
Trevor menegakkan kepalanya saat Milady masuk kembali ke dalam onsen. Kali ini wanita itu sudah mengenakan handuk di sekeliling tubuhnya, tapi wajahnya gusar.
Kenapa lagi, ini... Keluh Trevor.
Belakangan Milady lebih ekspresif.
Bukankah baru saja dia pamit mau ke spa? Kenapa sudah kembali?
Trevor membasahi mukanya dengan air agar air matanya tidak kentara.
Tapi pria itu memutuskan untuk tidak bertanya, dan hanya memperhatikan tingkah laku Milady.
Wanita itu duduk di bangku kecil di tempat mandi outdoor dekat onsen, menggosok tubuhnya dengan spons kuat-kuat, lalu mengguyur kepalanya dengan air, dan menghela napas.
Lalu masuk ke dalam onsen, memposisikan diri di depan Trevor, duduk setengah berbaring dan memejamkan matanya.
Trevor cukup tertarik dengan tingkah laku Milady.
Lumayanlah untuk sedikit menghibur hati, pikir Pria itu.
Lalu mereka berdua terdiam selama hampir setengah jam tanpa interaksi apapun, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Mereka baru saling berbicara saat Milady merasa lapar.
"Pesan sushi dong Trev..." Gumam Milady sambil tetap berbaring.
"Kayaknya kita harus keluar deh... Kepalaku mulai pusing." Ujar Trevor.
"Hm... Kamu duluan... Aku mau..."
Dan Milady menenggelamkan dirinya.
"Jangan kelamaan, bisa mabok uap panas, kamu..." Kata Trevor sambil keluar dari air.
Ada apa dengan Milady sampai harus butuh air panas sampai ke ubun-ubun?!
"Lady..." Desis Trevor.
"Hm?"
"Kamu kenapa?"
"Ngga kenapa-napa..."
"Ngga mungkin."
"Sok tahu..."
"Tahulah soalnya..."
"Soalnya apa?"
"Wagashinya ngga habis..."
Milady terdiam. Malas menanggapi Trevor.
Lalu ia mengunyah lobak dengan perlahan dengan wajah tetap muram dan pandangan mata menerawang.
"Sekali-kali ngga nafsu."
"Kamu kan memang kebanyakan ngga nafsu makan. Kecuali..." Trevor melirik wagashi.
Dalam kondisi normal, Milady maniak makanan manis.
Seharusnya itu habis duluan, karena bentuknya yang warna-warni dan dalamnya isi pasta kacang merah. Sepertinya tidak mungkin Milady melewatkannya.
Apa yang ada dalam pikiran Milady?
Jadi dalam batin wanita itu, berkecamuk kata-kata...
Awas kamu Sebastian, genderang perang telah ditabuh...
Aku cuekin kamu sebulan!
Biarin aja aku berlagak bermesraan sama Trevor!
Sebal!!
Dan Milady reflek melempar sumpitnya ke meja.
Trevor sampai mundur terhenyak sambil mengangkat mangkuk berisi supnya yang sedang ia santap. Pria itu melotot ke arah Milady, saat wanita itu mengambil 3 buah wagashi, dan memasukan seluruhnya ke dalam mulutnya.
Lalu ke kamarnya dan memukul bantalnya berkali-kali sambil mengunyah.
Apa Trevor harus pesan jimat pengusir setan juga?!
*****
Sebastian mondar mandir dalam kamar hotelnya.
Lalu melirik ponselnya.
Lalu ia berdiri di depan jendela hotel yang pemandangannya menampakkan suasana lalu lintas Shibuya yang tidak pernah sepi.
Bahkan di waktu dini hari seperti ini.
Lalu ia mondar-mandir lagi.
Dan melirik ponselnya untuk yang keberapa belas kali.
Tidak ada balasan apa pun dari si cat woman.
Serius?
Apa masuk ke spam?
Sebastian mengutak atik ponselnya.
Ini serius? Batinnya sambil berpikir.
Benar-benar tidak ada satupun pesan dari si wanita tukang nyakar itu?
Sudah berapa jam berlalu?
Ini sudah jam 2 pagi.
Kenapa isi seluruh pesan di ponsel Sebastian tiba-tiba jadi terasa tidak penting begini?
Pesan dari Perdana Menteri Jepang.
Skip
Dari Menteri Pertanahan Jepang.
Skip
Dari agen mosaad.
Skip
Menteri pertahanan.
Skip
Presiden negara bebas.
Skip
Direktur utama perserikatan.
Skip
Dimana pesan dari Milady?
Lalu ia meletakkan ponselnya, menatapnya dengan serius sambil berkacak pinggang.
Ia sudah mencoba tidur tadi, tapi sia-sia.
Kenapa juga ia mengetikkan kata-kata itu?!
Waktu itu ia marah karena Milady membentaknya.
Yah, sebenarnya bukan itu juga.
Lebih ke karena Milady berkata benar dan tepat sasaran...
DUAGG!!
Sebastian memukul tembok.
Lagi...
Kali ini Ada retak sedikit di dinding hotel.
Dan cincin safirnya penyok, batunya langsung pecah berhamburan ke lantai.
Ck...
Padahal waktu di kantor tadi ia sempat melepasnya saat meninju samsak. Akhirnya pecah juga sekarang...
Sebastian melepas cincin itu dari jemarinya, mengambil chip mikro dari dalamnya dan membuang sisanya ke tempat sampah.
Tapi hatinya yang galau tidak sembuh.
Apakah ia seharusnya tidak ke Jepang?
Sebastian menghela napas sambil mengusap kepala dan rambutnya ke belakang.
Sial...
Masa sih dia harus lari ke sake?
Tidak...
Ia butuh berdoa.
Kalau saja ia tidak mengetikkan kata-kata itu saat membalas pesan dari Milady, pasti mereka sekarang sudah berpelukan sepanjang malam di ranjangnya...
Lalu ia mengumpat, memarahi dirinya sendiri.
*****
Musim Semi Pagi Harinya.
Kantor Kabinet Jepang
"Perusahaan kamu sudah berjanji tidak akan mengganggu usaha property dalam negeri untuk perumahan di negara ini." Menteri Daerah I menelungkupkan tangannya sambil melipat kakinya di sofa. Wajahnya terlihat serius dengan kening berkerut dan sorot mata waspada.
Pria di sebelahnya, Menteri Pertanahan, hanya bisa duduk dengan tegang sambil menatap lantai, berpikir bagaimana caranya menang dalam negosiasi dengan orang yang paling ingin ia hindari di muka bumi.
Sebastian Bataragunadi.
Yang kini ada di depan mereka...
"Kamu sendiri tahu kan bagaimana persaingan untuk dunia usaha ini. Kami tidak ingin ambil resiko dengan mematikan industri dalam negeri..." Perdana Menteri menimpali. Ia duduk di pinggir meja kerjanya sambil melipat kedua tangan di dada.
Sama seperti kedua menterinya, pekerjaannya yang paling berat adalah berhadapan dengan manusia dengan kemampuan setara iblis.
"Kami ijinkan kamu untuk property besar agar bisa mendongkrak stabilitas. Tapi untuk industri perumahan seperti ini, kamu belum bisa..."
"Bagaimana kalau saya tarik investasi saya dan menyerahkan pengelolaan semua gedung kami ke pihak kalian?" Sahut Sebastian.
Ada nada mengancam di suaranya.
Menteri Daerah dan Perdana Menteri terdiam.
Sudah pasti keuangan mereka akan morat marit saat itu terjadi. Garnet Grup menjaring sangat banyak pekerja Jepang dan menangani pengelolaan gedung mewah yang luar biasa mahal. Kas negara tidak akan cukup untuk mengcover semuanya kalau Sebastian menyerahkan pengelolaannya ke negara.
Apalagi sebagian besar property milik Sebastian sudah menjadi landmark di negara itu.
"Waktu perjanjian property itu terjadi... Tadashi masih hidup. Sekarang dia sudah tidak ada. Kita anggap saja akan muncul perjanjian baru. Bagaimana?" Tawar Sebastian.
"Sebastian..."
"Tidak mudah untuk memancing Tadashi bertindak ceroboh." potong Sebastian. "Saya menggunakannya agar permainan kalian bisa tertutupi oleh aibnya. Soal dia bunuh diri di penjara, itu diluar kemampuan kita..." Sebastian memandang ke luar, ke arah taman luas di area tengah Kantor Kabinet. Lalu dengan senyum liciknya ia berbalik menghadap ketiga penjabat negara itu.
"Untuk pameran perumahan yang ini, kalian bisa mengusahakan untuk kami kan?" tanya Sebastian, namun itu pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Perdana Menteri menarik napas. Lalu menghembuskannya dengan berat.
"Berapa proyek lagi yang rencananya akan kalian masuki?"
"Rencananya saat ini, mungkin hanya ini saja... Tapi kalau mood saya berubah mungkin akan ada yang lain. Tergantung kondisi..." Sebastian terkekeh.
"Tahun ini cukup sulit bagi kami." Menteri Daerah berbicara ke Perdana Menteri meminta kebijakan lain.
"Kalau kami meloloskan yang ini, kami ingin bunga atas pinjaman negara dikurangi 30%..." Kata Perdana Menteri
"15%..." Sahut Sebastian cepat.
"Astaga..." Keluh Menteri Daerah.
"20% untuk 20 unit perumahan. Izin keluar pagi ini." Sahut Perdana Menteri mencoba bernegosiasi kembali.
"Hm... Keluarkan izinnya pukul 9." sahut Sebastian tegas sambil berjalan ke arah pintu keluar.
Itu berarti 15 menit lagi.
*****
Trevor menyeringai menatap ponselnya.
"Apa?" Desis Milady menanggapinya.
"Izin dari Kementerian Pertanahan sudah keluar!" sorak Trevor.
"Oh ya? Cepat sekali!"
"Mereka bilang kemarin, paling lambat baru bisa diproses akhir bulan ini..." Desis Trevor sambil mengernyit.
"Yah, mungkin karena kita datang kesini, jadi mereka merasa tak enak dan mempercepat prosesnya?" Desis Milady, walaupun ia juga diliputi keraguan.
"Memang tepat sekali kita datang ke sini!" seru Trevor.
Ia juga tidak menyangka kalau izin dari kementrian Jepang akan keluar pagi ini, karena mereka terkenal sangat ketat terhadap perusahaan dari luar negeri.
"Oke, sekarang kita ke Garnet building Jepang untuk meeting proses pembangunannya. Tim sudah dibentuk, kan?"
"Belum 100% terbentuk karena mereka juga ragu kalau izin akan keluar." kata Milady.
"Kalau begitu sekalian kita mematangkan pembentukan tim."
"Oke..." Dan Milady bersiap-siap untuk berangkat bekerja hari itu.
*****
Sebastian menghela napas.
Lagi
Sambil memeriksa ponselnya
Lagi dan lagi.
Pagi ini juga tidak ada kabar kejahilan Milady.
Ck...
Lalu ia melirik ponselnya lagi.
Sudahlah...
Desisnya dalam hati.
Ia menunduk menatap kopi di depannya.
Dan menyesap cerutunya.
Dua orang pria muda datang menghampirinya, lalu membungkukkan tubuh mereka menghormat ke Sebastian.
"Suwaru" Desis Sebastian sambil memerintahkan mereka untuk duduk di depannya.
"Taimingu o ran shite gomen'nasai, Boss-Sama.." (Maaf mengganggu waktunya, Tuan Boss)
"So, whats's the problem?" Tanya Sebastian dengan bahasa Inggris.
Kedua pria muda dengen dandanan stylish dan wajah tampan khas pria Jepang itu saling bertatapan.
Lalu salah satunya menghela napas dan duduk bersandar, mempersilahkan rekannya yang beralis tebal untuk berbicara lebih dulu.
"Jadi... Saya mengerti bahwa anak itu adalah anak Yuki-San tapi saya ingin mengambil alih tanggung jawab sebagai suami Ayumi-Chan."
"So... You're in love with her..." Desis Sebastian sambil menghembuskan asap dari ceritanya perlahan.
Pria muda di depannya itu menghela napas.
"Semakin lama mengenalnya, ia semakin manis. Saya jadi bersimpati. Jadi saya minta izin Boss-Sama untuk menjadi suaminya. Yuki-San sendiri sudah memiliki istri, jadi saya pikir..."
"Get to the point..." Sebastian tidak sabar.
"Eh..anu... Kalau Boss-Sama berkenan, saya mengajukan tunjangan hidup yang kira-kira cukup untuk hidup kami bertiga sampai saya tua nanti. Termasuk untuk biaya pendidikan anak itu..."
Sebastian terkekeh sinis.
"Yuki?" Tanya Sebastian ke pria di sebelahnya.
"Yah, kalau Eichi mau ambil alih, bagian saya berkurang. Saya juga tidak ingin dirugikan... Itu anak saya, walaupun saya juga memiliki istri..." Desis pria yang duduk bersandar dengan wajah suram. "Saya tidak terlalu menyukai Ayumi-San." Sahutnya kemudian.
Sebastian mengangguk.
"Then ... How about this. I will give Yuki the benefit that i was give for Eichi. And Eichi, I will give you a permanent job at Garnet property Japan, according to your degree ..."
(Kalau begitu... Bagaimana dengan ini. Saya akan memberikan Yuki benefit yang tadinya untuk Eichi. Dan Eichi, saya akan memberikan kamu pekerjaan tetap di Garnet property Jepang, sesuai dengan bidang yang sedang kamu pelajari sekarang...)
Kedua pria muda itu terdiam.
Lalu mengangguk-angguk puas.
"Make sure you save this mission to the grave. Your heads on my hand..."
(Pastikan kalian simpan misi ini sampai ke liang lahat. Kepala kalian jadi jaminan...) Desis Sebastian menyudahi pertemuan pagi itu.
Setelah kedua pria itu pergi, lagi-lagi Sebastian memeriksa ponselnya.
Dalam papan caturnya, semua pion bergerak sesuai kendalinya.
Namun ada dua pion yang gerakannya acak...
Pion milik Dimas.
Dan...
Pion milik Milady.
Ia masih bisa mengusahakan Pion Dimas untuk bergerak sesuai jalurnya dengan sedikit usaha, walaupun bocah boyo itu seperti bom waktu, bisa suatu saat bergerak tanpa perintah.
Masalahnya...
Pion milik Milady, sudah mulai bergerak di luar kendalinya, maju dengan langkah cepat garis lurus...
Ke Arah Raja...