
Trevor menaiki tangga Gedung Garnet Grup dengan langkah malas.
Beberapa orang menunduk padanya, menyambutnya.
Sosoknya yang dikenal sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnis bernilai triliunan membuatnya sesak napas. Begitu berat beban di pundaknya.
Sudah menjadi rahasia umum kalau bisnis yang dijalankan ayahnya sangat besar.
Saking besarnya sampai-sampai merambah ke dunia hitam.
Trevor bahkan merasa sangat salut dengan Alex yang lebih muda darinya bisa terobsesi dengan bisnisnya, dan Gerald... Yah, kalau Gerald sih memang tidak beruntung karena lahir di keluarga kerajaan.
Maksudnya disini... Benar-benar keluarga kerajaan cikal bakal terbentuknya negara ini dari jaman dahulu kala saat Danau Toba masih jadi gunung.
Mungkin itu yang membuat Gerald di usianya yang menginjak 40 tahun masih membujang. Terlalu sibuk sampai-sampai insecure sendiri.
Trevor tidak terobsesi dengan kekayaan ayahnya.
Ia bersyukur karena hidupnya serba berkecukupan, namun ia berharap tidak harus berlebihan seperti ini.
Ia mengerti segala yang dilakukan ayahnya adalah untuk keluarganya. Terkadang Trevor berharap ayahnya menikah lagi, kali ini dengan wanita yang benar-benar dia cintai, agar bisa mendapatkan pewaris selain Trevor. Paling tidak Trevor bisa membagi beban ke adik tirinya.
Pengecut?
Lemah?
Mungkin.
Tapi tidak semua manusia di bumi ini terobsesi dengan kekayaan dan kekuasaan.
Terkadang ada manusia yang seperti Trevor.
Lebih memilih kebahagiaan.
Anggapan Trevor mengenai dunia adalah...
Kekayaan adalah uang yang berlebihan.
Kebahagiaan adalah uang yang berkecukupan.
Kemiskinan adalah uang yang berkekurangan.
Dengan rumus...
Kekayaan adalah saat manusia diperbudak uang.
Kebahagiaan adalah saat manusia bisa mengendalikan uang.
Kemiskinan adalah saat manusia kekurangan uang.
As simple as that.
Dimas dan Bram datang menyusul karena akan menjemput Meilinda. Sekaligus mereka juga akan memanggil dua istri Gunawan yang lain.
Hari penghakiman.
Entah bagaimana cara Mitha mendekati semuanya, tapi wanita itu benar-benar luwes, pikir Trevor.
Ia bertemu Mitha... Hm... Seingatnya tidak pernah secara langsung. Hanya melihat dari kejauhan dan sekedar tahu saja. Itupun di acara keluarga besar.
Trevor melirik jam tangannya saat di dalam lift. Masih jam 9 pagi.
Ia akan merokok dulu di smoking room lantai 10 sebelum naik ke lantai 50.
Di lantai 10, ada beberapa tenant dari brand terkenal, ada tempat penitipan anak, dan co-working space outdoor.
Trevor melangkah ke area smoking room sambil menepuk-nepuk kotak rokoknya yang masih tersegel.
Dan
Plukk!!
"Iiiieeeeeeeee...!!"
Anak kecil menabrak betisnya, dan jatuh terduduk.
Bukan anak kecil...
Ini sih masih bayi... Usianya mungkin belum dua tahun.
Terlihat dari cara berjalannya yang limbung dan tidak beraturan.
Kemana ibunya? Apa dari penitipan anak di depan situ?
Kenapa sekel dan gempi begini yah?!
Trevor berlutut sambil membantu anak itu untuk bangkit.
Tapi tangisannya malah semakin kencang.
"Ssshhh... Duh tangisan kamu kuat juga yah..." akhirnya dia mengantongkan kotak rokoknya dan menggendong anak itu untuk menenangkannya.
Menepuk-nepuk punggungnya dan menimangnya perlahan.
Tangisan anak itu berhenti.
Diakhiri dengan senyuman saat ia mengemut jemarinya sendiri. Extra ngeces di bahu Trevor.
"Ih, kamu nih lucu... Anak siapa sih. Dasar gembul..." desis Trevor sambil terkekeh.
"Astaghfirullah!! Rakaaaa..."
Terdengar teriakan panik dari arah baby day care.
Sesosok dewi...
Eh, salah.
Tapi terlalu manis untuk disebut manusia.
Loh...
Sepertinya Trevor kenal.
"Mbak Mitha?" gumam pria itu
"Hah?" mata wanita berkerudung di depannya ini membulat. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Trevor.
Wajahnya benar-benar persis Barbie, tapi pakai kerudung.
Kenapa bisa sebening ini yah kulitnya.
"Eeeehhh... Mas Trevor yah?! Ya Allah Mas! Kok bisa ketemu disini! Waahhh ya jelas yah bego banget saya, kita kan mau mergokin suami saya hahahaha!!" Mitha heboh sendiri.
Trevor mencibir sebal, tapi juga ingin tertawa. Bagaimana bisa Mitha menganggap hidupnya sebagai lelucon.
Apa itu cara wanita ini mengalihkan perhatian dari kesedihannya.
"Saya ketawa bukan karena senang yah, tapi karena stress, anggap saja lagi gila, hahahaha!!"
"Iya kok jadi absurb gitu sih Mbak, eling yah... Ini anaknya saya gendong dulu, situ selesain aja ketawanya."
"Udah ah, malah mau nangis jadinya." Mitha menghapus air matanya. Entah asal air itu dari tawanya atau dia benar-benar menangis sebenarnya.
Raka malah cuek dan menoleh ke Trevor sambil mempererat pegangannya.
"Laaah kok melengos Nak! Bosen yah sama Mama? Eh? Iya?!" sahut Mitha sambil mensejajarkan wajahnya ke wajah bayi itu.
Ia kini berdiri di belakang Trevor untuk menatap mata bayinya.
Raka kembali tertawa ambil menitikkan liurnya ke bahu Trevor.
"Ealah Nak, kok malah ngiler? Kenapa Mama dicuekiiinnn? Syedih deh mamanya nangis niiiih..."
Tapi Raka malah tertawa lebih kencang, setengah berteriak dan ia mulai menghentak-hentakkan badannya, tanda senang melihat mamanya sedang menggodanya.
"Kayaknya... Mama jadi beneran sedih... Duh..."
Tawa Mitha tiba-tiba melemah.
Sejenak, diganti dengan isakan.
Lalu ia malah reflek menyenderkan dahinya di punggung Trevor.
Dan terisak disana.
Trevor hanya menghela napas, sambil perlahan menepuk punggung Raka.
Luar biasa cara wanita menyembunyikan kesedihannya.
Lalu...
Kenapa Trevor merasa tenang-tenang saja?
Ia tidak panik.
Ia juga tidak deg-degan.
Padahal Mitha berada sangat dekat sampai menempelkan dahinya di punggung Trevor.
Dan hari ini ia belum minum obat anti depresannya.
Bahkan saat bertemu Milady tadi pagi dan duduk di sebelahnya, Trevor masih merasa sesak dan agak gugup.
Tapi saat ini...
Ia tidak merasakan apapun.
Sebentar, ia akan mengetes beberapa gerakan.
"Mbak Mitha... Mau duduk dulu? Orang-orang mulai melihat kita..." bisik Trevor.
Ia menoleh ke belakang dengan kikuk, dan menangkap bahu Mitha yang agak limbung.
"Oh, iya... Aduh, maaf yah... Saya kelepasaaaaaannn...." akhirnya isakannya malah berubah jadi tangisan yang lebih keras.
Astaga...
"Huhuuuu Ya Allah... Kenapa yaaaa padahal saya tadinya mau sok kuaaaattt..." rengek Mitha.
"Iiisshhh... Tahan dulu nangisnya! Kita ke ruangan co working dulu yaaa..." Trevor langsung menggeret bahu Mitha, mendekapnya di pelukkannya dan masuk ke salah satu ruangan tertutup.
Dan jadilah di sana, Pria itu duduk di sofa dengan Raka di kiri di pangkuannya, dan Mitha yang menelungkupkan wajahnya di bahu kanannya sambil menangis sekencang yang wanita itu bisa teriakan.
*****
Sekitar setengah jam berikutnya, Trevor menimang Raka menggunakan hipseat sambil menyusuinya menggunakan botol berisi asi peras, sementara di belakangnya, Mitha memperbaiki hijab dan riasannya yang berantakan.
Namun dari pantulan jendela di depannya, Trevor dapat melihat bayangan sosok Mitha yang sedang melepas ikatan rambutnya.
Astaga...
Ternyata di balik kerudungnya, wanita ini jauh lebih cantik! Batinnya.
Rambut hitamnya ikal panjang sampai ke pinggang, tampak halus dan bersinar.
Dan siluet dadanya memiliki ukuran yang...
Trevor langsung mengalihkan pandangannya dari jendela.
Aku melihat yang seharusnya tidak kulihat.
Itu kehormatannya.
Dan dia masih istri orang lain.
Tidak seharusnya...
Paling tidak, belum saatnya...
Sialan Gunawan!
Dia memiliki bidadari surga secantik ini, bahkan masih menduakannya dengan beberapa wanita lain!
Kurang ajar pria itu...
Geram Trevor.
"Anu... Mas Trevor cape ngga gendong Raka?" Mitha sudah selesai dengan aktivitasnya dan menatap punggung Trevor yang masih bergerak perlahan menidurkan Raka.
"Basa-basi ngga ada topik lain Mbak?" goda Trevor.
"Hehehehehe..." desis Mitha. "Mas Trevor mau tanya apa? Saya akan coba jawab, deh... Dari tadi ada yang terpendam yaaaa"
Trevor membalikkan tubuhnya menghadap Mitha dan menghampiri wanita itu, lalu duduk di depannya.
"Kita nanti siang mau lihat maunya Gunawan apa. Dan Mbak yakin beneran mau bicara dengan dua istrinya yang lain? Apa ngga malah berantem nanti? Mereka bahkan bukan istri sah, loh Mbak."
"Hm... Saya sih memang ragu, tadinya. Tapi Dimas meyakinkan saya, kalau sebagai wanita yang terzolimi, kami harus bersatu. Kami tidak bersalah... Jadi untuk apa berkelahi. Yang seharusnya dituntut kan Gunawan. Dan mengenai anak-anak..." Mitha menatap Raka nanar.
"Dari dulu terbiasa jauh dari bapaknya... Mudah-mudahan mereka bisa menerima kondisinya. Saya serahkan ke Tuhan, Mas..." sahut Mitha. "Sudah capek saya. Dia bahkan berani mengusik Bu Meilinda. Apa tidak keterlaluan itu..."
"Jadi kedatangan Mbak Mitha kesini karena dipanggil Dimas atau Pak Sebastian?"
"Dimas lebih dulu mengutarakan rencana ini sebenarnya, tapi tiba-tiba kemarin lusa Pak Sebastian hubungi saya, meminta saya datang. Cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi sih Mas... Tapi saya ngga akan pernah siap menghadapinya."
"Pengacara terbaik sudah disiapkan standby di ruangan lain di sini Mbak."
"Sampai segitunya?"
"Iya... Dia sudah memasuki ranah terlarang. Mengancam Ayah. Dia sepertinya terlalu dimanjakan oleh Ayah selama ini, sampai tidak tahu sedang berhadapan dengan..."
"Dengan Leak paling ganas yang pernah saya temui." potong Mitha.
Trevor terkekeh.
"Leak...? Astaga..." gumam Trevor geli.
"Leak menghisap darah. Gunawan akan langsung anemia sampai kering jadi peyek..." Ujar Mitha sambil merengut.
Trevor menahan tawanya mati-matian karena Raka sedang tidur.
Wanita ini...
Menarik sekali.