
"Sayang..." kata Sebastian disela desahannya. "Mungkin selama seminggu ini kita ngga ketemu..."
Milady mengangkat wajahnya dan menghentikan aktivitas mulutnya. "Eh? Kamu mau kemana?"
Sebastian mendorong kepala wanita itu ke arahnya untuk kembali sibuk dengan kegiatannya.
Disertai suara protes Milady...
"Aku dalam pengamatan BNN, pastikan kamu tidak sendirian. Ada Eiichi, Susan dan Arman. Atau kamu bisa minta bantuan Leon atau Pak Bara."
Lalu selanjutnya yang terdengar adalah suara desahan kelegaannya dan Milady yang terbatuk-batuk.
Sebastian terkekeh saat melihat Milady terburu-buru minum.
"Aku menikah seminggu lagi, loh..." desis Milady. "Dan Ayumi tidak bisa dihubungi. Kelihatannya dia sadar kalau Trevor sudah tahu. Sabtu-minggu kemarin Trevor berulang kali mengirimkan pesan singkat meminta konfirmasi. Namun tidak ada jawaban."
"Iya, makanya Yamaguci pasti meradang. Anteknya di sini pasti akan bergerak aktif. Bisa jadi kamu juga diincar." kata Sebastian.
"Jadi..." Pria itu membuka kancing kemejanya, sambil menghampiri Milady dengan senyum liciknya.
Milady berjalan mundur selangkah
"Kamu mau apa?" tanya wanita itu waspada
"Mau kamu..."
"Sebastian, aku kan udah bilang..."
"Kalau perlu, aku akan per**kosa kamu..." potong Sebastian
"Aku akan teriak." ancam Milady
"Siapa yang akan dengar? Arman? Kayaknya dia udah pergi tuh mewakili aku meeting sama... Entah perusahaan mana tadi yang minta konfirmasi..." ujar Sebastian.
Milady menarik napas panjang karena kini punggungnya tertahan dinding.
"Kamu ngga mau?" Bisik Sebastian sambil mencium telinganya.
Titik paling sensitif Milady. Membuat kaki wanita itu langsung lemas.
"Kamu janjikan apa padaku? Ada harganya..." desis Milady.
"Aku akan setia sama kamu, tidak akan menikah dengan wanita lain..."
"Kenapa kamu tidak menikahiku saja, Hubungan Trevor dan Ayumi sudah tamat." potong Milady.
"Aku kan belum selesai bicara." desis Sebastian.
"Pak, mohon maaaaaf dengan sangat, tapi yang ini beneran mendesak." terdengar suara Arman dari interkom.
"Apa lagi sih... Gue cekik juga tuh bocah!" umpat Sebastian.
"Anuuuu... Komjen Pol Irwan Hartawi di ruang tunggu prioritas. Hehe..."
Sebastian dan Milady langsung membeku.
Sebastian mengancingkan kembali kemejanya sambil menuju interkom dan menekan tombolnya.
"Akhirannya ngga usah pakai ketawa!" seru Sebastian kesal.
*****
Selasa Pagi,
Pria bertubuh sedang, bermata tajam dan bibirnya selalu cemberut.
Hari Fadil, Saat ini jabatannya adalah Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan dari salah satu partai terbesar di negara ini.
Ia berjalan menuju ruang pers untuk menjabarkan temuan yang dilakukan BNN.
Wajahnya memang cemberut namun hatinya dipenuhi rasa kemenangan.
(Sekedar info : Komisi III Dewan Perwakilan xxx (disingkat Komisi III DPx xx) adalah salah satu dari sebelas Komisi DPx xx dengan lingkup tugas di bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Ada 15 kementrian yang menjadi pasangan kerja Komisi III ini, diantaranya BNN, biasanya dalam satu Komisi terdapat 4 orang wakil ketua).
Sebentar lagi... pikirnya.
Sebastian akan dalam genggaman mereka, dan ia akan melarikan diri ke Alaska, meminta perlindungan lewat green cardnya.
*****
Dirga dan empat orang anggota BNN yang mengikutinya, menyerahkan Surat Perintah ke Arman yang sedang menikmati kopinya di meja operator yang biasa.
Wajah Arman tetap ramah seperti biasa, dengan senyum seperti biasa dan pandangan mata bersahabat seperti biasanya.
Membuat Dirga selalu merasa tidak tenang...
Raut Arman yang seperti itu, menyimpan dendam dan hasrat membunuh yang sedemikian rupa tertahan sampai akhirnya pria itu lebih memilih untuk memasang topeng ramah.
"Surat panggilan." sahut Dirga.
"Waduh... Kayaknya lo telat." Arman menyeringai
"Maksudnya?"
"Lo ngga tau kalo Boss gue dari pagi udah di kantor BNN?" Arman mengeluarkan surat panggilan BNN dari amplopnya dan membacanya sekilas.
"Dia memang hari ini ada jadwal pagi kesana... Ketemu atasan lo. Pak Komjen Pol..." terdengar kekehan Arman yang sangat menyebalkan di telinga Dirga.
Dirga hanya bisa berdiri terpaku sambil berkacak pinggang dan menunduk.
"Kalian ini...sebenarnya merencanakan apa sih? Tujuan kalian sebenarnya tuh apa sih?!" geram Dirga.
Arman menaikkan alisnya.
"Menangkap tikus." kata pria itu.
"Menangkap tikus... Jadi kalian itu apa? Ular? Kucing?" Tanya Dirga.
Arman mendengus mengejek.
"Kami bukan sejenis binatang cere macam itu... Seharusnya lo juga tau, siapa boss gue, siapa gue, dan siapa orang-orang di sekeliling lo selama ini. Ikutin aja alurnya, jangan berlagak jadi malaikat sendirian, kalo tempat lo masih di bumi..." Arman memasukan kembali surat itu ke amplopnya dan menyerahkannya kembali ke Dirga.
"Tetap semangat yah kakaaaa..." ejek Arman sambil duduk kembali dan menyesap kopinya.
Kekehannya diiringi dengan geraman Dirga yang langsung keluar dari sana dengan langkah menghentak-hentak.
"Pak... itu siapa? Kelihatannya dia akrab sama bapak?" tanya salah satu anak buah Dirga saat mereka di mobil.
"Namanya Arman." desis Dirga.
"Arman..." anak buahnya memicingkan mata. Kelihatannya dia sedang mencari database di otaknya. "Ngga pernah dengar sih..."
"Kalau Ares Manfred, pernah dengar?" Tanya Dirga.
"Ares Manfred yang pernah dipecat dari kesatuan. Jabatan terakhirnya Brigjen. Kalau ngga salah dia sniper terhebat di negara ini dan prestasi terakhir menangkap gembong narkoba di Lampung, dia lawan 20 orang sendirian..." kata salah satu anak buahnya.
Lalu ditimpali oleh anak buah yang lain.
"Ada gosip kalau sebenarnya gembong itu adalah dia sendiri. Latar belakangnya lumayan serem. Bapak kandungnya pengkhianat korea utara lari ke Kroasia lalu ketemu ibunya yang kerja di bar striptease, pas dia bayi, orang tuanya dibunuh sama intel dan dia diadopsi pasangan indonesia, keduanya cucu anggota PKI."
"Orang tuanya bukannya akhirnya dipenjara?"
"Dihukum mati, gosipnya... Lalu kalau ngga salah, habis itu Ares diasuh sama Baskara Beaufort..."
"Haduh udah tingkat tinggi itu sih. Baskara Beaufort kan maenannya Triad."
"Iya, banyak anak asuhnya yang mantan geng dan berhubungan sama sindikat dari negara konflik."
Dirga hanya mendengar pembicaraan para anak buahnya. Lalu menghela napas.
"Pak Dirga... Apa hubungannya Ares Manfred sama Pak Arman yang tad..." anak buahnya menghentikan kalimatnya, karena menyadari sesuatu.
"Anu..." bibirnya mulai gemetar.
"Ares Manfred... Ar... Man..." sambungnya tergagap.
"Ya Tuhan..." gumamnya gemetar.
"Pak Dirga..." ujar salah seorang lagi, "Kita ini sedang berhadapan dengan..."
"Manusia setengah Iblis..." desis Dirga. "Kita sedang berhadapan dengan orang-orang yang kemampuannya di atas kita. Jadi seperti kata Pak Arman tadi, ikuti saja alurnya... Kalau dari kasus ini, sok jadi pahlawan malah merugi nanti."
*****
Sebastian duduk di kursi kerja Komjen Pol di Kantor Pusat BNN sambil menghisap cerutu Havananya dan mengetuk-ngetuk meja.
Dia merasa galau.
Memikirkan...
Milady.
Pastinya.
Pak Komjen Pol sedang menyesap kopinya sambil menghadap ke luar jendela ruangannya, menatap taman di depannya.
"Gimana main-mainnya? Kapan selesainya?" tanya Pak Komjen Pol.
"Hm..." dengus Sebastian.
"Lo tau kan kalo lo mau mancing tikus keluar harus taruh ikan asin di dalam perangkap?!" sahut Komjen Pol.
"Kurang asin apa?"
Pak Komjen Pol terkekeh. "Saking asinnya jadi baunya busuk!"
"Tetap saja sesuai rencana yah Wan. Awas lo melenceng-melenceng..." ancam Sebastian.
"Rencana lo bikin rugi gue...."
"Rugi apa lo? Anak buah lo dibayar bulanan, daripada ngopi-ngopi di kantor mendingan mata-matain gue. Gue aman, hemat pula biaya bodyguard. Ngga tiap saat gue bisa begini..."
"Gue kan harus bayar lembur, gimana sih lo, dipikir minta anggaran gampang..." Omel Pak Komjen Pol.
"Lo kan baru diangkat... Rugi biaya promosi dikit lah..." sahut Sebastian sambil beranjak.
"Mau sekarang nih interogasinya? Darting lo ngga kumat lagi nanti? 25 pertanyaan loh..." ejek Pak Komjen Pol.
"Nanti jawaban gue bisa bikin lo anemia. Tungguin aja hasilnya, Hehe..." Sebastian melambaikan tangannya sambil berlalu dari sana.