
"Mbak Lady, kamu dipanggil Pak Januar." Sahut operator saat sore itu Milady kembali ke kantor.
Milady meletakkan tasnya di kubikelnya sambil mengernyit.
Untuk apa Direktur Personalia setaraf Pak Januar memanggilnya?!
Sambil mengingat-ingat kesalahan yang ia sudah lakukan, Milady berjalan ke arah lift. Ruangan Direktur Personalia berbeda 1 lantai diatas ruangannya.
Suasana langsung hening saat Milady memasuki lantai 21. Beberapa meliriknya sambil menatap sinis, ada juga yang menunjuknya dengan dagu, atau dengan pandangan mereka.
Jelas, saat ini bukan saat yang tepat untuk menebarkan senyuman.
Mudah-mudahan pertemuannya dengan Pak Januar tidak lama karena Sebastian sedang menunggunya di mobil yang diparkir di depan Lobby.
"Tuh datang Si Princess..."
Milady bisa mendengar beberapa wanita berbisik tentangnya.
Ia tidak mengindahkannya.
Kalau kata para karyawan di lantai 20, lantai tempat Milady bekerja, semua di lantai 21 adalah biang gosip.
Mungkin karena lantai 21 lebih banyak karyawan wanita, dengan ritme pekerjaan yang tidak terlalu ketat sehingga mereka ada waktu untuk mengurusi orang lain.
Untuk lantai 20, lebih banyak karyawan laki-laki dengan ritme kerja yang lebih padat.
Milady mengetuk ruangan Direktur Personalia dan menunggu pemilik ruangan untuk menyuruhnya masuk.
"Ya..." terdengar suara pria dari dalam ruangan.
"Saya Milady, Pak..." sahut Milady.
"Masuk, Lady..."
Di ruangan Pak Januar sudah ada Wakil Direktur Utama, Kadiv Personalia, dan beberapa karyawan inti.
Dan raut wajah mereka... Seluruhnya tegang. Menatap Milady dengan sinis.
"Lady, silahkan duduk."
Milady duduk di kursi yang disediakan di tengah ruangan.
Ia merasa aneh.
Kenapa rasanya suasananya seperti sedang menginterogasi pesakitan?
"Langsung saja yah Lady..." Pak Januar angkat bicara. "Kami mendengar kabar tidak enak mengenai tindakan asusila di kantor. Keterlibatan antara kamu dan Pak Trevor."
Milady menghela napas.
"Asusila? Maksudnya asusila itu seperti apa pak?" Tanya Milady.
Sedikit banyak Milady sebenarnya sudah berjaga-jaga kalau hari seperti ini akan datang.
Banyak di antara para Direksi dan Komisaris yang tidak suka terhadap Trevor dan Bram, karena mereka diberi otorisasi setingkat Pejabat, padahal status mereka hanyalah Manager Operasional.
Terlepas dari Trevor adalah anak kandung owner, dimana kebanyakan orang merasa seharusnya Trevor saja yang menjabat sebagai Presdir sekalian, daripada diberi jabatan tanggung dengan kewenangan setingkat Direktur. Hal itu meninggalkan paradigma bahwa owner tidak sepenuhnya percaya dengan kinerja pejabat yang ia angkat sendiri.
"Banyak pihak yang bersaksi bahwa kalian melewati batas kesusilaan di jam kantor. Kami memang tidak bisa membuktikannya, namun ada banyak saksi yang bisa dimintai keterangan."
"...Coba jelaskan batas kesusilaan itu seperti apa tepatnya pak?" tanya Milady.
Pak Januar memandang Milady sinis.
"Lady, kamu tahu benar peraturan di perusahaan ini. Saat ada salah satu pihak menjalin hubungan dengan sesama karyawan, salah satunya harus resign atau bersedia di rumahkan... Seperti teman kamu, Selena."
"Memangnya Selena pindah karena itu pak?" pancing Milady. Ìa ingat bahwa hampir semua karyawan merasa senang karena Selena dimutasi ke Garnet Bank. Mereka menganggap Selena sebagai sosok angkuh dengan kinerja sempurna yang harus diwaspadai.
Namun yang Milady tidak suka, seakan-akan mereka menganggap penyebab kepindahan Selena adalah karena wanita itu berbuat masalah.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu. Banyak skandal yang terjadi di kehidupan Selena... Dan..."
"Saya rasa itu bukan urusan manajemen, bukan?"
"Perilakunya di luar dapat mencemarkan nama baik perusahaan."
"... Memangnya Selena berbuat apa pak? Skandal apa?" Potong Milady lagi.
Pak Januar menghela napas tidak sabar.
"Kembali ke kasus kamu, apakah kamu mengakui tindakan kamu di luar batas?"
"Tidak."
"Tidak?"
"Tidak... Lagipula saya tidak mengerti tindakan seperti apa yang bapak maksud..."
Milady mencoba menyangkal semuanya.
"Jangan sampai kami hadirkan banyak saksi, baru kamu mau mengaku. Saat itu kamu akan malu sendiri, dan kami akan kehilangan kepercayaan terhadap kamu."
"Dan tindakan asusila seperti apa itu, Pak?" Milady mengulangi pertanyaannya.
Semua orang di ruangan itu bergumam, memaki Milady dengan lirih.
Dan ponsel Milady berdering.
"Matikan hape kamu. Kamu tidak menghormati komite." sahut Pak Januar.
"Maaf, tidak bisa..."
"Apa..."
"Saya tidak bisa mengacuhkan panggilan yang ini..." sahut Milady cepat sambil mengangkat ponselnya ke atas. Semua bisa melihat nama Sebastian Bataragunadi di layarnya.
Dan keadaan langsung hening.
"Ya Pak." jawab Milady.
"Kamu di ruang HRD?!" tanya Sebastian.
"Hm... Betul Pak."
"Aku menuju kesana. Kamu lama soalnya..."
"Eh... Pak Sebastian mau kesini?" Milady memperbesar suaranya. "Perlu saya siapkan apa Pak?"
Orang-orang yang mendengar suara Milady langsung memekik panik.
"Diri kamu... Tanpa pakaian..." bisik Sebastian.
"Kenapa BigBoss tiba-tiba kesini?" tanya Pak Januar. Terlihat raut wajahnya berubah pucat.
Belum sempat Milady menjawab, pintu ruangan Pak Januar terbuka.
Cepat sekali dia datang... Cibir Milady dalam hati.
Jadi sepertinya dari tadi Sebastian menelponnya saat sudah hampir sampai ruangan Pak Januar.
"Januar... Kamu harus melatih karyawan kamu supaya setidaknya mereka mengenali siapa yang menggaji mereka, dong... Hampir saja saya diusir security di depan tadi." tembak Sebastian sambil berjalan santai sambil menghampiri Milady.
"Pa...Pak Sebastian! Selamat Sore Pak!!" seru Pak Januar sambil membungkuk menghormat.
Wakil Direktur dan para Kadiv juga menunduk menghormat.
"Hei, kamu... Sini kamu!" Sebastian melambai ke seseorang di luar ruangan Pak Januar. Tampak beberapa security masuk dengan gemetaran.
"Coba sebutkan, siapa yang tanggung jawab sampai kalian tidak kenal saya, hah? Yang ini bukan orangnya?!"
Sebastian menunjuk Pak Januar dengan wajah seakan bergurau, namun tidak ada yang menganggapnya lucu.
Para security hanya menunduk sambil curi-curi pandang ke Pak Januar.
"Saya tidak akan menyalahkan kalian yah, karena memang jarang ada yang tahu tampang saya... Tapi ternyata kalian tidak menerima pelatihan mengenai cara bersikap." sahut Sebastian sambil melipat kedua tangan di dada.
"Hm... Ada masalah apa pak?" tanya Milady.
*****
Sekitar setengah jam yang lalu...
Arran Ghanindra menenteng tumpukan bantex yaang menurutnya penting untuk dibahas di laporan anggaran biaya esok hari dengan setengah mengeluh. 5 bantex dan semuanya berat. Tahu begitu ia gunakan saja koper untuk membawanya, daripada menentengnya dengan tangan kosong...
Lalu melirik mobil mencolok yang diparkir di jajaran VVIP.
Maybach Exelero punya siapa...? Kenapa mobil yang sangat mahal begitu bisa ada si Indonesia? Dan... Di kantor Garnet Property pula.
Pasti pemiliknya bukan orang sembarangan...
Sayang sekali ia tidak bisa berlama-lama mengagumi keindahan dan ke-eksklusif-an mainan mewah itu karena harus menyelesaikan laporan proyek.
Pemasangan dumper ternyata membawa dampak signifikan terhadap bangunan mall, semua rencana acara bisa dilanjutkan dan ternyata pembangunannya memang membutuhkan banyak perhatian, sehingga perintah Pak Trevor untuk menghentikan semua proyek sangat tepat. Arran juga akhirnya tidak merasa terbebani dengan pekerjaan dan bisa fokus menyelesaikan masalah kemiringan gedung.
Namun sekarang muncul masalah baru...
Budget yang membengkak hampir 300kali lipat.
Dengan perasaan campur aduk mengenai rasa tanggung jawabnya, Arran berjalan ke arah lift dengan langkah tidak bersemangat.
Sambil menunggu lift turun ke area lobby, Arran berusaha menyeimbangkan posisi berdirinya yang gontai karena salah satu bantex mulai nakal ingin meloloskan diri dari tumpuannya lengannya.
Dan saat pria itu akhirnya pasrah membiarkan map itu hampir jatuh ke lantai, sepasang tangan menahan bantexnya.
Arran melirik ke sampingnya.
Dan jantungnya langsung bedebar kencang.
"Kamu itu bawa bantexnya salah, jangan asal tumpuk, sudah tahu bentuk mapnya miring..." sahut pria dengan rambut putih dan wajah tegas.
"Eh... Pak Sebastian?" Sekali saja Arran melihat sosoknya saat peletakan batu pertama Mall Coastview, ia akan mengingatnya seumur hidup. Karena memang sosok Sebastian sangat mencolok. Arran selama ini hanya bisa mengaguminya dari jauh.
Lagipula, Sebastian tidak pernah terlihat di Garnet Property dan ia selalu menghindari publikasi. Jadi melihatnya sekali saja dari jarak sejelas itu, sudah membuat Arran merasa beruntung.
Lift terbuka.
Sebastian mengambil dua tumpuk dari lima bantex yang ditenteng Arran dan mendahuluinya masuk ke lift.
"Lantai berapa?" tanya Sebastian.
"Eeeh... Eng... Lantai..." sekilas Arran merasa saking gugupnya dan kaget dengan tindakan Sebastian yang membantunya membawakan bantex, membuat ia lupa lantai yang ia tuju.
"15 bukan?" tebak Sebastian.
Arran terperangah. Kok bisa tahu? Pikirnya.
Diamnya Arran menjadi patokan Sebastian untuk beranggapan kalau tebakannya benar.
Mereka hanya diam di dalam lift, dengan Sebastian membolak balik bantex di tangannya.
Lalu pria itu terkekeh.
"Jadinya bengkak 280 persen hah? Seharusnya dari awal kontraktornya digantung...ngasih Feasibility Studies ngga akurat..." sindir Sebastian sambil menyeringai.
"Hm... Mbak Milady sebenarnya sudah memilih FS dari perusahaan rekanan Pak, yang biasa menghandle pekerjaan Garnet Hotel juga... Tapi dari bagian Personalia dan umum, Pak Januar ada rekanan baru..."
"Sudah kamu selidiki latar belakang rekanan barunya? Kamu supervisor proyek, kan?"
Arran membulatkan matanya.
"Kok bapak tahu?!"
"Saya melihat kamu waktu peletakan batu pertama coastview..." sahut Sebastian.
Arran merasa sangat terhormat karena diingat Sebastian. Padahal acara itu sudah berbulan-bulan lamanya dan dari sekian banyak orang, Sebastian bisa ingat dirinya.
Bagaikan menjawab pertanyaan Arran, Sebastian menimpali, "Saya selalu mengingat karyawan dengan tatapan seperti kamu. Pekerja keras dan berdedikasi. Ada obsesi untuk berhasil di mata kamu..."
Arran tersenyum karena terharu.
"Dan lantai 15 biasanya ruangan para pekerja proyek... Sumber keributan. Makanya dipisah dari bagian lain... Sudah sampai nih." sahut Sebastian sambil menahan pintu lift agar Arran bisa lewat. Lalu meletakkan Bantex yang ia pegang di atas tumpukan lainnya di lengan Arran, namun kali ini dengan lebih presisi.
"Terima kasih banyak pak." Arran menunduk menghormat. Dibalas dengan senyuman Sebastian yang melanjutkan perjalanan ke lantai 21.
Sekitar 15 menit setelahnya, Arran selesai menyortir laporan dan akan ia bawa ke ruangan Direktur Personalia dan Umum di lantai 21. Ia juga bersiap-siap untuk menghadapi sindiran keras mengenai budget yang membengkak.
Saat itulah di depan pintu lantai 21, ia melihat Sebastian dihadang security penjaga pintu.
Terlihat pria berambut putih itu hanya menyeringai saat beberapa security mengancamnya dengan tuduhan masuk tanpa izin.
Haduh, bisa mati mereka... Keluh Arran was-was.
"Bro..." Arran langsung menghampiri Security. Mereka melirik sekilas nametag yang tergantung di leher Arran. Sikap Security sedikit bersahabat kalau terhadap karyawan.
"Bapak ini ngga butuh izin untuk masuk, karena dia yang punya gedung." Kata Arran.
Sebastian menyeringai lebih lebar.
Para Security memucat...
"Kalian semua ikut saya masuk ruangan Januar, Oke?!" desis Sebastian sambil tersenyum licik.