
Esoknya.
"Ponsel saya slow response ya." Sahut Sebastian ke Meilinda.
Adiknya itu sedang di depan tv sambil memainkan ponselnya. Wajah Meilinda sudah tidak terlalu pucat. Malah bisa dibilang saat ini sedang tersipu.
Sebastian melirik layar ponsel adiknya.
Meilinda sedang berbalas pesan singkat dengan Dimas.
Ada emoticon hati...
Cih... Decak Sebastian.
Sebastian belum memberikan restunya.
Ia mengakui Dimas memiliki kapabilitas untuk meneruskan kerajaan bisnisnya. Dari segi kecerdasan dan daya kepemimpinan dia sangat mumpuni, terlebih hidupnya yang selalu beruntung dan serba bisa. Yang terpenting, adalah kejujuran dan daya taktis bocah itu.
Dimas memiliki kemampuan strategik. Ia bisa mengkalkulasi dengan mudah pergerakan seseorang. Suatu kemampuan yang jarang dimiliki orang lain. Dan setahu Sebastian, Bram juga memilikinya. Namun yang membedakan mereka, Bram tidak sesupel Dimas.
Namun untuk menjadi calon suami adiknya, Sebastian harus melihat sedikit lagi.
Dimas dekat dengan banyak wanita. Ia lemah terhadap wanita.
Termasuk Milady.
Tingkat perselingkuhan bocah itu dalam level maksimum, walaupun masih ada yang lebih parah, seperti adik Milady. Namun Ipang tidak pacaran dengan Meilinda.
Jadi,
Sedikit lagi...
Awas saja kalau Meilinda menangisinya lagi.
Sebastian akan...
"Kak?" panggilan Meilinda menyadarkannya.
"Ya?" tanya Sebastian.
"Kakak mukanya barusan serem banget, haha." kata Meilinda sambil tertawa.
"Iya, ngebayangin boyokethek. Awas saja kalau sampai dia..."
"Kakaaaak..." rajuk Meilinda memotong kalimat Sebastian.
Pria berambut dan berjanggut putih itu menghela napas.
Sudahlah... Pikirnya.
Percintaannya sendiri sudah cukup nyeleneh. Lagipula adiknya bukan dalam usia yang harus ia kuatirkan lagi. Mereka memiliki hidup masing-masing.
"Kok kakak rapi sekali... Mau kemana?"
"Mau meeting."
"Ah... Ada meeting penting di hari minggu?"
"He'em..." Sebastian hanya bergumam. Ia mencium pipi adiknya, lalu beranjak ke garasi.
Meeting penting.
Paling penting dalam hidupnya.
Ia memilih kunci mobil dan memutuskan untuk menggunakan mobil yang tidak terlalu mencolok menurutnya, mobil listrik Aston Martin Rapide E.
Saat duduk di kursi pengemudi sambil menunggu pintu garasi terbuka otomatis, Sebastian memeriksa spion otomatis dan penahan matahari. Ia melihat dirinya melalui cermin di balik penahan matahari.
Luka jahitan diatas pelipis kanan. Belum mengering benar... Dan ia mendapat 2 jahitan.
Terakhir ia mendapat luka jenis ini waktu tawuran saat SMA. Ia lalu terkekeh geli mengingat masa mudanya yang konyol.
Bola golf sialan...
Sebastian akan berhenti main golf mulai sekarang.
Dan kali ini, tidak akan ada hal konyol yang terjadi...
Ia akan melakukannya dengan benar.
Pintu garasi sudah terbuka sepenuhnya dan ia memasukkan sidik jarinya ke kunci mobil automat, membelai setirnya, lalu mengendarainya.
Ia memiliki waktu 3 jam tersisa dan untuk membereskan beberapa urusannya sebelum menemui Milady di Garnet Hotel.
*****
Milady memasuki lobby Garnet hotel dengan langkah santai. Ia berpakaian casual namun anggun dengan caranya sendiri. High heelsnya bergema disepanjang lantai marmer hitam, dan pandangannya lurus ke depan.
Ia mengunjungi meja resepsionis.
"Rita." Sapanya.
"Mbak Lady... Apa kabar?" Sapa Rita dari bagian Concierge. "Baru saja email dari Garnet Grup masuk. Ini kunci penthouse dan sudah dipesankan spa dan salon untuk Mbak Lady juga."
"Wah, terima kasih. Siapa yang memesankan?"
"Emailnya sih dari Divisi Corporate Secretary. Pak Arman."
Milady mengernyit.
Sekretaris Sebastian yang menyebalkan, bermulut tajam, dengan senyum lembut tapi matanya adalah mata seorang pembunuh, dan yang paling Milady tidak suka, lidah Arman yang tajam dan penuh sindiran.
Sampai sejauh mana Arman mengetahui mengenai kegiatan Sebastian? Bahkan di hari Minggu seperti ini, pria itu ada di sekitar Sebastian.
Milady menatap jam tangannya. Masih ada waktu 3 jam dari waktu yang dijanjikan, ia memutuskan untuk relaksasi memanjakan diri dulu.
Garnet hotel...
Tempat kenangannya.
Pertama kali Milady diterima bekerja di Garnet grup dan ditempatkan di Garnet Property, area ini adalah area wilayah Bram, namun Milady sering membantu Selena yang diserahi tugas memonitor kelayakan bangunan.
Sebagai asisten Bram, Selena berkeliling dari bangunan ke bangunan, seperti halnya Milady yang membantu tugas Trevor.
Waktu itu rasa mual langsung menderanya saat ia menginjakkan kaki di hotel ini.
Perasaan sakit dan perih menyerang dada dan perutnya.
Ia hanya sekali saja ke hotel ini. Walaupun ia mengenal banyak orang yang bekerja di hotel ini, namun cukup sekali saja ia menginjakkan kakinya di tempat penuh kenangan ini...
Sekarang...
Ia disini lagi...
*****
Ini waktunya...
Di lokasi yang sama dan jam yang sama.
Milady memeriksa dandanannya.
Secara fisik, ia sempurna...
Namun apakah hatinya siap?
Menjadi milik Sebastian?
Ia gugup.
Ia sudah pernah mengalami hal ini. Masuk lift, memeriksa dandanan dengan gugup, memeriksa pakaian, memastikan semuanya terkendali, melatih senyumnya...
Kenapa saat ini semua bagaikan kali pertamanya?
Saat lift berhenti di lantai penthouse, Milady menarik napas dan melangkahkan kakinya dengan memantapkan dirinya untuk maju.
Ia ingat lorong ini.
Walaupun saat ini dindingnya dengan desain yang lebih modern, namun ia mengingat lantai marmernya yang dingin dan hitam.
Disana, ruangan depan lift.
Unit 500
Penthouse milik Sebastian dengan jendela besar menghadap laut, bisa melihat sunset dengan jelas.
Milady menarik napas lalu menghembuskannya. Dan ia menekan bel di samping pintu.
*****
Walaupun di bulan-bulan terakhir ia sering sekali bertemu dengan Milady,
baik secara kebetulan maupun ia rencanakan sembunyi-sembunyi, namun setiap harinya sosok wanita ini semakin cantik dan cantik di matanya.
Otaknya merespon secara impulsif, khusus hanya untuk tampilan wanita ini.
Sebastian pria yang terbiasa bertindak dengan perhitungan, walau terkadang ia ambil resiko terlalu banyak dalam bisnis, namun ia bisa memastikan hal itu tidak terlalu banyak merugikannya.
Namun...
Milady Adara.
Astaga... Ia bahkan rela membuang semua yang ia miliki, yang ia usahakan seumur hidupnya berpuluh-puluh tahun untuk wanita ini!
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
Dan untuk mewujudkannya, ia bertekad untuk melakukan dengan layak, yang seharusnya sudah ia lakukan 10 tahun lalu terhadap Milady.
Wanita itu tiba di balik pintu penthouse Sebastian dengan secantik bidadari. Sebastian sendiri yang membukakan pintunya, dan pria itu langsung merasa terkesima.
Sempurna, untuknya.
Wanita itu tersenyum menatap Sebastian.
Ia, yang membuat Sebastian bertekuk lutut di hari sebelumnya, rela diperlakukan bagaikan budak.
Kini menatapnya dengan penuh pengharapan.
"Milady..." Sapa Sebastian sambil tersenyum.
Milady agak tertegun menatapnya.
Sebastian memang jarang sekali tersenyum untuk orang lain, untuk klien pun ia hanya menampilkan senyum simpul dipaksakan dan hambar.
Tapi senyumnya kali ini terasa tulus.
Jadi Milady memberikannya hadiah kecil, namun sarat makna.
"Mas Yan..." Panggilannya untuk Sebastian mulai sekarang.
Pria itu terpaku menatapnya beberapa saat.
Lalu ia tidak dapat menahan dirinya untuk langsung menarik tangan Milady ke arahnya dan memeluk wanita itu dengan segenap hati.
Tubuh wanita itu terasa rapuh dan lembut. Juga wangi yang tidak biasa, memabukkan.
Sebastian mempererat pelukannya.
Lalu menghela napas.
Pelukan kali ini berbeda saat terakhir mereka berpelukan. Yang ini terasa sangat nyaman, dan yang lalu, dilakukan untuk bertahan hidup, namun yang saat ini terasa memperjelas keindahan hidup.
"Milady..."bisik Sebastian.
"Hm?" Gumam Milady.
Sebastian melepaskan pelukannya, lalu meraih kedua lengan Milady dan menatap mata wanita itu dengan dalam.
"Kamu... Mau jadi istriku?"
Mata Milady terpejam.
Ia tidak langsung menjawab.
Ia sedang mengendalikan air mata yang memenuhi kelopaknya. Mukanya panas dan jantungnya berdebar.
Istri Sebastian.
Siapkan ia menerima cinta laki-laki ini?
Tentu...
Ia sudah siap sejak 10 tahun lalu, saat memberikan dirinya untuk Sebastian.
"Iya. Aku mau..." Sahut Milady.
Lalu wanita itu mengangkat wajahnya menghadap Sebastian. "Aku mau jadi istri kamu."
Sebastian memperlebar senyumnya.
Ia lega.
Ia merasa jadi manusia seutuhnya.
Akhirnya ia memiliki tujuan hidup.
Akhirnya ia tidak merasa hampa.
Saat ia menatap mata Milady yang berkaca-kaca, ia bisa melihat masa depannya, masa tuanya yang memeluk waanita ini dengan segenap jiwanya.
"Terima kasih..." Sahutnya sambil mencium dahi Milady.
"Kalau begitu... Kita mulai akadnya ya."
"Akad?"
"Iya. Akad nikah. Ijab kabul..."
"Kapan?"
"Sekarang."
"Apa?"
Sebastian menyeringai, lalu membimbing Milady ke arah ruang tengah penthouse.
Betapa Milady tidak bisa menahan kagetnya. Ayah ibunya ada disini, juga Pak Farid dan Pak Hans.
"Sekarang personelnya sudah lengkap. Kita sah-kan dulu. Resepsi bisa belakangan."
Milady hanya ternganga menatap Sebastian.
"Saya akan jelaskan nanti. Ini Pak Fuqoha, dia dari KUA."
"Astaga..." Milady menatap Sebastian, masih tidak dapat menyembunyikan kagetnya.
Lalu air matanya berjatuhan.
Ayah dan Ibunya menghampiri dan memeluknya.
"Mari, Sayang... Kita mulai Ijabnya."
Ijab sederhana dengan suasana yang khidmat, di ruangan kenangan mereka.
Semua rasanya bagaikan mimpi saat ia mendengar Sebastian berjabat tangan dengan ayahnya didepan penghulu, mengucapkan sumpahnya dan ayahnya menyerahterimakan dirinya.
Lalu saat saksi menyatakan dirinya sah menjadi istri orang yang dicintainya, yang benar-benar dicintainya kali ini, semakin mengaburkan matanya.
Saat masa iddahnya sudah selesai, Tuhan tidak membiarkan ia sendirian...
Tuhan Maha Baik...
*****
Selesai upacara, mereka sekeluarga bersantai di dalam penthouse.
Milady menatap cincin berlian merah mudanya sambil duduk di sebelah Sebastian, di pelukan pria itu. Buku nikah suami-istri bolak balik ia baca.
"Kamu... Bagaimana kamu bisa dapat KTP asli dan foto aku?" Milady agak jengkel karena acara mendadak.
"Dari Ayah kamu. Kamu ngga pernah bawa KTP Asli, selalu kamu letakkan di brankas. Memudahkan aku untuk mengurus administrasi. Foto dari bagian personalia property."
"Ya Ampun...Sebastian. Gimana prosesnya? Setahu aku kita kan harus seminar pernikahan dulu, dan proses persiapan di KUA bisa 3 bulanan."
Sebastian menatapnya penuh arti. Ia tidak harus menjelaskan proses pengurusan administrasi yang hanya beberapa jam.
"Semua bisa diurus..." Sahutnya sambil tersenyum licik. "Sama seperti aku bisa mengusahakan transfer ratusan miliar ke rekening kamu dalam 5 menit."
Milady mencibirnya.
"Yang tahu kita hari ini akad hanya..."
Sebastian mengangguk.
"Hanya semua yang ada di ruangan ini. Aku bahkan belum bilang ke Meilinda. Tadi pagi hanya pamit ke dia, pergi ada meeting. Kalau Ayah ngomong apa?"
"Sama, mau rapat." Pak Hans menyeringai.
"Si Yan... Benar-benar sudah sinting!" umpat Pak Farid. "Pagi-pagi sudah mengancam saya, mau cancel semua kontrak dengan saya! Sorenya dia minta saya jadi saksi nikah! Astaga... Berikutnya apa lagi, Yan?!"
"Ini kan semua gara-gara Trevor tiba-tiba panggil kamu." Sungut Sebastian.
"Ya kamu bertindak membabi-buta... Kamu jangan anggap Trevor anak ingusan lagi" sahut Milady.
Sebastian menatapnya dengan pandangan mengejek. Milady memicingkan mata, menantangnya.
Lalu kembali fokus ke cincin berliannya.
"Ayah dan ibu juga kaget saat kemarin Yan ke rumah untuk melamar kamu. Ya, Ayah ibu tidak menyangka kalau selama ini Yan sudah ada rasa sama kamu. Apalagi perbedaan umur yang sangat signifikan, Ayah takutnya akan mempengaruhi masa depan kamu..."
Milady hanya mengangguk, tapi sebenarnya ia sudah bisa membaca kalau kedua orang tuanya takut pada Sebastian. Siapa yang bisa menolaknya?
"Kalau aku tadi bilang 'tidak' kamu mau bagaimana?" Tanya Milady.
"Ya bubar..." Sebastian menyeringai.
Milady menghela napas.
Lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sebastian
"Aku ingin cium kamu, tapi disini banyak orang." bisik Milady.
Sebenarnya itu pertanda ia ingin berduaan saja dengan Sebastian.