Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Si Antagonis Yang Manis



Ayumi Sakurazaka.


Wanita Jepang kelahiran Tokyo dengan paras manis dan senyum lembut.


Tahun ini usianya 33 tahun, Usia matang yang seharusnya, seperti impiannya, memakai celemek masak sambil memastikan anak-anak dan suaminya cukup gizi, merasa hidup ini sederhana sambil melihat tawa keluarganya.


Sambil meringis kesakitan, ia mencelupkan tubuhnya di bathtub.


Lalu ia tidak dapat lagi menahan keluhannya. Giginya bergemeretak menahan sakit dan isakannya mulai terbit.


"Okasan...totemo Itai..." (Ibu, sakit sekali) isaknya sambil mengerucutkan tubuhnya.


Perih di sekujur tubuhnya. Seharusnya hanya di punggungnya namun guratan bekas cambuk yang berdarah mulai menyentuh sel saraf sensoriknya sehingga otaknya langsung merespon rasa perih yang amat sangat.


Bathtub yang berisi air dingin mulai berubah warna menjadi pink.


darahnya meleleh, tercampur air.


Dokter pribadi keluarga Bataragunadi menyarankan agar lukanya tidak boleh terkena air.


Tapi sudah berhari-hari Ayumi tidak mandi.


Jadi Ayumi mengisinya dengan air dingin dan beberapa es batu, sekedar membersihkan tubuhnya sambil mengompres lukanya.


Apa yang ia lakukan di sini...


Pikirnya sambil membasuh perlahan lipatan-lipatan tubuhnya dengan pelan, takut terkena luka.


Apa yang aku lakukan 5 tahun ini?


Atau sudah lebih lama dari itu?


Dendam tak berkesudahan...


Siapa yang tidak mencintai orang tua sendiri? Seburuk apa pun mereka.


Baiklah, Orang Tua Ayumi tidak dapat disebut orang tua yang memberi contoh baik.


Namun...


Walaupun sering berada dalam pengaruh obat bius, atau alkohol, Ibunya selalu menyajikan masakan lezat, kehangatan keluarga, memeluknya saat sedih atau pusing dengan tugas kuliah, mengajarinya cara bersikap lembut.


Walaupun ayahnya pengedar narkotika dan teman-temannya Yakuza semua, dia selalu memeluk Ayumi saat pulang dari kerja, memberi Ayumi barang-barang bermutu tinggi, melindungi mereka...


Ayumi tahu, orang tuanya mencintainya, seperti Ayumi mencintai mereka.


Mereka hanya... tersesat. Tidak bisa lepas...


Apakah Ayumi sadar saat memberikan obat baru ke Trevor?


Sebenarnya, Ya.


Ayumi sadar kalau itu bukan obat Antidepresan jenis baru.


Ayumi tahu ayahnya berbohong padanya.


Namun,


Kalau dengan ini ayahnya bisa selamat dari tekanan Yakuza, di lain pihak Trevor adalah bahan percobaan yang paling pas, mungkin saja obat itu adalah jalan keluar bagi semuanya.


Seperti Ganja untuk meredakan penyakit ayan dan alzheimer


Segala macam pengobatan yang dunia sangkal, yang dibubuhi kata konspirasi. Sebenarnya hanya berfungsi sebagai penenang, namun efeknya bisa menggerogoti tubuh kalau dosisnya sedikit lebih tinggi.


Apa ada manusia mudah merasa puas?


Diberi anjuran : minum saat dibutuhkan, namun akhirnya nyatanya ia butuh setiap detiknya, akhirnya ketergantungan.


Tapi penyakit Trevor kan sudah parah. Seharusnya obat penenang macam morfin bisa jadi jalan keluar untuk menenangkan dirinya.


Kenapa sih, Trevor harus sakau saat itu.


Apa pria itu mengkonsumsinya secara berlebihan?


Atau memang dosisnya sangat tinggi...


Lalu Ayumi menyadari satu hal...


Baru saja ia menyadarinya saat ini.


Apakah itu benar obat yang sering dikonsumsi Ayahnya?


Atau Ayahnya mengganti chasingnya, dan obat di dalamnya benar-benar baru, yang bahkan beliau sendiri tidak berani mencobanya?


Atau memang...


Mereka memang mengincar Sebastian lewat Trevor?


Yang mana pun... tidak seharusnya Ayumi ada di sini...


Saat ia berada dalam kesakitan dan kekuatiran, diikat dan dimasukan ke ruangan tanpa jendela dengan pakaian compang-camping bekas dicambuk.


Ia hanya berharap ada satu saja orang baik di sana yang menolongnya.


Entah bagaimana...


yang teringat malah senyum Milady dan Jus Alpukatnya.


Ayumi memang senang saat dengan mudahnya Milady memberikan perhatian padanya seakan ia benar-benar hamil. Hamil adalah salah satu cara agar Sebastian memperbolehkannya mendekat lewat Trevor. Ayumi mempelajari banyak acara mengenai kehamilan lewat internet, durasi saat merasa mual, makanan apa saja yang kira-kira ibu hamil merasa pantang dan anti dengan baunya.


Ia terbiasa akting menyenangkan saat bertemu Yamaguci... atau Trevor.


Pura-pura senang padahal sangat membenci.


Dulu ia dan Trevor pernah saling mencintai.


Sampai Ayumi belajar siang-malam untuk dapat berbicara Bahasa demi Trevor.


Tapi nyatanya Ayumi lebih mencintai orang tuanya...


Dan kenapa masakan Milady sangat enak? Padahal ia sudah ragu dengan rasanya karena tidak menggunakan sake dan mirin.


bahkan lebih enak dari buatan ibunya...


Apakah... kalau ibunya tidak memasak sambil mengkonsumsi obat, rasanya akan sama seperti buatan Milady?


Mungkin saja...


Yang jelas Milady yang datang karena perhatian padanya saat itu, meninggalkan kesan tersendiri bagi Ayumi...


Karena itu, ia di sini sekarang.


Tubuhnya reflek merespon untuk mengikuti instingnya.


Saat ada kesempatan, ia kabur, mencari tas yang berisi paspornya, ganti baju seadanya, dan bermalam di imigrasi... menunggu jam keberangkatan ke Indonesia sambil menahan sakit seharian di bandara.


Ah,


Chip itu...


Yang dicari Yamaguci...


Ayumi membuka Band Aid yang tertempel kuat di bagian dalam pahanya. Di dalam Band Aid ada plastik kecil berisi lempengan tembaga.


Data pemasok Narkoba di Pemerintahan Jepang dan Indonesia.


Di antaranya ada nama Ayahnya dan Hari Fadil.


Lalu beberapa nama lain yang tersebar di banyak departemen.


Yamaguci yang sudah uzur dan ingatannya mulai terkikis, akhirnya membuat daftar, dan akan mewariskan ini kepada penerusnya untuk metode hutang budi ala Yakuza.


Itu berarti akan ada lebih banyak antek Yakuza yang menjabat di Parlemen.


Gara-gara ini...


Entah berapa lama Ayumi akan menyimpannya.


Yang jelas saat ini ia tidak merasa kalau waktunya tepat...


Tidak ada yang Dia percaya di sini.


Terutama...


Siapa kemarin, namanya...?


Atasan Eiichi yang sorot matanya dingin, tidak berbeda dengan Yamaguci.


Namun dibalut dengan topeng selembut malaikat.


Ayumi tersentak saat mendengar bunyi ribut-ribut di luar kamar mandi.


"Nona Sakurazaka..." Arman membuka pintu kamar mandi yang memang lubang kuncinya sudah di akali agar tidak bisa dikunci dari dalam.


Semua dibutuhkan agar Ayumi tidak melarikan diri.


Ayumi menghela napas kesal.


Ia dalam posisi sedang mandi.


Dan telanjang.


Pria ini memang pernah melihat seluruh tubuhnya saat Ayumi memperlihatkan bukti kalau ia tidak mengada-ada dengan pernyataannya.


Tapi waktu itu, dan saat ini, berbeda.


Apakah pria di depannya ini merasa karena ia butuh perlindungan jadi bisa diperlakukan tidak manusiawi seperti sekarang?


"Pak, Saya sedang mandi." desis Ayumi kesal.


"Saya perlu melihat Anda dengan kepala dan mata saya sendiri bahwa Anda ada di depan saya. Mohon maaf, tapi setiap tindak tanduk Anda akan dianggap mencurigakan karena mengancam keselamatan atasan kami."


"Jadi sebenarnya fungsi kamu itu apa? Melindungi saya atau menyelamatkan atasan kamu?"


"Terus terang, kami terjepit di antaranya. Jadi mohon kerjasamanya."


"Lagipula saya tidak bisa kemana-mana lagi kok. Saya kembali ke Jepang, saya mati. Lebih baik di sini walaupun dilecehkan..." sungut Ayumi.


"Hooo..." desis Arman. "Jadi... Ini yah diri Anda yang sebenarnya. Sudah tidak lembut sok manis lagi..." Arman berdiri bersandar di pintu kamar mandi sambil tersenyum sinis.


"Untuk apa saya berpura-pura di depan kamu..." gumam Ayumi.


Tampaknya wanita ini sudah pusing dengan semuanya.


"Anda, Saya beri waktu untuk beres-beres 3 menit. Preman Hari Fadil sudah ada di sekitar sini. Penembak jitu sudah di lokasi..."


"Puriman?" kosakata baru untuk Ayumi.


"Preman...Gangster."


"Oh, Astaga..." Ayumi langsung beranjak dari bathtub.


Namun saat ia akan keluar, perih di tubuhnya langsung terasa membakar.


"Aarghh !!" Ayumi berlutut di lantai sambil menahan sakit.


Arman menyambar handuk dan menutupi tubuh Ayumi. Tapi saat pria itu ingin membantunya berdiri, Ayumi langsung berteriak kesakitan.


Darah membasahi handuk dan tangan Arman.


"Bukankah Dokter Arjuna sudah bilang untuk menghindari air?"


"Saya belum mandi berhari-hari..."


"Ck..." decak Arman kesal.


Mereka diburu waktu.


"Target terlihat." terdengar suara Moses dari alat penghubung di telinganya.


"Mereka di sekitar sini. Di mana barang-barang Anda?" tanya Arman ke Ayumi.


"Hanya... Tas itu." darah mulai menetes dari handuk.


"Ganti handuk Anda." Arman menuju jendela dan menutup tirainya. Lalu berjaga di posisi. "Pakai kimono handuk di lemari. Manja-manjanya nanti saja di safe house."


Arman berlutut memeriksa kualitas senapannya.


Ayumi susah payah bangkit dan memakai pakaian sambil mendesis kesakitan.


"Hoi, usahakan jangan ada yang mati, atau polisi akan mengusut semua." sahut Arman ke seluruh timnya.


"Siaplah bro..." suara Pak Kardi.


"Disekitaran ramai, Bro. Mereka berbaur..." suara Moses.


"Masih bisa ngebedain ngga?" tanya Arman.


"Bisa, pilih yang tampangnya kayak ta*k" jawab Moses


Arman terkekeh.


"Ngaco, lu..." sahutnya. "Gue serius nih, lo bisa ngebedain ngga?!"


"Bisa... Lo kasih aba-aba aja Pak." desis Moses.


"Jangan meleset yah bro, bisa-bisa kita dikira lagi syuting film..." sahut Arman.


"Cepetan selesaikan, Lah... Saya mau Rapat di Kelurahan nih. Pak Dewan Kota mau dateng." sahut Pak Kardi.


"Pengadaan lampu komplek yang kemaren belum selesai juga?!" Ujar Arman.


"Tauk nih kerjanya apa sih pemerintah, birokrasi mulu..."


"Bapak beli aja sendiri, biar cepet..." sahut Moses.


"Lah kalau Saya beli sendiri, apa fungsinya Dewan Kota?! Lagipula manjain orang komplek macam buah simalakama, bisa-bisa saya dipertahankan jadi Ketua RT selama empat periode lagi... Bosan saya jadi Pak RT terus..."


"Curcol bo..."


"Sori gengs, motong. Arah jam 2 satu orang." suara Eiichi beraksen Jepang.


"Iya gue lihat." desis Arman.


"Kasih contoh boleh Pak." Sahut Eiichi ke Arman. " Newbie nih saya."


"Noob..." ujar Moses.


"Ini bukan Apex Legend..." desis Arman sambil bersiap membidik. (Apex Legend adalah game online yang sedang booming saat ini, kata 'Noob' sering digunakan untuk mengejek pemain baru di game ini)


"Semua siap di lokasi yah, tembakan pertama, langsung pengamanan. Absen..."


"Mobil, siap basement." desis Pak Kardi.


"Pengawal 1 siap tangga darurat lantai 10." desis Moses.


"Pengawal 2 siap tangga darurat lantai 5" terdengar suara Eiichi yang malas.


"Yazaki-San, jangan baper." desis Arman.


"Masa lalu. Ngga usah diungkit, Pak." balas Eiichi.


"Oke. Hitungan ke tiga." Arman menjilat laras Articnya dengan semangat, lalu memicingkan mata lewat riflescopenya. Ia bisa melihat lima orang dari jarak beberapa puluh meter.


"Tembakan peringatan."


Satu orang jatuh kena kaki.


Satu orang tersungkur kena bahu.


Beberapa lainnya terkaget melihat temannya tak berdaya dan mulai mencari- cari arah tembakan.


Satu lagi kena pinggul.


"Ada request mau kena apanya untuk yang dua orang?" tanya Arman.


"Kena jempolnya bisa pak?"


Satu orang terkena di bagian ujung kaki.


"Gilak... Tepat banget..." desis Moses salut.


"Yang itu kena Falconnya bisa ngga?"


"Hah? Falcon?"


"Coba pake logat Jawa Barat."


"Oh...hehe... Bisa ngga reproduksi seumur hidup dia. Jangan ah..." desis Arman.


"Ayolah Boss, buat kami seneng..."


Dzingg!!


"Done. Kalian tanggung jawab ya." sahut Arman sambil mengambil tas Ayumi membopong wanita itu keluar.


Peralatannya akan dibereskan anak buahnya, tugas utamanya adalah membawa pergi Ayumi secepat kilat.