
Milady berkaca di lift dengan ornamen klasik dan dinding beraksen batu mulia, ia memastikan dandanannya sesuai dan tidak berlebihan.
Little black dress sederhana, dan sandal wedges. Rambutnya yang saat itu masih panjang ia ikat keatas dengan poni samping.
Ia tidak menggunakan banyak makeup. Hanya eyeliner, lipgloss dan sedikit foundation tabir surya.
Lalu ia menghela napas, berusaha meredakan gemuruh dadanya yang memburu.
Lantai 50 terasa lama.
Biarlah...
Ia ingin mengulur waktu selama mungkin.
Kemarin Ia menggunakan sisa uangnya untuk ke spa setelah mengambil sisa plakat dan hasil foto wisudanya. Ibunya masih di rumah sakit, ayahnya mengurus aset mereka di pengacara, Kak Yori dan Adiknya, Ipang menunggui ibu di rumah sakit.
Hari ini ia mengendap-endap keluar rumah setelah meninggalkan sejumlah uang hasil menggadaikan laptopnya di laci.
Laptop hadiah dari sekolahnya dulu, karena ia lulusan terbaik dan termuda.
Sedih rasanya...
Itu hasil belajar mati-matian sampai begadang mengerjakan praktek.
Bahkan pegawai pegadaian sampai menanyainya dua kali, Mbak yakin mau menggadaikan ini?
Wajar dia bertanya, ada logo sekolahnya dan speknya sangat bagus. Ia gadaikan hanya beberapa juta...
Ting!
Lift berhenti di lantai 50.
Kelu rasanya kaki ini ingin melangkah... Desis Milady.
Di lantai 50, hanya ada 5 unit ruangan. Semuanya type penthouse.
Dan unit 500 tepat berada di tengah, di depan lift.
Sudahlah...
Jalani saja...
Semoga kali ini Tuhan kembali menolongnya.
Dan Milady menekan tombol bel di pintu.
*****
Seorang pria.
Sangat tinggi.
Milady sampai menengadahkan kepalanya saat melihatnya.
Pria itu bermata tajam, memicing sambil mengerutkan dahinya.
Milady waspada saat memandangnya. Mata yang menyiratkan banyak kebencian...
Pria ini sudah mengarungi banyak hal. Dan dari raut wajahnya dipastikan sebagian besarnya bukan hal baik.
Jambang dan kumisnya berwarna abu, dengan rambut yang berwarna senada. Tubuhnya besar dengan otot yang tampak membayang di kemeja putihnya.
Milady tidak mampu berkata-kata. Ia hanya mampu mengangkat ponselnya. Memperlihatkan alamat yang tertera disana.
Pria itu menatap layar ponsel Milady, ia masih tanpa ekspresi, lalu menyingkir ke samping sedikit dan membuka pintu lebih lebar.
Milady menangkap gerakannya bisa berarti mempersilahkannya untuk masuk.
Ruangan di dalam penthouse membuat Milady terpana. Ia duduk di salah satu sofa klasik yang sangat empuk.
Matanya menatap salah satu lukisan raksasa dengan plakat di bawahnya bertuliskan Amedeo Modigliani. Mungkin itu nama pelukisnya.
Sudah pasti bukan lukisan murahan pinggir jalan.
Pria itu kembali sambil menyerahkan gelas kristal berisi air dingin kepada Milady.
Untunglah...
Tenggorokannya terasa kering dari tadi.
Milady menegak sampai setengahnya.
Pria itu duduk di sofa depan Milady sambil mengutak-atik ponselnya.
Ponsel bertaburan emas berlian, Vertu edisi android.
Ia tampak serius.
Milady kembali menyeruput air dinginnya sambil memperhatikan perabotan di sekelilingnya.
Lalu pria itu selesai dengan kegiatannya dan meletakkan ponselnya di meja.
Dan menatap Milady.
Milady balas menatapnya.
Tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Ia belum pernah ada di situasi seperti ini.
Pria itu melirik ruang tidur di pojok.
Milady menangkap pandangannya dan menoleh ke pojok.
Lalu tanpa berkata-kata pria itu berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Milady.
Milady menghela napas mengatasi gugupnya. Minum seteguk lagi, meletakkan gelas di meja di depannya.
Dan menyambut uluran tangan pria itu.
*****
Senja hari itu...
Warnanya lembayung tanpa awan.
guratannya membelah batas antara langit dan bumi.
Sebastian menegak botol kaca berisi air dingin sambil memandang keluar jendela.
Apakah ia perlu membangun gedung yang lebih tinggi dari ini?
Ia ingin tahu pemandangan di atas awan...
Namun katanya,
Saat manusia berlomba-lomba mendirikan gedung untuk mengalahkan langit...
Saat itulah sangkakala akan berbunyi.
Lalu ia menoleh ke sampingnya,
Ke arah ranjang dengan seprai yang berantakan.
Seorang gadis... Sampai satu jam yang lalu masih berstatus perawan, terkulai lemas tertidur di sana.
Dengan air mata masih membasahi kelopak dan pipinya.
Tidur karena kecapekan.
Apa Sebastian keterlaluan memperlakukannya?
Ia tidak tahu sebesar apa ia harus mengeluarkan kekuatannya.
Karena gadis ini sangat mungil dan kurus.
Beberapa tetes darah membasahi paha gadis itu dan meninggalkan bercak di seprai.
Sebastian beranjak dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Lalu ia ke kamar mandi.
*****
Jam berapa ini...
Milady mengerjabkan matanya.
Lalu berusaha bangun.
Badannya sakit semua.
Ia mengusap mukanya, lalu menatap sekelilingnya.
Warna kemerahan sinar mentari masih tersisa di cakrawala, terlihat dari balik jendela kaca raksasa.
Dan ia bergidik.
Ia menyadari saat itu ia masih berada di hotel... di tempat seorang laki-laki asing, dengan pekerjaan yang menurutnya hina.
Apa gunanya ayahnya menyelokahkannya, apa guna statusnya sebagai pelajar jenius... Pada akhirnya ia berada di sini menjajakan tubuhnya.
Memangnya tidak ada lagi pekerjaan lain yang bisa ia dapatkan?
Ia mendapat predikat summa cum laude, apakah hal itu tidak berguna untuknya?
Air mata membasahi pipinya kembali. Milady baru menyadari kecerobohannya.
Nyatanya, bahkan menjadi pakar di bidang sains tidak menjamin seseorang akan berpikir secara logika dalam mengambil keputusan hidup.
Semua piagam dan sertifikatnya sudah tidak berarti lagi dibanding perut yang berbunyi karena lapar dan bayangan ibunya di rumah sakit.
Sebuah pintu terdengar ditutup.
Milady menoleh ke samping.
Pria berambut abu, dengan lilitan handuk dipinggang, menghampirinya.
Wangi sabun beraroma musk menggelitik hidung Milady.
Ia langsung merasa kotor.
Pria itu mengambil botol kaca dari kulkas kecil lalu meletakkannya di nakas di samping ranjang, setelah melonggarkan tutup logamnya.
Milady meraihnya dan menegak isinya sampai habis.
*****
Milady kembali menangis di bawah shower.
Rasa perih di bagian bawah tubuhnya tidak sebanding dengan perih di hatinya.
Ia merasa malu dan rendah...
Pria itu tidak memperlakukannya dengan kasar.
Untuk sosok sebesar dia, Milady diperlakukan dengan lembut.
Bahkan ia menghentikan gerakannya beberapa kali saat Milady mulai menunjukan tanda-tanda kesakitan atau kehabisan napas.
Milady menggosok tubuhnya dengan seksama menggunakan spons.
Ia mengernyit melihat kukunya.
Bagian dalam kukunya kemerahan, seperti ada bekas darah.
Milady memeriksa setiap bagian tubuhnya.
Tidak ada goresan luka.
Lalu itu darah siapa?
Saat keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk, matanya menangkap pria itu duduk membelakangi Milady di pinggir ranjang sambil menorehkan cairan antiseptik dilengannya. Terlihat bahu belakangnya juga terdapat goresan merah.
Ah!
Itu asal darah di kuku Milady...
Karena merasa bersalah, Milady menghampirinya.
Pria itu menatapnya dari kepala sampai kaki, terutama handuk yang tersampir di dadanya
Milady meraih cairan antiseptik dan kapas organik, lalu menorehkannya di luka pada bahu belakang pria itu.
Terdengar kekehan pelan dari pemilik rambut abu.