Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
New Crib New Life



Susan masuk ke dalam Tesla yang diparkir tak jauh dari lokasinya tadi. Ia masih berusaha menguasai gemuruh dadanya.


Ya Ampun...


15 tahun ia menjadi agen, baru kali ini ada yang terang-terangan mengajaknya berpacaran? Seorang anak ingusan pula...


Anak ingusan yang... Tampan.


"He's so beautiful.." gumam Susan.


"What?" tanya suara rendah di sebelahnya.


"Eh.. Nevermind, Sir..." Susan berdehem.


"So, who is he?"


"Um... He is Milady's brother, Sir. Positively, appropriate to our early thoughts." Susan memeriksa ponselnya. Ada foto Ipang yang ditangkap secara diam-diam.


"Pangeran Adara. 20 y.o, students of AA University, and... A vlogger."


"Hm... Make sure he doesn't interfere our operations."


"Um... Yes, Sir..." Susan tertegun sambil memperbesar foto Ipang.


Senyum cowok itu... Mempesona.


Secara tidak sadar Susan menggigit bibirnya sendiri.


"Kamu sakit?" tanya Sebastian.


"Eh? Sakit Pak?!" Susan mengangkat wajahnya dengan gugup.


"Muka kamu merah."


"Eh...?"


*****


"Gila! Gila! Gilaaaaakkkk!" Seru Ipang saat sudah masuk ke dalam apartemen Milady. "Gue ketemu cewek Bule barusaaaannn!!"


Dia langsung heboh.


Milady menatap Ipang sambil mengernyit.


Trevor menaikan alisnya sambil fokus memfungsikan bor listrik.


"Sebule apa? Sebule dia?!" Milady menunjuk Trevor.


"Yang itu Bule Turki, yang tadi Bule Latin! Gilaaa seksi banget cuuuyyyy... Parah, gue tembak pulak! Harusnya gue rekam..."


Ipang agak panik dan menyesal sambil membungkuk memukul-mukul sofa yang masih berbalut plastik.


"Kenapa tingkah adek kamu kayak aku kenal yah..." gumam Trevor sambil berpikir.


"Dimas." jawab Milady.


"Oh iyaaa..." Trevor mengacungkan telunjuknya. "Berisiknya mirip banget Dimas." lalu ia melirik Milady sambil tersenyum simpul. "Apa gara-gara itu kamu pernah suka sama Dimas?"


Milady mencibir, lalu mengangkat bahunya.


"Yah, tapi memang gara-gara Dimas sih tingkah Ipang jadi begitu. Salahku sih, dulu sekali kukenalkan mereka langsung klik, kayak..."


"Bro Dimaaaasss, gue ketemu cewek buleeee...!!"


Ipang sedang video call sama Dimas.


"Ya ampun tu anak cepet banget actionnya..." keluh Milady sambil melanjutkan beberes.


"Sebule apeeee? Sebule dia bukan?!" Pertanyaan Dimas sama persis dengan Milady. Tampak Dimas menarik Selena ke depan kamera.


"Eh, parah cantik banget... Siapa Mas?!" gumam Ipang.


"Namanya Mala. Mala...mpir...."


Terdengar suara bantex dilempar.


"Udah cantik galak pula, Mas Dimas pinter cari cewek..."


"Dia bukan cewe gue. Dia lebih pantes jadi babysitter." sahut Dimas cepat.


"Maaaauuuu di babysitterin sama Malaaa..."


"Mending ga usah. Jadi... Siapa tuh cewek bule, dimana lo ketemu, udah ngapain aja?!"


"Kayaknya produk Mamarica latin... Gila matanya ijo brooo... Cuantiiikkkk."


"Mata saya juga ijo, loh..." Selena muncul di depan layar memamerkan matanya.


"Iya tapi yang ini kelakuannya lebih manis." sahut Ipang.


selena mendengus kesal.


"Kamu tuh adiknya Lady ato adiknya Dimas sih, kelakuan sama bobroknya! Kayaknya saya perlu selidiki ada kemungkinan diculik waktu bayi! Kamu rumah sakitnya dimana, hah? Tampang kamu juga ngga mirip sama Lady! Kakak kamu kayak putri keraton, bersahaja elegan anggun, kamu kayak anoman heboh loncat sana-sini! Kayaknya kamu masih anak sekolahan yah?! Jangan sampai nanti habis wisuda kamu masuk Garnet Bank! Bisa-bisa satu gedung gempar ada kloningan Pak Dimas, bla..bla..bla..bla" berlanjut sekitar 10 menit kemudian...


"Aduh... aduh kepalaku muter..." desis Ipang. "Kak Lady, temennya ngomong apa?! Kok aku ngga konek..."


Milady hanya menyeringai sambil lanjut berberes.


*****


300992


Sebastian menekan tombol pada mesin kode akses pintu ruang kerjanya di rumah.


Ia memasuki ruangan dengan langkah gontai.


Menggantungkan jasnya di gantungan baju terdekat, membuka dua kancing teratas kemejanya, lalu menjatuhkan tubuh tingginya ke kursi kulit sapi andalannya.


Dan ia memejamkan mata setelah menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.


Sebastian berusaha mengatur napasnya.


Sebulan ini...


Bagaikan mimpi buruk!


Kegiatannya bagaikan robot dengan autopilot. Berjalan secara otomatis, tanpa passion. Setelahnya ia merasa sangat lelah namun tidak terlalu ingat apa saja yang telah dilakukannya seharian.


Yang ada di benaknya hanya Milady...


Saat wanita itu membuka gorden apartemen barunya dengan wajah berseri, lalu bersandar di tepi jendela sambil menatap langit pagi.


Sebastian paling suka pemandangan itu.


Belakangan Milady lebih sering menginap di sana.


Trevor juga sering berkunjung untuk membantu wanita itu merakit perabotan.


Dan seorang anak muda dengan perangai ceria juga sering mondar-mandir keluar masuk unit Milady.


Lalu yang paling mengganggunya... Adalah pesan singkat dari Yamaguci, yang berisi foto Milady saat di Jepang.


Di Taman Ueno, duduk berdampingan dengan Sebastian.


Ceroboh... karena cinta.


Karena itu Ia menerjunkan Susan untuk berjaga-jaga.


Susan melakukan tugasnya di Jepang dengan sangat baik.


Sedangkan Yazaki Eiichi ia tempatkan di Garnet Property, staff ahli di bawah Trevor. Rekan kerja Milady.


Lalu Ayumi sedang menghilang lagi. Yuki bahkan tidak bisa melacaknya...


Yang tahu hanya Trevor.


Merepotkan sekali...


Kalau keadaan terpaksa, ia akan minta Susan bertanya ke Milady langsung. Susan pandai menyamar, jadi ia kemungkinan akan jadi 'tetangga yang baik' bagi Milady.


*****


"Sudah beres... Tapi kamu yakin segini cukup untuk semua barang-barang kamu?" Trevor berkacak pinggang di depan lemari baru Milady.


"Ya enggak cukup lah Trev... Nanti akan ada 3 lemari lagi yang datang..." Milady menyeringai.


"Hm..." dengus Trevor.


"Aku mungkin akan mendonasikan sebagian barang-barangku... Mungkin yang sudah 3-5 tahun tidak kupakai."


"Ngga bikin garage sale saja?"


"Aku ngga punya waktu untuk bikin acara Garage Sale. Lagipula... Sepertinya lebih berguna kalau kuberikan saja cuma-cuma." sahut Milady sambil meletakkan cangkir berisi kopi untuk Trevor di konter dapur.


Trevor meraih cangkir kopi dan berdiri bersandar ke konter, di sebelah Milady.


Mereka sama-sama menyesap kopi, dan sama-sama memandangi seluruh ruangan apartemen.


Lalu Trevor menyundut rokoknya dan memberi Milady kotak yang masih berisi beberapa batang.


Milady mendorong tangan Trevor menolak pemberiannya.


Trevor menoleh dan mengangkat alisnya.


"Sejak kapan berhenti?" tanya Trevor.


Milady hanya tersenyum.


"Hm... Sepertinya aku harus ralat pertanyaannya. Siapa... Yang suruh kamu berhenti?" Pria itu melirik Milady sambil tersenyum simpul.


Senyum Milady terkulum malu-malu.


"...Trev...aku..." desis Milady.


"Hm?" Trevor menunggu Milady berbicara. Tampak wanita itu sedang mengolah kata-kata yang dirasa pas dengan hati-hati. Agar terucap dengan tanpa rasa bersalah.


"...yang paling kuinginkan sekarang... Hanyalah menjadi miliknya... Kenapa... Sulit sekali..." desis Milady.


Trevor terdiam.


Itu juga kata-kata yang ingin ia ucapkan.


Tapi seorang laki-laki sepertinya tidak bisa mengucapkannya secara gamblang.


Dan ia juga ingin tahu jawabannya...


Terlepas dari siapa yang dimaksud Milady, perasaannya dengan wanita yang kini berdiri merenung di sebelahnya ini, kurang lebih sama adanya.


Dalam diam, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Trev...?"


"Hm?"


"Hari ini kamu minum obat?"


"Hm... Belum minum dari pagi... Kenapa?"


"Kamu kan seharian bersamaku. Ngga papa?"


Trevor mengangkat bahunya.


"Ngga papa tuh... Mungkin karena tubuhku tidak menganggap kamu adalah ancaman." jelas Trevor.


Milady menyeringai.


"Ah iya...hampir lupa." sahut Trevor sambil beranjak. Pria itu berjalan ke arah tas kerjanya dan merogoh isinya. Lalu menyerahkan map plastik.


"Konsep acara pernikahannya, dari EO."


Pernikahan mereka diadakan bulan depan, dengan konsep sederhana, di Hotel baru Garnet yang dibangun di Yogyakarta.


"Kamu pelajari dulu saja. Jangan terlalu terbebani..." sahut Trevor.


"Hm..." Milady membolak-baliknya sekilas.


"Ayumi bagaimana?" tanya Milady. Ia pun penasaran.


"Aman. Di daerah Kanagawa..."


Hampir saja Milady menjatuhkan map plastiknya.


Kanagawa...


Astaga...


Ayumi tinggal sangat dekat dengan Yamaguci. Pasti akan mempermudah rencana mereka, apa pun itu akan sangat tidak baik.


"Kenapa jauh sekali?" Tanya Milady, berusaha membuat suaranya terdengar normal.


"Ia sendiri yang cari tempatnya. Lagipula... PI ayah semakin banyak tersebar akhir-akhir ini. Dia merasa stress... Dan akhirnya kami sepakat untuk tidak bertemu dulu. Mungkin selama 6 bulan ini kami hanya berkomunikasi dengan kartu sekali pakai." Sahut Trevor.


6 Bulan...


Milady mendengus kesal.


Sudah pasti Ayumi yang merencanakan hal itu, agar hamil bohongannya tidak terbongkar oleh Trevor.


Lalu Milady mendapat ide.


"Bagaimana kalau tas-tasku kuhibahkan saja padanya? Kemana harus kukirimkan?"


"Boleh...aku shareloc alamatnya."


Milady tersenyum licik.


"Aku balik ke kantor yah, sepertinya Eiichi butuh arahan untuk persiapan soft-opening Coastview minggu depan." sahut Trevor. "Kamu cuti cuma sampai lusa kan?"


"Iya, aku ngga mungkin cuti lama-lama kan... Eiichi masih pegawai baru, jadi takutnya dia kesulitan mengikuti ritme kerja kamu."


"Oke..."


Milady mengikuti Trevor yang berjalan ke arah pintu.


"Sepertinya kita harus membiasakan diri untuk bersikap mesra..." desis Milady mulai melancarkan rencananya.


"Mesra di depan orang lain maksud kamu? kira-kira seperti apa?"


"Hm... mungkin kamu harus membiasakan diri mencium pipiku sebelum pergi, atau sekedar pelukan?" tawar Milady.


"Hehe..." terdengar kekehan Trevor. "Kalau peluk aku belum siap. Aku mau mengurangi konsumsi obat antidepresan. Karena belakangan ngga cukup sebutir sekali konsumsi. Dua butir baru terasa. Takutnya kebal... jadi untuk hal-hal yang agak nyerempet bahaya sepertinya butuh waktu. Seperti Pelukan atau cium bibir."


"Tapi kalau cium pipi ngga papa kan?" tanya Milady.


Trevor mencium tangannya.


"Yang itu kayaknya juga butuh waktu..." ia menyeringai.


"My Lady..." desis Trevor menunduk berpamitan.


Milady Menyeringai. "Hati-hati di jalan, My Lord..."