
Trevor tidak bergeming menatap Milady. Telinga wanita itu merah, tapi ia berusaha tetap menunjukan wajah tenang.
bulu kuduk Trevor meremang.
Ini bukan becanda...
Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, seperti : sejak kapan? Kok bisa? Bagaimana mungkin? Apa kamu waras? Dan lain sebagainya.
Trevor bahkan saking kagetnya tidak mampu berbicara.
Di saat seperti itu, ponsel Milady berdering.
Sebastian Bataragunadi
nama itu terpampang dilayar ponsel Milady
Trevor menatap bergantian antara ponsel dan Milady.
Lalu menempelkan telunjuk di bibirnya.
Tanda kalau jangan sampai Sebastian tahu kalau disitu ada Trevor.
"Ya?" Milady menjawab di dering akhir.
"Kok lama jawabnya?" tanya Sebastian.
"Cari tempat sepi dulu." jawab Milady.
Trevor menempelkan telinganya di ponsel Milady, ikut mendengarkan. Milady sampai mengernyit karena ia harus menopang tubuh Trevor yang berat.
"Kenapa?" tanya Milady.
"Kamu ikut makan malam sama aku dan Trevor, kan?"
"Hm... Sepertinya tidak. Kamu butuh aku ada di sana?"
"Aku udah kangen lagi."
Trevor langsung berkunang-kunang.
Pria itu menelungkupkan kepalanya di pinggir meja.
Milady menatapnya dengan kuatir.
"Kalian butuh bicara berdua saja... Sebagai ayah dan anak. Keberadaanku akan membuat kalian jengah." desis Milady.
"Tapi aku ingin bertemu kamu..."
Trevor mengepalkan tangannya sambil memukul-mukul pahanya sendiri.
Sementara Milady tidak dapat melihta raut wajah pria itu karena masih terlungkup di meja.
"Kamu kesini saja, nanti setelah senja aku tinggalkan kalian berdua." sahut Milady.
"Oke... Aku kesana sekarang."
Dan pembicaraan itu terputus.
Milady menegak air putihnya sampai habis.
Trevor tetap terlungkup di meja.
Sambil menunggu pria itu menguasai dirinya, Milady melanjutkan santapan cakenya.
"Aku butuh makan banyak..." Akhirnya Trevor mengangkat kepalanya dan mengusap wajahnya. Tampak raut kebingungan dan shock.
Pria itu melambaikan tangan ke waitress dan memesan caesar salad ukuran jumbo, risotto ukuran double dan lasagna.
"Habis makan, aku interogasi kamu. Aku tenangin diri dulu..." lalu pria itu beranjak ke smoking room.
*****
Apa itu ayahnya?
Itu tingkah 'si konglomerat haus darah' kalau sedang jatuh cinta?
Sama...wanita yang usianya lebih pantas jadi anaknya?!
Bahkan usia Milady lebih muda dari Trevor!
Aku udah kangen lagi.
Astaga...!
Trevor begidik.
Astaga... Ya Tuhan...!
Trevor mengelus kedua lengannya yang merinding.
Ia benar-benar harus effort menguasai jantungnya yang berdebar kencang saat ini.
Lalu di benaknya muncul banyak sekali daftar pertanyaan.
Dan...
Ia baru ingat.
Kata-kata 'aku udah kangen lagi' itu menyiratkan kalau mereka berdua bertemu belum lama ini.
Sudah berapa lama mereka bersama?
Tapi tadi Milady bilang kalau baru-baru ini dia kembali bertemu dengan Mr. X.
Apakah... Hari ini...
Ayahnya seharian ada di ruang kerjanya.
Pintunya dari baja, tertutup dari pagi.
Apakah di dalam juga ada...
Ya Ampun!! Trevor tidak sanggup membayangkannya!
Kisah cinta ayahnya!!
Dengan wanita yang sudah lama ia kenal?!
Dan... Bagaimana dengan perjodohan yang dirancang ayahnya ini?!
Sial! Ia tidak sabar untuk tahu dari mulut Milady sendiri, sebelum ayahnya datang...
*****
"Jelaskan. Secara singkat dan jelas." tembak Trevor.
"Kamu yakin sambil makan? Tidak tersedak nanti?" Kata Milady.
"Aku butuh tahu secepatnya. Ayahku kalau menyetir suka ngga pake rem..." desis Trevor.
Milady menyeringai.
Ia sudah tahu kalau Sebastian saat weekend tidak suka pakai driver. Ia lebih suka menyetir mainan-mainan mahalnya sendiri.
Kalau ia akan bekerja, barulah ia menggunakan driver, karena ia harus menghemat waktu dengan membaca laporan di mobil sebelum tiba di kantor.
"Aku perlu tahu 'dia' yang dimaksud di sini sama atau tidak dengan yang kumaksud..."
"Iyaaaaaa... 'Dia' yang kumaksud, si Mr. X ini, adalah Sebastian Bataragunadi. Ayah kamu."
Trevor menarik napas panjang.
Menghembuskannya.
Nenarik piring risotto dan memasukkannya sesuap besar ke mulutnya.
Rasa rissotto yang hangat dan gurih membuat hatinya tenang.
"Lanjutkan..." Trevor memutar-mutar sendoknya.
Milady menghela napas.
"Aku kenal dia sejak remaja. Dan kami saling jatuh cinta... Pertemuan kami..."
Dan Milady menceritakan semuanya. awal pertemuannya dengan Sebastian,
Tentang perasaannya yang galau karena merasa dipermainkan Sebastian, betapa Sebastian sangat mengkhawatirkan Trevor sampai harus mengorbankan Milady, dan tawaran Milady untuk membuat Sebastian cemburu agar pernikahan mereka dibatalkan.
Trevor bahkan sudah tidak ingin makan.
Ini...
Ini terlalu romantis baginya...
Ia malah eneg sendiri.
Sekaligus bersimpati terhadap Milady.
"Rubah tua licik itu harus dikasih pelajaran. Sekalian saja aku cium kamu di depan dia..." geram Trevor.
"Maksudku begitu..."
"Kita lancarkan rencana kita sekarang, dan klimaksnya di Jepang. Lalu kalau dia sudah sibuk sama kamu, kamu bujuk dia supaya membiarkanku meneruskan hubunganku dengan Ayumi. Bagaimana?!"
"Maksudku juga begitu!" seru Milady.
"Kali ini kita sepakat yah!" sahut Trevor.
"Sepakat! Aku suka yang ini!"
Mereka berjabat tangan dengan antusias.
"Makan lagi, tiba-tiba aku laper banget!" desis Trevor.
"Okeeee!!" Milady menarik pastanya.
Tidak sampai 10 menit kemudian, Sebastian tiba di restoran. Dia langsung menarik kursi di sebelah Milady, duduk dengan santai dan memesan kopi.
Trevor hanya menatapnya sambil makan, Milady baru saja selesai dengan semua cakenya dan sedang menyesap teh camomile yang akhirnya ia pesan untuk ketenangan hati. Saat ini wanita itu sedang menorehkan lipgloss lewat cermin di case bedaknya.
Sebastian memandang wanita itu, dari atas sampai bawah.
Baru berpaling saat chef restoran itu datang dan menyapa Sebastian.
Rupanya mereka saling mengenal dan mereka mengobrol dengan bahasa Prancis sejenak.
"Kamu dandan terlalu cantik..." bisik Trevor.
"Thank's... Tapi aku kan dandan memang buat dia." Milady menjulurkan lidahnya.
"Lihat tuh matanya nyalang..." Bisik Trevor lagi sambil menghabiskan saladnya. Lalu ia menunduk karena Sebastian datang.
"Ayah kok datang cepat...?"
"Hm...? Ngga boleh?"
"Kan cuma tanya... Perasaan kita janjian malam."
"Ayah kan mau ketemu Milady dulu."
Trevor langsung membeku.
"Hemm... Mau ketemu Milady?" desis Trevor dengan nada menyindir.
Sebastian duduk di sebelah Milady dengan tubuh condong ke wanita itu, menatapnya terang-terangan. Milady balas menatapnya tapi dengan senyum kebingungan.
"Gimana kerjaan Trevor? Rapi? Atau dia perlu saya benahi."
"Apa maksudnya aku perlu dibenahi?"
"Perlu ditatar, maksud ayah..." Sebastian melirik Trevor tajam.
Milady tersenyum lembut. "Sejauh ini terkendali, Pak..."
"Itu pendapat sejujurnya kamu atau pendapat diplomasi?" pancing Sebastian.
Milady terkekeh.
"Bapak bercanda atau serius?" tanya Milady balik.
"Saya perlu tahu semua manager saya bekerja dengan baik."
"Kan bisa dilihat dari deviden ayah setiap semester... Sama koleksi mobil di garasi." sindir Trevor.
"Itu kan bukan dari kamu, dari yang lain..." desis Sebastian. Dia merapikan jaket bombernya dan duduk bersandar. "Mumpung kalian berdua ada di sini, saya mau menyampaikan beberapa hal." ia melipat kedua tangannya di dada.
Lalu menghela napas.
"Dalam kewenangan saya sebagai seorang atasan, di luar kewenangan saya sebagai seorang ayah, saya perlu bilang kalau proyek yang ditangani Trevor di lingkup timur mengalami penurunan kepuasan, terutama proyek coast view. Kamu yakin bisa launching bulan depan?"
"Tidak yakin." jawab Trevor cepat.
Milady melotot padanya.
Trevor mengangkat bahunya.
"Hm?" Sebastian menuntut penjelasan.
"Aku ngga bisa ambil resiko yang membahayakan nyawa manusia." desis Trevor. "Kalaupun dipaksakan Launching, Ada 4 Mall di area coastview, kalau yang satu tidak bisa beroperasi, akan jadi pertanyaan. Masyarakat akan beranggapan kalau seluruh coastview tidak aman. Jadi lebih baik aku membayar penalti ke investor daripada kerugian yang ditimbulkan akan besar."
"Ayah tidak ingin ada penalti, juga tidak ingin ada kemunduran jadwal. Bukan tujuan itu ayah menempatkan kamu di wilayah timur."
"Pak Sebastian..." desis Milady memotong pembicaraan. "Maaf kalau saya menyela... Kami berdua akan pastikan tidak sampai dua bulan soft launch coastview akan diadakan. Kami akan memakai gedung utama yang bebas resiko untuk acara utamanya. Sementara perbaikan gedung utara akan ditutup dengan keuntungan pameran di Jepang. Masyarakat akan teralihkan dengan proyek baru dan tidak akan mengeluhkannya lagi, karena kami akan bekerjasama dengan kementrian pembangunan sebagai promosi gebrakan pertama kolaborasi property antara Indonesia dengan Jepang."
Trevor menyeringai.
Sebastian mengelus janggut putih panjangnya.
"Lumayan lah jawaban kamu." desis Silver Fox akhirnya.
"Itu sudah jawaban bagus, masih dibilang 'lumayan'..." dengus Trevor.
"Lumayan, karena bukan kamu yang jawab. Kamu harus menyuruh asisten kamu untuk membackup semua pekerjaan?"
"Yaaa... Itu kan memang pekerjaan asisten." desis Trevor
"Itu memang pekerjaan saya." sahut Milady mendukung Trevor sambil tersenyum.
"Kompak yah kalian, kayak sudah diatur jawabannya." sahut Sebastian sambil tersenyum menyindir.