Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Sebab akibat



"Hufff... Akhirnya air hangat..." Desis Milady sambil berdiri di bawah shower. Mereka baru bisa kembali ke hotel pukul 9 malam, dan untungnya Trevor kali ini ingat makan. Jadi Milady tidak sampai kelaparan malam ini.


Milady sebenarnya bisa saja makan sendiri, tapi mereka sudah biasa makan bersama. Rasanya aneh makan tanpa Trevor di sampingnya. Paling tidak kalau Trevor sedang sibuk, ada Bram, atau Selena.


Lebih bagus lagi kalau ada ketiganya.


Dan acara makan siang kali ini...


Benar-benar menyedihkan!


Dua orang korban Sebastian...


Ada dendam apa sih kakek itu dengan Ayumi dan Eiichi?!


"Trev..." Milady langsung beringsut di sebelah Trevor di onsen.


Trevor hanya meliriknya karena sedang asik menyesap sake.


"Memangnya seberapa besar kerugian yang terjadi akibat pengkhinatan Tadashi Sakurazaka?"


"Hm... Besar."


Milady mencibir.


"Iya, seberapa jumlahnyaaa?" Tanya Milady.


"Sangat besar. Kamu tahu permasalahan sebenarnya?"


Milady menggelengkan kepalanya.


"Hm... Garis besarnya... Tadashi menggunakan dana perusahaan untuk join bisnis narkotik dengan Yakuza di Kanagawa. Kalau tidak salah Klan Yamaguchi.Tadinya, Ia berniat menggunakan dana itu sebentar saja, kalau penjualan narkotiknya sudah sukses dengan keuntungan berkali-kali lipat, dana itu akan dikembalikan ke perusahaan, selisihnya masuk kantong pribadinya. Isunya, ada juga pejabat pemerintah di balik ini... Tadashi hanya orang suruhan. Nah, ayahku yang membongkar semuanya."


Milady tertegun.


Rasanya ia juga jadi ingin minum sake saking shocknya


"Sebenarnya, keberadaan Ayahku di sini, dibenci banyak orang. Benci sekaligus butuh. Ayahku memegang kartu AS semua pejabat dan orang berpengaruh di sini. Mungkin kalau otaknya dibedah, rahasia atlantis juga ketahuan, kali... Banyak yang ingin membunuhnya, tapi banyak juga yang ingin dia hidup selama-lamanya. Intinya, semua enggan berurusan dengan ayahku langsung."


"Itu sebabnya ia benci Ayumi..." Desis Milady.


"Ayahku tidak benci Ayumi." Desis Trevor.


"Loh?"


"Ayahku hanya tidak suka aku berhubungan dengan Ayumi. Karena kecurangan yang dilakukan Tadashi lumayan berpengaruh ke kredibilitasnya, ia jadi di-cap perusahaan mafia, dan orang-orang yang berhubungan dengan Garnet Grup diperiksa satu persatu karena indikasi penyalahgunaan obat. Itu pukulan besar sekaligus... Yah... Menjatuhkan harga dirinya."


Trevor meletakkan gelas sakenya dan mencoba mengingat.


"Ibu Ayumi juga meninggal bukan karena depresi soal Tadashi bunuh diri di penjara."


"Jadi...?"


"Kamu diam saja..." Desis Trevor sambil merendahkan suaranya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Milady . "Ibu Ayumi kecanduan narkotik. Dan akibatnya tekanan darahnya naik dan dia mengalami shock, karena kinerja jantung tidak stabil. Pasokan crystal meth sudah habis karena suaminya sudah meninggal dan ia dalam pengawasan pemerintah. Tadashi juga meninggal karena hal yang sama, bahkan saking tidak tahannya, Tadashi mengiris lengannya dengan pecahan tembok."


"Astaga..." Milady gemetar.


Ternyata masalahnya sudah cukup pelik.


Kalau begini ceritanya...


Wajar kalau Sebastian sangat kuatir dengan keadaan Trevor!


"Trev... Jadi... Sebenarnya sih, yah... penurut pendapatku loooh..."


"Ngga usah ngomong. Aku juga tahu maksud kamu." Potong Trevor. "Kamu berpikiran kalau Wajar tingkah ayahku seperti kebakaran jenggot? Yah.. Bagaimana? Cinta kan buta. Kamu lebih tahu hal itu..." Trevor tersenyum simpul sambil melirik Milady penuh arti.


Milady mencibir sambil menghela napas.


"Sekarang... Sebenarnya perasaan kamu ke Ayumi bagaimana?" Tanya Milady.


Trevor mendongakkan kepalanya menatap langit sambil menyandarkan lehernya ke pinggiran batu Onsen yang halus...


"Aku... Sudah bersama dengannya lebih lama daripada kenal kamu. Tidak mungkin aku melupakannya hanya satu waktu..."


"Kamu masih berpikiran itu salahnya?"


Trevor menggeleng.


"Ayumi orang yang bisa berpikiran logis. Ia juga sebisa mungkin menghindari Alkohol karena punya Gerd. Kecuali dia dibius atau dicekoki miras... Rasanya memikirkannya jatuh cinta dengan orang lain kok ngga mungkin yah... Kami sudah bersama cukup lama, soalnya."


"Lalu...? Kenapa kamu menghindarinya?"


"Aku ingin kamu yang maju... Agar ayahku lengah."


"Hm...?"


Milady terdiam


Trevor meliriknya.


Menunggu reaksinya...


Sedetik...


Dua detik...


Tiga detik...


"Sialan kamu..." Geram Milady akhirnya. "Kurang ajar!! Jadi aku dijadikan umpan selama ini?!" Milady menenggelamkan Trevor dengan bertumpu kepundak pria itu.


Trevor terbahak.


Lalu Pria itu menangkap tangan Milady dan menariknya mendekat.


Milady kehilangan pijakan dan tubuhnya terbawa tarikan Trevor.


Dan saat itulah tangan Trevor yang bebas, dapat menyusup ke balik rambutnya, ke tengkuk Milady.


Lalu bibirnya menyesap mulut Milady.


Milady terkesiap.


Ia mencoba menjauh, namun Trevor menahan tangannya.


Pria itu mencium Milady lagi.


Lagi...


Dan lagi...


Sampai Milady kehabisan napas.


"Trev..." Desah wanita itu.


"Mata-mata ayah, atap gedung arah jam duaku."


"Yah... Aku dicium orang lain lagiii..." Keluh Milady.


"Eh, aku ini anak ayahku loh. Paling enggak kemampuannya mirip dikit lah..."


"Enggaaakkk beda bangeeet. Ayah kamu lebih jagoooo..."


"Sshh! Terima aja dulu yang ini, nanti juga ayahku meradang melihat laporan detektif terus dia bakalan ngga mau kalah denganku!"


Trevor mencium Milady lagi.


Apalagi tiba-tiba ia menyingkap handuk Milady.


Milady terpekik kaget dan reflek mendorong Trevor


"Ya Ampun, Lady..."


"Kamu ngapain sih...!" Milady menutupi dadanya dengan kesal.


"Kamu nih berendam di onsen pakai pakaian dalam?!"


"Ya masa cuma pakai handuk doang?!"


"Yah... Padahal aku berharap begitu..."


"Iih dasar mesum!" Milady mencipratkan air ke wajah Trevor.


Trevor terkekeh sambil meraih pinggang Milady supaya mendekat lagi.


Lalu memeluk Milady dan menciumnya lagi.


Kali ini...


Milady mengalah.


Ia membiarkan Trevor memimpin permainan.


Trevor sengaja mensejajarkan mereka agar terlihat jelas oleh mata-mata Sebastian.


Lalu..


Jemarinya jahil membuka kaitan Bra Milady.


"Trevor..." Milady mendesah.


"Hm?" Trevor sibuk memperluas jajahan bibirnya menuju rahang dan leher Milady.


"Mau ditendang pas ditengah ngga?"


Trevor terkikik geli.


"Ah, padahal lagi asik! Kamu nih mengacaukan suasana..." Canda pria itu.


Milady mengaitkan kembali Branya.


"Dasar genit..." Umpat Milady.


"Ke dalam yuk..."


"Loh?"


"Hm... Kalau tetap di sini... Kayaknya aku bisa lupa diri."


"Hah?"


"Aku gendong, yah... Kamu jangan kaget."


"Eeh...!"


*****


"Wah, gila... Hampir aja kejadian..." Trevor berdiri menuju dapur sambil membelakangi Milady.


"Kejadian?" Tanya Milady sambil mengambil kimono handuk dari dalam lemari.


"Iya." Pria itu membuka kulkas dan mengambil air mineral. "Kejadian."


Ia berbalik menghadap Milady sambil menunjuk siluet tegang di balik handuk yang tersampir di pinggangnya.


Milady mendengus.


"Bagus lah, jadi kamu pria normal..." Desisnya sambil masuk ke dalam kamarnya sendiri.


"Ngomong-ngomong reflek kamu lumayan bagus saat menghindar..." Desis Trevor.


"Yah... Aku sudah mulai terbiasa dengan Ayah kamu soalnya."


Trevor menghentikan tegukannya.


"Ngga usah menjelaskan apa saja yang kamu sudah lakukan dengan ayah, aku jadi mual, tau ngga..." Dengusnya sambil mengernyit.


Milady terkikik dan menggeser pintu penghubung.


"Ah, iya..." Milady kembali membuka pintu gesernya. "Kamu berhutang penjelasan lengkap padaku."


"Oh...begitu?" Trevor menyeringai.


"Kamu mengumpankan aku, dan bahkan kamu juga mengumpankan Ayumi!"


"Yah... Soalnya ayahku ada dimana-mana. Lagipula, kamu di sini. Pasti dia juga ikut kamu. Aku anaknya, aku pasti tahu kebiasaannya... Aku harus membuatnya lengah dulu. Keuntunganku adalah sikap peduli kamu. Jadi membuatku ngga perlu susah payah mencari tahu, kamu sudah berkunjung sendiri ke rumah Ayumi."


"Kamu perlu minta maaf ke Ayumi, loh Trev. Dia lagi hamil dan depresi sekali..."


"Iya..." Trevor menatap lurus ke depan. "Dan kedua orang itu tampaknya intens mendekati Ayumi..."


Milady bagai tersedak.


Perlukah ia memberitahu Trevor.


Tapi...


Sudahlah.


Ini amanah dari Eiichi.


Milady akan diam demi Eiichi.


"Kalau aku yang pergi, ayah pasti meradang. Kalau kamu yang pergi, mana berani dia ngomelin kamu?" Trevor menyeringai.


Milady mencibir.


"Dari mana kamu tahu hal itu?!"


"Kelihatan banget dari caranya memandang kamu... Bikin merinding orang yang liat..."


"Ck..." Milady berdecak.


"Dia mungkin ngga tahu aku ke apartemen Ayumi tadi, aku melepas gelang dan cincinku."


"Dia tahu kok..."


"Eh, kok bisa?!"


"Iya...karena aku merasa orang-orang ayahku jadi makin banyak mengelilingi kita saat kamu ke rumah Ayumi. Mungkin dia tahu dari..." Trevor mengguncang-guncang ponselnya. "Dari GPS."


"Loh... Bukan dari gelang atau cincin yang dipasangi penyadap?"


"Mungkin... coba saja kamu tanya dia. Tapi kalau aku di ponsel, sampai aku ngga berani video call sama Ayumi."


Milady menghela napas.


Mengeluh karena ia mulai lelah mengikuti permainan