Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Putra Mahkota VS Pengawal Raja



Suhu Tubuh Ayumi mulai menghangat. Namun tetap, rasa nyeri akibat luka-luka di tubuhnya masih sangat terasa. Obat anti depresan nyatanya tidak terlalu berefek.


Hujan mulai berhenti, namun kabut tebal mulai turun.


Ayumi mempererat pelukannya.


"Saigo ni kon'nani dakishimeta no wa itsudatta..." (Kapan terakhir kali kita berpelukan begini?) tanya wanita itu.


"Sekitar... Dua-tiga bulan lalu saat aku ke Jepang." kata Trevor.


"Kamu ingat ya..."


"Kamu tidak ingat karena bagi kamu itu tidak berkesan." gerutu Trevor.


"Gomen ne..." (Maaf...)


"Sakit banget tau ngga..." gerutu Trevor. "Ngomong-ngomong, untuk mengalihkan rasa kantuk sampai suhu tubuh kamu agak normal, Aku boleh bertanya?" tanya Trevor.


Ayumi menghela napas.


Inilah saatnya...


Sesi dari hati ke hati...


Mau tidak mau harus mereka hadapi.


Karena....


Sebuah 'kebenaran yang menyakitkan', lebih baik daripada 'kebohongan untuk kebaikan'.


"Bagaimana caranya Arman bisa jadi calon suami kamu, sedangkan aku harus menunggu lama untuk menikahi kamu?"


Ayumi menarik napas panjang.


Terus terang, Ia tidak ingin menyakiti hati Trevor. Namun bagaimanapun ia harus mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Ares bukan anak Sebastian, dan dia tidak butuh restu siapapun... Lagipula aku tidak harus menyesuaikan keyakinan dengannya." sahut Ayumi.


Pukulan telak bagi Trevor.


"Alasan lain?"


"Aku butuh kewarganegaraan di sini karena situasi di Jepang tidak kondusif."


Trevor menghela napas.


"Dari berbagai segi, aku kalah ya..."


"Pernikahan bukan soal kalah atau menang, tapi soal kecocokan..."


"Memangnya kamu cocok sama Arman?"


"Saking cocoknya, kami selalu berdebat." dengus Ayumi.


"Ayumi... Kalau bisa memilih... Kamu akan tetap menikahi Arman?"


"Kalau bisa memilih... Aku ingin sendirian, menikmati hidupku..." sahut Ayumi. "Tapi... Aku juga ingin seperti Otousan dan Okaasan... Saling mencintai sampai detik terakhir hidup mereka. Juga... Memiliki anak yang sayang sama aku..." tambah Ayumi.


Trevor menengadahkan kepalanya.


"Kamu benar-benar tidak memiliki perasaan apa pun terhadapku?"


"Em... Iya. Maaf... Saat ini aku sudah capek berakting. Luka-luka di tubuhku akibat kemunafikan bertahun-tahun... Aku tidak ingin terluka lagi, atau melukai orang lain lagi..."


"Jadi... Ini saat terakhir aku memeluk kamu."


"Mungkin... Ini saat terakhir..."


Suara deburan aliran sungai di sekitar mereka...


Masih banjir, namun tidak sederas tadi.


"Aku mengantuk... Rasanya lelah sekali." sahut Ayumi.


"Hm... Suhu tubuh kamu mulai normal. Kurasa kamu bisa tidur... Gimana luka kamu? Masih perih?"


"Hem... masih perih, tapi tidak separah tadi."


Dan Ayumi memejamkan matanya.


"Maaf ya Mika... hubungan kita harus berakhir..." Gumam Ayumi.


Trevor tidak ingin menjawabnya.


*****


Entah sudah berapa jam mereka di dalam mobil, Trevor terbangun saat kabut menghilang dan ia mendengar suara berdengung.


Apa itu di langit?


Lampu sorot?


Pria itu mengernyitkan matanya menajamkan penglihatannya sambil dengan waspada mengeluarkan sedikit kepalanya keluar jendela.


Drone...


Milik siapa?


Musuh kah?


Trevor meletakkan tubuh Ayumi yang sedang lelap tertidur di sebelahnya dengan hati-hati. Lalu ia mengenakan pakaiannya.


"Astaga..." desisnya mengeluh karena pakaiannya yang basah sangat dingin menusuk kulit.


Tapi ia tidak ingin diserang dalam keadaan telan jang.


Itu Drone milik Garnet Oto!


"Syukurlah..." desisnya.


Pintu mobil tidak bisa dibuka karena terjebak lumpur, jadi dia keluar dari jendela.


Dan melambaikan tangannya.


Lampu drone berkedip tiga kali, pertanda mereka melihat Trevor.


Lalu drone itu berlalu dari sana, kemungkinan akan melakukan tindakan lanjutan.


"Ayumi..." panggil Trevor.


Ia membangunkan Ayumi beberapa kali.


"Hmh?" keluh Ayumi.


"Orang Garnet datang..."


Ayumi langsung membuka matanya dengan berbinar.


"Ares? Syukurlah..."


Trevor mengernyit.


"Belum tentu dia." geram Trevor.


*****


Sebastian langsung menegakkan tubuhnya saat Drone mengangkat bayangan jeep milik Trevor.


"Hidupkan lampu Drone..." desis Sebastian.


Terlihat sosok Trevor melambaikan tangannya dari atas kap mobil.


Sebastian menghela napas lega, ia langsung bersandar di kursinya.


Pak Kardi, Umar dan Tresna berteriak-teriak senang sambil berpelukan.


Milady menghampiri Sebastian dan mencium dahi pria itu.


Sebastian membalasnya dengan ciuman di rahang Milady.


Wanita itu duduk di pangkuan Sebastian.


"Eh, ini kursinya sekuat kursi ruang meeting ngga? Nanti kalau pangku-pangkuan terus ambruk gimana?" tanya Milady.


Sebastian mengangkat kedua kakinya dengan santai ke atas meja.


Perasaannya sudah lega melihat Trevor baik-baik saja.


"Kuat kayaknya, udah diuji Arman mangku satu-dua selir sekaligus..." ujar Sebastian.


"Njir..." sahut Moses dan Heksa berbarengan.


"Ngintip terus kerjaannya, cari referensi buat malem ya, Pak..." dengus Arman.


"Udahan kali ngobrol yang gitu-gitu... Pada ngga kasian sama kita yang Google..." sahut Heksa.


(Google : Golongan Orang Single)


"Itu sih derita kamu..." sahut Sebastian. "Makanya jangan mainan burung terus, terbangin sana..."


"Hush! Mas..." sahut Milady memperingatkan Sebastian.


*****


"Pak Trevor... Selamat Malam..." Arman menghampiri Trevor saat mereka sudah di tanah solid.


"Hm..." gumam Trevor sambil memandang Arman dengan sinis.


Trevor hanya mengenakan celana jeansnya.


Arman melirik Ayumi yang duduk di bawah pohon, mengenakan kaos Trevor yang setengah basah dan selimut tebal menggulung di seluruh tubuhnya sebagai lapisan luar.


Baju Ayumi sendiri, karena bahannya tipis jadi sudah robek di sana-sini saat mereka terbentur terbawa arus tadi pagi.


Kini mereka berdua,Trevor dan Ayumi, sudah di atas tanah solid, di lokasi yang aman menjauhi sungai.


"Saya harap tidak mengganggu kebersamaan kalian..." Sindir Arman.


"Jelas-jelas mengganggu..." Gerutu Trevor.


"Tidak ada apa pun yang terjadi, dia hanya memelukku karena aku hipotermia." Sahut Ayumi cepat.


Lalu wanita itu mengernyit,


Kenapa juga aku menjelaskannya?! Kok rasanya seperti ketahuan selingkuh?! Pikir Ayumi heran.


Arman menatapnya tidak senang, sepertinya dia curiga.


"Oh..." Desis pria itu. "Hipotermia juga bisa dicegah dengan makan makanan mengandung kalori. Saya lihat banyak cemilan di dalam mobil... Tidak harus berpelukan, sebenarnya." dengusnya.


"Dari dulu kami biasa menyelesaikan masalah dengan bermesraan... Berpelukan adalah salah satunya." Sahut Trevor. Tampaknya ia ingin menyulut kekesalan Arman .


"Teletubbies kali..." Gumam Arman memaki. "Saya tidak peduli kalian mau apa, sebenarnya... Yang saya pentingkan adalah keselamatan Sang Putra Mahkota." Arman menyindir Trevor sambil berjalan ke arah Ayumi untuk memeriksa luka wanita itu.


Ia berusaha menekan Trevor dengan kalimat intimidasi yang mengindikasikan kalau Trevor hanya pria yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa orang lain.


"Tidak ada yang minta dibantu di sini..." Desis Trevor.


"Iya, karena sinyal tidak sampai ke sini." Balas Arman. "Sang Raja panik karena anak kesayangan hilang..."


Kekehan Arman terdengar menyebalkan di telinga Trevor.


"Paling tidak, selama dengan Sang Putra Mahkota ini, dia tampak cantik... Mau-maunya dia sama cowok yang bisanya cuma bikin babak belur... Sampai dia kesakitan saja sambat sama mantan..." Balas Trevor.


"Udah jadi mantan, rupanya... Selamat yah, saya pikir ngga bisa move on..." Arman menghadang Trevor.


Mereka kini saling bertatapan, sejajar, dengan saling menyerang melalui pandangan tajam.


"Fisiknya memang luka-luka, paling tidak hatinya sudah tidak lagi. Dan jelas-jelas... Saya calon suaminya." Arman menyeringai menantang Trevor.


"Mengaku kalah saja, Mikaeru..." Sindirnya lagi.


Duagg!!!


Trevor melayangkan tinjunya ke wajah Arman.


Pukulan telak membuat pria keturunan Korea itu limbung ke belakang.


Namun ia kembali tegak dengan mudah.


"Pukulan calon Raja... Lembut sekali yah." Sahut Arman sambil menyeringai.


"Masih bisa bikin bibir kamu berdarah tuh..." Sahut Trevor.


Arman meludah ke samping mengeluarkan ludahnya yang bercampur darah.


"Kalau saya pukul, dipecat ngga kira-kira? Halah masa bodo..." Arman maju dan mencengkeram leher Trevor, lalu menghantam wajahnya.


"Sorot kameranya yang jelas dooong! Jangan gerak-gerak! Ah, gimana sih kamu kok oleng sih..." Sahut Sebastian mengarahkan drone yang sedang dikendalikan Eiichi.


"Sudah direkam, kan?!" sahutnya.


"Sudah Booos! Jelas ini loh gambarnya!" Sahut Pak Kardi.


"Jarang-jarang ngeliat anak gue berantem... Gue pikir bayar instruktur silat mubazir..." Desis Sebastian dengan mata berbinar.


"Anj*ay berkubang di lumpur ! Mantep..." Seru Moses.


"Gile Pak Trevor bisa mukul juga doi!" Seru Heksa.


"Itu sikutnya kurang diangkat Trevor! Gimana sih gitu aja meleset!" Seru Sebastian.


"Mas Arman ngalah aja lah daripada di bales Mas Yan kalo situ menang..." Desis Milady.


"Kamu memihak siapa sih?" Sungut Sebastian.


"Aku netral..." Sahut Milady cepat sambil memasukan sepotong besar ubi bakar milik Pak Kardi.


"Aku mulai curiga ya, kamu memihak Arman terus." Sahut Sebastian.


"Aku bilang aku netral." sahut Milady cuek. "Tuh Trevor terdesak..."


"Ayo dong Trevor hantam yang kenceng!! Tendang kutilangnya biar ga muncrat dimana-mana!!" Seru Sebastian semangat.


"Ck... Memangnya kucing garong..." Decak Milady sambil melanjutkan memakan Ubi Bakarnya.