
"Pak Sebastian, jangan lupa meeting treasury dengan Pak James, 10 menit lagi. Saya mungkin di lapangan sampai malam." terdengar suara Arman dari interkom. Kelihatannya pria itu mengabarkan Sebastian sambil bersiap-siap melakukan pengamanan untuk memindahkan Ayumi ke 'safe house'...
Yang mana adalah apartemen Arman.
Masalahnya sekarang, lokasi hotel Ayumi sudah diketahui oleh preman bayaran Hari Fadil.
"Oke, sampai di sini dulu pertemuan keluarga kita." desis Sebastian.
Dimas dan Bram menghela napas lega. Ipang masih dengan tampang cemberutnya, Trevor mempersilahkan Mitha untuk berjalan lebih dulu.
"Anuuu... Mbak Mitha." Meilinda mensejajari langkah Mitha.
"Ya Buuu?" sapa Mitha ceria.
"Kalau besok ke Rusia, anak-anak sama siapa?"
"Lah itu... sepertinya saya mau titipkan ke Mbak Maya, soalnya dia kan ada orang tua yang bisa bantu urus anak."
"Bagaimana kalau di rumah saya saja? Kami punya banyak pelayan..." tawar Meilinda.
"Kamu serius Yang?" tanya Dimas.
Meilinda mengangguk. "Aku suka anak-anak."
Dimas langsung otomatis mengelus dadanya. Sepertinya dia terharu.
"Loh Ya Saya terbantu sekali ini! Gimana Mas Trevor? Eh Loh..."
"Ha?" gumam Trevor.
"Sori... keceplosan." Mitha berdehem sambil menutup mulutnya.
"Ya... terserah Mbak Mitha saja. Kayaknya Raka akan sangat dimanja sih sama tantenya..." kekeh Trevor.
Tantenya...
Hm...
Berikutnya hanya ada awkward moment.
"Kita... sama-sama ke Baby Day Care dulu yuk Bu Meli, jemput Raka... Duh...malu banget aku..." ujar Mitha sambil mempercepat langkahnya.
Meilinda mengikuti Mitha sambil tersenyum simpul ke arah Trevor.
"Gue foto dikit lagi di Mobil emas. Yok Pang!!" ajak Dimas.
"Ogah, gue udah badmood..." gumam Ipang sambil berjalan dengan lesu.
"Ceile maklumin aja kali, yang penting ada bahan buat yutub lo!"
"Lagi libur posting sampe nilai gue naik lagi... Eh..." Ipang langsung diam.
Lalu melirik Milady.
"Apa?" tanya Milady.
"Ngga jadi..."
"Ipang... Nilai kamu turun?!"
"Nggaaaaa... Aku jaga konter dulu." Ipang berniat kabur.
"Ipang... Kamu serius? Jadi kamu magang gara-gara nilai kamu turun?!" Milady menghampiri adiknya.
"Duh Kaaak aku bosen diomelin mulu, seharusnya aku yang ngomel sama kakak!"
Ipang sembunyi di balik mobil emas.
Lalu dia tiba-tiba menegakkan tubuhnya lagi. Dan malah menghampiri Milady.
"Apa sih?!" Milady risih karena adiknya bergelayut di lengannya.
"Aku lihat lampu merah di mesin bawahnya. Ada detektor..." pandangan Ipang lurus ke mobil emas sambil menarik kakaknya menjauh.
"Hah?!"
"Sumpah perasaanku ngga enak..."
"Kamu kebanyakan nonton film action!" Milady menunjuk dahi adiknya.
"Oh...memang ada b*om di mobil itu..." sahut Sebastian santai.
Hening...
Alam semesta berhenti beroperasi sejenak.
"Ada B*om?!?" semua menjauh.
Sebastian mengangguk sambil menghampiri mobil emasnya dan mengetuk kapnya.
"Iya, ada di dalam sini. Kalau terjadi masalah, tinggal pencet detonator dari ruang rahasia, dan ruangan ini meledak. Semua bukti hilang..."
"Hah? Bukti apa...?" Desis Dimas.
"Macam-macam. Nanti juga kamu tahu. Ruangan saya tidak bisa dimasuki sembarang orang..." Sebastian menyeringai.
Semua terperangah.
Terutama Milady.
"Okeee... Saatnya baliiik..." sahut Dimas sambil buru-buru keluar ruangan, diikuti yang lain.
"Kamu tunggu kakak di konter sekretaris, awas jangan kabur..." desis Milady ke Ipang.
"Hih..." gumam Ipang sambil keluar ruangan.
*****
"Mas..." Dimas tertegun menatap lantai lift yang membawa mereka turun ke Lobi gedung. "Aku bego ngga sih?"
Bram, yang berdiri di sebelahnya, menoleh ke arah adiknya yang tumben-tumbenan merasa galau.
"Enggak kok, ngga bego." Sahut Bram. "Cuma sinting aja."
Dimas menghela napas.
"Tapi... Kalo waras ya bukan kamu, Le..." Sambung Bram.
Berikutnya mereka berdua terkekeh.
"Mas akan selalu ada di sebelahku kan?"
"Ora sudi..." Gumam Bram.
Terdengar decakan Dimas.
"Aku maunya di belakang kamu aja. Kalau ada ombak, kamu kena duluan. Tinggal aku tarik saja biar ngga kebawa arus..."
Dimas menghela napas lega.
Lalu terkekeh sambil menyenggol Masnya itu dengan sikunya.
Bram juga melakukan hal yang sama.
"Ngomong-ngomong itu apa?" Tanya Dimas sambil melihat dua buah tas yang diletakkan Bram di lantai.
"Oh... Ini..." Bram meraih salah satu tas dan mengambil kotak besar di dalamnya. Isinya tuxedo.
"Widih... Prada?" Tanya Dimas.
"Ini buat kamu dari Pak Sebastian. katanya untuk dipakai pas akad nikah..."
"Aku cek di websitenya sih... Harganya... USD11.000..." Kata Bram sambil memperlihatkan layar ponselnya ke Dimas.
"Ngaco... Bisa kasih nasi uduk ke berapa kelurahan tuh?" Sahut Dimas.
"Kata Milady, kamu sempat mau dikasih yang Diamond Edition, tapi nanti kesannya kayak nyindir angka statistik kemiskinan negara..." Kata Bram.
Dimas mencibir ke arah Bram yang sedang menyeringai.
"Kalau kamu dikasih apa mas?"
"Aku dapet Armani..."
"Kita sekalian aja peragaan busana, gimana?"
"Ck... Berdua ini... Dikasih begituan aja heboh. Itu kan merk baju kerja gue sehari-hari..." Terdengar suara Trevor dari depan mereka.
Dimas dan Bram menoleh ke Trevor dengan wajah nyinyir.
"Duuuh maaf yah, di sini setiap hari pakai buatan distro online shop..." Dimas bersuara ala "emak-emak nyinyir".
"Iya, situ ngga segolongan... Hush hush..." Bram mengibaskan tangannya.
Trevor masih kesal karena dia ke Rusia tidak berdua saja dengan Mitha, tapi Bram juga harus ikut.
"Lagian ngapain sih lo harus ikut gue, ngga ada kerjaan lain di properti, apa?!"
"Loooohhh... Itu tugas negara looooh. Diriku ini mengemban tugas suci... Menghalangi setan lewat!" Sahut Bram.
Disambut Dimas yang langsung terbahak.
"Siapapun tahu, laki-laki dan perempuan berduaan saja, tengah-tengahnya setan." Sambung Bram.
"Iya, lo nemenin setan... Tinggal gue ama Mitha aja kulineran..."
"Ya amplop, romantis bener kulineran di Rusia, makan es serut pake sambel? salju semua di sono...." Ejek Dimas.
"Lah iyo, belom harus nanganin demo hahahaha!!"
Lalu kedua kembali membahas tuxedo mahal dan mengacuhkan Trevor.
Trevor menghela napas sambil menyandarkan kepalanya di dinding lift yang dingin.
Dalam benaknya terbayang wajah sumringah Mitha sekaligus raut wajah Ayumi yang acapkali tersenyum ceria padanya.
Ia belum mengucapkan kalimat perpisahan apapun saat hubungan mereka berakhir... Trevor reflek memblokir nomor Ayumi dan mengacuhkan semua email darinya.
Kenapa ia melakukan hal itu...?
Apakah ia masih berharap pada Ayumi? Bahwa semua itu hanya halusinasinya?
Kenapa ia langsung lari?
Sepengecut itukah ia?
Pada akhirnya, saat ia membebaskan blokirnya karena menyesali refleknya, Ayumi sudah tidak bisa lagi dihubungi.
Dan kini tahu-tahu wanita itu muncul di sini...
10 tahun hubungan mereka...
Apakah hanya begini akhirnya?
Tapi pikirannya langsung teralihkan saat Dimas dan Bram sekali lagi kompak untuk...
"Sejak jumpa kita pertama, Ku langsung jatuh Cinta...Walau Ku tahu Kau ada Pemiliknya..." Dimas extra seriosa.
"Tapi Ku tak dapat membohongi hati nurani, Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini..." Bram ngga kalah 'NgeBass'.
Maka izinkanlah aku mencintaimu
Atau bolehkanlah Ku sekedar sayang padamu.
Maka maafkan jika aku mencintaimu
Atau biarkanku mengharap Kau sayang padaku.
(Lagu "Kala Cinta Menggoda", ciptaan Guruh Soekarnoputra, dipopulerkan oleh Chrisye 1997, dinyanyikan ulang oleh Noah 2020)
"Terserahlah..." Gumam Trevor.
*****
"Sebastiaaaannn..." desis Milady menahan gemas.
"Apa?" gumam Sebastian sambil menarik pinggang Milady supaya mendekat padanya.
"Tadi itu kita bercinta di atas B*om!" sahut wanita itu dengan mimik tak percaya.
"Detonatornya kan belum diaktifkan..."
"Ya tapi kan itu B*om!"
"Gimana? Menegangkan kan?" kekeh Sebastian. Tangannya menyelusup ke tunik Milady.
"Ih! Kamu nih..."
"Sst... Waktuku cuma 5 menit nih... Habis itu meeting sampai malam." kata Sebastian sambil mencium lembut bibir tebal Milady.
"Hmh... Mau... Dimasakin apa nanti malam?" tanya Milady di sela-sela ciuman mereka.
"Apa ya... Terserah kamu aja."
Ciuman Sebastian di leher Milady.
"Kamu mau yang manis atau gurih?"
Ciuman Sebastian di dada Milady.
"Manis dan gurih..."
"Eh... Masakan apa itu...?"
Ciuman Sebastian kembali ke bibirnya.
"Kamu."
Milady langsung terbahak.
"Bisa aja kamu, joke bapak-bapak..."
"Mulai sekarang panggil Mas Yan, yah..."
"Oke... Mas.Y.A.N..." Milady menggulung janggut putih Sebastian di telunjuknya, sambil mengerling menggoda.
"Kamu mau dipanggil apa?"
"Hm... I'm your Lady, so just call me Lady..."
"Hehe..." Sebastian menjauh, dan meraih jemari Milady. Lalu mengecupnya.
"My Lady..." desisnya.
"Mas Yan..." balas Milady. "Aku ngga mau lagi berbuat di atas mobil emas kamu... Bagasi isinya senjata, kap mobil isinya b*om... Belum bagian yang lain jangan-jangan isinya biohazard "
"Loh... seru kan?"
"Nyebelin kamu..." Milady mencubit pinggang Sebastian dengan lembut. Lalu mereka kembali berciuman sampai James menelpon Sebastian 5 menit setelahnya.
*****