
Apa yang membuat Laki-laki menjadi Pria Sejati?
Pria sejati menangis untuk kekasih.
Ibunya, istrinya, anaknya, semua terkasih.
Ia berjuang dalam sedih
Ia berusaha dalam susah
Mempertahankan tawa di wajah
Susah payah
Hanya kebahagiaan hasilnya sudah
Apakah hal tabu untuk menangis?
Tidak.
Itulah Pria Sejati
Mencintai dan dicintai
(Septira W. 2021)
*****
Milady dan Ayumi berjalan berdampingan di sepanjang jalan setapak setelah menonton berbagai pertunjukan satwa.
"Zoo di Indonesia indah sekali... Dan sangat luas..." Sahut Ayumi sambil menatap sekelilingnya dengan takjud.
"Ini sudah jauh lebih luas dibanding saat aku berkunjung terakhir kali, waktu itu aku masih SD... Kalau di Jepang sebutannya shougakkou ya?"
Ayumi mengangguk. "Iya, aku terakhir kali juga ke zoo saat SD. Sekitar... hm... 27 tahun yang lalu..." Ayumi terkekeh.
"Kamu SD, aku baru lahir..." Milady menyeringai.
"Wah... Jadi umur kamu dan Sebastian bedanya 2x lipat ya."
"Begitulah..."
"Bukankah... Itu 'kejahatan'...?!" Ayumi menyeringai menggoda Milady.
"Sshh..."
Lalu mereka berdua cekikikan.
"Mau umur berapapun, laki-laki tetaplah laki-laki... " sahut Milady.
Ayumi mengangguk. "Betul..."
"Selalu salah di mata kita." Mereka berdua bersahut berbarengan.
Lalu tertawa bersama.
"Hei... Aku boleh tanya hal pribadi ngga?" Tanya Milady saat mereka berhenti di konter jagung susu keju.
"Aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Ares." Sahut Ayumi tegas.
"Hahahaha!!" Sahuy Milady. "Jawabannya sudah otomatis, ternyata!"
"Itu kan yang kamu mau tanyakan?!" Sungut Ayumi.
"Kurang lebih... Tapi biar aku selesaikan pertanyaanku."
"Oke... Aku dengarkan. Silahkan..."
"Hm... Maaf kalau seandainya tersinggung. Tapi... Apa benar kamu tidak menyukainya? Kamu bercinta dengannya, dan kamu mengikutinya kemana pun. Kalau aku pasti sudah kabur sekarang, jangankan menikah. Memangnya tidak ada pria lain yang bisa kuajak menikah selain dia?"
Ayumi tertegun mendengar argumen Milady.
Seakan ada yang membuat pintu hatinya terbuka.
"Coba pastikan perasaan kamu... Masih ada kesempatan sebelum pernikahan. Kalau alasan kamu hanya untuk mendapatkan kewarganegaraan... Menurutku hal itu bisa dilakukan tanpa harus menikah." Tambah Milady lagi.
"Kamu membuatku jadi tidak lapar lagi..." Dengus Ayumi sambil mengaduk Jasuke-nya.
Milady terkekeh.
"Itu yang dilakukan seorang teman..." Bisik wanita itu.
Ayumi menghela napas.
"Ares dan aku disatukan oleh alam secara misterius..." Sahut Ayumi. "Aku memiliki mimpi yang sama berhari-hari... Sebelum kabur ke negara ini. Selama sebulan lebih... Setiap malam. Ibuku bilang aku harus cari kebahagiaanku sendiri. Lalu... Ada anak laki-laki, membawa ember berisi air. Dia melihat ayah-ibunya di depan sana, sedang digiring beberapa orang memakai pakaian militer... Entah dari negara mana. Di mimpiku aku merasakan suatu pertanda buruk, ada perasaan untuk mencegah anak itu untuk melihat kedua orang tuanya. Mimpi itu terus berulang..."
"Kalau mimpi terus berulang... Tidak bisa dianggap remeh."
"Mungkin... Anak itu adalah Ares di masa kecilnya. Aku menemukan kemiripan saat melihat data diri yang disimpannya di apartemen."
"Wah... Mukjizat!"
"Dan setelah aku bertemu Ares... Aku tidak memimpikan hal itu lagi."
Milady dan Ayumi kembali menyusuri jalan setapak dengan santai.
"Orang seperti apa ayah dan ibumu?" Tanya Milady.
"Aku memiliki banyak pertanyaan untuk mereka sebenarnya. Terlalu banyak pertanyaan..." Terlihat kening Ayumi mengernyit.
"Seperti?"
"Seperti... Mereka sangat menyayangiku. Selalu ada untukku..."
"Loh? Itu kan bagus?"
"Itu terlalu bagus untuk kenyataan kalau mereka adalah anggota Yakuza, pengguna narkotika dan karyawan perusahaan besar yang menggelapkan uang perusahaan untuk modal perdagangan obat ilegal." Sahut Ayumi.
"Maksud kamu... Tidak pungkin penjahat bisa memberikan kasih sayang seperti yang mereka berikan pada kamu?"
"Benar. Dengan banyaknya aktivitas yang mereka lakukan... Aku mendapatkan kasih sayang seperti remaja normal, pendidikan baik, dan mereka selalu ada untuk mendengarkan keluh kesahku!"
"Itu... Hebat, sih."
"Itu terlalu hebat... Menurutku ya, setelah aku mengingatnya sekarang. Maksudku... Mereka pandai sekali menyembunyikan sesuatu. Kupikir lagi, mereka sendiri masih sebuah misteri, bagiku..."
"Apakah kamu tahu kalau mereka pengedar?"
"Mereka pengkonsumsi dan pengedar. Tapi aku tidak pernah melihat mereka sempoyongan atau mabuk-mabukan. Mereka mengkonsumsi suatu tablet. Aku juga tidak terlalu tahu obat apa itu."
"Hm..."
******
Sebastian memandang ke arah pegunungan hijau di depannya.
Pandangannya sendu dan nanar
Pria itu sedang menikmati keindahan Illahi...
Tawa anak-anak dan obrolan orang dewasa di sekitar mereka.
Lenguhan satwa yang bahagia di sekelilingnya,
Senandung alam...
Sebastian mungkin tampak mencolok bagi orang biasa
Beberapa anak bahkan menarik orang tuanya ke arah Sebastian, memaksa foto sambil bilang...
"Kakek KaeFCi!"
Ck...!
Orang tuanya yang menyadari Sebastian bukan orang sembarangan langsung sibuk membungkuk minta maaf.
Tinggal Arman yang terkekeh geli.
"Nyengir aja sepuasnya... sebelum saya kasih kerjaan lagi." Sungut Sebastian.
"Rambutnya diwarnain dong Pak... warna pelangi gitu?"
"Sebelum saya praktekan, kamu coba duluan. Kalo cocok, baru saya ikutan... Memangnya Cenil..."
Arman kembali terkekeh, lalu merengangkan tubuhnya...
Beberapa gadis muda dari rombongan pariwisata suatu kantor, melirik-lirik Arman sambil tersenyum menggoda.
Beberapa memberinya kode bermesraan.
Arman?
Tersenyum simpatik dan mengerling ke arah mereka.
Semua langsung heboh sambil mengipasi diri mereka. Sisanya berteriak kesenangan.
"Kamu jadi artis aja sekalian, biar sensasional... siapa tahu habis itu direkrut jadi anggota DPR ato Pengurus Partai. Begtu saya sadar tau-tau kamu udah jadi kandidat Presiden, siapa tahu loooh..."
"Iri bilang, Boss."
"Ngga iri, kok. Cuma sebal." Sebastian menyesap kopinya.
Arman menghela napas sambil menyandarkan kepalanya. Ia berusaha santai, ikut menikmati cuaca hari ini.
"Pak, saya boleh tanya?" Tanya Arman.
"Apa lagi?"
"Satu, ituuu... Ngapain bawa-bawa tongkat sih Pak? Kan jadi kelihatan tua-nya. Apa pinggang bapak encok atau kecetit gitu? Kalau 'main' jangan terlalu semangat, pelan-pelan aja Pak nanti juga sampe..."
"Otak kamu ngga jauh-jauh dari itu ya..." Gerutu Sebastian. "Ini hadiah Milady dari Jepang. Liat nih..." Sebastian menarik ornamen di puncaknya. "Isinya pedang... Bisa banget buat bikin kambing guling, kan?"
"Kok dijuntrungin ke saya sih..." Omel Arman. "Tapi keren sih. Cocok banget sama bapak."
"Nyindir?"
"Hehe."
"Ck... Saya itu masih bisa nendang kamu..."
"Kemarin saya ngalah aja sih Pak biar bapak terlihat berwibawa."
"Biar bonus kamu gede ya?"
"Iya, siapa tahu iba sama saya begitu..."
"Kayaknya enggak sih, sori ya." Sahut Sebastian.
Arman mendecak.
"Yang kedua..."
"Masih ada lanjutannya toh, ganggu saya lagi menghirup oksigen berkualitas aja deh. Saya ini udah tua, perlu yang santai." sungut Sebastian.
"Ini semua kan gara-gara bapak sendiri." Arman menuduhnya.
"Loh... mau protes nih ceritanya?!"
"Bukan protes. Ngingetin aja."
"Ngeles terus kerjanya, Apa yang kedua?"
Arman menarik napas panjang lalu memicingkan mata menatap Sebastian.
Ia menengadahkan tangan meminta penjelasan.
"Kenapa saya di sini?" Tanya Arman. "Kenapa bapak mengajak saya? Bapak tidak pernah di dampingi seseorang saat dealing investasi. Seperti anggota keluarga bapak yang kemana-mana maksa sendirian, terus kalau ada apa-apa yang disalahkan bodyguard."
"Kamu itu... bertanya jangan sekaligus menyindir dong..."
Sebastian merogoh kantong jaketnya dan meletakkan secarik kertas di depan Arman.
"Saya tahu hubungan kalian sudah cukup jauh. Tapi ini saatnya mengembalikan dia..." Sahut Sebastian.
Siapa yang dia maksud...? Pikir Arman sambil meraih kertas di depannya.
Ia membacanya sekilas.
Lalu...
Tangannya gemetar.
Pandangannya mulai kabur...
"Ini...?" Desis Arman.
"Sepertinya Yamaguci Ito baru mengetahui belakangan. Karena itu mereka mulai menganggap Asse pengkhianat. Saya sudah curiga sejak lama... Kemungkinan sakaw di penjara, huh!" Dengus Sebastian. "Masa penjara sekelas Jepang tidak penyediakan fasilitas rehabilitasi?! Pasti ada alasan lain yang lebih kuat! Intel saya sedang menyelidiki hal ini. Kalau benar, kita harus mengembalikan keturunannya ke Jepang. Terlalu riskan untuk ikut campur masalah politik negara lain."
Arman hanya diam, ia berusaha flashback ingatan masa lalunya.
Menelusuri detik demi detiknya...
Menganalisa kemungkinan adanya hal yang terlewat.
Di depannya,
Di secarik kertas itu...
Ada foto dan sebuah kartu tanda pengenal
Tadashi Sakurazaka.
Central Intelligence Agency
USA