Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Sister



Arman melepas rompi anti pelurunya sambil menahan sakit.


Moses terkekeh.


"Ngga guna banget pake rompi, yang ketembak malah yang ngga ditutupin rompi. Bisa-bisanya sih Pak..." Kata Moses, pemilik showroom mobil mewah sekaligus anak kandung Johanes Goette, alias Pak Jago teman SMA Sebastian.


"Itu bukan bisa-bisanya, itu SIAL..." sahut Heksa dari ujung ruangan. Pekerjaan utama Heksa adalah ASN di salah satu instansi pemerintah yang berhubungan dengan bidang perhubungan


"Ini acaranya sampe pagi ya? Itu yang dimasukin sel mau diapain?" tanya Tresna. Pria itu di weekdays adalah sekretaris Direksi di Garnet Bank. Tepatnya dia sekretarisnya Pak Danu.


"Bentar lagi Pak AKBP dateng... Terserah dia mau diapain." sahut Umar. Sehari-harinya bekerja sebagai Guru Bahasa Inggris di SMP Negeri daerah Jakarta Selatan.


"Pak, hari Selasa saya ambil giro buat Bank Sampah yaaa..." Pak Kardi menghampiri Arman. Ia adalah pensiunan salah satu BUMN dan saat ini menjadi Ketua RT di perumahan daerah Sawangan, Depok.


Arman menjatuhkan dirinya di sofa. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi. "Ya Pak... Nanti Selasa sore diambil yah." sahut Arman sambil melambaikan tangan ke Pak Kardi yang pamit pulang duluan.


Atmana Hadiprayitno masuk ke hangar dikawal beberapa anak buahnya. Sikapnya yang terburu-buru dan agak arogan, memandang semua orang disana dengan angkuh, membuat Arman langsung menutupi mukanya dengan selebaran brosur dan pura-pura tertidur.


"Heh bangun kamu!" seru salah satu Ajudan Atmana dengan congkak, membangunkan Arman.


"Mau apa?" Tanya Arman


"Jawab itu yang sopan! Kegiatan kamu ini ilegal di sini! Punya ijin buat penembakan tidak?!" sahut ajudan yang lain.


"Saya ngga tanya sama kamu, Saya nanya sama si kunyuk di tengah ini. Mau apa cepetan ngomong, saya ngantuk, cepet emosi..."


"Kamu!!"


Atmana langsung mengangkat tangannya menginstruksikan supaya ajudannya diam.


Lalu duduk di sofa di sebelah kaki Arman yang terbujur.


"Ares... Sakurazaka mencuri data daftar pejabat pemerintah Indonesia dan Jepang yang terlibat perdagangan narkotika dengan Yakuza. Saya harap kamu menyembunyikan dia di tempat yang sangat aman... Yamaguci akan mengerahkan semua asetnya untuk pencarian Sakurazaka. Dia tampaknya sangat marah pada Sebastian... Bisa jadi seluruh keluarga Sebastian akan terancam." Sahut Atmana.


Arman hanya melirik Atmana dengan sinis.


Ia sudah tahu...


Lalu kembali menarik brosurnya ke atas menutupi matanya sambil bilang.


"Salam buat Sri..." desisnya. Sri adalah istri Atmana.


Atmana hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.


"Saya harap bisa bekerja sama dengan kamu, seperti dulu. Saya tidak pernah merencanakan pemecatan kamu, Irwan juga tidak. Ada orang lain yang tidak suka dengan orang-orang Baskara..." sahut Atmana.


Tapi ia tahu, Arman tidak akan mendengarkannya.


Sudahlah, tidak ada gunanya membangunkan macan tidur.


Yang ada, Ia malah akan celaka...


Jadi Atmana berlalu dari sana untuk kembali ke area pesta.


Atmana berjalan menyusuri koridor dengan perasaan kuatir. Walaupun secara kasat mata negaranya memiliki kekuatan untuk melenyapkan seluruh penyusup dari mafia yang masuk, namun ini berhubungan dengan negara lain. Tidak semudah itu kecuali Sebastian ikut campur.


"Kamu tahu siapa yang saya datangi tadi?" tanya Atmana ke para ajudannya.


"Komandan Regu Garnet Security Pak." jjawab ajudannya.


Atmana menyeringai.


"Papa kamu Perwira I di Angkatan Darat. Coba tanyakan, dia kenal Brigjen Ares Manfred, tidak?"


"Jangankan papa saya, saya juga tahu Ares Manfred. Dia terkenal di dunia mafia sebagai pembantai. Kalau dia ditugaskan untuk mengurus sindikat, surat penggeledahan belum jadi, sudah pada kocar-kacir Pak." jawab ajudannya.


Atmana terkekeh.


"Iya... nanti saya akan cerita ke papa kamu, kalau kamu berani membentak Mantan Brigjend Ares Manfred..." Atmana menyeringai.


Para ajudannya menghentikan langkahnya.


"...dia...?" Salah satu ajudan menunjuk ujung lorong tempat basecamp sementara Garnet Security. Telunjuk si ajudan gemetaran.


"Pak, tidak mungkin. Dia terlihat seperti masih sangat muda... mungkin masih seumuran Rama Bagaswirya." desis si ajudan.


"Dia dulu ahli dalam penyamaran dan sniper terhebat di Kepolisian... sayang sekali emosi menyelimutinya. Ia bertindak di luar perintah..." Sesal Atmana.


Menyesal karena tidak dapat menghentikan Arman, dulu.


"Usianya jauh lebih tua dari wajahnya. Kamu hapalkan saja wajahnya." sahut Atmana sambil melanjutkan langkahnya.


Setelah ini ia akan menemui Sebastian terhadap langkah perlindungan keluarga Bataragunadi. Hari Fadil adalah wakil ketua-nya. Sedikit banyak, Atmana merasa bertanggung jawab.


******


"Njir...Atmana Hadiprayitno..." desis Heksa sambil menatap kepergian iringan Ketua Komisi III itu. "Doi punya salah apa sama elu, Boss?"


Semua menatap Arman yang masih cuek berbaring di sofa.


Lalu semua saling lihat-lihatan. Sudah pasti tidak akan dijawab oleh Arman kalau tingkahnya sudah begitu.


"Selamat Malam Bapak-bapak..." Ipang nongol dari balik pintu.


Semua menatapnya.


"Siapa Lu?" tanya Moses.


"Kok bisa orang asing masuk sini? Penjaga di depan ngga ada?" tanya Heksa.


"Dia adik Bu Lady..." Jawab Tresna sambil memasukkan senjata yang sudah ia poles ke kopernya lagi. Tresna mengenal Ipang karena jabatan mereka sama-sama Sekretaris Direksi dan seluruh transaksi Garnet Bank diatas 100Miliar harus persetujuan Sebastian. Jadi, Tresna dan Ipang sering berbalas email akhir-akhir ini. Tapi nereka belum pernah bertemu langsung.


"Oooh... ini..." Semua langsung menatap Ipang. Dengan sinis, pastinya.


Beberapa bahkan menghadangnya, menilainya terang-terangan.


Dengan memasang wajah tidak senang, sangar, dan senjata laras panjang tersampir di tangan dan punggung mereka.


"Peace Bro..." Ipang mengacungkan dua jari tanda damai. "Peace..."


"Pange... kamu ngga berminat masuk Garnet Security?" terdengar suara Arman dari kejauhan.


"Kagak, Pak. Nanti dibully mulu sama Pak Arman... cuma pingin nambahin hamba sahaya kan..." sindir Ipang.


"Iya. Terasa lebih greget aja kalo bisa nge-Romusha adek ipar BigBoss."


"Ogah..." Dengus Ipang.


"Sayaaangkuuuuuhhhhhhh!!" Jerit Susan sambil langsung menubruk Ipang sampai cowok itu jatuh ke lantai.


"Ck..." terdengar decakan Arman.


"Kamu jemput aku yaaaaaa!! Seneeeeeng..." Rajuk Susan sambil menghujani Ipang dengan ciuman.


Semua menatap mereka dengan mencibir.


"Pulang yuk, aku mau peluk semalaman." Susan mengerling nakal ke Ipang.


"Heeemm... hari ini enggak dulu yaaaa... sekarang cuma bisa anterin kamu aja, Anuuu ayahku udah nyindir-nyindir mulu karena aku jarang pulang."


"Yaaaah..." Susan cemberut. "Padahal lagi kangen banget, aku baru lari-larian... pingin manja-manjaan sama kamu..."


"Besok pagi aja aku dateng yah..." Rayu Ipang.


"Haah!! jangan...jangan... bisa-bisa langsung dinikahin kita."


"Loh, malah bagus dong! Kan aku udah kerja, kamu juga bentar lagi lulus dan sekarang udah kerja, apa lagi yang kita tunggu? Terus, aku bisa jadi WNI..."


"Aku belum siap nikah, sayang..." Lalu Ipang langsung menghentikan kalimatnya. Sadar kalau ia salah ucap.


Susan menatapnya.


pandangan bertanya sekaligus mengancam.


"Kenapa belum siap? Apanya yang belum siap? Masih pingin mainin cewek yang lain, gitu maksudnya?"


"Loh kok jadi kesitu?! Bukan itu... Nikah itu ngga gampang!"


"Apanya yang susah? Kan tinggal ke KUA aja..."


"Aku ngga mau yah, berantem lagi, capek sayang..."


"Jadi maunya apa? Kamu sebenernya beneran sayang sama aku atau cuma terpikat sama kesemokan aku?"


Ipang menghela napas panjang sambil berkacak pinggang.


"Cewek dimana pun, dari negara manapun sama aja bawelnya."


"Aku ngga bawel, kamu yang bikin aku ngga sabar, karena kamu ngga tegas. Kalo masalah maen, aja langsung maju. Diajak nikah ngga mau!"


"Bukan itu maksudku! karena kalo kamu nikah aku maunya kamu pake jilbab, kamu itu terlalu seksi, liat tuh bapak-bapak di sini pandangan nyalang, jadi kamu harus belajar ngaji dulu!" Akhirnya semua terucap dari mulut Ipang.


Susan memekik sambil menutupi mulutnya.


"Memang kamu bisa ngaji?" Arman bertanya ke Ipang mengacaukan suasana syahdu.


"Kan bisa belajar bareng-bareng, Pak..." Ipang mengalihkan pembicaraan.


"Haleluya..." desis Arman dari kejauhan. Ia membalik badannya dan lanjut tidur.


"Kamu..." butiran air mulai jatuh dari mata Susan. Ia merasa terharu.


"Sudah yah sayang... aku pinginnya jalan halal buat kamu. Sekarang aku antar dulu kamu ke apartemen. Besok pagi aku jemput, buat ketemu orang tuaku yah, kenalan dulu pelan-pelan. Ibuku agak susah orangnya kamu sabar-sabar aja... Aku baru dapet inspirasi dari Mas Dimas nih..." Ipang memeluk Susan.


"Iyaaaaa..." Susan terisak.


Lalu mereka berlalu dari ruangan itu.


"Barusan ada syuting azab ya?" desis Moses.


"Hm... kok gue tersentuh ya sama pasangan absurb..." desis Heksa.


Jadilah malam itu semua merenungi pasangan hidup mereka masing-masing.


Kecuali Arman yang sudah mendengkur lelap di sofa.


*****


Milady berjalan bolak-balik di dalam kamarnya sambil memeluk dirinya sendiri. Ia terasa kedinginan padahal udara malam ini hangat.


Lalu wanita itu menarik napas panjang dan menghembuskannya untuk meredakan kegalauannya.


Tidak berhasil...


Ia masih tetap galau...


Kemana Sebastian?


Pikirnya.


Ia butuh Sebastian...


Pengawal dari Beaufort berjaga di depan pintu penthousenya.


Namun... sampai kapan?


Keadaan sedang kacau saat ini.


Seseorang mengetuk pintunya.


Dua kali.


Yori, kakaknya, ada di depan pintu.


Ia bersama Arran.


Muka Yori... Tidak bisa dibilang baik.


Suram dan dingin. Tampak kesal dan sedih.


"Bu Lady, kalau ada perlu bisa langsung panggil kami." kata salah seorang pengawal sambil menutup pintunya.


"Kak..." sapa Milady lemah.


"Mas Arran."


Arran berdiri bersandar di meja hias. Yori duduk di sofa. Ia masih mengenakan seragam cafenya.


Saat ini pukul 1 dini hari...


Aktivitas cafe masih berjalan karena pesta masih berlangsung, namun sudah tidak sesibuk pagi hari.


"Kamu... Tega banget." begitu kata pembuka Yori.


"Maaf Kak..."


"Hanya aku yang tidak tahu... Kamu anggap aku apa? Apa aku sudah benar-benar ditendang dari keluarga Adara? Seperti namaku yang tidak ada kata 'Adara' nya?"


Milady menghela napas.


Saat ini ia hanya bisa mendengarkkan Yori menumpahkan kekesalannya. Dalam kondisi begini, apa bisa Yori mendengarkannya...


Kata demi kata yang Yori tumpahkan kepadanya, terasa campur aduk di kepalanya.


Mata Milady bertatapan dengan Arran.


Ada rasa sedih di sana.


Pria itu tidak berbicara apapun.


Hanya menghela napas, lalu memalingkan wajahnya.


Ia tidak sanggup melihat wajah Milady. Terlalu menyakitkan baginya.


Ia masih mendamba...


Dalam hatinya, ia mengetahui hubungan Milady dan Sebastian mungkin sejak kejadian sebelum softopening... Saat renovasi gedung.


Saat... Ciuman itu terjadi.


Dan Sebastian menelpon Milady setelahnya.


Arran sempat melihat nama Sebastian di layar ponsel Milady waktu itu.


Dan perubahan raut wajah Milady saat menerima telpon dari Sebastian, begitu berseri...