Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
We Are Family (4)



"Sebenarnya bukan maksud saya untuk ikut campur dalam percintaan Trevor..., kalau Tadashi tidak meninggal di penjara, hubungan kamu dan Trevor tetap saja saya restui,. Kalian sudah bertahan cukup lama dalam hubungan itu. Saya memang tidak percaya saat kamu bilang kamu tidak tahu obat yang kamu berikan ke Trevor adalah Narkotika... Namun bagaimanapun... Sebenarnya kamu tidak terlibat apa pun saat itu." Sebastian menoleh ke arah Ayumi. "Benar begitu?"


Ayumi menatap Sebastian dengan nanar.


"Sampai saat itu saya masih mencintai Mika. Tidak mungkin saya sengaja memberikannya... Saya tidak tahu tujuan Otousan memberikan narkotika ke Mikaeru. Tapi yang jelas, obat itu berasal dari Yamaguci-Dono." Kata Ayumi.


Pandangan wanita itu menyiratkan kekesalan.


Juga penyesalan...


"Asse... Ah, Ayumi..." Kata Sebastian sambil menghentikan langkahnya dan berdiri menghadap Ayumi. "Saya sangat berterima kasih atas upaya kamu dalam menyelamatkan Milady. Saya tahu menahan sakit seperti itu pasti tidak mudah."


Ayumi menunduk.


Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia sampai susah payah seperti ini.


Semua terjadi secara otomatis...


"Rady-san... Mengingatkan saya ke Okaasan. Lembut dan baik hati, tidak pamrih. Saya memang melakukan itu untuk tujuan keselamatan diri saya sendiri, namun... sebenarnya, dia satu-satunya teman yang saya miliki." kata Ayumi.


Sebastian tersenyum tipis.


Iya, begitulah Milady...


Istrinya itu memikat semuanya dengan senyumnya, dan tingkah lakunya yang bersahabat.


Tanpa Sebastian sadari, dari awal... Senyuman Milady-lah yang selalu ada di benaknya, terlepas dari jenis senyumannya apakah palsu atau tulus, semua sama menawannya.


"Juga... Terima kasih atas daftar yang kamu berikan. Ini belum pasti, tapi saya beritahukan saja sejak awal... Kamu sepertinya harus bersiap-siap kembali ke Jepang."


"Anda mengusir saya?"


"Bukan, jangan berprasangka buruk... Kemungkinan akan ada pihak intelijen yang mencari daftar itu juga. Mungkin orang dari pemerintah negara kamu, atau pihak lain. Saat ini status kamu kemungkinan sudah berubah menjadi 'orang dalam perlindungan'... Kalau kami menghalangi proses pencarian kamu, bisa terjadi konflik antar negara. Jadi menurut saya, kamu harus bersiap-siap dari sekarang..."


"Saya tidak mengerti."


"Kamu akan mengerti dalam waktu dekat. Percaya saja..." Sebastian tersenyum penuh arti.


"Saya sudah mendengar dari Otousan bahwa Anda orang yang... Sulit ditebak. Ternyata saya mengalaminya sendiri." Sahut Ayumi.


Sebastian terkekeh.


"Semua yang saya lakukan ada tujuannya. Sifat saya yang seperti itu mungkin karena banyaknya informasi yang saya tahu... Terkadang saya lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu daripada capek sendiri. Termasuk terhadap daftar kamu itu. Tapi yah bagaimana... Akhirnya saya lihat juga daftarnya."


"Itu bagaikan kotak Pandora."


"Hm... Betul. Terima saja takdirnya... Mungkin Yang Kuasa berpikir kita masih sanggup menerima ujianNya..."


Ayumi menghela napas sambil kembali melangkah mensejajari Sebastian.


"Anuu... Saya mau bertanya sesuatu." Sahut Ayumi.


"Ya?"


"Setahu saya, Anda tidak suka kalau ada yang berjalan di depan Anda." Ayumi menatap dua pasangan penuh karisma di depan mereka, yang kini terlihat semakin mesra dengan tukar-tukaran rasa eskrim.


"Dua orang itu memang sudah kurang ajar dari dulu, sialnya saya malah kerepotan kalau mereka tidak ada..." Gerutu Sebastian.


Ayumi terkekeh.


*****


"Udah sini balikin istri saya!" Sebastian menarik pinggang Milady ke pelukannya.


"Mau mas? Enak loh..." Tawar Milady


"Gak... Bekas dia juga soalnya."


"Saya cuma jilat sedikit. Rasanya aneh... Selera Mbak Lady lumayan random..." Sahut Arman.


"Tetap saja sudah kamu jilat."


"Tapi enak juga ya jalan sama Mbak Lady, cewek-cewek jadi menjauh ngga ada yang berani ngeliatin saya hahahaha!"


"Mereka udah jiper duluan ngeliat Milady. Lagian dari pada ngebajak istri orang, sana kamu cari sendiri..." Sebastian mengibaskan tangan.


"Loh... Saya kan menjaga istri bapak, karena bapak duluan yang ngebajak istri saya, gimana sih..."


Semua diam.


"Salah ngomong kan saya." Desis Arman sambil langsung melayangkan pandangannya ke sudut lain.


Terlihat wajah Ayumi langsung memerah dan ia menunduk menatap aspal.


"Ya ampun... Ini akan jadi kisah cinta jarak jauh..." gumam Sebastian. "Saya ngga ikutan lah... Yuk Sayang."


"Eh? Mas? Maksudnya apa jarak jauh?"


"Ssshhh... Ayo kita jalan berdua aja. Biar mereka bisa ngobrol absurb..." kata Sebastian sambil menggiring Milady menjauh. "Jangan berantem." Desisnya lagi sambil menatap Arman dengan sinis.


Arman berdecak sambil menghela napas.


"Mau kemana lagi?" Tanya Arman ke Ayumi.


Wanita itu menarik napas sambil berpaling ke arah lain.


"Aku belum lihat baby zoo..." Katanya.


"Ya udah, Yuk..." Arman mengulurkan tangannya.


Ayumi menatap tangan besar yang terulur padanya dengan ragu.


Ia tak tahu harus apa.


Haruskah meraihnya? Tapi meraihnya di bagian mana? Pegang Pergelangan? Pegang Jari? Atau tepis saja tangannya?!


"Jangan kelamaan, nanti kesorean..." Arman menangkap tangan Ayumi dan menggandengnya.


Ne Kami-Sama...


Do shiyo, doshite kon'nani shinzo ga dokidoki suru no?


(Tuhanku...


Apa yang harus kulakukan sekarang, kenapa debaran jantungku begitu cepat)


"Tangan kamu kurus banget... Habis ini makan yang banyak ya." Desis Arman sambil menangkup tangan Ayumi, bukan sekedar menggandengnya lagi.


"Ngga usah nyuruh-nyuruh... Aku belum lapar..." Gerutu Ayumi. Lebih ke rasa ingin menutupi kalau ia sedang merasa malu.


Karena debarannya tiba-tiba tak terkendali, ia berusaha menarik tangannya.


Tangannya berhasil ditarik, tapi gantinya pinggangnya yang diraih Arman untuk mendekat.


"Kenapa ngga mau kugandeng?" Bisik Arman.


Kenapa si Ares Baka berbisik?!


Umpat Ayumi.


Dan mengapa dia mengumpat?


"Ngga usah pegang-pegang, komandan mesum..." dengus Ayumi.


"Ngga ada angin ngga ada hujan, nuduh aku mesum... Emang aku ngapain? Cuma gandeng kan wajar."


"Mungkin bagi kamu yang terbiasa interaksi intim dengan wanita, itu wajar. Bagiku tidak..." Sahut Ayumi.


"Aku tahu kamu yang sebenarnya, laporan kamu mondar mandir dari satu club ke club yang lain sudah pernah kubaca, bukan hanya Yazaki yang dekat dengan kamu."


Arman diam.


Lalu melepas Ayumi sambil mengangkat tangannya.


"Oh. Type kamu yang seperti Yazaki..." Desis Arman dingin.


Sedingin cuaca di sini.


"Oke... Nikah aja sama dia. Ngga usah sama aku." sahut Arman.


"Dia udah punya istri. Mikir dong... Lagian... Begitu pedenya kamu, menganggapku juga suka sama kamu. Memangnya aku Janet?!" Tantang wanita itu.


Ayumi berjalan mendahului Arman ke arah Baby Zoo.


"Kenapa Janet lagi di bawa-bawa, masalah kamu apa sama dia?" Gerutu Arman sambil mengikuti Ayumi.


"Juga Yani, juga Reny, juga... entahlah ada berapa lagi... Ngga usah ngejek-ngejek aku, aku keluar masuk club karena stress ngga ada pelampiasan! Memangnya enak bertahun-tahun disuruh diam di dalam apartemen?!" Sungut Ayumi.


"Terus salahku dimana..." tanya Arman mulai kesal.


Ayumi diam.


Ia berjalan lebih jauh mendahului Arman.


"Hoi...!" Panggil Arman.


Ayumi berhenti dan menoleh memandang Arman.


"Begitu cara kamu manggil istri kamu? Hoi. Begitu?! Aku juga punya nama..." Lalu ia melanjutkan perjalanannya


Dan berhenti.


Lalu berpaling lagi.


"Aku juga ngga suka dipanggil Mbak Ayu. Bagiku, namaku pemberian orang tuaku, memiliki makna sendiri. Bukti kalau mereka menyayangiku, memberikan nama yang begitu indah. Tidak seperti kamu yang sudah diberi nama bagus-bagus, malah disingkat..." Sindir Ayumi.


Arman menghela napas.


"Nama Ares Manfred memiliki record kriminal. Sejak itu aku berhenti menggunakan nama itu."


"Kamu menyesal melakukan 'kejahatan' itu?"


"Hm... Tidak."


"Lalu? Buat apa disingkat?"


Arman terdiam.


Ia menyadari sesuatu...


Baru menyadarinya sekarang.


Sejak lama tidak ada penyesalan sudah membunuh Diptar Handal.


Lalu untuk apa dia berusaha lari dari masa lalunya?


"Sakurazaka-San..." Panggil Arman.


"Itu nama Kakekku." Seru Ayumi. Dia sudah berjarak 5 meter di depan.


Arman berdecak dan setengah berlari menyusul Ayumi.


"Iyaaa... Ayumi... Sayangku... Duh Abang nyerah deh, kamu ngambekan ternyata!" Keluh Arman.


Tampak wajah Ayumi memerah lagi.


Si Bakayarou ini... Kemampuan merayunya tingkat tinggi!


"Kalau tidak suka kamu bisa pergi. Kan di antara kita sudah tidak ada ikatan apapun..."


"Kenapa masih ngambek? Aku udah panggil nama kamu, extra sebutan sayang, loh!" Arman mulai afrika.


(Singkatan Afrika? cek episode sebelumnya, hehe)


"Aku ngga suka dipanggil dengan nama yang sama seperti selir-selir kamu."


"Selirku yang mana sih, Medusaaaaa... Semua udah kuputusin gara-gara kamu!" Geram Arman.


Ayumi mengangkat alisnya.


"Oh ya? Sudah diputusin? Terus kemarin wangi parfum itu kenapa?"


"Iya... Itu..." Arman mengeluh. "Mereka langsung 'menyerangku' saat melihatku. Di lift saat aku ke atas sama Pak Trevor. Dan tiba-tiba mulai mengejek kamu... Aku emosi... Ya kuputusin aja semuanya."


Lalu hening.


Ayumi memandangnya ragu. Antara tidak percaya tapi juga heran.


Arman memandang Ayumi dengan sendu, mencoba meyakinkan.


"Hm." Gumam Ayumi.


"Kenapa cuma 'hm' tanggapannya? Ngga percaya tanya aja sama Mikaeru kamu itu..."


"Hm... Jadi... Statusku apa sekarang?"


"Yaaa... Calon istriku. Kalau kamu mau... Aku sih ngga maksa..." Arman memalingkan wajah ke tempat lain.


"Kamu sendiri terpaksa ngga jadi suamiku? Mumpung belum didaftarin nih..."


"Kamu bukannya cari kewarganegaraan ya?"


"Kalau alasannya cuma itu, aku bisa usahakan tanpa harus menikah."


Arman menghela napas.


Iya, Ayumi benar.


"Kalau aku jadi istri kamu, kamu harus mencintaiku loh... Seumur hidup, pula. Kamu sanggup?!"


"Tadinya alasan aku mau menikahi kamu... Agar kamu bisa tetap di sini dan ngga dideportasi ke Jepang. Karena setelah aku mendapatkan daftar nama dari hansaplas kamu, kamu sudah dianggap tidak berguna lagi. Mereka bisa saja langsung memulangkan kamu ke Jepang, toh daftar sudah di dapatkan. tapi kalau kamu jadi istriku, tidak akan ada yang mengganggu kamu..."


Ayumi tertegun mendengarnya.


Ternyata... Selama ini Arman berusaha melindunginya?


"Kamu memperkosaku."


"Iya... Makanya. Aku merasa bertanggung jawab atas itu juga. Aku tidak pernah berlaku sekasar itu ke seorang wanita... Melihat kamu tidak berdaya gara-gara aku, jadinya..." Arman mengangkat bahunya. Tidak melanjutkan kalimatnya.


"Lalu, bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya terhadapku?" tanya Ayumi.


"Aku harus bilang apa lagi setelah semua tindakanku selama ini?"


"Bersikaplah dewasa Ares, wanita suka kejelasan. Ngga cukup dengan tindakan. Mau jungkir balik berdarah-darah melindungi aku, kalau kamu ngga jelas-jelas bilang 'aku cinta kamu' ya mana aku percaya?"


"Iyaaa... Aku cinta kamu." Sahut Arman cepat.


Lalu hening lagi.


"Melamar tuh jangan di tengah jalan dong. Gimana sih bikin malu aja..." Ayumi langsung beringsut melangkah mendahului Arman.


"Hoi gimana sih?! Aku udah menekan urat malu iniii!" Seru Arman dari kejauhan.


Ayumi tersenyum di balik jaketnya.


Semua menjadi terasa indah hari ini.