
Gunawan Ambrose...
Tadinya ia pikir bisa mengelabui Sebastian.
Namun nyatanya, tidak!
Ia berjalan dengan langkah lebar menyusuri koridor kedatangan bandara International, terminal 3 penuh dengan turis-turis yang akan berlibur di Negara ini, karena Rusia masih dilanda musim dingin.
Gunawan saat ini akan bertemu dengan rekannya dari perusahaan financenya di Amerika. Mereka janjian di salah satu cafe di bilangan Setiabudi. Perjalanan dari bandara ke lokasi mungkin sekitar satu jam, ditambah dengan macetnya metropolitan di jam pulang kerja seperti sekarang.
Gunawan sadar ia sedang bermain-main di kubangan kotor untuk mencari emas. Tambang Garnet Mining di Yakutia terlalu menggiurkan untuk diacuhkan. Mineral yang mereka temukan di sana bukan hanya berlian, namun juga adalah mineral langka bernama Petroviat yang kandungannya efektif untuk bahan baku baterai Natrium-ion.
Trevor sebagai Komisaris Utama Garnet Mining wilayah Rusia menginginkan supaya bahan baku itu diserahkan ke Pemerintah Rusia. Karena menurut kontrak, pekerjaan mereka hanya untuk menambang berliannya. Penambangan untuk mineral lain hanya akan merusak perjanjian dan akhirnya merusak kerjasama dengan pemerintah. Sehingga akhirnya akan berimbas luas ke perusahaan.
Tapi menurut Gunawan, ia merasa berkepentingan karena yang menemukan mineral itu adalah dia dan timnya. Seharusnya mereka mendapat rewards dari Pemerintah Rusia.
Karena tidak ada tanggapan baik dari Pemerintah maupun dari Grup, Gunawan nekat mendirikan perusahaan berkedok perusahaan finance di Amerika, menghentikan seluruh operasi pertambangan berlian di Rusia dengan alasan cuaca, dan berniat menjual hasil tambang langka lewat perusahaannya ke Amerika.
Tidak ada yang bisa memblokadenya di Rusia karena izin perusahaan atas namanya. Setidaknya... Hanya selama 6 bulan.
Dan kini jangka waktunya hampir habis, 6 bulan menyempit jadi hanya tinggal sebulan lagi.
Pekerjaan ini harus berhasil, atau dia akan habis... Ia akan jadi buronan di negaranya dan dibanned di Rusia dan Amerika.
Sementara mereka sudah kehabisan dana untuk menambang. Tenaga kerja butuh uang, dan tidak ada dana subsidi dari pusat karena mereka sedang memblokade pergerakannya.
Jadi lewat perusahaannya di Amerika, dengan dalih akan membangun infrastruktur, Gunawan mendekati kepala Divisi Pendanaan di Garnet Bank, Sarah Fadil, Istri dari Wakil Ketua DPR Komisi III Hari Fadil, untuk meminta dana cadangan lewat pengucuran dana kredit multiguna. Setelah mendapatkan dana, ia berniat kabur.
Dan hari ini, ia akan berdiskusi dengan rekannya dan Sarah Fadil.
Rencananya hampir berhasil saat ia memikat Meilinda Adinata Bataragunadi.
Adik Sebastian yang cantik namun polos dan menganggap di dunia ini tidak ada orang susah.
Yah, banyak sekali orang susah.
Terutama yang berkongsi untuk menyerang Sebastian, kakaknya, agar rahasia yang si tua rambut putih itu ketahui bisa terpendam dalam kubur. Banyak orang yang rahasianya ada dalam genggaman Sebastian, yang digunakan orang itu untuk berkuasa.
Tadinya ia pikir, Meilinda sudah tidak berguna. Jadi ia lepaskan.
Untung saja ia menyimpan video vulgar wanita itu...
Dan akan ia gunakan untuk menggertak kakaknya, agar melepas semua saham kepada Gunawan.
*****
Susan mengirimkan pesan ke Arman kalau ia sudah mendarat di Bandara. Ia fokus ke sosok Gunawan. Melewatinya beberapa kali agar pria itu tidak curiga, lalu setelah mendapatkan kopernya, ia menunggu di tempat strategis untuk mengambil kesempatan menempelkan alat pelacak di mobil pria itu. Masalahnya sekarang, ia tidak tahu dimana mobilnya, siapa yang akan menjemputnya, dan Gunawan sangat fokus ke kopernya sehingga Susan tidak bisa menempelkan pemindainya saat menunggu di conveyor belt.
Paling tidak ia tahu nomor plat mobilnya agar anggotanya dapat membuntuti.
Tiba-tiba Susan kehilangan sosok laki-laki itu di ruang tunggu bandara.
"Joder...!" umpat Susan dalam bahasa Spanyol. (Kurang lebih artinya Brengsek atau sial).
Seingat wanita itu, ia membuntuti Gunawan yang berbelok ke arah smoking room, namun saat ia juga berbelok, sosok Gunawan lenyap.
Saat dalam kondisi kebingungan, sebuah cengkeraman mendera lengannya.
Gunawan menariknya ke tembok dan menghempaskan wanita itu dengan kasar. Lalu menekannya ke dinding.
"Kamu siapa?" tanya Gunawan.
Mata hijau Susan membelalak.
Gawat... umpatnya dalam hati.
"Что ты имеешь в виду?" (apa maksud anda?) tanya wanita itu dalam bahasa Rusia.
"Kamu kira saya tidak tahu kalau daritadi kamu membuntuti saya?" Geram Gunawan.
"Ha?" Susan masih berdalih.
"Kamu siapa? Dari mana? Kamu satu pesawat dengan saya dari Rusia, kamu suruhan siapa?" tanya Gunawan bertubu-tubi.
Susan hanya menatap Gunawan dengan pandangan bertanya.
"Hei..hei..hei.." sebuah suara dari sebelah Gunawan, menggenggam lengannya yang sedang mencengkeram Susan dengan kencang dan menyingkirkan Gunawan.
"что ты делаешь с моей женой??" (apa yang kau lakukan dengan istriku?)
Seorang laki-laki menarik Susan, mengamankannya dari Gunawan.
Ia mengenakan jaket bomber dan bertubuh tinggi..
Wajah yang sangat unik. Korea campuran Eropa.
"Eh,Твоя жена?" ( Istrimu?) tanya Gunawan.
"Da, что ты хочешь?!" (Ya, kamu mau apa?!) Arman menantang Gunawan dengan dagu terangkat. "Я ждал его там." (aku daritadi menunggu dia disana.) dia menunjuk smoking room.
"Oh...Sorry. I thought she..." Gunawan menghela napas dan melambaikan tangan. "Nevermind. So sorry..."
Dan ia mengangkat tangannya lalu menjauh perlahan, namun wajahnya masih menunjukan kecurigaan.
"Dia masih disana. Memperhatikan kita." bisik Arman sambil mendekat ke arah Susan.
"Menyebalkan, dia tidak percaya begitu saja..." Susan menghela napas. "Apa yang harus kita lakukan, Pak?"
"Ck..." Arman berdecak.
Ia berpikir sejenak.
Lalu mengangkat dagu Susan.
Dan mencium bibir wanita itu.
Saat Arman melepas ciuman mereka, Susan langsung limbung ke belakang.
"Oh... Wow..." desahnya. Ia kini mengerti kenapa para wanita begitu kecanduan pada Arman.
Ia berusaha mengatur napasnya sambil menahan tubuhnya ke dinding.
"Oke, dia sudah pergi..." Arman menyambar ponselnya. "Moses, dia menuju parkiran."
"Ya Pak." sahut seseorang di seberang.
Sambil mengutak-atik ponselnya, Arman menghapus lipstik Susan dari bibirnya dengan menjilatnya. Lalu mengernyit.
"Rasa coklat...?"
Susan meringis kikuk. "Iya, Pak... Hehe. Ipang suka lipgloss rasa itu, soalnya..."
"Ck... Dia lagi..." dengus Arman sambil menarik Susan supaya pergi dari sana.
Dua orang laki-laki mendekati mereka saat Arman dan Susan menuju mobil.
Yang satu anak muda kira-kira seumuran Ipang, dengan sepatu canvas limited edition Marvel dan jaket Supreme. Yang satu pria setengah baya, gemuk, berkepala botak dan berbaju batik, dengan kumis tebal melintang.
"Moses, Pak Kardi..." sapa Arman.
"Saya sudah send wa nomor plat mobilnya ya Pak." kata Pak Kardi
"Oke, sisanya anggota yang lain. Silahkan kalau mau melanjutkan pekerjaan."
Dan mereka berpisah di Bandara.
*****
Susan menebalkan lipstiknya, lalu merapatkan bibirnya dan mengamatinya dari sudut ke sudut.
Oke, bentuknya sudah sempurna.
Lalu ia mengerling ke arah pantulan wajahnya di cermin sambil bilang "Perfect, you are beautiful..." bisiknya memberi semangat ke dirinya sendiri.
"Yang mau ketemu berondong..." ejek Arman sambil menyetir.
"Ih, bisanya ngecengin, makanya cari pacar tetap dong Paaaak... Hehehe..." sahut Susan.
"Mau nembak kamu, kamunya udah punya orang."
"Saya ngga kepancing loh ya..." Susan menyemprotkan parfum ke antara belahan dadanya lalu membetulkan isinya sambil membusungkan dadanya.
"Pantesan Gunawan langsung tahu kalau kamu ngikutin dia. Pengintai tuh harusnya pake dandanan cleaning service, bukannya super model..." kata Arman.
"Iya, sepenuhnya memang salah saya..."
"Kamu saya perhatikan sudah kurang fokus sejak bertemu si pangeran buduk. Waktu itu Pak Leon, padahal sudah wanti-wanti kamu dibalik layar. Sekarang yang ini..."
Susan hanya menghela napas menanggapi Arman. Pria itu kalau sudah mengomel, lebih cerewet dari ibu-ibu nawar sayuran.
"Maaf Pak." hanya itu jawaban Susan.
"Saya akan report seadanya yah untuk Pak Boss." Arman meminta izin Susan untuk melaporkan apa adanya ke Sebastian.
"Baik Pak..." jawab Susan sambil berpaling ke arah luar jendela.
Jalanan di samping Tol...
Gersang, lapang dan gelap.