
Milady menghela napas saat seluruh goresan kukunya di tubuh pria itu telah tertutup antiseptik seluruhnya.
Ia tak mengira bisa melukai seseorang.
Mungkin ia melakukannya tanpa sadar... Tapi ia tidak menyangka akan sedalam itu.
Bisa jadi sebenarnya di dalam alam bawah sadarnya ia sedang membela diri.
Tiba-tiba pria itu mencium pipinya.
Mungkin tanda terima kasihnya.
Namun Milady tertegun beberapa saat.
Kenapa rasanya...
Dadanya berdesir.
Ia menatap sosok di sebelahnya itu.
Mata pria itu... Berbeda.
Yang ini lebih lembut, lurus ke arah Milady.
Dan sebuah senyum tipis menghiasi pemilik rahang kokoh itu.
Senyum tipis yang jahil...
Seakan ingin tahu reaksi Milady...
Astaga...
Kenapa wajahnya terasa panas?
Milady membuang muka.
Tidak ingin ketahuan kalau ia sedang tersipu.
Kembali terdengar kekehan.
Pria itu sedang menertawakannya.
Malu rasanya...
Kenapa ia harus tersipu segala, sih?!
Sebuah jemari besar membelai dagunya, lalu membawanya untuk kembali menatap sosok itu.
Ciuman lembut...
Menyerang bibir Milady.
Tidak ragu, namun tidak menuntut.
Bibirnya membuka secara otomatis, mengizinkan pria itu untuk berbuat lebih jauh.
Ciuman dewasa...
Lidah mereka bertaut. Dan bibir mereka saling membelai.
Ia bisa merasakan pria itu menyingkirkan handuknya.
Lalu mendorongnya agar berbaring...
*****
Milady menelan satu potongan besar cake sambil menonton Fox Movies.
Ia belum makan dari pagi.
Dan ini cake keduanya.
Rasanya seperti belum makan tiga hari.
Pria besar di sebelahnya sedang fokus ke laptopnya, dengan kacamata di wajahnya dan tanpa pakaian. Bagian bawah tubuhnya hanya ditutupi selimut.
Milady melirik jam dinding.
Pukul 19.
Ia harus pulang sebentar lagi.
Jam malamnya pukul 20.
Milady meminta izin ayahnya untuk menghadiri acara perpisahan. Ia juga bilang acaranya bisa sampai malam.
Namun ayahnya bilang ia harus di rumah pukul 20.
Setelah itu tinggal berganti pakaian dan menunggui ibunya di rumah sakit.
Ia mendapat kabar dari Kak Yori kalau ibunya sudah siuman, namun mengamuk sampai jarum infusnya patah. Sekarang sedang tertidur dengan obat penenang.
Dalam lubuk hatinya, Milady mendapat intuisi kalau yang dialami ibunya adalah masalah kejiwaan.
Dalam hal ini, ayahnya setuju dengannya.
Kemungkinan perawatan ibu akan lebih lama, dan beralih ke psikiater.
Sabar, ayah...
Aku akan pulang dengan membawa dana yang cukup untuk masa tua ayah dan ibu...
Juga tabungan untuk Kak Yori dan Ipang...
Ia menegak jus jeruknya.
Perutnya sudah kenyang.
Lalu ia merasa galau.
Setelah ia pulang...
Apa ia akan berjumpa lagi dengan pria ini?
Di masa depan nanti...?
Kelihatannya ia dari kaum intelektual.
Setengah dari layar laptopnya menampilkan pergerakan IHSG, setengahnya lagi email dalam bahasa yang Milady tidak kuasai.
Milady mempertajam penglihatannya.
Di emailnya ada sebuah nama.
Sebastian.
Nama yang terdengar kuat.
Cocok sekali dengan sosoknya.
Terdengar deheman.
Milady terhenyak.
Ia terlalu banyak mencondongkan tubuhnya.
Lalu ia menatap pria itu, dan menyeringai dengan kikuk.
Lalu kembali menegakan tubuhnya dan meminum jus jeruknya.
Ceroboh sekali, Milady...
Memalukan...
Lalu pria itu menyodorkan ponselnya ke Milady.
Ponsel yang berbeda dengan yang tadi pagi.
Layarnya tembus pandang, dan terasa sangat futuristik.
Disitu tertera angka...
Lima belas dengan sembilan angka nol, terkirim ke rekening atas nama Snow White escort, dan terdapat berita : Payment for Lady.
Milady menarik napas.
Transaksi mereka sudah selesai...
Lalu ponsel Milady bergetar.
SMS dari bank.
Ia mendapat transfer ke rekeningnya. Milady membuka fitur mobile bankingnya.
7.5 miliar baru saja memasuki rekeningnya di Garnet Bank.
Tangan Milady langsung dingin.
Ia akan ke bank besok, untuk memprint buku tabungannya. Melihat kepastian dana direkeningnya.
Lalu pria itu mengetikkan sesuatu di ponsel prototypenya.
Dan menyerahkannya kembali ke Milady.
Angka dua dengan sembilan angka nol.
2 miliar...
Lalu ada nomor rekening penerima yang masih kosong.
Maksudnya?
Milady menatap pria itu.
Apakah...
Apakah ia ingin bertransaksi lagi?
Mengikuti nalurinya, Milady mengetikkan nomor rekeningnya dari bank yang berbeda.
Ia teringat saat itu pegawai bank itu salah memasukan data dirinya, karena waktu itu masih menggunakan kartu siswa.
Atas nama Lady Adira.
Oke...
Rekening yang itu saja.
Paling tidak, ia tidak terlacak oleh pria ini.
Lalu Milady menyerahkan ponsel pria itu kembali.
Pria itu mengirimkan dana, disertai berita : tgl 23 maret, 10.00 wib, unit 500.
Itu berarti...
Seminggu dari hari ini.
Akan ada pertemuan kedua...
Ponsel Milady bergetar.
SMS dari ayahnya...
"Kamu dimana? Sudah hampir jam 20."
Lalu Milady menoleh ke pria itu.
Ia harus pulang.
Pria itu juga melihat layar ponsel Milady, lalu ia menyunggingkan senyum geli.
Dan ia menutup laptopnya, menyingkirkan selimutnya dan beranjak dari ranjang.
Milady memperhatikannya berjalan ke arah lemari pakaian.
Sosoknya saat berjalan... Tegap dan elegan.
Ia mengenakan boxernya, dipadu dengan jeans hitam, lalu mengambil satu lagi hanger kayu dengan kantong laundry, dan menyerahkannya ke Milady.
Milady membuka resletingnya.
Ada setelan pakaiannya disitu. Sudah wangi dan bahannya hangat.
Kapan pria ini melaundrynya?
Sepertinya Milady tertidur cukup lama...
Lalu ia menyerahkan kotak berwarna putih ke Milady.
Ini bukan miliknya...
Sambil mengernyit, Milady membukanya.
Lalu terpekik takjud.
Tas dari desainer paris, ponsel baru, dan kotak kecil berisi kalung berlian.
Milady menatap pria di depannya dengan berbinar. Pria itu hanya tersenyum tipis melihatnya.
Lalu meninggalkan Milady keluar dari kamar tidur...
(Flashback off)
*****
Sambil menghela napas, Milady membuka mata.
Lalu air matanya menetes dari pelupuknya.
Ya Ampun... Saat itu...
Kalau ia bisa kembali ke masa lalu...
Sudahlah...
Tidak ada gunanya menyesali waktu.
Yang penting, ia harus bisa memanfaatkan yang akan datang sebaik mungkin.
Agar ia tidak menyesal lagi.
Jadi, sekarang...
Tidak boleh ada rasa gengsi!
Milady menekan tombol ponselnya.
Lalu menempelkan ponsel ke telinganya.
"Hm..." Terdengar sapaan Sebastian dari seberang, setelah dua kali nada dering.
"Eh, kamu belum tidur ternyata...hehe." Sahut Milady riang. "Lagi apa?"
"Baru selesai ibadah malam."
Milady terdiam.
Wah...Sebastian religius juga...
"Jadi, kamu baru mau tidur yah..." Kata Milady.
"Rencananya sih begitu..."
"Hm...masih badmood?"
"Badmood Karena apa?"
Milady mencibir.
Pria ini... Ia tidak mengakui kalau terakhir tampangnya berubah angker saat Milady bilang ia akan maju terus untuk Trevor, atau memang ia lupa kalau pernah badmood?
Jadi sifat jahil Milady muncul dan ia akan bersikap terbuka malam ini.
"Badmood karena kutolak bercinta..."
Terdengar dengusan dari seberang.
"Sudah bukan prioritasku..." Desis Sebastian.
"Ohya? Yakiiiin? Kalau begitu...Tebak... Aku pakai baju apa?" Milady melembutkan suaranya agar terdengar lebih mendayu.
"Paling kaos dan celana training."
Sial, kenapa tebakannya jitu sekali!
Dasar legenda dunia treasury... Selalu bisa memprediksi.
"Aku akan tebak kamu pakai baju apa..." Sahut Milady.
"Hm..." Sepertinya Sebastian sedang malas menanggapinya.
"Yang pasti... Ada sarung dan kacamata."
"Ck... Karena aku baru selesai ibadah, jadi kamu berkesimpulan aku pasti pakai sarung, begitu?"
Oke, jadi tebakannya salah...
"Tunggu! Kesempatan kedua..." Sahut Milady.
"Hm..." Dengus Sebastian.
Terdengar deritan dari seberang, mungkin Sebastian naik ke tempat tidur.
"Kamu pake...gamis?"
"Aku tidur duluan..."
Tebakan Milady salah lagi. Oke, ganti topik.
"Aku besok ke Jepang jam 9."
"Iya."
"Mau dibawakan apa?"
"Kamu, pakai baju maid, bando kucing."
"Hehe... Oke, nanti kubeli."
"Dan... Video call setiap malam, selama kamu di Jepang."
"Loh... Kalau aku lagi mesra-mesraan sama Trevor, gimana?"
"Aku tidur duluan, besok meeting pagi."
Dan Sebastian menutup teleponnya.
Milady terkikik.
Ya Ampun... Ternyata dia masih ngambek!
Dasar rubah tua...