
Ayumi akhirnya mematikan shower dan menoleh.
"Kamu sebenarnya mau apa kesini?!" tanyanya akhirnya.
Arman tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu menatap sekujur tubuh Ayumi yang... Bisa dibilang hampir setiap senti kulitnya babak belur. Sekarang malah ada luka baru di lutut dan lengannya akibat didorong masuk ke ruangan dan membentur lantai.
"Ngga papa, cuma pingin ketemu aja." desis Arman lirih.
Ayumi diam sesaat.
Ngga salah dengar?
Kenapa jantungku jadi berdebar kencang?
Tunggu...jangan terpancing!
Dia ini kabarnya perayu wanita...!
"Besok juga masih bisa ketemu." Ayumi memalingkan wajah lagi.
"Benar?"
Ayumi mengernyit, lalu melirik Arman. "Benar?! Apa maksud kamu?!"
"Apa benar besok kita masih bisa ketemu?" kini pandangan mata Arman yang sayu menatapnya sedih.
"Hah?" Ayumi memicingkan matanya. "Sepertinya kamu mulai melantur..."
Arman menghela napas.
Lalu meraih handuk di sebelahnya dan mengulurkannya ke Ayumi.
Ayumi menerimanya dengan ragu, lalu melilitkannya di tubuhnya.
"Kamu kenapa? Terbentur? Lalu setelah membunuh tiba-tiba teringat dosa?!" ada nada menyindir di suara Ayumi.
Arman tersenyum sinis.
"Ada Trevor tuh di bawah..." decaknya sambil berlalu.
Ayumi membeku.
*****
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"Hyakhyakhyakhyakhyakkk!!!" seru semua terbahak.
"Ulang lagi! Ulang lagi!"
Hening
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"WakakakakakakakakÄ·k!!"
"Lagi! Lagi! Ngga bosen-bosen gue dengerinnya!!"
Hening
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"Huahahahahahahaha!!!"
"Njir! Gue masih inget banget tampang paniknya! Moses! Heksa! Turun semua dari atas! Cari sampe ke kawah!! Hyahahahahaha!!" Umar menirukan Arman.
"Hahahaha!! Duh... Sampe sakit perut saya...!"
"Pak Kardi jangan kentut ya! Tadi siang makan seblak sampe dua mangkok loh situ!"
"Saya itu tahan pedas kali. Kecuali pedasnya mulut Pak Arman... Makanya senang banget mendengar..."
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"Huahahahaha!! Haduh...air mata saya..."
"Aduh gue sesak napas jadinya!"
"Udah belom ngomongin sayanya?"
"Belom lah!"
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"Huahahahahahahah!! Alamat beli sepatu baru kita, buat kondangan!"
"Pak Arman kaga pernah ke gereja, sekalinya iya, buat nikahan! Settingan pulak! Epic beneeer! Hahahahah!!"
"Beneran harus diruqyah tu orang! Hahahahah!!"
Nguing! Nguing! Nguing!
Bressss!!!
Sensor api menyala dan air langsung turun untuk memadamkan api.
Terlihat Arman sudah berdiri di depan pintu sambil mematikan pemantik apinya.
"Seru banget ya ngegibahin orangnya... Pada mandi terus tidur sana! Besok pada kerja, kan?"
Dan dia berlalu dari sana...
Semua pada membeku sambil lihat-lihatan dengan 'hujan lokal' masih menyerang.
"Bro...sejak kapan dia di sana?!"
"Ehem... Kayaknya udah lama sih..."
"Mam pus lu semua..."
"Lu sih..."
"Malem-malem diguyur aer, bisa masuk angin gue! Mana besok mau dines pula..."
"Gue malah mau bikin soal ujian... Ck ah..."
Hening...
"Cari bini gue sampe ketemu ato lo semua gue pecat!!"
"Berisik lo bro. Hmph!! Huehehehehe..."
"Ini sih sekalian mandi, kita..."
"Tik tik tik bunyi hujan di dalem villa..."
"Aernya turun tidak terkira..."
"Cobalah tengok... Ada Pak Kardi..."
"Botak dan batik basah semuaaaaaa..."
"Hyahahahahahhah!!"
******
Arman menatap pemandangan malam di depannya sambil menghela napas.
Dirga dan Rama ada di lantai bawah, mereka datang bersama timnya untuk investigasi. Di ruang meeting bersama dengan Trevor dan Danu, ada Atmana... Trevor datang untuk menemani Sebastian menjemput Milady.
Para gangster yang masih bernyawa sudah ditangkapi, ditampung di penjara bawah tanah di villa ini untuk sementara, yang mana semakin membuat semuanya heran bagaimana ada penjara di dalam vila pribadi.
Latief Ali sudah di bawa menggunakan heli tadi sore untuk perawatan lebih intensif.
Sedangkan Milady baru diijinkan pulang setelah kondisinya stabil.
Arman menatap ke bawah.
Trevor dan Danu, sedang berdiskusi dengan Rama Bagaswirya di taman villa, di depan... Nisan tanpa jasad Khamandana Rusli.
Batu nisan sebagai simbolik, terdapat di tengah-tengah taman raksasa.
Dari semua kejadian...
Kenapa ia hanya ingat ketakutannya saat menyadari kalau Ayumi tidak ada di sampingnya?!
Semua bagaikan mimpi buruk...
Tadinya ia ke kamar Ayumi, bermaksud untuk menggoda wanita itu.
Menurutnya, ber cinta dengan Ayumi saat Trevor ada di lantai bawah adalah hal yang lumayan menantang.
Namun...
Saat ia melihat tubuh Ayumi.
Ia malah merasa miris...
Terlihat luka -luka baru karena usahanya mencoba melindungi Milady, sampai tubuh kurusnya terlihat begitu ringkih...
Mungkin saja kalau Dokter Arjuna tidak memberinya pain killer, Ayumi sudah tidak berdaya di rumah sakit.
Ayumi mungkin memang pernah menjadi musuh...
Namun hal itu diakibatkan oleh sesuatu yang mengancam keluarganya.
Apabila hal itu terjadi pada Arman, bukan tidak mungkin pria itu juga akan berbuat hal yang sama, malah mungkin lebih parah... bisa jadi ia dan Sebastian akan baku tembak...
Dinginnya malam kini tidak berpengaruh ke Arman.
Di salah satu tangannya ada botol anggur yang isinya tinggal setengah Ia tenggak langsung tanpa gelas.
Badannya menghangat dan membuatnya tidak memerlukan baju lagi untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
Setelah mandi ia hanya mengenakan lilitan handuk di pinggang, lalu berdiri termenung di balkon kamarnya, dengan botol anggurnya menatap ke arah gelapnya pegunungan.
Krieettt...
Terdengar suara perlahan pintu dibuka.
Arman menoleh ke belakang.
Lalu ia memicingkan mata karena melihat Ayumi memasuki kamarnya.
"Hei..." sapa Wanita itu dengan kikuk.
"Hm?" gumam Arman bingung.
Pria itu langsung menatap ke bawah, Trevor masih di bawah bersama Danu.
Lalu menoleh lagi ke Ayumi.
Dan menoleh ke taman lagi.
"Kok kamu...?" Arman menunjuk Trevor yang sedang ada di bawah.
Ayumi menaikan bahu sekilas lalu berjalan mendekat sambil menggosok kedua lengannya.
"Dingin... Kamu ngga pakai baju?" tanya wanita itu.
"Lagi panas..."
"Kamu memang laki-laki aneh."
"Aku ngga mau dikata-katai sama sesama orang aneh."
Ayumi berhenti di pintu balkon karena dinginnya semakin terasa.
"Masuk yuk?" ajaknya.
Arman melongo.
"Mas... uk?" ia entah kenapa, merasa lidahnya langsung kelu.
Kata-kata Ayumi yang bernada manja... 'Masuk Yuk?' tampaknya langsung menancap di jantungnya dan membuahkan racun.
Kenapa aku jadi tersipu begini...
Batin Arman sambil mengacak-acak rambutnya.
"Di situ dingin, kamu kan besok harus kerja lagi... Kalau kamu sakit akan membebani orang lain di kantor." Sahut Ayumi.
Arman mendengus mendengarnya. Ia kini membalik tubuhnya dan bersandar di balkon menghadap Ayumi.
Memperhatikan tingkah laku wanita itu dengan lebih seksama.
Arman menarik napas panjang.
Entah akal-bulus apalagi yang akan dilancarkan wanita ini.
Kenapa dia melancarkan metode 'kalem-kalem manja andalannya' waktu masih jadi pacar Trevor, ke Arman.
"Kamu... Kalau ada permintaan ngga usah tersipu- sipu begitu. Aku ngga bakalan tergoda seperti Trevor."
Ayumi diam.
Lalu menaikkan sebelah alisnya.
Maksudnya apa ya? Pikir wanita itu.
Ia sebenarnya tidak bermaksud menggoda Arman.
Ya, oke dia memang ada permintaan, tapi bukan tipenya meminta dengan merayu.
Tampaknya Arman jenis lelaki yang tingkat percaya dirinya sudah level dewa.
Kukerjai saja...
Pikir Ayumi licik.
Wanita itu mengerling ke Arman, menggigit bibirnya, lalu menjauhi balkon ke arah ranjang. "Kita harus bicara..." bisik Ayumi dengan nada suara mendayu.
Membuat Arman jadi semakin ragu mau masuk ke dalam.
Masuk?
Tidak?
Atau masuk saja?
Kenapa aku jadi ragu-ragu begini?! Keluh Arman sambil mengusap tengkuknya yang langsung merinding.