Lady'S Gentleman

Lady'S Gentleman
Mobil Emas, Sekali Lagi...



Milady mendapati Sebastian sedang duduk di atas kap mobil emasnya sambil menatap ke arah luar.


Pemandangan awan dengan jajaran rumah dibawahnya bagaikan plakat miniatur di pameran perumahan...


Punggung suaminya kini terkulai lebih santai, tidak tegang seperti kemarin. Tampaknya Ia sudah menemukan jalan keluar bagi permasalahannya.


"Sebastian..." panggil Milady.


Sebastian menoleh dan tersenyum melihat Milady. Ada rasa lega dalam dirinya.


Ia memang butuh ditenangkan sesaat.


"Tongkat golf kenangan kita ada di Jazzy yah, siapa tahu kamu butuh."


"Aku butuh." sahut Sebastian cepat.


Milady terkekeh.


"Enak saja dia lolos... Dimas saja ngga aku lolosin..." gerutu Sebastian. Ia memeluk pinggang Milady dan menariknya mendekat.


"Yang namanya Atika sudah datang di ruang meeting lantai 40." kata Milady. Sebastian mengecup lembut pipinya.


"Hm..." gumam Sebastian sambil memeluk Milady dari belakang.


"Apa kira-kira yang harus aku lakukan?" tanya Sebastian.


"Kamu bertanya? Biasanya kamu selalu tahu yang kamu inginkan..."


"Ini persoalan pribadi, walaupun ada sedikit bisnis juga. Lagipula... Ini berhubungan dengan wanita. Selalu ruwet kalau berhubungan dengan mereka."


"Gunawan termasuk hebat, dong..."


"Kenapa?!" Sebastian agak sewot.


"Kamu bilang wanita itu ruwet. Sedangkan dia bisa berani membuatnya tambah ruwet dengan memadukan tiga wanita sekaligus, loh... apa ngga tambah rumit itu?!"


"Ck... Itu bukannya hebat, Tapi Bodoh..." sahut Sebastian. Ia tidak rela istrinya memuji pria lain. "Jangan main-main sama wanita. Karmanya cepat."


Milady tertawa.


Senang karena Sebastian mengucapkannya. Itu berarti setidaknya Suaminya sangat menghargai wanita.


"Jadi... Ini jawabanku." sahut Milady. "Mitha mungkin beruntung karena dia kenal kamu. Aku tidak mempermasalahkan bagaimana caranya dia kenal sama kamu, tapi setidaknya kamu akan menjamin hidupnya. Ditambah, dia istri sah, dimata hukum dan agama, jadi seandainya bercerai Gunawan harus membayar tunjangan yang cukup besar untuknya dan anak-anaknya."


"Betul, aku akan memberikan Mitha pekerjaan yang tidak terlalu mengikatnya."


"Masalahnya dua istri yang lain yang dinikahi secara siri. Pernikahan secara agama tidak dilindungi hukum dan aturan negara. Sehingga akan lebih merugikan wanita. Beban mereka selain akan ditinggalkan Gunawan, juga akan dibebani dengan anak-anak..."


"Aku tidak mau ya menanggung biaya mereka. Itu salah Gunawan."


"Bukankah kamu terbiasa memanfaatkan kemampuan orang lain?"


"Mereka hanya lulusan SMA. Berbeda dengan Mitha. Lulusan STPDN dan saat aku tugaskan ke Amerika, dia sempat ambil degree di Illinois sambil bekerja."


Milady tersenyum dan membelai janggut Sebastian.


"Ayolah Sebastian... Pasti ada kemampuan mereka yang sesuai dengan posisi di grup..." Ia merayu Sebastian.


Terdengar interkom berbunyi.


"Pak, Pak Dimas dan Pak Bram sudah datang." suara Arman.


"Trevor dimana?"


"Menurut CCTV, Pak Trevor ada di lantai 10, di co-working space dengan Mbak Mitha."


"Ha?"


"Iya."


"Trevor dengan...?" Sebastian dan Milady tertegun.


Terdengar helaan napas dari Arman. "Saya capture saja CCTVnya yah pak. Mereka satu ruangan. Kelihatannya anak Mbak Mitha tertidur di gendongan Pak Trevor, ehem!"


"Ngga usah pura-pura batuk kamu... Cepat share!"


"Pak Dimas saya tempatkan dimana?"


"Di depan konter kamu. Tunggu saya."


"Ya Pak..."


"Sebentar..." Milady mulai merajuk. Ia menahan tangan Sebastian untuk beranjak.


Jemarinya menyusup ke balik jas Sebastian dan mulai membuka kancingnya dibagian perut.


"Kamu..." Sebastian tidak melanjutkan kata-katanya karena Milady mulai menghujaninya dengan ciuman.


"Aku kan baru datang, masa sudah pergi lagi..." bisik wanita itu.


"Tangan kamu mulai terampil ya..." Kata Sebastian saat merasakan bagian sensitif tubuhnya mulai mengeras karena jemari lentik Milady. "Ini tidak akan sebentar, sayang..."


Milady terkekeh.


"Setidaknya, salah satu dari kita..." Milady berkata lirih.


"Kamu, maksudnya..." Sebastian meralat rayuan Milady. "Tapi kalau urusanku sudah selesai, bisa-bisa kamu habis. Aku lagi stress butuh pelampiasan."


"Iya... Kamu habisin deh, makanya aku datang. Sekarang giliranku dulu..." elusan wanita itu semakin intens.


"Kamu memang pengertian ya..." Sebastian mencengkeram bokong Milady dan memposisikan wanita itu supaya duduk di kap mobil emas kesayangannya.


"He... Kayak kenal..." kata Pria itu melihat kain tipis berwarna pink yang dikenakan Milady di balik roknya.


"Iya... Kan aku bilang titip, waktu itu. Aku ambil lagi sekarang... Kali ini aku pakai sama pasangannya." Milady membuka blusnya. Bra dengan warna sama, berenda dengan beberapa mutiara.


"Aku suka..."


"Kamu suka semua yang kupakai."


"Kamu pakai bungkus daun pisang juga aku suka."


"Aku jangan dianggap lontong dong ih..."


Namun kata-kata Milady sudah berganti dengan desahan mereka berdua.


Bergerak seirama.


Diatas kap mobil miniatur terbuat dari emas.


Sejenak, melupakan semua urusan dunia mereka, dan kini hanya ada mereka berdua.


Di waktu yang seakan terhenti.


*****


Arman bagai merasa terjebak di dunia lain.


"Ya Bro! Pokoknya ntar malem Gue traktir lo semua!"


"Okeeee!!" seru Ipang bersemangat, extra angkat kedua tangan.


"Gue kasih tau Dirga, dia katanya lagi bebas tugas."


"Duh jangan Dirga doong..." keluh Arman.


"Sama Rama sekalian."


"Pak Dimas mau ngajak saya berantem ya." keluh Arman.


"Loh...ini kan kesempatan Pak Arman untuk menunjukan ke-gape-an di dunia biliar!"


"Saya ngga bisa main biliar, saya bisanya nembak."


"Ada video di yutub waktu situ menang turnamen Nineball lawan peraih medali perak Seagames... Yang Eventnya diadakan oleh POBSI dan JarvasNews."


"Salah orang kali Pak Dimas..." Arman masih tidak mau mengakui.


"Hm... Peraih Medali Perak menyerah kalah pada turnamen Nineball saat lawan Brigjen Ares Manfred..." Dimas membacakan judul videonya.


"Siapa Brigjen Ares Manfred?" tanya Ipang.


"Udah mati orangnya..." desis Arman.


Dimas menelpon Dirga.


"Gue dateng!" seru Dirga dari seberang, tanpa basa-basi.


"Biar seru, undang Leon sekalian..." gumam Dimas setelah menutup telepon Dirga.


"Hm..." Arman mengelus dagunya. Dimas saat sedang bersemangat, tidak bisa diganggu gugat. "Oke, saya undang Susan juga, orang yang saya tahu lumayan kalau main biliar."


"Eh? Susan?" Ipang langsung menatap Arman dengan pandangan bertanya.


"Iya, Susan..." Arman menyeringai penuh kelicikan.


Ada Dirga, Leon, Susan, dan dirinya... Biar hancur sekalian semuanya. Pikir Arman.


"Susan siapa? Susan Kodok bonekanya Ria Enes?" Sahut Dimas.


"Ketahuan ya Pak Dimas umurnya berapa..." desis Arman.


"Ria enes siapa?!" tanya Ipang dengan wajah polos.


"Susan siapa?" tanya Dimas.


"Pacarnya Ipang." sahut Arman.


"Pacar ke berapa ratus?"


"Ke berapa ribu."


"Itu loh, yang bule latin waktu itu gue bahas di video call..."


"Lah! Udah jadi pacar aja! Terus Pak Arman kok bisa kenal?"


"Susan anak buah saya, Pak..."


"Ohya? Di agency ato di Grup?!"


"Di agency. Sekaligus, dia mantan pacar Leon, dulu." Seringai Arman semakin lebar.


Semua diam.


"Ini Leon yang... Suka maen game sama Kak Lady?" tanya Ipang waspada.


Dimas membolak balik ponselnya dengan jemarinya sambil menatap Arman dengan gusar.


Ia sedang berpikir mengenai karakter dari mantan polisi di depannya ini.


"Iya. Ini Leonard Zhang, yang sekarang jadi CEO di Beaufort Mining. Saingan kamu petinggi di Perusahaan 10 besar Top Gainer pasar bursa." sahut Arman. Ia menatap Dimas dengan tatapan menantang.


Dimas sudah berani mengganggu masa lalunya.


Menurutnya itu tindakan lancang.


Arman tidak suka orang yang terlalu ingin tahu dan ikut campur.


Jadi, ia akan bikin runyam masalahnya, sekalian.


Tidak terduga, Dimas malah menyungingkan seringai bersemangat, lebih lebar daripada diawal.


"Setuju... 15 bola... Saya lawan Pak Arman. Dengan tim masing-masing 2 orang. Hehehe..."


Ck...


Kenapa hidupku hari ini rumit sekali... Keluh Arman dalam hati.


Sebastian keluar dari ruangan, semua langsung memberinya jalan.


Bigboss langsung menatap Ipang.


"Udah Boyo, sekarang ada Lutung... di sini bukan taman safari. Ngapain kamu di sini? Kok Arman ngga ngomong?!"


Ipang langsung menggeser badannya ke belakang Arman.


"Mohon maaf, Pak. Sebenarnya permohonan magangnya memang untuk divisi Pak James." Kata Arman.


"Magang? Bukan PKWT?"


Arman melirik ruangan Sebastian. Milady masih di dalam.


Lalu ia membisiki Sebastian perihal Ipang.


Dan senyum sinis langsung menghiasi wajah Sebastian.


"Jeweran maut, heh... Baik-baik kamu di sini... Berulah sedikit, saya bocorin yang sebenarnya..." ancam Sebastian.


"Kalau kamu mengacau, saya turunin jabatan kamu jadi satpam. Tidak peduli kamu adik siapa. Jelas?" sahutnya lagi.


Bibir Ipang membentuk cibiran di salah satu sudutnya.


"Jadi hukuman saya bertambah jadi dua nih? Mengurus ular dan lutung sekalian pak?" desis Arman.


"Kenapa? Minta insentif?! Sujud dulu..." sahut Sebastian sambil beranjak ke ruang meeting lantai 40.


Benar-benar pelit... Dengus Arman dalam hati.


Dimas mengikuti Sebastian sambil mengerling ke Arman.