin pemandangan Milady naik ke konter bisa jadi sangat menarik, tapi konsekwensinya dia akan dijitak sama pemilik ruangan keramat di depannya.
"Enggak... Enggak... belom pernah ngerasain dijewer Kak Lady yah Pak?! Rasanya panas level 15!" Ipang menahan tarikan Arman dengan berpegangan ke meja di belakangnya.
"Dia ngapain di sini, Mas?!" seru Milady.
Arman menghela napas sambil berkacak pinggang dan ngos- ngosan. Tarikannya tidak berhasil, Ipang sudah seperti lintah nempel dikulit.
Perkiraan pria itu, Ipang menyembunyikan kenyataan kalau dia harus magang di Garnet agar IPKnya naik, yang mana Milady akan langsung meradang kalau tahu nilai adiknya kebakaran.
Sebastian juga mungkin belum dikabari kalau Ipang magang di sini karena saat tadi Bossnya datang, Ipang sedang mengantar dokumen ke lantai bawah.
"Ipang magang di sini untuk persiapan skripsinya mbak. Katanya dia ngga mau terlalu membebani kakaknya masalah biaya. Kelihatannya ia mau mencoba berusaha dengan kakinya sendiri. Terkadang seorang pria dengan rasa tanggung jawab yang besar bisa bersikap jauh lebih dewasa dibanding umurnya." Kata Arman.
Kenapa sih aku melakukan ini... Keluh Arman dalam hati.
Kenapa dia jadi baek banget? Pikir Ipang dalam hati.
Kenapa adikku jadi berubah gentleman begini?
Pikir Milady dalam hati.
Dan akhirnya mereka bertiga hanya diam sambil bertatapan.
"Pak Arman, ada Bu Atika mau ketemu Pak Sebastian." terdengar suara Yani dari interkom.
Arman menghela napas dan memencet tombol interkomnya.
"Tolong antarkan ke ruang meeting lantai 40. Sekalian nanti kalau Bu Maya datang, antarkan juga." sahut Arman.
"Mbak Milady, istri kedua Gunawan Ambrose sudah datang. Saya mungkin akan panggil bapak untuk persiapan."
"Eh... Iya... Saya juga datang karena hal itu... Saya saja yang sampaikan, saya masuk yah." desis Milady. Lalu dia menatap Ipang. "Urusan kita belum selesai!" desisnya ke Ipang.
Setelah Milady masuk ruangan Sebastian, Ipang menyeringai ke arah Arman.
"Untung konternya ada kuncinya ya Pak! hyahahahaha!! Selamet gueee..." Ipang duduk di kursinya sambil bernapas lega.
"Tunggu mereka keluar ruangan." gumam Arman sambil sama-sama menjatuhkan dirinya di kursi dan istirahat. Pagi-pagi sudah olahraga...
"Saya beneran ngga nyangka Kak Lady ke Gedung sini. Kakak tuh sering bolak-balik yah? Terus, bukannya itu ruangan keramat Eyang Uban? Dia boleh masuk sana?" Tanya Ipang.
Arman tertegun.
"Kamu ngga tahu kalau..." lalu Arman menghentikan kata-katanya.
Perlukah ia beritahu?
"Kalau?" tanya Ipang.
"Kalau..." Arman memicingkan mata menyusun kata-kata yang tepat. Tapi ia malah pusing sendiri.
"Kalau apa? Mereka ada hubungan spesial?" tembak Ipang.
"Hm..." Arman menaikkan alisnya.
"Iyaaa... Bukannya ngga tau sih. Aku pernah mergokin. Tapi memangnya ngga papa kentara banget begini?" tanya Ipang.
Astaga...
Bahkan Ipang saja tidak tahu kalau kakaknya sendiri sudah menikah... Keluh Arman.
"Ngomong-ngomong, yang tadi jadi hutang budi yah..." sahut Arman.
Ipang berdecak sebal.