Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Putri Raja Sedang Sakit



Dokter Arjuna, dokter pribadi keluarga Bataragunadi. Ia berprofesi sebagai dokter sudah 30 tahun, dan tempat kerja terakhirnya di Rumah Sakit Garnet Medical, setelah berpindah-pindah tempat kerja akhirnya ada yang mengakui kerja kerasnya dengan gaji dan tunjangan yang besar. Belum insentif yang didapatnya dari tindakan perawatan mandiri seperti saat ini.


Lumayan bisa menyekolahkan anaknya di luar negeri, dan rumah mewah di Jakarta Barat. Pikirnya.


Ia dipekerjakan untuk merawat Hans Bataragunadi yang saat ini telah menginjak usia 85 tahun. Namun nyatanya pak tua itu jarang sakit. Paling banter sakit radang tenggorokan karena kebanyakan jajan cilok.


Saat ini, tuan putri keluarga Bataragunadi, Meilinda Bataragunadi, pingsan.


Dokter Arjuna baru kali ini memeriksanya.


Dan sejujurnya, walaupun tekanan darah si Putri hanya 90/50, berwajah pucat pasi tanpa makeup, rambut acak-acakan dan bisa dibilang kurus, kecantikan wajahnya bagaikan ukiran halus yang dipatri oleh pemahat profesional.


"Ibu tidak mau dirawat saja di rumah sakit?" tanya Dokter Arjuna.


Meilinda menggeleng lemah.


"Kalau begitu saya pasang infus saja yah... Nanti sore saya kembali dengan alat medis dan suster pendamping, usahakan tidur dan vitaminnya diminum rutin." kata dokter Arjuna.


"Bagaimana dia??" Sebastian langsung menyeruak masuk ke kamar Meilinda bagaikan meriam tanpa halangan.


Wajahnya penuh raut kekuatiran dan panik.


"Hm..." Dokter Arjuna tampak menyusun kata-kata. Ia tidak ingin membuat Sebastian makin meradang. "Dengan istirahat cukup bisa kembali membaik sih pak, saya akan..."


"Dirawat saja di rumah sakit! Cepetan kasih rujukan!!" Potong Sebastian.


"Anu..."


"Kamu ambil ambulance sana, bersihkan kamar vvip!"


"Tapi..."


"Lama banget sih actionnya! Sudah berapa lama sih kamu jadi dokter?!"


"Bu Meli ngga mau dirawat pak...duh..." keluh Dokter Arjuna.


"Kenapa???" seru Sebastian.


"Loh... Kok tanya saya..." gumam Dokter Arjuna.


"Kak... Jangan teriak-teriak dong..." keluh Meilinda lemah.


"Kamu dirawat aja yah, disana lebih terjamin kebersihannya dan dekat dengan dokter, banyak suster juga..." Sebastian menghampiri Meilinda dan mengenggam tangannya lembut.


"Aku ngga mau." kata Meilinda.


"Kenapa? Kalo di sini kamu..."


"Aku ngga suka suasana rumah sakit, aku lebih suka di kamarku." desis Meilinda.


"Rumah sakit itu diciptakan untuk..."


"Kakak sendiri, waktu darting, kenapa ngga mau dirawat?!" Balas Meilinda


"......." Sebastian langsung diam.


"Hm?" tekan Meilinda.


"Oke, tapi kamu ikuti kata dokter." akhirnya Sebastian menyerah.


"Daritadi juga ikutin, kakak aja yang ngga sabaran..." keluh Meilinda.


"Astaga... Wanita..." keluh Sebastian sambil menggeret Dokter Arjuna keluar kamar.


"Jadi, pak... Nanti sore saya akan kembali dengan infus dan suster pendamping." Kata Dokter Arjuna sambil bersiap-siap pulang.


"Iya." Sebastian menengadahkan kepalanya dan menghela napas.


Ia sedang berpikir kenapa ia lemah sekali dengan Meilinda dan... Milady.


Dua wanita yang paling berarti dalam hidupnya.


Siapa lagi orang-orang yang berani memerintahnya...


Ah, iya... Ada satu lagi.


Wanita juga...


Dari masa lalunya.


Sulastri Ningsih, ibu Dimas dan Bram, guru SMAnya, sekaligus cinta pertamanya.


Sudah berlalu tapi akhir-akhir ini mereka bertemu kembali gara-gara Dimas mulai akrab dengan Meilinda. Itu yang membuat Sebastian tidak mengambil tindakan apapun dan membiarkan adiknya menjalin hubungan dengan bocah bau kencur seperti Dimas.


Ada apa sih dengan para wanita jaman sekarang, kenapa mereka tiba-tiba jadi berkuasa diatas segalanya?!


Setelah Dokter Arjuna berlalu, Sebastian masuk ke dalam kamar Meilinda bersama dengan Pak Hans.


"Mel... Kamu kenapaaa?" tanya Pak Hans sambil duduk di pinggir ranjang.


Meilinda hanya tersenyum masam menatap ayahnya itu.


"Hanya kurang makan, Ayah..." sahut Meilinda berusaha menenangkan dua pria yang panik karenanya.


Trevor berdiri sambil bersandar di pinggir pintu, memperhatikan mereka.


Di keluarga ini, Meilinda satu-satunya perempuan, jadi ia sangat dimanja. Walaupun usianya sudah menginjak 44 tahun, namun sebagai seseorang yang selalu diperlakukan bagai putri raja, ia terkadang bisa sangat kekanak-kanakan.


"Perasaan porsi makan kamu seperti biasanya..." sahut Pak Hans.


"Yah... Mungkin kecapekan." tambah Meilinda.


"Gara-gara si boyokethek itu? Dia ngapain kamu? Bukannya kalian sudah putus, hah?!" sahut Sebastian.


Meilinda menghela napas, mengakui perkataan Sebastian.


"Kamu begini gara-gara sikapnya memperlakukan kamu ngga tegas, ngga jelas! Kamu jadi kepikiran dan jadi sakit begini!" Seru Sebastian.


Meilinda hanya melirik ke arah Sebastian menanggapi omelan kakaknya itu. Wanita itu tidak menyangkal dan hal itu pertanda kalau semua perkataan Sebastian adaalah benar.


"Kemana dia sekarang, hah?!" Kegusaran Sebastian makin jadi.


"Di kantor..."


"Dia tahu kamu begini?"


"Dia yang menyuruhku pulang cepat."


"Kalian berbaikan?"


"Yah..." Meilinda mengangkat bahunya.


"Si boyo itu..." geram Sebastian.


"Dia ngga tahu aku pingsan, kak..."


"Oh... Dia bakalan tahu, sebagai gantinya, kakak yang akan bikin dia pingsan menggantikan kamu."


"Kaaaaakkk..." rengekan Meilinda tidak dihiraukan karena Sebastian sudah keburu berjalan keluar kamar Meilinda sambil mengutak-atik ponselnya.


"Ayah..." rajuk Meilinda ke Pak Hans.


"Lah... Ayah bisa apa, ya wajar kalau Mas Yan mengkhawatirkan kamu." sahut Pak Hans.


"Dimas ngga salah, semua ini salah aku. Murni salah aku... Aku yang maksa dicintai olehnya. Aku posesif sama dia, dan aku jadi jatuh sakit juga karena terlalu drama!" ujar Meilinda kuatir.


Pak Hans manggut-manggut.


"Dia pasti akan muncul ke sini, aku ngga ingin nanti kakak berbuat macam-macam!" Meilinda mulai panik.


"Memangnya..." Pak Hans agak tertegun. Ia tidak pernah mendapati Meilinda sepanik ini kalau masalah laki-laki.


"...memangnya si boyo kethek ini siapa?" tanya Pak Hans.


Meilinda menghela napas.


"Dia pacar aku." sahut Meilinda.


"Pacar kamu?"


"Iya."


"Loh... Kamu bukannya baru saja bercerai?"


"Ya... Setelah itu aku pacaran jarak jauh sama Gunawan."


"Loh? Gunawan sopo?"


"Gunawan Ambrose..."


"Gunawan Ambrose kita? Anaknya Pak Saeful, ipar ayah itu bukan?!"


"Iya..."


"Lah! Dia itu udah punya istri loh Mel!"


"Iya ayah, aku ngga tahu. Dia bilang single..."


"Lah piye kowe nduk! Istrinya itu dulu pernah kerja sama Mas Yan."


"Kakak ngga tahu kalau aku sempat pacaran sama Gunawan Ambrose... Aku diam-diam saja soalnya. Ternyata istrinya bukan cuma satu Yah, dia punya dua istri lain yang dinikahi secara siri. Tiba- tiba Gunawan menghilang. Nah, Dimas ini karyawan aku di kantor. Anak buah aku sih Yah tepatnya... Dia bantuin aku mondar-mandir cari Gunawan. Sampai pada titik..."


"Kamu malah jatuh cinta sama Si Dimas ini..." Pak Hans menyeringai. Dibalas dengan senyuman masam Meilinda.


"Memang Si Dimas ini orangnya bagaimana sampai Mas Yan kayaknya perhatian sekali?" tanya Pak Hans.


"Ayah belum pernah ketemu yah, padahal dia hampir setiap hari jemput aku ke kantor loh Yah..."


"Eh loh? Tunggu..." Pak Hans tampak berpikir. "Dia itu kalo pagi-pagi suka nungguin kamu sambil merokok di depan pintu bukan? Yang suka pake jaket ada tudungnya? Mukanya ngguanteng..."


"Iya. Itu Dimas."


"Loh... Dia itu pacarmu toh, nduk?! Kata satpam, dia karyawanmu, loh..."


"Iya benar juga sih Yah."


"Umurnya kayaknya masih..."


"Kami berbeda 14 tahun."


Pak Hans menghela napas. "Kamu yakin dia benar-benar suka sama kamu, sama besarnya seperti kamu suka sama dia? Bukannya cuma mau memanfaatkan harta kita?!"


"Dia anak Bu Sulastri Ningsih." kata Meilinda.


"Lah...! Bu Lastri Nastar? Bu lastri nasi uduk?! Itu guru SMA Mas Yan? Yang nikah sama ekspatriat toh?!"


"Nastar? Dia sih memang buka restoran nasi uduk sih Ayah..." Meilinda cekikikan.


"Nastar bikinan dia juga wenak loh Nduk! Ibumu dulu suka beli!"


"Iya mereka sekeluarga memang pintar masak, walaupun laki-laki... Mungkin Bu Lastri ajarkan."


"Oh, gini saja... Ayah kenalan dulu sama Dimas ini, bagaimana?! Nanti baru ayah tahu bagaimana cara membujuk Mas Yan."


Meilinda tampak menimbang usul Pak Hans.


"Boleh juga Ayah... paling besok Dimas datang kesini..."


(sekilas info : apabila pembaca mau tahu bagaimana cara Pak Hans 'berkenalan' dengan Dimas, silahkan baca novel Author yang berjudul Woman On Top, episode 37, judul 'Babak Belur')