
"Serius Mas Arman, masa pakai barang bekas saya? Memangnya untuk keperluan Ayumi belum ada anggarannya?!" goda Milady sambil mengambil koper besar dan mulai memilih-milih pakaian.
"Keperluan Ayumi tidak pakai anggaran kantor, tapi pakai gaji saya sebagai hukuman karena saya lengah waktu itu. Saya ngga mau yah dirugikan sama penjahat... Ini hanya karena saya masih melihat dia sebagai manusia saja. Tapi tetap saja, rasanya ngga rela kalau pakai uang saya..."
"Tapi kalau kasih hadiah ke pacar sendiri masih pakai gaji sendiri kan?"
"Hm... Saya tipe cowok romantis kok. Buktinya, situ suka kan hampers yang saya pilih..."
Milady mengangkat alisnya.
"Ya Ampun...selama ini Mas Arman yang memilihkan hampers untuk saya?!"
"Saya pilih beberapa option, nanti bigboss yang tunjuk. Tapi biasanya dia juga minta saya yang tunjuk. Bapak sebenarnya kaku, jadi dia tidak terlalu pandai memperlakukan wanita."
"Wah... Malah bagus dong ya berarti."
"Dibandingkan saya, gitu maksudnya?! Sindir saja terus..." sungut Arman.
"...dibandingkan Mas Arman..." sambung Milady dengan kilatan mata jahil.
"Sudah nih mas, cukup untuk seminggu. Kebanyakan baju untuk dirumah ya, kan Ayumi ngga boleh keluar kan?"
"Oke..."
Dan Arman mengambil koper yang berisi pakaian dari Milady, tanpa ia sadari Milady menyeringai penuh kelicikan di belakangnya.
"Mas Arman, antarkan saya ke Darmawangsa saja. Saya janjian dengan Mbak Meli dan Selena di sana." sahut Milady sambil mengabarkan Meilinda dan Selena.
"Nanti dari sana diantar siapa?"
"Kenapa jadi bawel sih?"
"Ya kan biar saya enak laporan ke Bapak, Mbak Milady mau berenang di Kali Ciliwung juga saya ngga protes asal ada laporannya..."
"Untung saja kita ngga sekantor ya Mas, bisa berantem tiap hari..."
"Untung saja Mbak Milady istri atasan saya, jadi paling tidak saya masih jaga jarak..." Arman menatap Milady dengan pandangan berkilat.
Milady menatap Arman dengan pandangan mengancam.
Sehingga kalau pembaca ada yang bisa melihat Aura, sudah pasti yang terlihat sebagai latar belakang antara Milady dan Arman adalah kehitaman extra petir menggelegar.
"Antar saja saya ke Darmawangsa, saya ngga tahan semobil berdua saja dengan Mas Arman. Jarak Bekasi Jakarta bisa 30 km, makan waktu hampir satu jam."
"Kalau saya yang nyetir bisa dipersingkat jadi setengah jam saja, kok..."
"Mas Arman sadar ngga sih kalau sedang menyetiri Bumil?!"
"Mbak Milady sadar ngga sih yang bikin situ sadar status Bumil adalah karena saya rela beli testpack di supermarket?!"
"Katanya buat ketenangan batin diri sendiri, kenapa sekarang malah merasa berjasa?!"
"Masih mau dilanjut atau saya diam saja nih parkir di sini sampai malam?"
Astaga kenapa pria ini keras kepala sekali... Keluh Milady dalam hati.
Ya Ampun... Ada ya wanita yang egoisnya tingkat tinggi seperti ini... Keluh Arman dalam hati.
Untung gue bukan pasangannya...
Keluh keduanya dalam hati.
"Ya sudah, karena saya istri Boss, saya yang tentukan."
"Dasar sombong..." gumam Arman.
Milady mengacuhkannya.
"Mas Arman antarkan saya ke Darmawangsa, nanti saya telpon Pak Sapto untuk jemput."
"Oke, saya juga banyak kerjaan buat pengamanan besok... Bagus lah."
"Jangan lupa sempatkan antarkan baju ke Ayumi."
"Itu bukan urusan Mbak, kali..."
"Saya ini perhatian loh ke mas Arman... Kalau Ayumi masuk angin karena ngga pakai baju, kan yang susah dirimu jugaaaa..."
"Akal bulus..." gumam Arman sambil menginjak gas mobilnya.
"Pelan-pelan jalannya! Ahli waris lagi didalam!"
"Bodo amat..." gumam Arman lagi.
Tapi nyatanya Arman benar-benar menyetir dengan hati-hati.
*****
Lampu merah agak lama.
Milady melihat ke arah sekelilingnya.
Lalu berkilat.
Ia melihat restoran shabu-shabu di depan, satu arah setelah lampu merah.
"Mas Arman! Kita berhenti di situ dulu."
Arman langsung waspada.
"Saya banyak kerjaan." desisnya dingin.
"Ya sudah, turunkan saya disitu saja, Mas Arman bisa langsung jalan lanjut kerja."
"Ya ngga bisa begitu lah!" seru Arman.
"Ngga usah marah-marah ke ibu hamil, saya kan cuma lagi pingin makan daging! Salah-salah situ yang saya makan, nanti!" seru Milady.
Arman menengadahkan kepalanya bersandar di kursinya.
Baru jadi janin saja sudah berantem... Sebentar lagi trisemester pertama, dimana mood ibu hamil biasanya naik turun. Begitu yang tertulis di internet. Bakalan kacau ini...
Batin Arman.
Jadi...
"Saya temani makan." Arman menyerah.
Milady menyeringai penuh kemenangan.
Lalu mem-video call Sebastian.
*****
Entah bagaimana saat melihat wajah suaminya yang sedang berkerut memandangnya, mood Milady langsung hilang.
"Kenapa kamu ke Bu Sulastri ngga bilang-bilang?" sembur Milady sambil merengut.
"Aku sudah kirim whatsap."
"Apa susahnya membangunkanku, bicara baik-baik?"
"Kamu lagi tidur sangat nyenyak sayang..." terlihat Sebastian juga sedang mengatur emosinya.
"Lain kali kamu pergi ngga bilang-bilang, aku kunciin pintunya. Kamu ngga usah pulang sekalian... Tidur di luar." Sahut Milady.
Mata Sebastian membesar, Pria itu mengangkat alisnya.
Belum reda kagetnya, ia sudah dikejutkan Arman yang langsung merebut ponsel Milady.
"Pak, dimohon dengan sangat, Tolong Saya... Saya ini tadinya hanya berniat Aow!!"
Milady mencubit pinggang Arman dan merebut kembali ponselnya.
"Kamu pasti saking terpesonanya sama bu Sulastri sampai ngga baca whatsap balasanku yah?! Terus saja clbk... Nginep di rumahnya kalau perlu! Aku sandera dulu anak buah kamu yang songong ini... Aku mau makan daging yang puas!"
Dan Milady memutus sambungan teleponnya.
"Childish..." gumam Arman.
"Biar saja dia tidur diluar..." Milady mengacuhkan Arman sambil mengutak-atik ponselnya. "Parkir di sana, parkir cepetan..."
Milady menunjuk-nunjuk lahan kosong.
"Beneran salah Boss gue cari istri... Kok bisa sih nemu yang beginian, darimana coba..." gumam Arman.
"Bukan urusan Mas Arman."
"Saya bicara dengan diri saya sendiri. Ngga usah nguping." sahut Arman. "Mukanya doang cantik, ternyata dua kepribadian... tau ngga dia yang begini... Orang jenius biasanya psikopat..." Arman bergumam lagi, kali ini seakan sedang membaca mantra.
"Mas Arman lagi ngomongin diri sendiri atau bagaimana?!"
"Ck..." terdengar decakan Arman.
*****
Sebastian mengerutkan keningnya setelah Milady menutup sambungan video callnya.
Maksudnya apa?
Dia ingin makan daging, tapi dia menyandera Arman?!
Memangnya dagingnya Arman enak?!
Terus Sebastian dia suruh tidur di luar itu maksudnya di mana?
Di luar kamar? Di luar unit? Di luar hotel? Atau di luar angkasa sekalian?!
Daripada pusing lebih baik baca whatsap Milady yang tadi wanita itu bilang.
Ada satu foto...
Sebastian memicingkan matanya.
Foto apa sih ini? Alat apa ini?
Seperti alat deteksi...
Tunggu...
Sepertinya ia mengenal alat ini...
Lalu tangan Sebastian gemetar.
Dan pria itu merasakan matanya langsung panas. Butiran air langsung memenuhi pelupuknya.
*****