Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
The Loved One (2)



"Jadi... Ada apa?" Ayumi menatap Arman dengan gusar. Jemarinya mencengkeram cangkir keramik berisi teh madunya dengan erat.


Kuku wanita itu mengetuk tepiannya perlahan.


Arman menghela napas.


"Kabar baiknya adalah..." Arman menyerahkan amplop putih kepada Ayumi.


Amplop itu memiliki logo pemerintah, dan cap stempel asli.


Terdapat tulisan : Wajib diserahkan secara langsung kepada penerima.


"Badan Narkotika Nasional?" Tanya Ayumi sambil menatap Arman dengan waspada.


Arman mengangguk pelan.


Raut Arman sebenarnya tampak senang, namun Ayumi dapat melihat perang batin sedang berkecamuk di pandangan matanya.


Akhirnya wanita itu mengeluarkan kertas di dalamnya dan membacanya beberapa saat.


Ia mengernyit.


Lalu membacanya sekali lagi dari atas.


Ia kembali mengernyit.


Kali ini ia ulang membaca untuk yang ketiga kalinya dengan lebih seksama, berusaha mencari kosakata Bahasa ndonesia resmi di otaknya.


"Ares..." Mata Ayumi berbinar. "Kamu kandidat kuat untuk menggantikan posisi Irwan Hartawi! Pejabat BNN!"


"Hm..."


"Mereka tampak tidak mempermasalahkan record kamu, masa lalu kamu, sepertinya... Apa mungkin karena dianggap penindakan tegas?"


"Mm..." Gumam Arman. "Dari awal laporannya memang bukanlah pembunuhan, tapi dibuat seakan sebagai sebuah tindakan karena Diptar Handal melakukan perlawanan. Tapi konsekwensinya aku dipecat."


Ayumi mengangguk mengerti.


"Ini bukankah berita yang sangat baik?" sahut Ayumi.


"Iya... Itu mimpiku selama ini. Backingku juga kuat, sedikit nyeleneh karena menggunakan pengaruh Pak Sebastian dan Atmana. Walaupun seandainya tidak terpilih pun aku tetap akan menempati jabatan di kepolisian."


"Wah... Mereka memanggilmu kembali... Aku turut senang, Ares..." Ayumi menggenggam tangan Arman dengan wajah senang.


Arman hanya mengangguk pelan sambil mengelus punggung tangan Ayumi dengan lembut.


Kenapa rasanya sangat sakit...?


Batin Arman mulai bergejolak.


Beginikah rasanya harus berpisah dengan orang yang kita sayangi?


Beginikah... Perasaan Trevor waktu terpaksa harus meninggalkan Ayumi sendirian di Jepang?


Begini rasanya... Saat Pak Sebastian berpisah dengan Mbak Milady selama 10 tahun tanpa pernah tahu kabar masing-masing?


Tidak heran mereka begitu menekuni pekerjaan mereka.


Kerja keras seakan dikejar waktu.


Ternyata bukan kekayaan yang mereka cari...


Tapi... Mereka sedang berusaha melupakan rasa sakit di hati mereka!


Astaga...


Ternyata rasanya memang menyakitkan!


Keluh Arman.


"Kenapa wajah kamu begitu?" Tanya Ayumi.


Arman menatap punggung tangan Ayumi, lalu membelai telapak tangan wanita itu.


Masih terasa kasar karena luka yang belum sembuh benar... Juga goresan-goresan yang membuat kulit wanita itu menebal...


Arman mengangkat tangan Ayumi dan mengecup punggung tangannya.


"Benar kata kamu kemarin... Aku... tidak pernah jatuh cinta selama ini. Jangan salah sangka, aku mulai jatuh cinta sama kamu bukan karena milik kamu yang..." Arman mengernyit. "Tapi... Saat kamu bersikeras untuk membantu kami mencari Mbak Milady, padahal kamu dalam keadaan luka-luka. Tekad kamu yang kuat, berusaha untuk membayar semua kesalahan kamu... Membuat aku merasa kamu sangat... Menarik."


Arman menghela napas.


"Bukan... Bukan 'menarik'... Lebih dari itu... Tiba-tiba kamu terlihat sek si, tangguh, pintar, kuat, manis, cantik, dan berbahaya..."


"Dasar masocist.." Sindir Ayumi sambil menyeringai.


Arman terkekeh.


Lalu wajahnya kembali berubah datar.


"Sebelum aku memberitahukan kabar yang lain, aku ingin kamu lebih dulu tahu... Kalau..." Arman mempersiapkan dirinya dengan berbagai kemungkinan reaksi Ayumi.


"Perasaanku kali ini bukanlah main-main. Aku tidak pernah menjanjikan apa pun ke wanita-wanita yang bersamaku selama ini. Terserah kalau kamu tidak percaya, tapi kamu satu-satunya yang aku lamar..." Sahut Arman.


Ayumi mengangkat sebelah alisnya, tandanya ia masih meragukan perkataan Arman.


Arman menipiskan bibirnya tanda sebal.


"Iya..." Desis Ayumi. "Kamu bohong juga aku tidak peduli. Karena kalau aku tahu, aku bakal habisi simpanan kamu..."


Arman menelan ludahnya.


"Habisi...itu maksudnya apa?"


"Habisi dengan caraku."


"Iya, dengan cara apa?"


"Kamu tidak perlu tahu, Ares..." Ayumi memicingkan mata.


Arman menarik napas panjang.


"Terserah."


"Terserah ala perempuan... Meresahkan."


"Iya. Terserah."


Arman menyeringai...


Ia akan merindukan obrolan semacam ini kedepannya.


Saat tidak ada yang mau mengalah, tapi sebenarnya saling mendukung.


"Ayumi..."


"Hm?"


"Sepertinya kita harus berpisah untuk sementara waktu."


Ayumi hanya diam.


Jadi, Arman meneruskan kalimatnya.


"Orang dari Kedutaan Jepang datang tadi siang. Menemui aku dan Pak Sebastian. Mereka mencari kamu dan akan menjemput kamu kembali ke Jepang, mereka menginginkan daftar yang kamu curi dari Yamaguci ito. Itu akan dijadikan informasi rahasia negara... Dan kami sudah menduplikasinya, karena juga berkaitan dengan pemerintah Indonesia. Jadi Jepang dan Indonesia akan bekerja sama untuk masalah ini. Otomatis... Kamu akan butuh perlindungan yang lebih ketat... Kamu sekarang adalah aset Jepang. Kemungkinan kita tidak bisa bertemu dulu untuk sementara waktu."


"Kamu bisa ikut aku ke Jepang." Kata Ayumi.


Arman mengangkat amplop putihnya.


"Impianku di sini... Aku harus tetap di Indonesia. Menggapai yang belum tercapai."


"Ares..."


Arman menggelengkan kepala.


"Aku... tidak tahu mana yang harus kudahulukan..." ia menunduk sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Dari dulu yang kuinginkan adalah mengabdi untuk negara ini... Tapi kamu juga penting... Jadi... Entahlah. Aku berharap kamu dapat mengerti kondisiku."


Praang!!


Cangkir teh pecah terkena genggaman Ayumi yang sangat erat.


Sekali lagi wanita itu melukai telapak tangannya.


"Ayumi..."


Ayumi menghentikan gerakan Arman dengan menengadahkan tangannya.


"Aku... Butuh berpikir." Gumam wanita itu.


"Orang kedutaan akan menjemput kamu besok pagi."


Ayumi menarik napas panjang.


"Ares..." Terlihat Ayumi bernapas dengan menahan geram.


"Maafkan aku." Kata Arman sambil menunduk.


"Aku butuh sendirian..." Desis Ayumi sambil beranjak.


Wanita itu duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah jendela.


Dan hanya diam di situ sampai larut...


*****


"Ayumi..." Panggil Arman lembut.


Sudah lewat dini hari.


Ayumi masih di tempatnya tadi. Memandangi gerimis di luar jendela dengan tatapan kosong.


Arman dengan ragu duduk di samping Ayumi Dengan hati-hati diraihnya bahu Ayumi. Wanita itu menoleh perlahan.


Terlihat garis air mata yang telah mengering di pipi Ayumi.


"Apakah... Harus begini akhirnya?" Suara Ayumi terdengar serak.


"Kita hanya dipisahkan jarak..." kata Arman.


"Tanpa boleh berkomunikasi satu sama lain..." Sambung Ayumi.


"Iya." Sahut Arman. "Tapi... Hal itu tidak masalah bagiku. Kita akan bertemu lagi."


"Berapa lama?"


Arman menghela napas menanggapi Ayumi. "Aku..."


Arman tidak bisa menjawabnya. Pria itu menggeleng.


Ayumi menoleh ke arah Arman. Wajahnya begitu menyiratkan rasa sakit hatinya.


"Apa tidak ada jalan keluar yang lebih baik?" Tanya wanita itu.


Sudah pasti, itu satu-satunya solusi... Mereka berdua sebenarnya mengetahui hal itu. Tapi Ayumi masih berharap walaupun tahu itu hanyalah harapan kosong.


"Ares..." Ayumi menggenggam tangan Arman. Berusaha membujuknya.


"Bisakah aku di sini saja bersama kamu?" Tanya Ayumi.


"Aku juga inginnya begitu... Tapi kami bisa dituduh tidak koperatif. Nama negara dipertaruhkan."


"Astaga..." Desis Ayumi.


"Maaf... Ayumi... Maaf..." Arman meraih tubuh wanita itu. Ia memeluk tubuh kurus Ayumi dengan rasa penyesalan.


Ayumi sambil terisak mendekati Arman.


Mereka hanya saling berpelukan... Sampai semburat cahaya mentari timbul di ufuk timur